Kolongan, kerajaan / P. Sangihe – Prov. Sulawesi Utara, kab. Kep. Sangihe

Kerajaan Kolongan terletak di P. Sangihe, berpusat di Makiwulaeng (Kendahe/Talawide), Kab. Kepulauan Sangihe, provinsi Sulawesi Utara.

The kingdom of Kolongan was located on the island of Sangihe, centered in Makiwulaeng (Kendahe/Talawide), Kab. Kepulauan Sangihe, provinsi Sulawesi Utara.
For english, click here

Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

—————————–
Pulau Sangihe


Tentang kerajaan Kolongan

– Sejarah lengkap kerajaan2 dan sistem pemerintahan di Kep. Sangihe: klik di sini

Pada jaman penjajahan bangsa Portugis dan Spanyol, raja Kolongan Pontoralage yang bersahabat dengan raja siau Wuisang telah memintakan pastor Diego Magelhaes datang di Kolongan. Permintaan tersebut dapat disanggupi oleh Padri dan ditemani oleh raja Wuisang ke Sangihe pada tahun 1568.

Sampai di Kolongan raja dipermandikan dan dinikahkan. Kemudian pastor mengadakan permandian massal untuk para bobato dan penduduk di sungai Akembawi pada tanggal 10 Nopember 1568.

Akhirnya kerajaan Kolongan hilang karena ditinggalkan penduduk yang disebabkan oleh:
a. Pertempuran dengan bangsa Portugis
b. Persengketaan keluarga dalam kerajaan
c. Penyingkiran letusan gunung Awu, sebagaimana letusan pertama yang tercatat pada tahun 1641 dan kemudian tercatat pula dalam journal Padtbruge 1677.

Penduduk Kolongan menyingkir ke Tahuna termasuk pahlawan Tatehe Woba yang mendirikan kerajaan Tahuna pada tahun 1600.

– Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?id=431709483533877&story_fbid=432820160089476


Sejarah singkat kerajaan2 di kepulauan Sangihe

Pada kurun waktu 1000 sampai dengan 1600 kepulauan Sngihe memiliki 4 kerajaan (Kararatuang) yang sudah eksis sebelum kedatangan bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda, yaitu:

1) Kerajaan Bowongtehu,
2) Kerajaan Tamungan Lawo (Sangihe),
3) Kerajaan Mohonsohowang,
4) Kerajaan Karangetang (Siau).

Kira-kira tahun 1670 muncul sembilan kerajaan di Sangihe, yaitu:
Kerajaan Kendahe,
Kerajaan Taruna,
Kerajaan Kolongan,
Kerajaan Manganitu,
– Kerajaan Kauhis,
Kerajaan Limau,
Kerajaan Tabukan,
– Kerajaan Sawang (Saban) dan
– Kerajaan Tamako.

Namun, kemudian kerajaan yang terakhir (Tamako) menjadi bagian Siau.
Sementara, Raja Limau ditumpas pasukan kiriman Padtbrugge. Kerajaan ini hancur lebur.
Sawang bergabung dengan Kerajaan Taruna dan Kerajaan Kolongan.
Sedangkan Kauhis bergabung dengan Manganitu.

Pada tahun 1898 Kerajaan Kendahe dan Kerajaan Taruna digabung menjadi satu. Di dua wilayah inilah tahun 1919 Raja Soleman Ponto memerintah dengan pusatnya di Kota Tahuna kini.
Artinya, pada tahun 1900-an muncul enam kerajaan saja:
Kerajaan Tabukan,
Kerajaan Manganitu,
– Siau,
Kerajaan Kendahe dan
Kerajaan Tagulandang, Talaud tahun 1922.
Kerajaan Kandhar Taruna.


Sumber kerajaan-kerajaan di P. Sangihe

Sejarah lengkap kerajaan2 dan sistem pemerintahan di Kep. Sangihe: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sangihe-pulau/kendahe-kerajaan-p-sangihe-prov-sulawesi-utara/sejarah-lengkap-kerajaan2-di-kep-sangihe/

– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Sangihe: http://9soputan9.blogspot.co.id/2013/11/kerajaan-sangihe-talaud.html
–Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Sangihe: http://wisatasangihe.blogspot.com/2018/10/sejarah-perkembangan-kerajaan-sangihe.html
– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Sangihe: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sangihe-pulau/kandhar-taruna-kerajaan/sejarah-lengkap-kerajaan2-kepulauan-sangihe-1/
– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Sangihe: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sangihe-pulau/kandhar-taruna-kerajaan/sejarah-lengkap-kerajaan2-kepulauan-sangihe-2/
Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Sangihe: http://dhevinadalinda.blogspot.com/2014/10/cerita-sejarah-raja-gumansalangi-raja.html


Peta kuno Sangihe, Talaud dan Tagulandang

Kepulauan Sangihe, Talaud dan Tagulandang di Sulawesi Utara, tahun 1700.

——————————-

Peta Sangir dan Talaud, tahun 1724

————————————-

Peta Sangihe, Talaud dan Tagulandang tahun 1894