Meulaboh, kerajaan / Sumatera – Prov. Aceh, kab. Aceh Barat

Kerajaan Meulaboh terletak di Sumatera, prov. Aceh, kab. Aceh Barat.
Negeri itu dibangun pada masa Sultan Saidil Mukamil (1588-1604) dari kesultanan Aceh.
Setelah berakhirnya Perang Aceh, tahun 1914, dibentuk Onderafdeling Meulaboh oleh pemerintah belanda.

The kingdom of Meulaboh is located on Sumatra, prov. Aceh, Kab. Aceh Barat. This kingdom was founded during the reign of Sultan Saidil Mukamil (1588-1604) of the sultanate of Aceh.
During the sultanate of Aceh this kingdom was a vassal or subordinate sultan of Aceh and led by the king who holds Uleebalang.
After the end of the Aceh War, in 1914, Onderafdeling Meulaboh was formed by the Dutch government.

For english, click here

Lokasi Meulaboh, kab. Aceh Barat


Foto kesultanan Aceh

* Foto kesultanan Aceh Darussalem: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh: link
*
Foto Aceh dulu: link
*
Foto perang Aceh-belanda (1873-1903): link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto Istana kerajaan di Sumatera: link


KERAJAAN MEULABOH

Sejarah kerajaan Meulaboh

Kisah ini bermulai dari tulisan blog HM Yousri Nur Raja Agam yang berjudul “Datuk Raja Agam dan Negeri Meulaboh, Aceh” yang ditulis tahun 2008 silam. Singkat ceritanya, beliau menuturkan sebuah kisah turun temurun dari nenek moyangnya yang sedikitnya tahu betul cerita perang Aceh, dimana membuat keluarnya harus berpindah dari Minangkabau, Padang hingga sampai ke Meulaboh, Aceh Barat.

Wajar saja, jika HM Yousri ini memiliki banyak saudara-saudara atau keluarga yang masih berada di Meulaboh dan juga Tapaktuan, sama seperti kisah Cut Nyak Dhien yang memiliki keturunan dari Minangkabau.

Asal mula Meulaboh adalah Negeri Pasir Karam.

Meulaboh dulu dikenal sebagai Negeri Pasir (Pasi) Karam. Kedatangan orang Minangkabau yang lari dari negerinya membuat perkebunan di daerah itu maju. Ungkapan “disikolah kito berlaboh” disebut-sebut sebagai asal mula nama Meulaboh. Menurut H M Zainuddin dalam buku Tarikh Aceh dan Nusantara (1961) asal mula Meulaboh adalah Negeri Pasir Karam. Negeri itu dibangun dibangun pada masa Sultan Saidil Mukamil (1588-1604). Pada masa kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) negeri itu ditambah pembangunannya (Baca HM Yousri, 2008).

Merujuk pada masa kerajaan Aceh Darussalam, keberadaan akan wilayah bagian barat terus mengalami peningkatan dan pembangunan dengan didatangkannya orang-orang dari Aceh Rayeuk (Besar) dan Pidie. Daerah tersebut terus ramai, khusunya di seputaran teluk Meulaboh atau yang dikenal dengan Pasi Karam.

Selain kedatangan orang-orang lokal sendiri, pendatang dari Minangkabau juga hidup berbaur dengan masyarakat setempat bahkan beberapa dari pendatang juga pernah diangkat menjadi pemimpin diantaranya, seperti Datuk Machadum Sakti dari Rawa, Datuk Raja Agam dari Luhak Agam, serta Datuk Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.

Pada masa tersebut, Pasi Karam bisa disebut sebagai salah satu daerah lahirnya Meulaboh sekarang ini –sama seperti Gampong Pande di Banda Aceh sebagai cikal bakal kerajaan Aceh– yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Teuku Keujruen Meulaboh, dan Negeri Daya (Kecamatan Jaya) yang pada akhir abad ke-15 dan telah berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah dengan gelar Poteu Meureuhom Daya.

Perkembangan selanjutnya, wilayah Aceh Barat pada akhir abad ke-17 telah berkembang menjadi beberapa kerajaan kecil yang masa itu terkenal dengan para pemimpin dari Uleebalang, yakni seperti di Kluang; Lamno; Kuala Lambeusoe; Kuala Daya; Kuala Unga; Babah Awe; Krueng No; Cara’ Mon; Lhok Kruet; Babah Nipah; Lageun; Lhok Geulumpang; Rameue; Lhok Rigaih; Krueng Sabee; Teunom; Panga; Woyla; Bubon; Lhok Bubon; Meulaboh; Seunagan; Tripa; Seuneu’am; Tungkop; Beutong; Pameue; Teupah (Tapah); Simeulue; Salang; Leukon; Sigulai.

Dalam tulisan HM Yousri menyebutkan, daerah Meulaboh terus bertambah maju ketika masa kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Ibrahim Mansjur Sjah (1841-1870) karena semakin banyaknya orang-orang dari Minangkabau yang pindah ke sana, karena pada waktu itu Minangkabau sudah dikuasai Belanda. Di sana mereka tidak lagi bebas berkebun setelah Belanda menerapkan peraturan oktrooi dan cultuurstelsel yang mewajibkan warga menjual hasil kebunnya kepada Belanda.


Silsilah Raja Meulaboh

* Tjik Pho Rahman, digantikan oleh:
* T. Tjik Masaid, digantikan oleh:
* T. Tjik Ali, digantikan oleh:
* T. Tjik Abah, diganti oleh:
* T. Tjik Manso, anak tertua menjadi raja Meulaboh, yaitu:
* T. Tjik Raja Nagor, meninggal 1913. Digantikan oleh:
* T. Tjik Ali Akbar; sementara anak T. Tjik Raja Nagor yang bernama Teuku Raja Neh, masih kecil.

Saat Teuku Raja Neh (ayah dari H.T. Rosman, mantan Bupati Aceh Barat) anak dari Teuku Tjik Raja Nagor besar, ia menuntut agar kerajaan dikembalikan kepadanya. Namun T. Tjik Ali akbar yang dekat dengan belanda malah mengfitnah Teuku Raja Neh sakit gila, sehingga menyababkan T. Raja Neh dibuang ke Sabang.
Pada tahun 1942 saat Jepang masuk ke Meulaboh, T.Tjik Ali Akbar dibunuh oleh Jepang bersama dengan Teuku Ben dan pada tahun 1978, mayatnya baru ditemukan di bekas Tangsi Belanda atau sekarang di Asrama tentara Desa Suak Indrapuri, kemudian Meulaboh diperintah para Wedana dan para Bupati dan kemudian pecah menjadi Aceh Selatan, Simeulue, Nagan Raya, Aceh Jaya.

– Sumber: http://aryandashare.blogspot.co.id


KERAJAAN-KERAJAAN KECIL DI BAWAH KESULTANAN ACEH

– Untuk sistem pemerintahan Uleebalang dll. lengkap: klik di sini

Kesultanan Aceh Darussalam dipimpin oleh sultan bergelar Sultan Imam Adil.
Bentuk pemerintahan kesultanan Aceh adalah federasi. Disebut federasi karena kesultanan Aceh menganut prinsip desentralisasi dengan memberikan otonomi yang tinggi bagi daerah bawahannya yaitu nanggroe dan mukim, apalagi untuk daerah taklukan.

Peta kesultanan Aceh dan Uleebalang Aceh, 1917 M

11 Aceh, 1873


Peta Aceh dulu

Peta Aceh tahun 1646. Achem, from ‘Livro do Estado da India Oriental’, an account of Portuguese settlements in the East Indies, by Pedro Barreto de Resende

———————————-

Peta Aceh 1873.


Sumber kerajaan Meulaboh

Sejarah kerajaan Meulaboh: https://www.kompas.com/stori/
Sejarah kerajaan Meulaboh: http://aryandashare.blogspot.co.id
Sejarah kerajaan Meulaboh: https://www.facebook.com/photo/
– Sejarah Meulaboh: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Aceh_Barat


Sumber struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di bawah kesultanan Aceh

– Struktur pemerintahan kesultanan Aceh: http://helmiyymailcom.blogspot.co.id
Struktur pemerintahan kesultanan Aceh: http://syahrureza.blogspot.com/
Kesultanan Aceh, Ulèëbalang dan pembagian wilayah: https://id.wikipedia.org/
Struktur pemerintahan kesultanan Aceh: https://www.facebook.com/
Uleebalang, raja kecil dalam kesultanan Aceh: https://id.wikipedia.org/
Sistem pemerintahan kesultanan Aceh lokal: https://id.wikipedia.org/wiki/

Kesultanan Aceh: klik di sini


Peta Uleebalang Aceh 1917


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: