Suku Bayan – P. Lombok, NTB

Suku Bayan adalah suatu komunitas yang merupakan bagian khusus dari masyarakat suku-bangsa Sasak yang lebih luas, dan dikenal sebagai pusat budaya Lombok tertua. Komunitas ini terpusat di sebuah desa yang bernama Desa Bayan, sebagai bagian dari wilayah Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Lihat juga: Kerajaan (Kedatuan) Bayan

Lokasi pulau Lombok


Tentang Suku Bayan

Sistem kekerabatan Suku Bayan

Sistem kekerabatan berdasarkan hubungan dari leluhur yang sama di dalam masyarakat suku Bayan disebut dengan Kadang Waris, yaitu: hubungan keturunan dari pihak kerabat tunggal leluhur asal laki-laki (patrilineal). Ikatan kekerabatan ini diperoleh berdasarkan genealogis dari suatu perkawinan. Mereka yang telah berkeluarka biasanya tinggal bersama di tempat kediaman keluarga laki-laki dalam suatu pekarangan (keluarga segubuk atau keluarga luas), namun masing-masing terpecah dalam keluarga-keluarga intinya yang berdekatan satu sama lain.

Pada sistem perkawinan masyarakat suku Bayan dikenal dengan nama kawin perodongan (perjodohan), yaitu perkawinan antara laki-laki dengan perempuan yang masih merupakan kerabat dekat atas kemauan kedua orang tua tanpa sepengetahuan kedua mempelai; kawin lamar, yaitu perkawinan antara laki-laki dengan perempuan yang masih merupakan kerabat dekat atas dasar suka sama suka, baik karena kemauan kedua orang tua maupun dari orang tua pihak laki-laki saja; kawin marariq, yaitu perkawinan antara laki-laki dan perempuan atas dasar suka sama suka, tetapi tidak mendapatkan persetujuan dari orang tua; serta bero, yaitu perkawinan incest (sumbang) yang ditabukan secara adat, yaitu perkawinan anak dengan sepupu derajat pertama dan perkawinan antara seorang laki-laki dengan kemenakannya sendiri. Bentuk perkawinan yang ideal dalam suku Bayan adalah paternal pararel cousin (perkawinan dengan saudara misan) karena dianggap dapat memelihara kemurnian darah keturunan, menambah ikatan kekerabatan, serta dapat mempertahankan keutuhan warisan.

Kepercayaan Suku Bayan

Suku Bayan mengkonsep alam ke dalam tiga golongan yang saling bertentangan. Golongan pertama disebut dengan gumi beliq (makrokosmos/alam semesta), yang bersifat sakral, suci, keramat, dan memiliki kekuatan ataupun sifat baik. Golongan kedua disebut dengan gumi beriq (mikrokosmos/manusia), yang bersifat tidak keramat, profan (tidak suci), dan memiliki kekuatan ataupun sifat buruk. Golongan ketiga disebut dengan gumi baqiq (alam roh-roh halus), yang merupakan kombinasi dari sifat golongan pertama dan kedua.

Konsep tentang gumi beliq, gumi beriq, dan gumi baqiq tersebut merupakan suatu orientasi nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat suku Bayan yang berhubungan dengan alam sekitar mereka. Hal tersebut diyakini dapat mengantisipasi sikap masyarakat dalam mengelola alam secara semena-mena. Untuk menyelaraskan kehidupan yang harmoni dengan alam sekitar dan menghormati para leluhur, maka suku Bayan melaksanakan upacara ritual yang disebut dengan Upacara Bagawe Aliq. Upacara tersebut dilaksanakan setiap tahun pertama dalam rangkaian delapan tahun yang seluruhnya menjadi satu windu dan diselenggarakan di atas sebuah bukit yang terletak di tengah-tengah wilayah desa.

Agama suku Bayan: Islam Wetu Telu

Suku Bayan pernah menganut agama Islam yang disebut dengan Islam Wetu Telu. Pada saat ini, kepercayaan tersebut semakin berkurang jumlahnya. Hal tersebut kemungkinan dikarenakan mereka menjadi sasaran kegiatan-kegiatan dakwah yang terus meningkat dari kalangan Islam Waktu Lima yang telah berhasil mengkonversi banyak penganut Islam Wetu Telu. Islam Wetu Telu adalah suatu sistem kepercayaan yang dianut oleh sekelompok suku Sasak di beberapa desa yang berada di Pulau Lombok.
Islam Wetu Telu dikembangkan oleh Nursada, putra bungsu dari Pangeran Sanga Pati yang menyebarkan ajaran agam Islam di Pulau Lombok. Sistem kepercayaan ini terkait dengan ajaran Islam murni, yang mereka sebut “Islam Waktu Lima”. Pengikut Islam Wetu Telu percaya kepada Allah SWT, Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah SWT, dan Alquran sebagai kitab sucinya. Istilah Islam Wetu Telu itu sendiri tidak pernah dikenal pada masa awal perkembangan agama Islam di Pulau Lombok. Istilah tersebut dikenal sejak Belanda masuk ke pulau ini dan menajamkan istilah itu dengan “Waktu Lima” untuk memecah-belah sesuai dengan naluri para penjajah.

Dalam pelaksanaannya, mereka melakukan berbagai upacara yang banyak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Mereka hanya melaksanakan empat dari lima rukun Islam, yaitu: syahadat, shalat, zakat, dan puasa, sedangkan ibadah haji tidak mereka kenal. Orang yang wajib melaksanakan ajaran itu terbatas pada orang-orang yang disebut dengan lebe (kiai atau guru), sedangkan orang yang bukan lebe tidak perlu mengerjakan ibadah haji karena sudah diwakili oleh mereka.

Rumah Adat Bayan

Organisasi sosial

Masyarakat Bayan memiliki struktur pemerintahan desa yang tidak jauh berbeda dengan pemerintah desa lainnya. Organisasi pemerintahan desa meliputi: pemerintahan umum, bidang agama, adat-istiadat, dan bidang sosial-ekonomi. Sistem kepemimpinan masyarakat Bayan terbagi menjadi dua bagian, yaitu: sistem kepemimpinan desa dinas dan sistem kepemimpinan desa adat.


Sumber

– Suku Bayan: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bayan
– Suku Bayan: http://sinarharapan.net/2017/05/35372/
– Suku Bayan: https://www.kompasiana.com/angga_radlisa/5931604ac723bd93237b7f0c/kebudayaan-dan-adat-istiadat-suku-sasak-di-daerah-bayan-lombok-utara-nusa-tenggara-barat-ntb
– Suku Bayan: https://www.efenerr.com/2014/03/10/bayan-republika/


Mesjid Bayan Beleq

Kompleks Mesjid Bayan Beleq