Garassi, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kabupaten Gowa.

Kerajaan Garassi terletak di kecamatan Tinggimoncong, kabupaten Gowa. prov. Sulawesi Selatan.

Lokasi kab. Gowa


* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link

* Foto kerajaan2 di wilayah Poso: link
* Foto suku Bugis: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Sejarah kerajaan Garassi

Penulis: Andri, Sarjana Pendamping Desa bangkit Sejahtera (DBS), Yayasan Hadji Kalla Kelurahan Garassi Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa.
https://www.yayasanhadjikalla.co.id/umum/napak-tilas-berdirinya-kerajaan-garassi-di-gowa/

Napak Tilas Berdirinya Kerajaan Garassi di Gowa

Kelurahan Garassi terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Garassi dapat ditempuh selama 3 jam dari Kota Makassar. Dulunya, Garassi dikenal sebagai Desa Parigi dan terkenal dengan struktur pemerintahan bergelar “Karaeng”.

Sebelum dikenal dengan nama Garassi, dahulu kala ada seorang karaeng (gelar bangsawan) yang berkuasa di Kampung Luara. Dia lah yang memberi nama Garassi, “Gang” berarti ukuran dan “Rassi” yang berarti penuh, sehingga bila diartikan menjadi karaeng yang mempunyai aturan yang penuh kebijakan/kearifan.

Konon, ia melahirkan seorang putra yang diberi nama Sulaeman Dg. Mattola, yang merupakan karaeng terakhir dari kerajaan Garassi. Ia memiliki tanda kebesaran berupa mahkota yang bernama Salokokati. Sebuah mahkota utusan dari kerajaan Gowa yang tidak pernah kembali. Sulaeman Dg.Mattola mengumpulkan semua Juwa’na atau Tubarania untuk membicarakan mahkota tersebut, karena sudah tidak ada lagi tanda kebesaran kerajaan berupa Mahkota Kerajaan Garassi. Ia mengumpulkan 3 tokoh Tubarania (salah satu kelompok pelindung kerajaan), yakni:

* Garancing Dg.Ma’lala: Gan
* Tanralili Dg.Sibali: Ta
* Rantusan Dg.Mangngasana: Rang

Dari hasil pertemuan inilah, kata Garassi diangkat menjadi nama kerajaan dari tiga tokoh tersebut dan Sulaeman Dg.Mattola dinobatkan menjadi raja I dari kerajaan Garassi.

Jauh sebelum Garassi dikenal, berdasarkan cerita rakyat bahwa pada waktu itu Kerajaan Garassi dipimpin oleh seorang Somba, namun oleh Kerajaan Gowa tidak mengizinkan adanya dua orang yang bergelar Somba selain dari Kerajaan Gowa, maka untuk Kerajaan Garassi yang menjadi Somba terakhir adalah Sulaeman Dg.Mattola (Istri dari Basse Dg.Memang). Setelah ia wafat, maka pemimpin kerajaan digantikan oleh Manda Deng Rapi, berdasarkan hasil pertemuan oleh 7 (tujuh) dewan yang hadir waktu itu, yakni:

* Tan Toa: Penasehat adat dan agama
* Tubarania: Pasukan Keamanan
* Anak Karaeng: Pembantu bidang urusan sosial
* Gallarang: Kepala Pelaksana Pemerintahan
* Pinati: Pembantu bidang pertanian dan irigasi
* Bicara: Pembantu bidang hokum dan juru bicara
* Kadi: Pembantu bidang urusan agama

Tujuh dewan adat tersebut menyepakati untuk mengangkat Manda Deng Rapi sebagai Karaeng Garassi. Proses pelantikan digelar di Liku Labbua. Kata Garassi sendiri menurut versi kedua ini adalah karaeng yang memiliki ketajaman:

Tarang Mata atau tanggap dalam melihat penderitaan masyarakat atau daerahnya
* Tarang Talia atau tanggap dan mau mendengar aspirasi dari masyarakatnya
* Tarang Panggaukang atau menjadi contoh yang baik bagi masyarakatnya
* Tarang Batang atau tanggap dan kuat dalam menghadapi tantangan.


Sejarah kerajaan Garasssi dan kerajaan Gantarang (Bulukumba)

Nama Gantarang telah banyak dipakai di beberapa daerah di wilayah Sulawesi selatan, seperti di Selayar, terdapat juga sebuah desa yang bernama Gantarang sebagai pusat penyebaran islam di daerah itu. Di Bulukumba juga berdirih sebuah daerah kerajaan yang berpusat di kota Bulukumba kini berubah menjadi kecamatan Gantarang, di Bantaeng juga terdapat nama Gantarang Keke sebagai salah satu desa di kecamatan Tompobulu.

Dalam wilayah Gantarang, terdapat sebuah daerah perkampungan, namanya Garassi. Garassi dulunya merupakan sebuah daerah kerajaan, sebelum muncul nama Gantarang. Munculnya nama Garassi di daerah pegunungan bawa karaeng itu jelas ada hubungannya dengan salah satu nama Kasuwiang diwilayah kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Tumanurunga ri Gowa pada tahun 1320, yakni Kasuwiang Garassi.

Menurut cerita masyarakat setempat, ada seorang raja yang pernah memerintah di kampung Luara. Raja itu memerintah dengan bijaksana dan iya sangat di sukai oleh rakyatnya. Menurut cerita ini, muncul nama Garassi, berasal dari kata “gang” dan “rassi”. Gang berarti ukuran atau aturan dan rassi berarti penuh. Gang rassi berarti raja itu memerintah dengan penuh kebijaksanaan membuat masyarakatnya sejahtera. Raja ini kemudian kawin dengan warga setempat dan melahirkan seorang putra bernama Sulaeman daeng Matutu. Putra karaeng Garassi inilah kemudian meneruskan pemerintahan ayahnya sebagai karaeng Garassi.

Lanjut cerita, karaeng Garassi mempunyai sebuah benda kebesaran berupa mahkota, namanya Salolokati. Karena wilayah Garassi ini merupakan bagian dari kerajaan Gowa, maka raja Gowa kemudian minta meminjam mahkota tersebut, tapi sayangnya setelah di pinjam, raja Gowa tidak mengembalikan mahkota itu.

Mahkota merupakan lambing kebesaaran kerajaan di Garassi, sehingga karaeng Garassi Sulaeman daeng Mattula mengutus 3 orang tubarani (jowa):
– Garancing Dg. ma’lala’
– Tanralili Dg. Sibali
– Rantusang Dg. Mangassana

Dari keberhasilan tiga orang Tubarani utuk mendapatkan mahkota dari kerajaan Gowa tersebut. Sehingga, raja Garassi Sulaeman daeng Mattula ingin mengabadikan nama ketiaga pemberani tersebut di wilayah kerajaannya. Supaya adil, ketiga nama tubarani itu masing-masing di ambil huruf nama awalnya yakni Gantarang (garancing, tanralili, rantusang). Sejak itulah nama gantarang menjadi sebuah kerajaan, dimana raja pertama gantarang adalah sulaeman daeng mattula.


Roda pemerintahan

Pada masa pemerintahan raja Gowa Andi Idjo Karaeng Lalolang, Karaeng Garassi dibawa pimpinan Sainong Dg.Malo mengangkat beberapa pembantunya yakni Dg.Cuca sebagai pinati, Massa Punggang sebagai Gallarang, Dg.Ngapa sebagai Bicara, Denggong Dg.Lawa sebagai anak karaeng, Dg.Conno Sanagai Tau Toa, Dg. Nanna sebagai Kadi.

Untuk lancarnya roda pemerintahan pada waktu itu, Raja memperoleh tanah pertanian yang diberi nama tanah somba Garassi yang hasilnya dimanfaatkan karaeng untuk menjalankan roda pemerintahan. Disamping itu, karaeng juga mempunyai pendapatan yang berasal dari masyarakat, disebut Lento. Pajak Lento ini diperoleh ketika terdapat keluarga yang melaksanakan pesta seperti perkawinan. Karaeng mendapat 1 lento dari hasil pemotongan sapi proses pernikahan tersebut, ukuran lento diambil dari ukuran tapak kaki orang dewasa (sekitar 2-3 kg), disamping itu juga pemegang urusan lainnya dapat bagian lento tetapi tidak melebihi bagian dari karaeng.

Karaeng Garassi setelah Sainong Deng Malo, digantikan oleh Supu Deng Sanre dan setelah itu beliau digantikan oleh putranya yang bernama Mawang Deng Tawang yang terkenal pemberani dan sangat disegani oleh warganya. Ia mewarisi keberanian ayahnya Supu Dg.Sanre yang pada waktu itu turut serta dalam perjuangan membela tanah air. Mawang Deng Tawang dikenal memiliki ilmu keberanian dari ayahnya yang terkenal dengan nama ilmu Kangkang Macan (Cakar Macan) yang khasiatnya apabila ia berhadapan dengan musuh, maka lawannya tidak bisa berbuat apa-apa atau diam.

Dibawah kepemimpinan Mawang Deng Tawang, pasukan Tubarania Kerajaan Garassi sangat terkenal dengan sebutan Takkang Bassina Garassi pada masa penjajahan Belanda, waktu itu.


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: