Palembang, kerajaan / Prov. Sumatera Selatan – wil. Palembang

Kerajaan Palembang berdiri abad ke15 – 1659; terletak di Sumatera, di wilayah kota Palembang provinsi Sumatera Selatan.
Setelah kerajaan Palembang adalah Kesultanan Palembang (1659 – 1821).

The kingdom of Palembang exists from the 15th century – 1659; Located on Sumatera, in the region of the city of Palembang provinsi Sumatera Selatan.
After the kingdom of Palembang came the Sultanate of Palembang (1659 – 1821).
For english, click here

Lokasi Palembang


* Foto kerajaan Palembang: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KERAJAAN PALEMBANG

Sejarah kerajaan Palembang, abad ke15 – 1659

Setelah kerajaan Palembang ada Kesultanan Palembang: 1659 – 1821.

Kerajaan Palembang berdiri sekitar abad ke-15. Ario Damar merupakan pendiri kerajaan ini. Ia sebenarnya mewakili Kerajaan Majapahit di Palembang Lamo (atau nantinya disebut Kerajaan Palembang), dengan gelar Adipati Ario Damar yang berkuasa antara tahun 1455 hingga tahun 1486. Ketika ia datang ke Palembang, rakyat dan penduduk di daerah ini sebenarnya sudah masuk Islam. Diperkirakan, ia akhirnya ikut memeluk Islam dengan mengubah namanya menjadi Ario Abdillah atau Ario Dillah (dalam bahasa Jawa, dillah berarti lampu).

Hingga akhir tahun 1677, Kerajaan Palembang masih setia kepada Kerajaan Mataram yang dianggap sebagai pelindungnya, terutama dari serangan Kerajaan Banten yang telah dilakukan sejak tahun 1596. Pada tahun 1610, Kerajaan Palembang pernah melakukan kontak dengan VOC. Awalnya, VOC enggan berhubungan dengan Kerajaan Palembang. Bahkan, semasa pemerintahan Pangeran Sideng Kenayan, telah dibuka Kantor Perwakilan Dagang VOC (Factorij) di Palembang, yaitu melalui perantara Gubernur Jendral di Batavia, Jacob Specx (1629-1632). Namun, pada tahun 1659, Keraton Kuta Gawang beserta benteng-bentengnya hancur akibat diserbu oleh VOC.

Hancurnya keraton tersebut sebagai pertanda berakhirnya eksistensi kerajaan Palembang. Kehancuran tersebut berpengaruh pada pemindahan keraton dan pemukiman penduduk ke arah yang lebih ke hulu.
Setelah kehancuran kerajaan Palembang, maka lahirlah Palembang yang memiliki kepribadian sendiri dan merasakan hak kemerdekaan sendiri pula, yaitu Kesultanan Palembang Darussalam.

– Sumber: http://esempen2palki.blogspot.co.id/2012/12/kesultanan-palembang-darussalam.html


Daftar dan sejarah raja-raja kerajaan Palembang

Sumber: https://keratonpalembang.com/asal-usul/

1445-1486: Aria Dila.
Raja Majapahit, Prabu Brawijaya yang terakhir memiliki putera bernama Aria Damar atau setelah memeluk Islam disebut Aria Dilah dikirim ke Palembang untuk menjadi penguasa. Disini ia menikah dengan saudara Demang Lebar Daun yang bernama Puteri Sandang Biduk, dan diangkat menjadi raja (1445 – 1486). Pada saat Aria Dilah memerintah Palembang, ia mendapat kiriman seorang puteri Cina yang sedang hamil, yakni istri ayahnya yang diamanatkan kepadanya untuk mengasuh dan merawatnya. Sang puteri ini melahirkan seorang putera di Pulau Seribu, yang diberi nama Raden Fatah atau bergelar Penembahan Palembang, yang kemudian menjadi raja pertama di Demak dan menjadi menantu Sunan Ampel.

Pada saat Raden Fatah menjadi raja Demak I (1478 – 1518), ia berhasil memperbesar kekuasaannya dan menjadikan Demak kerajaan Islam pertama di Jawa. Akan tetapi, kerajaan Demak tidak dapat bertahan lama karena terjadinya kemelut perang saudara dimana setelah Pangeran Trenggono Sultan Demak III anak Raden Fatah wafat, terjadilah kekacauan dan perebutan kekuasaan antara saudaranya dan anaknya. Saudaranya, mengakibatkan sejumlah bangsawan Demak melarikan diri kembali ke Palembang.

1547-1552: Pangeran Sedo Ing Lautan.
Rombongan dari Demak yang berjumlah 80 Kepala Keluarga ini diketuai oleh Pangeran Sedo Ing Lautan menetap di Palembang Lama (1 ilir) yang saat itu Palembang dibawah pimpinan Dipati Karang Widara, keturunan Demang Lebar Daun. Mereka mendirikan kerajaan Palembang yang bercorak Islam serta mendirikan Istana Kuto Gawang dan Masjid di Candi Laras (PUSRI sekarang).

1552-1573: Ki Gede Ing Sura Tuo.
Pengganti Pangeran Sedo Ing Lautan sebagai Raja adalah anaknya, Ki Gede Ing Sura Tuo selama 22 tahun. Oleh karena beliau tidak berputera, maka ia mengangkat keponakannya menjadi penggantinya dengan:

1573-1590: Ki Gede Ing Suro Mudo.
Beliau bergelar Ki Gede Ing Suro Mudo. Setelah wafatnya ia di ganti oleh Kemas Adipati selama 12 tahun.

1590-1595: Den Arya
Kemudian digantikan oleh anaknya Den Arya lamanya 1 tahun. Selanjutnya ia diganti oleh:

1596-1629: Pangeran Ratu Madi Ing Angsoko Jamaluddin Mangkurat I.
Pangeran Ratu Madi Ing Angsoko Jamaluddin Mangkurat I yang wafat teraniaya di bawah pohon Angsoka. Pengganti selanjutnya ialah adiknya:

1629-1630: Pangeran Madi Alit Jamaluddin Mangkurat II.
Setelah Pangeran Madi Alit Jamaluddin Mangkurat II wafat, diteruskan oleh adiknya yang bernama:
1630-1639: Pangeran Sedo Ing Puro Jamaluddin Mangkurat III, wafat di Indra laya.
Lalu digantikan oleh kemenakannya yang bernama:

1639-1650: Pangeran Sedo Ing Kenayan Jamaluddin Mangkurat IV bersama dengan isterinya Ratu Senuhun. Ratu Senuhun inilah yang menyusun “Undang-undang Simbur Cahaya” yang mengatur adat pergaulan bujang gadis, ad at perkawinan, piagam dan lain sebagainya.

Sebagai ganti Pangeran Sedo Ing Kenayan ialah:

1651-1652: Pangeran Sedo Ing Pesarean Jamaluddin Mangkurat V bin Tumenggung Manca Negara.
Tongkat estafet selanjutnya dipegang oleh puteranya yang Bernama:

1652-1659: pangeran Sedo Ing Rejek Jamaluddin Mangkurat VI sebagai raja Palembang.

Hancurnya keraton sebagai pertanda berakhirnya eksistensi kerajaan Palembang. Kehancuran tersebut berpengaruh pada pemindahan keraton dan pemukiman penduduk ke arah yang lebih ke hulu.
Setelah kehancuran kerajaan Palembang, maka lahirlah Palembang yang memiliki kepribadian sendiri dan merasakan hak kemerdekaan sendiri pula, yaitu Kesultanan Palembang Darussalam.

Sultan Ratu Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayidul Iman atau disebut dengan Sunan Cinde Walang adalah raja pertama di kesultanan Palembang Darussalam.


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber

– Sejarah kerajaan Palembang: http://makalah-mantap.blogspot.co.id/2014/05/kerajaan-palembang.html
– Sejarah kerajaan Palembang: http://esempen2palki.blogspot.co.id/2012/12/kesultanan-palembang-darussalam.html
Kesultanan Palembang Darussalem: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/sultan-palembang/


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: