Penjelasan raja-raja Turikale

Sumber: http://vhazollee.blogspot.co.id/2012/02/sejarah-singkat-pemerintahan-turikale.html


I.  I LAMO DAENG NGIRI (1796 – 1831)

Seperti tercatat di depan, bahwa Beliau inilah yang pertama-tama memperoklamirkan berdirinya Turikale sebagai sebuah daerah otonom yang berpemerintahan adat. Wilayah Turikale ini adalah warisan dari kakeknya I Mappibare Daeng Mangiri, putera dari I Mappau’rangi Karaeng Boddia Sultan Sirajuddin Raja Gowa/Tallo, yang membuka Turikale sebagai daerah pemukiman yang berkembang dengan pesat.
I Lamo Daeng Ngiri dalam mengendalikan pemerintahan bergelar I Daeng ri Turikale, gelar yang dipilihnya sendiri sebagai bukti bahwa Turikale ketika awal berdirinya menempatkan diri pemimpinnya tidak kaku dan absolut/otoriter.
Beliau adalah putera dari I Daeng Silassa dan ibunya bernama I Habiba Daeng Matasa. Dari perkawinannya dengan I Daeng Sibollo, Beliau tidak dianugerahi keturunan sehingga yang menggantikan kedudukannya adalah Muhammad Yunus Daeng Mumang, putera dari adik perempuannya I Tate Daeng Masiang yang diperistrikan oleh I Sulaimana Daeng Massikki Karaeng Simbang.
I Lamo Daeng Ngiri yang pertama kali mendirikan secara otonom Lembaga Ke-Kadhi-an di Maros, tepatnya pada tahun 1815, ketika Sayyid Amrullah Daeng Mambani diangkat sebagai Kadhi Maros berkedudukan di Labuan (Turikale) dengan wilayah fungsi seluruh daerah adat di Wilayah Maros. Ke-Kadhi-an ini adalah kesinambungan dari Kadhi Bontoala Kerajaan Gowa.
Pada tahun 1831, I Lamo Daeng Ngiri kembali keharibaan Sang Khalik dan sebagaimana dituliskan di depan penggantinya adalah :

II.   MUHAMMAD YUNUS DAENG MUMANG (1831 – 1859)

Dalam mengendalikan pemerintahan Muhammad Yunus Daeng Mumang tetap bergelar I Daeng ri Turikale. Ciri Beliau dalam mengendalikan pemerintahan tetap mengikuti ciri yang ditunjukkan oleh pamannya I Lamo Daeng Ngiri.
Dalam masa pemerintahannya lah pertama kali Masjid Turikale dibangun meski dalam bentuk yang sangat sederhana sekaligus diresmikan berdirinya Lembaga Ke-Imam-an Turikale dengan mengangkat pertama kali sebagai Imam Turikale ialah Syech Muhammad Yusuf Daeng Makkuling, keturunan ke-7 garis laki-laki dari Syech Yusuf Tuanta Salamaka ri Gowa yang memperistrikan puteri Muhammad Yunus Daeng Mumang yang bernama Sitti Habiba Daeng Manurung.
Muhammad Yunus Daeng Mumang memperistrikan I Getteng dan memberi keturunan masing-masing :
1. Sulaimana Daeng Mattara
2. Habiba Daeng Manurung
3. Yadaneng Daeng Rannu
4. Hudaerah Daeng Tayu
Sesungguhnya yang amat pantas untuk menggantikannya ialah putera sulungnya Sulaimana Daeng Mattara, tetapi oleh Beliau hal tersebut tidak direstui menjadi Putera Mahkota sebab prilaku Sulaimana Daeng Mattara menurut penilaian beliau kurang terpuji sehingga oleh Beliau yang diamanahkan untuk menggantikannya ialah keponakannya bernama I Laoemma Daeng Manrapi, putera adiknya I Dolo Daeng Patokkong Petta CorawaliE ri Makuring, yang ketika itu telah menjabat sebagai Karaeng Simbang.
Puteri Muhammad Yunus Daeng Mumang bernama Habiba Daeng Manurung diperistrikan oleh Syech Muhammad Yusuf Dg Makkuling (Imam Turikale I), kelak keturunannya akan senantiasa menjabat sebagai Imam Turikale. Puteri selanjutnya Yadaneng Daeng Rannu diperistrikan oleh Sayyid Tanro Dg Mangawing yang keturunannya sekarang merupakan rumpun keluarga Sayyid yang bertempat tinggal di Tambua Maros Utara. selanjutnya puterinya yang bernama Hudaera Daeng Tayu diperistrikan oleh Jayalangkara Dg Pasila menurunkan keturunan yang saat ini merupakan sebuah keluarga besar di Bontotangnga Tanralili.
Pada masa pemerintahan Muhammad Yunus Daeng Mumang yang menjabat sebagai Kadhi ialah Sayyid Husain Daeng Massese (1856), Sayyid Abdul Rahman Daeng Marewa (1856) dan Sayyid Muhammad Ali Daeng Mangnguluang (1856 – 1889).

III.   LA OEMMA DAENG MANRAPI (1859 – 1872)

La Oemma Daeng Manrapi adalah Kepala Pemerintahan Turikale yang pertama-tama bergelar Regent, sebab ketika naik tahta menggantikan pamannya Muhammad Yunus Daeng Mumang, pemerintah Belanda yang menguasai Sulawesi Selatan mengubah bentuk pemerintahan semua kerajaan lokal di Sulawesi Selatan menjadi Regentschaap yang dikepalai oleh seorang penguasa dengan gelar Regent.
La Oemma Daeng Manrapi adalah putera dari La Dolo Daeng Patokkong Petta CorawaliE ri Makuring Karaeng Simbang VIII (adik kandung Muhammad Yunus Daeng Mumang) Ibundanya bernama I Besse Daeng Kanang (puteri Karaeng Tallasa).
Sebelum La Oemma Daeng Manrapi diangkat sebagai Regent/Karaeng Turikale, beliau telah menduduki tahta Karaeng Simbang IX sejak tahun 1834 sehingga dengan pengangkatannya sebagai Regent Turikale, beliau melebur menjadi satu pemerintahan antara Simbang dan Turikale yang berpusat di Redaberu.
Beliau adalah seorang pengikut fanatik Tarekat Khalwatiah Samman sehingga dalam masa pemerintahannya masyarakat benar-benar hidup dalam nuansa religius yang islami. Beliau beristri dua kali, yang pertama dengan I Bakko Daeng Taunga yang diperistrikannya sebelum memangku jabatan sebagai Karaeng Simbang & Turikale dan yang kedua dijadikannya sebagai permaisuri (karaeng baine) ialah I MaErana Daeng Taugi Puang LoloE, puteri dari I Malarau Daeng Materru Karaengta Allu, dan dari Karaeng Baine-a ini lahir keturunan :
1. Andi Patahuddin Daeng Parumpa (Karaeng Simbang X)
2. Andi Sahada Daeng Ningai
Putera tertua Andi Patahuddin Daeng Parumpa kelak akan memangku jabatan sebagai Sullewatang Turikale dan Karaeng Simbang X, memperistrikan Andi Maemuna Daeng Talele mempunyai keturunan :
1. Andi Sohrah Daeng Masennang
2. Andi Amiruddin Daeng Pasolong (Karaeng Simbang XI)
3. Andi Abdul Rahaman Daeng Mamamngung (Controlleur van Maros)
4. Andi Najamuddin Daeng Marala (Hulp Bestuurs Asisten van Selayar)
sedangkan puterinya Andi Sahada Daeng Ningai diperistrikan oleh Andi Baduddin Daeng Manuntungi (asal Gowa) dan melahirkan keturunan :
1. Andi Lolo Daeng Patobo (Imam Simbang
2. Andi Faharuddin Daeng Sisila (Imam Simbang)
3. Andi Abdullah Daeng Matutu (Karaeng Tanralili)
Pada masa pemerintahan La Oemma Daeng Manrapi yang menjabat sebagai Kadhi ialah Sayyid Muhammad Ali Daeng Mangnguluang dan sebagai Imam adalah Haji Andi Abdullah Daeng Maggading. Setelah Beliau wafat lalu bergelar Karaeng Matinroa ri Bontomuloro, dan digantikan oleh sepupunya.

IV. ANDI SANRIMA DAENG PARUKKA (1872 – 1892)

Beliau naik tahta sebagai Regent/Karaeng Turikale pada tahun 1872 ketika La Oemma Dg Manrapi Wafat dan putera sulungnya Andi Patahuddin Daeng Parumpa masih kanak-kanak, maka Dewan Hadat Turikale menetapkannya sebagai Karaeng Turikale yang baru.
Beliau adalah putera dari I Djipang Daeng Manessa seorang bangsawan Gowa asal Kera-kera. Ibundanya bernama I Radeng Daeng Nigalo (adik kandung Muhammad Yunus Daeng Mumang Karaeng Turikale II).
Ketika Andi Sanrima Daeng Parukka masih berusia remaja menurut riwayat adalah seorang remaja yang bandel, tetapi berkat pembinaan dari kakak sepupunya La Oemma Daeng Manrapi Karaeng Turikale III, beliau lalu mendalami dengan tekun ajaran Islam melalui Tarekat Khalwatiah Samman sehingga dikenal luas sebagai seorang tokoh utama dalam jajaran Tarekat tersebut disamping para Syech Besar yang berkedudukan di Leppakkomai dan Patte’ne.
Dari Syech Abdul Razak Puang Palopo (Syech Murabbi Tarekat Khalwatiah Samman) beliau mendapatkan izin dan padlilah sebagai seorang Chalifah. Atas inisiatif dan prakarsa Beliau Tarekat Khalwatiah Samman disebarluaskan hingga masyarakat awam yang pada awalnya hanya untuk kalangan keluarga bangsawan/raja, atas inisiatif ini yang suatu yang sangat responsif oleh Syech Besar beliau diberi gelar Syech Al-Haj Abdul Qadir Jaelani. Karena kharisma dan kearifan beliau yang demikian agung sehingga, beliau lebih dikenal luas di negeri-negeri luar Turikale sebagai seorang Ulama ketimbang sebagai seorang Umara (Aristokrat/Penguasa).
Andi Sanrima Daeng Parukka pertama kali memperistrikan I Tanra Daeng Tamene Karaengta Sanggiringan, karena tidak dikarunia anak lalu bercerai selanjutnya diperistrikannya Sitti Hawang Daeng Tasabbe yang melahirkan :
1. Andi Palaguna Daeng Marowa (Karaeng Turikale V)
2. Andi Badalang Daeng Te’ne
selanjutnya diperistrikan lagi Andi Mumba Petta Baji, puteri dari Andi Manyandari Daeng Paranreng Karaeng Marusu XII Matinroe ri Campagae, dan melahirkan :
1. Andi Page Daeng Paranreng (Petta Hajji)
2. Andi Duppa Daeng Malewa
3. Andi Gulmania Daeng Baji
seorang lagi istri beliau melahirkan putera bernama Andi Pallanti Daeng Sitoro.
Putera beliau yang tertua Andi Palaguna Daeng Marowa kelak menggantikannya sebagai Karaeng Turikale V, sedangkan puterinya Andi Badalang Daeng Te’ne diperistrikan oleh Andi Radja Daeng Manai Karaeng Bonto. Puteranya Andi Page Daeng Paranreng kelak menjadi Karaeng Imam Turikale (keturunannya diuraikan secara tersendiri pada Bab tentang Imam Turikale). Puteranya lagi Andi Duppa Daeng Malewa adalah ayahanda dari Andi Mardjang Sanrima Daeng Malewa Arung Cenrana XI, sedangkan puterinya Andi Gulmania Daeng Baji diperistrikan oleh Syech Haji Andi Abdullah Daeng Mangatta (Syech Murabbi ke-45 Tarekat Khalwatiah Samman, Putera Syech Haji Abdul Razak Puang Palopo, Syech Murabbi ke-44 Tarekat Khalwatiah Samman).
Ada empat orang Kadhi yang menjabat secara berurutan dalam masa pemerintahannya, yaitu : Sayyid Muhammad Ali Daeng Mangnguluang, (1856-1889), Sayyid Abdul Wahab Daeng Mangngawing (1889), Sayyid Thaha Daeng Mamala (1889) serta Sayyid Ahmad Basri Daeng Paranreng (1889 – 1899). Sedangkan yang menjabat sebagai Imam Turikale ialah Haji Andi Kamarong Daeng Manggauki.
Karena keinginan untuk lebih mengabdikan diri pada pengembangan Tarekat Khalwatiah Samman, maka pada tahun 1892, Beliau mengundurkan diri dan digantikan oleh puteranya Andi Palaguna Daeng Marowa. Beliau wafat pada tahun 1912 dan memperoleh gelar anumerta Puang Karaeng Matinroe ri Masigi’na.
V. ANDI PALAGUNA DAENG MAROWA (1892 – 1924)

Setelah ayahandanya mengundurkan diri dalam tahun 1892 maka sebagai putera tertua yang telah lama aktif membantu ayahandanya mengendalikan pemerintahan, beliau lalu dilantik menjadi Regent/Karaeng Turikale, meski pada awalnya yang dipersiapkan untuk menjadi Regent/Karaeng adalah adiknya Andi Page Daeng Paranreng, namun enggan karena ternyata lebih mendalami persoalan keagamaan dan merestui pengangkatan kakaknya menduduki tahta Turikale.

