Gowa, kesultanan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Gowa

Kesultanan Gowa, 1300–1946 adalah kerajaan Suku Makasar, terletak di Sulawesi, Kab. Gowa, prov. Sulawesi Selatan.
Pada akhir 1530-an atau awal 1540-an, kerajaan Gowa memenangkan perang melawan kerajaan Tallo dan sekutu-sekutunya. Kerajaan Gowa pun menjadi negeri paling dominan di tanah suku Makassar dan diakui sebagai saudara tua oleh kerajaan Tallo.

The Sultanate of Gowa, 1300–1946, is a kingdom of the Makasar People, situated in the district Gowa. South Sulawesi.
In the late 1530s or early 1540s, the kingdom of Gowa won the war against the kingdom of Tallo and its allies. The kingdom of Gowa became the most dominant kingdom and was recognized as an elder brother by the Tallo kingdom.
For english,
click here

Lokasi kabupaten Gowa


* Video sejarah kesultanan Gowa, 1300-1957: link


* Foto kerajaan Gowa: link
*
Foto Balla Lompoa (Istana) kesultanan Gowa: link
* Foto penobatan raja Gowa ke-37, 29 mei 2016: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KESULTANAN GOWA

1 Tentang Raja 
2 Sejarah kesultanan Gowa
3 Perang Makasar, 1666-1669
4 Berdirinya kesultanan Makasar
5 Tata pemerintahan kesultanan Gowa

6 Daftar raja dan sultan
7 Accera Kalompoang, tradisi sakral kesultanan Gowa
8 Skema silsilah para raja di Sulawesi Selatan
9 Mahkota kesultanan Gowa
10 Istana / Palace
11 Sumber / Source


1) Tentang Sultan

29 mei 2016
Penobatan Raja Gowa ke-37: I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II.

10 juni 2018
Raja Gowa ke-37: I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II meninggal di Makassar, 10 Juni 2018 pada umur 67 tahun.

Sejak juni 2018
Raja Gowa ke-38, Andi Kumala Idjo Dg Sila Karaeng Lembang Parang.

Tentang pergantian Raja Gowa ke-37

Setelah meninggalnya Andi Maddusila Patta Nyonri, posisi Raja Gowa ke 37 akhirnya digantikan adiknya Andi Kumala Idjo dengan gelar Karaeng Lembang Parang.
Pergantian Kumala Idjo itu diumumkan oleh Dewan Adat kerajaan Gowa, Andi Makmum Bau Tayang usai proses pemandian jenazah Andi Maddusila di Balla Lompoa.
Andi Bau Tayang mengatakan, tugas-tugas kerajaan Gowa selanjutnya akan dilanjutkan oleh Andi Kumala Idjo.
Perangkat kerajaan Gowa Andi Masualle Patta Ago menjelaskan, Raja Gowa tidak bisa meninggalkan kerajaan atau rumah duka sebelum ada penggantinya.
“Seorang raja yang meninggal tidak bisa meninggalkan tempat atau rumah duka sebelum ada penggantinya. Itu sesuai adat Gowa. Jadi yang menggantikan itu Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang,” ujarnya.

Raja Gowa ke-38, Andi Kumala Idjo Dg Sila Karaeng Lembang Parang

Pin di https://topikterkini.com


2) Sejarah kesultanan Gowa, 1300–1946

– Video sejarah kesultanan Gowa, 1300-1957: link

Gowa merupakan sebuah kerajaan dan kesultanan yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di jazirah selatan dan pesisir barat semenanjung yang mayoritasnya didiami oleh suku Makassar. Wilayah inti bekas kerajaan ini sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya.
Pada akhir 1530-an atau awal 1540-an, kerajaan Gowa memenangkan perang melawan kerajaan Tallo dan sekutu-sekutunya. Kerajaan Gowa pun menjadi negeri paling dominan di tanah suku Makassar dan diakui sebagai saudara tua oleh kerajaan Tallo.

Berawal dari chiefdom atau banua yang didirikan pada awal abad ke-14, kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya bersama kerajaan Tallo pada abad ke-17, ketika kerajaan ini memegang hegemoni militer dan perdagangan atas wilayah timur Nusantara, termasuk di antaranya sebagian besar Sulawesi, beberapa bagian dari Maluku dan Nusa Tenggara, serta pesisir timur Kalimantan.
Dalam prosesnya menjadi kekaisaran maritim, kerajaan Gowa mengembangkan berbagai inovasi dalam bidang pemerintahan, ekonomi dan militer. Perubahan sosial budaya yang drastis juga terjadi seiring mengeratnya hubungan antara kerajaan Gowa dan dunia luar, terutama setelah kerajaan Gowa mengadopsi Islam sebagai agama resmi pada awal 1600.

Pada tahun 1650, Penguasa Gowa dan Tallo memeluk agama Islam. Dalam perjalanannya kerajaan masing-masing, dua kerajaan bersaudara ini dilanda peperangan bertahun-tahun. Sampai yang belakang sekali pada masa Gowa dipimpin Raja Gowa X, kerajaan Tallo merasakan kekalahan. Kedua kerajaan kembar itu pun menjadi satu kerajaan dengan kesepakatan “Rua Karaeng se’re ata” (dua raja, seorang hamba). Kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo ini akibatnya meleburkan kedua wilayah menjadi kesultanan Makassar yang berpusat di Sombaopu.
Meleburnya kedua kerajaan tersebut menjadi kesultanan Makassar disaat kerajaan Gowa sedang dipimpin oleh Daeng Manrabbia bergelar Sultan Alauddin yang berkuasa dari tahun 1591 sampai 1638. Sedangkan kerajaan Tallo dibawah kekuasaan Karaeng Matoaya yang bergelar Sultan Abdullah sekaligus menjadi Mangkubumi Kesultanan Makassar pertama.

Perang Makasar, 1666-1669

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, VOC berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi, tetapi belum berhasil menundukkan kesultanan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik tahta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan VOC (Kompeni).

Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perjanjian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke Batavia.

Kesultanan Gowa telah mengalami pasang surut dalam perkembangan sejak Raja Gowa ke-1, Tumanurung, hingga mencapai puncak keemasannya pada abad ke-17, hingga kemudian mengalami masa penjajahan di bawah kekuasaan Belanda. Dalam pada itu, sistem pemerintahan mengalami transisi pada masa Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin, menyatakan Kesultanan Gowa bergabung menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu.

– Sumber: Wiki


3) Perang Makasar (1666-1669) dan Perjanjian Bungaya (1667)

Pada masa Sultan Hasanudin (berkuasa 1653 – 1669), kerajaan Gowa-Tallo harus menghadapi VOC penyebabnya keinginan VOC untuk memonopoli perdagangan di Indonesia bagian timur jelas tidak bisa diterima oleh sultan.
Konflik terjadi dan Hasanuddin berhasil menghalau pasukan VOC dari kawasan Maluku. Namun, upaya Belanda untuk menguasai jaringan perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur itu tidak pernah surut. Dengan siasat adu domba, Belanda berhasil memanfaatkan Aru Palaka (Raja Bone) untuk memasukkan pengaruhnya. Saat itu, kerajaan Bone masuk dalam kekuasaan kerajaan Makassar.

Tanggal 7 Juli 1667, meletus Perang Goa. Tentara VOC dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman, diperkuat oleh pengikut Aru Palaka dan ditambah orang-orang Ambon di bawah pimpinan Jonker van Manipa. Kekuatan VOC ini menyerang pasukan Goa dari berbagai penjuru.
Beberapa serangan VOC berhasil ditahan pasukan Hasanuddin. Tetapi dengan pasukan gabungan disertai peralatan senjata yang lebih lengkap, VOC berhasil mendesak pasukan Hasanuddin. Benteng pertahanan tentara Goa-Tallo di Barombang dapat diduduki oleh pasukan Aru Palaka. Hal ini menandai kemenangan pihak VOC atas kerajaan Gowa-Tallo. Hasanuddin kemudian dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang isinya antara lain:
* Makassar harus mengakui monopoli VOC,
* Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal Gowa saja,
* Makassar harus membayar ganti rugi atas peperangan,
* Hasanuddin harus mengakui Aru Palakka sebagai Raja Bone,
* Gowa tertutup bagi orang asing selain VOC,
* Benteng-benteng yang ada harus dihancurkan kecuali Benteng Rotterdam.

Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan VOC, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat milik kesultanan Gowa yaitu Benteng Somba Opu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

Peta Kerajaan Gowa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20

Luwu akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20


4) Berdirinya kesultanan Makassar

Kerajaan Makassar semula terdiri atas dua kerajaan, yakni kerajaan Gowa dan Tallo, yang berdiri pada abad ke-16 Masehi. Bersatunya kerajaan Gowa dan Tallo berbarengan dengan tersebarnya agama Islam di Sulawesi Selatan.

Pada 1650 akhirnya penguasa Gowa dan Tallo memeluk agama Islam. Sebelumnya, dua kerajaan bersaudara ini dilanda peperangan selama bertahun-tahun. Perang ini berakhir pada masa Gowa dipimpin Raja Gowa X. Kedua kerajaan itu pun dijadikan satu kerajaan dengan kesepakatan yang disebut Rua Karaeng se’re ata (dua raja, seorang hamba).

Kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo menjadi satu kemudian dijadikan kesultanan Makassar yang berpusat di Sombaopu. Kesultanan Makassar kemudian dipimpin Raja Gowa Daeng Manrabba yang kemudian bergelar Sultan Alauddin. Sedangkan kerajaan Tallo di bawah kekuasaan Karaeng Matoaya yang bergelar Sultan Abdullah sekaligus dijadikan Mangkubumi kesultanan Makassar pertama.


5) Tata pemerintahan kerajaan Gowa: klik di sini


6) Daftar Raja

1) 1300-an: Tumanurunga – Puteri Ratu
2) 1300-an: Tumassalangga Baraya
3) 1300-an: I Puang LoE Lembang
4) 1300-an: Tuniyatabanri
5) 1300-an: Karampang ri Gowa

6) 1300-an: Tunatangka’ Lopi
7) 1400-an: Batara Gowa Tumenanaga ri Parallakkenna
8) 1400-an: I Pakeretana Tunijallo ri Passukki
9) 1400-an: Tumaparisi’ Kallonna
10) 1546: I Manrimagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng

16) I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangeppe Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla’ Pangkana (Pahlawan Nasional) lahir 12-6-1631, wafat : 12-6-1670). English
17) 1669-1970:
a*:I Mallawakkang Daeng Mattinri Karaeng Kanjilo Tumenanga ri Passiringanna. Beliau hanya bertugas sebagai penjabat raja,
b*: 1669-1674: I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tumenanga ri
Allu (lahir : 31-3-1656, wafat 7-5-1674)
18) I Mappaosong Daeng Mangewai Karaeng Bisei Tumenanga ri Jakarta
(lahir : 29-11-1654, wafat : 15-3-1681) 1611-1677.
19) 1677-1709: I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil
Tumenanga ri Lakiung (lahir : 18-8-1652, wafat : 1711)
20) 1709-1711: La Pareppa Tussappewali Sultan Ismail Tumenanga ri Somba Opu.

Sultan Malikussaid; 11-12-1605 (lahir)-6-11-1635 (wafat). Sultan ke-15

21) 1711-1713: I Mappurangi Sultan Sirajuddin Tumenanga ri Pasi.
22) 1713: I Manrabbia Sultan Najamuddin.
23) 1735 (scnd time): I Mappaurangi Sultan Sirajuddin, Tumenanga ri Pasi.
24) 1735-1742: I Mallawagau Sultan Abdul Kadir
25) 1742-1753: I Mappababasa Sultan Abdul Kudus

26)  Anas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Ceylon) (lahir 1747 dan wafat 1795).
27) 1767-1769: I Manlisu Jawa Daeng Ri Boko Arung Mampu Tumenanga ri Tompo Balang
28) 1770-1778: I Temmasongeng Karaeng Katangka Sultan Zainuddin Tumenanga ri Malloanging
29) 1778-1810: I Mannawari Karaeng Bontolangkasa/Karaeng Mangngasa Sultan Abdul Hadi wafat pada : 7-5-1810
30) 1816-1825: I Mappatunru/I Manginyarang Karaeng LembangparangTumenanga ri Katangka
.
Raja Gowa, bertahta 1936-1946 – Taraekat Khalwatiyah Samman Sombayya I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa.

31) 1825-1826: La Oddang Riu Karaeng Katangka Tumenanga ri Suangga
32) 1826-1844: I Kumala Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid Tumenaga ri Kakuasanna (Dilantik th. 1844 dan wafat : 30-1-1893). Karena ketika dipilih masih berusia enam tahun, (artinya belum dewasa), sehingga dia diwakili oleh ayahnya, Karaeng Beroanging.
33) 1893: I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tumenanga ri Kalabbiranna wafat: 18-5-1895.
34) 1895: I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Huzain, Tumenanga Ribunduna (wafat: Desember 1906 di Sidenreng).
35) I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhimuddin Tumenanga ri Sungguminasa (wafat : 1946).
36) 1946-1960: Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidid (Raja Gowa terakhir).

37) 29 mei 2016 -10 Juni 2018: Raja Gowa ke-37, I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II.

38) Sejak juni 2018: Raja Gowa ke-38, Andi Kumala Idjo Dg Sila Karaeng Lembang Parang.

– Sumber / Source: link

7) Accera Kalompoang, pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Gowa

11 augustus 2019
Accera Kalompoang merupakan tradisi pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Gowa yang merupakan tradisi sakral bagi masyarakat.
Setelah dua tahun tidak dilaksanakan, ritual tersebut kembali digelar keluarga Kerajaan Gowa bersama Pemerintah Kabupaten Gowa. Berlangsung di Museum Balla Lompa Kabupaten Gowa, Minggu (11/8), dalam kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, Wakil Bupati Gowa Abd. Rauf Malaganni, Keluarga Kerajaan Gowa dalam hal ini Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang, keluarga Kerajaan Bone dan Karaeng Polongbangkeng.
Untuk lengkap: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/sultan-goa-sulawesi/penjelasan-accera-kalompoang-kerajaan-gowa-tradisi-sakral-bagi-masyarakat/


8) Skema silsilah para Raja di Sulawesi Selatan

Silsilah awal budaya para raja di Sulawesi Selatan. Oleh: A.I. Sulolipu.
Penerus raja raja Luwu, Gowa, Bone, Soppeng, Wajo dan Selayar.

Untuk besar, klik “view image”


9) Mahkota kesultanan Gowa

Terbuat dari perak sepuh emas, berbentuk Kuncup Bunga Teratai yang mempunyai kelopak daun sebanyak 5 (lima) helai diberi permata putih, hijau dan merah, digunakan sebagai Mahkota Kerajaan Gowa oleh Raja pada waktu pelantikan. Berdasarkan mitologi orang Gowa bahwa atribut kerajaan ini muncul bersamaan dengan ManurungngA (To Manurung) yaitu orang yang turun dari langit diutus menjadi pemimpin di Tana Gowa yang menjelma di Tamalate, kemudian dilantik menjadi Raja Gowa I sekitar abad ke-13.
Mahkota tersebut adalah replika, aslinya terbuat dari emas tersimpan di Museum Balla Lompoa, Sunggu Minasa bekas Istana Kerajaan Gowa.


10) Istana / Palace

Bangunan itu bernama Balla Lompoa yang dalam bahasa Makassar berarti rumah besar. Balla Lompoa adalah istana raja Gowa, meski sebenarnya bukan istana asli karena bangunan ini dibangun pada tahun 1936 di akhir masa kerajaan Gowa. Adalah raja Gowa ke  XXXV I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa yang membangun istana itu di jantung kota Sungguminasa, sekitar 8 km sebelah Selatan kota Makassar.
* Foto Balla Lompoa (Istana) kesultanan Gowa: link

– Tentang Istana: link
Tentang Istana: link

Istana Balla Lompoa kesultanan Gowa


11) Sumber / Source

Sejarah kesultanan Gowa di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Gowa
– Sejarah terbentuknya kerajaan Gowa: http://www.dzargon.com/2016/01/sejarah-lengkap-kerajaan-gowa-disertai.html
– Sejarah kesultanan Gowa: https://histori.id/kesultanan-gowa/
– Sejarah kesultanan Makasar di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Makassar
– Sejarah kerajaan Tallo di Wiki: link

29 mei 2016: Penobatan Raja Gowa ke-37, I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II: http://www.kompasiana.com/mahajinoesa/penobatan-raja-gowa-ke-37-di-hotel-horison-makassar_574b3103319773e60ad96498
– 29 mei 2016: Penobatan Raja Gowa ke-37, I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II: http://www.tribunnews.com/regional/2016/05/29/penobatan-raja-gowa-dihadiri-raja-raja-nusantara
– 29 mei 2016: Penobatan Raja Gowa ke-37, I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II : http://kabarmakassar.com/antusias-netizen-dalam-penobatan-raja-gowa-ke-37/

– Istana kesultanan Gowa: http://jejakvicky.com/2012/04/27/hari-ke-4-istana-balla-lompoa/
Istana kesultanan Gowa: http://www.catatannobi.com/2013/10/mengunjungi-kompleks-kerajaan-gowa.html


Foto di bawah: 29 mei 2016: Penobatan Raja Gowa ke-37, I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II.  Beliau meninggal di Makassar, 10 Juni 2018 pada umur 67 tahun.


1 Comment

One thought on “Gowa, kesultanan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Gowa

  1. Pingback: Selamat datang / Welcome | Sultans and Raja's in Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: