Bada, kerajaan / Prov. Sulawesi Tengah – kab. Poso

Kerajaan Bada terletak di provinsi Sulawesi Tengah, Kab. Poso. Kerajaan ini kerajaan kecil di wilayah Poso.

The kingdom of Bada is located on prov. of Central Sulawesi, District of Poso.
For english, click here

Lokasi Kabupaten Poso


* Foto foto kerajaan Bada: link

* Foto foto kerajaan2 di wilayah Poso: link
* Foto foto raja2 di Sulawesi dulu: link
* Foto foto situs kuno di Sulawesi: link


Tentang kerajaan Bada

Suku bangsa Lore sering juga disebut orang Napu atau orang Bada. Mereka berdiam di dua kecamatan dalam wilayah Kabupaten Poso, yaitu Kecamatan Lore Utara dan Lore Selatan, di Provinsi Sulawesi Tengah.

Pada mulanya penduduk yang mendiami daerah Poso berada di bawah kekuasaan pemerintah Raja-Raja yang terdiri dari Raja Poso, Raja Napu, Raja Mori, Raja Tojo, Raja Una Una dan Raja Bungku yang satu sama lain tidak ada hubungannya.

Rumah raja kerajaan Bada

Sebagai paengganti raja, diangkatlah Siominanga sebagai pengganti ayahnya. Ia dikenal dengan sebutan Mokole Siominanga, yang artinya raja Siominanga. Iapun tidak lagi menemui kesulitan untuk memerintah karena ia selalu bersama ayahnya sejak kecilnya. Ia juga disenangi oleh rakyatnya. Kerajaan Balinggi mencapai puncak kejayaan saat di bawah pemerintahannya. Beberapa raja yang iri hati seperti raja Bada, Lore, Napu, dan Besoa yang terletak di sebelah selatan kerajaan Balinggi. Tiga kali mereka menyerang kerajaan Balinggi. Serangan pertama dilancarkan oleh kerajaan Bada, namun berhasil dipatahkan oleh kerajaan Balinggi. Karena sakit hati, kerajaan Bada bergabung dengan kerajaan Napu untuk menyerang kerajaan Balinggi kembali, namun serangan tersebut masih berhasil dilumpuhkan oleh kerajaan Balinggi. Serangan selanjutnya kerajaan Bada, kerajaan Napu, dan kerajaan Besoa kembali bergabung untuk menyerang kerajaan Balinggi dan tetap berhasil mereka halau. Walaupun korban manusia berjatuhan hingga darah mengalir sungai yang membanjiri kampung-kampung.

Peta bagian Sulawesi Tengah (incl. Poso) tahun 1909


Sejarah raja raja Bada

Watu Molindo yang saat ini terletak di desa Watutau ternyata bukan watu biasa. Watu ini adalah saksi sejarah dari To Manuru yang melahirkan Raja-Raja Bada.

Begini kisahnya:
Singkat cerita seorang To Manuru datang dan menikah di Badangkaia, dengan seorang perempuan bernama Tolino.
Suatu waktu pada saat istinya Tolino sedang hamil, To Manuru melakukan perjalanan ke Waibunta atau Baebunta. Dan menitip pesan kalau engkau sudah melahirkan kirimkan kabar kepada saya.

Pada suatu tempat yang bernama Tokuni, To Manuru disusul orang yang membawa kabar dan mengatakan istrinya telah melahirkan anak perempuan. To Manuru kemudian mengatakan daerah atau tanah itu harus diberi nama Bada yang berarti kunyit atau kuning dalam Bahasa Bada.

Pada suatu waktu, Tolino terbang kelangit. Ketika To Manuru mendengar Tolino sudah berangkat ke Langit, ia pulang ke Bada dan mendirikan sebuah patung batu. Kepada anak-anaknya ia berkata “sekarang ibu kamu tidak ada lagi, sebab itu saya beri patung ini untuk kalian. Kalau ada penyakit yang menular, datanglah berdoa disini, sebelilah seekor kerbau putih dan lepaskan seekor ayam putih”.
Kalau kamu kekurangan beras, datanglah minta disini, sebelilah seekor kerbau putih dan seekor ayam putih.
– Sumber: Pramaartha Pode, Facebook

Nama Pole, Biti Magau = wakil Magau (raja) di Bada.Uwe’ tomoane (amana Dewoa) hai tawine mehudahe’ i lindo’ (memegang tongkat), S.Pole (menyilangkan kedua lengannya) bersama istri, dengan hormat saya sebutkan, T.Borahi, tepat dibelakangnya (amana hai inaana Isa’). Putra remaja paling kiri, anak bungsu dari amana dewoa, dengan hormat saya sebutkan, Lm.Pole (amana Doni), disebelahnya adalah missionaris belanda, kemudian disamping S.Pole, adalah adik perempuannya, dengan hormat saya sebutkan, T.Pole (inaana manu).


Suku Bada

Untuk suku Bada, klik di sini


Kerajaan kerajaan di wilayah Poso

Pada mulanya penduduk yang mendiami daerah Poso berada di bawah kekuasaan Pemerintah Raja-Raja yang terdiri dari:
* kerajaan Poso,
* kerajaan Napu,
* kerajaan Mori,
* kerajaan Tojo,
* kerajaan Una Una dan
* kerajaan Bungku
Kerajaan kerajaan ini satu sama lain tidak ada hubungannya.

Keenam wilayah kerajaan tersebut di atas pengaruh tiga kerajaan, yakni:
* Kerajaan Luwu,
* Kerajaan Sigi,
* Kesultanan Ternate.

Sejak tahun 1880 Pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Bagian Utara mulai menguasai Sulawesi Tengah dan secara berangsur-angsur berusaha untuk melepaskan pengaruh Raja Luwu dan Raja Sigi di daerah Poso.
Dari tahun 1880-an pemerintah Hindia Belanda mulai mengatur pemerintahan di Poso. Belanda berusaha meminimalkan pengaruh kerajaan-kerajaan lokal yang ada waktu itu yaitu kerajaan Poso, Napu, Mori, Tojo, Una Una, dan kerajaan Bungku.
Pada 1919 seluruh wilayah Sulawesi Tengah yang waktu itu masih tergabung dalam Keresidenan Manado dibagi menjadi dua wilayah Barat dan Timur yang disebut Afdeeling, yaitu: Afdeeling Donggala dengan ibu kotanya Donggala dan Afdeeling Poso dengan ibu kotanya kota Poso.

Di wilayah Poso ada beberapa kerajaan kerajaan kecil, yaitu:
* kerajaan Napu,
* kerajaan Bada,
* kerajaan Besoa,
* kerajaan Bancea,
* kerajaan Bakekau,
* kerajaan Leboni,
* kerajaan Watutau,
* kerajaan Ondae,
* kerajaan Pebato,
* kerajaan Lage,
* kerajaan Lore,
* kerajaan Pamona,
* kerajaan Lamusa.

Kiri: Raja Kampu Pole dari kerajaan Bada (1949 – 1989).

 


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber

– Tentang kerajaan Bada: https://axelanggarajamal.wordpress.com/2011/04/01/contoh-sinopsis-cerita-rakyat/#more-20
– Suku Bada: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/suku-suku/sulawesi/suku-bada-prov-sulawesi-tengah/