Sebagaimana watak dan prilaku ayahandanya, Beliau inipun seorang yang amat mendalami Tarekat Khalwatiah Samman sehingga penampilan, tutur kata dan sikap laku Beliau amat teladan dan kharismatik. Beliau menerima idzin dan padlilah sebagai seorang Chalifa dalam Tarekat tersebut dari ayahandanya atas restu Syech Besar di Leppakkomai dan mempunyai nama Islam : Syech Muhammad Salahuddin ibni Syech Al-Haj Abdul Qadir Jaelani.
Ketika beliau naik tahta, turut mendampinginya sebagai Sullewatang (Acting Regent) ialah Andi Patahuddin Daeng Parumpa, hal ini karena beliau faham betul bahwa Andi Patahauddin Daeng Parumpa juga berhak atas tahta Turikale sebab beliau adalah putera mendiang La Oemma Daeng Manrapi Karaeng Turikale III. Selanjutnya kepada Andi Patahuddin Daeng Parumpa diserahkan kembali Wilayah Simbang yang seluas 24 kampung untuk dikuasainya. Andi Palaguna Daeng Marowa memperistrikan pertamakali Andi Djamintang Daeng Jimene, puteri Karaeng Ngemba Karaengta Kera-kera, dari istri ini lahir
1. Andi Abdul Hamid Daeng Manessa (Karaeng Turikale VI)
2. Andi Marzuki Daeng Marewa
3. Andi Zainuddin Daeng Mangatta (Karaeng Imam Turikale)
4. Andi Juhaefa Daeng Tasabbe (Istri Andi Abdul Rahman Daeng Mamangung, Controlleur Maros/Putera Andi Patahuddin Daeng Parumpa Karaeng Simbang / Sullewatang Turikale)
5. Andi Radeng Ramlah Daeng Nipuji (istri Andi Djipang Daeng Mambani Karaeng Bonto)
Selanjutnya diperistrikannya lagi St. Malang Daeng Sibollo yang melahirkan :
1. Andi Baso Daeng Magassing
2. Andi Halimah Daeng Ke’nang
3. Andi Mapparessa Daeng Sitaba (Karaeng Turikale VII)
terakhir Andi Palaguna Daeng Marowa memperistrikan St. Sakone Daeng So’na dan melahirkan :
1. Andi Aisyah Daeng Kebo
2. Andi Fatimah Daeng Galo
3. Andi Hatifa Daeng De’nang
4. Andi Yahya Daeng Nyonri
5. Andi Sohrah Daeng Senga
Pada tahun 1917, Beliau mulai kurang aktif mengendalikan pemerintahan. Tugas pemerintahan lebih banyak dijalankan oleh putera sulungnya Andi Abdul Hamid Daeng Manessa. Kegiatan beliau lebih banyak pada pelaksanaan Tarekat Khalwatiah Samman dan upaya membuka sawah dan ladang di daerah Mangento Tanralili dan sekitarnya yang selanjutnya dibagikan kepada para pengikutnya. Oleh karena itu selanjutnya beliau disebut dengan gelar Karaeng Mangento.
Pada saat pemerintahan beliau yang menjadi Kadhi ialah Sayyid Abdul Wahid Daeng Mangngago (1889 – 1918) dan Sayyid Abdul Hamid Daeng Pasampa (1918 – 1923) sedangkan yang menjabat Imam adalah Haji Andi Muhammad Saleh Daeng Manappa. Dalam masa pemerintahannya pula, beliau bersama dengan seluruh Karaeng dan Imam yang ada dalam Wilayah Maros sepakat untuk mengangkat Haji Abdul Kadir Daeng Mangngawing Imam Marusu menjadi Kadhi Maros menyebabkan berpindahnya pusat kedudukan Kadhi dari Labuan (Turikale) ke Kassikebo (Marusu). Beliau pula yang memerintahkan agar Arajang/Kalompoang (Regelia) Turikale yang disebut “Rakkala Manurunge” dialihkan tempat persemayamannya ke Tala’mangape, sebab beliau khawatir sikap kultus kebendaaan terhadap arajang/kalompoang dapat membuat masyarakat Turikale merusak aqidahnya.
Pada Tahun 1925 secara resmi Beliau mundur dari jabatannya dan digantikan puteranya. Tanggal 15 Februari 1939, beliau berpulang kerahmatullah dan dimakamkan di belakang Masjid Urwatul Wutzqa tepat di sisi kanan makam ayahandanya.
VI. ANDI ABDUL HAMID DAENG MANESSA (1925 – 1946)
Beliau mulai ikut mengendalikan pemerintahan di Turikale sejak Tahun 1917 ketika ayahandanya pergi menetap ke Mangento membuka sawah dan ladang, namun pengangkatannya sebagai Karaeng Turikale secara resmi adalah tahun 1924. Dalam masa pemerintahannyalah bentuk pemerintahan Kerajaan lokal di Wilayah Maros termasuk Turikale berubah dari status sebagai Regentschaap menjadi Distrik Adat Gemenschaap yang dikepalai oleh seorang Kepala Distrik dengan gelar Karaeng, dengan demikian para penguasa Kerajaan lokal telah ditetapkan sebagai Pegawai Negeri/Ambtenar oleh pemerintah kolonial Belanda dan diberi gaji/tunjangan sesuai jabatannya.
Beliau dikenal sebagai seorang Karaeng yang berwatak keras dan tegas, sikap perjuangan yang ditunjukkannya adalah anti kolonialisme sehingga secara transparan tidak mau menerima ajakan kerjasama fihak Belanda. Bahkan secara aktif menyokong jalannya perjuangan rakyat menentang kekuasaan Belanda. Tak jarang beliau sendiri yang memimpin rapat-rapat dengan pimpinan perjuangan rakyat baik bertempat di rumahnya maupun di kantornya.
Andi Abdul Hamid Daeng Manessa hanya sekali beristri yaitu dengan Andi Nyameng Daeng Manurung dan dari perkawinannya ini dianugerahi keturunan sebagai berikut :
1. Andi Hadia Daeng Niasi (istri dari Andi Tambi Karaeng Bungoro)
2. Andi Nurdin Sanrima (Brigadir Jenderal Polisi)
3. Andi Djohar Daeng Sompa
4. Andi Sima Daeng Jime
5. Andi Djamil Daeng Pabundu
Dalam masa pemerintahannya kedudukan Kadhi tidak lagi di Labuan Turikale tetapi di Kassikebo Marusu dan yang menjabatnya ialah Haji Abdul Kadir Daeng Mangngawing. Sedangkan yang menjabat sebagai Imam Turikale dalam masa ini ialah Haji Andi Page Daeng Parenreng (Petta Hajji) yang menjabat pada tahun 1928 – 1930 kemudian dilanjutkan oleh Haji Andi Abdul Latief Daeng Matekko (1930 – 1938) dan Haji Andi Zainuddin Daeng Mangatta (1938 – 1943).
Setelah kesehatan beliau sudah mulai uzur sehingga tidak memungkinkan lagi untuk mengendalikan pemerintahan, lalu mengundurkan diri dan digantikan oleh adiknya dari lain ibu Haji Andi Mapparessa Daeng Sitaba.
VII. HAJI ANDI MAPPARESSA DAENG SITABA (1946 – 1959)
Setelah Andi Abdul Hamid Daeng Manessa mengundurkan diri, maka diangkatlah Andi Mapparessa Daeng Sitaba sebagai Karaeng/Kepala Distrik Turikale yang baru, yang sebelumnya adalah seorang perwira polisi.
Andi Mapparessa Daeng Sitaba adalah seorang yang berpenampilan menarik. Kemampuan dan penampilannya yang simpatik menyebabkan beliau senantiasa dipercayakan oleh rekan-rekannya para Kepala Distrik (Karaeng) untuk tampil di bagian terdepan. Beliau adalah KetuaPanitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Maros dan bersama Haji Andi Sirajuddin Daeng Maggading Karaeng Simbang menjadi utusan resmi rakyat Maros menghadap Andi Pangerang Petta Rani Gubernur Sulawesi ketika itu untuk memperjuangkan pembentukan Kabupaten Maros terpisah dari Daerah Swatantra Makassar.
Pada medio tahun 1959, beliau berhenti dari jabatannya sebagai Kepala Distrik/Karaeng Turikale. Beliau memperistrikan pertama kali Andi Djohra Daeng Nganne yang bergelar Karaeng Baineya yang melahirkan puteri tunggal :
– Andi Nuraeni Daeng Baji (istri Kolonel Polisi A. Djabbar Dg Matutu).
Selanjutnya beliau memperistrikan lagi St. Djohani Daeng Ngugi dan melahirkan keturunan:
1. Andi Syahril Sanrima
2. Andi Budialan Daeng Te’ne
3. Andi Ahmad Latief , Drs (Letnan Kolonel Polisi)
4. Andi Ratna
VIII. ANDI KAMARUDDIN SYAHBAN DG. MAMBANI (1959 – 1963)
Pada saat berhentinya Andi Mapparessa Daeng Sitaba sebagai Karaeng/Kepala Distrik, maka oleh Dewan Hadat Turikale mempersiapkan beberapa orang calon pengganti, namun ternyata pada Sidang Dewan Hadat, yang memperoleh suara terbanyak adalah Andi Kamaruddin Syahban Daeng Mambani.
Beliau tidak berdarah Turikale secara langsung, tetapi beliau adalah seorang bangsawan Marusu yang bertalian darah erat dengan Rumpun Turikale. Ayahandanya bernama Andi Syahban Daeng Massikki, putera dari Andi Mannaungi Daeng Mananting Karaeng Imam Marusu (putera dari La Pagala Daeng Pabuang Sullewatang Marusu , putera dari La Tifu Daeng Mattana Karaeng Marusu, putera dari La Mamma Daeng Marewa Karaeng Marusu Matinroa ri Samangki). Ibundanya bernama Andi Lawiyah Petta Kanang puteri dari Andi Paccanring Daeng Siala, putera dari La Paduppai Daeng Palawa Petta Sullewatang Timboro Matinroa ri Bontobiraeng (putera dari La Barania Daeng Palallo Petta Sullewatang Timboro Matinroe ri Marusu). Ibu dari Ibundanya bernama Andi MaEsuri Daeng Masennang, puteri dari Andi Surullah Daeng Palopo Karaeng Marusu Matinroa ri Kassikebo kakak dari Andi Mumba Petta Baji (istri Andi Sanrima Daeng Parukka Karaeng Turikale IV), yaitu putera dari Andi Manyandari Daeng Paranreng Karaeng Marusu Matinroe ri Campagae. Dari uraian itulah sehingga tergambar bahwa beliau ini bertalian darah sangat erat dengan para elit bangsawan Turikale.
Pada masa revolusi Kemerdekaan, beliau adalah seorang pucuk pimpinan Badan Perjuangan di Maros, bahkan merupakan unsur pimpinan pada Organisasi Perjuangan PPNI (Pusat Perjuangan Nasional Indonesia) . Sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau dianugerahi beberapa Bintang Jasa Pahlawan seperti antara lain Bintang Gerilya, Bintang Sakti, Bintang Perang Kemerdekaan, Bintang Gerakan Operasi Militer I,II,III,IV dan V, dll.
Beliau memperistrikan kerabat keluarganya dari Marusu bernama Andi Djauhariah Daeng Taugi cucu dari Andi Yahya Daeng Ma’lira Karaeng Imam Marusu dan dianugerahi keturunan :
1. Andi Rahmayati Daeng Kenna
2. Andi Amiruddin Daeng Palawa
3. Andi Tenrijajah Daeng Sompa
4. Andi Anwar Daeng Lira
5. Andi Marwah Daeng Tjarammeng
6. Andi Arifin Daeng Massikki
7. Andi Husnah
8. Andi Mujnah Daeng Gallo
9. Andi Baso Aqsa Daeng Mananting
Pada tanggal 1 Juni 1963, UU No. 29/1959 mulai diberlakukan, yaitu penghapusan Pemerintahan Adat (Distrik) bentukan lama dalam wadah Kabupaten Daerah Tk.II Maros, sehingga secara otomatis seluruh Karaeng/Kepala Distrik melepaskan jabatannya. Setelah kejadian tersebut beliau lalu beralih tugas sebagai seorang Pamong Praja dengan tempat tugas Kantor Gubernur KDH Tk.I Sulsel hingga pensiun pada tahun 1980.

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: