Tallo (Gowa-Tallo), kesultanan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Gowa

Kerajaan Tallo (Gowa-Tallo), pertengahan abad 15 – 1856, terletak di Sulawesi, Kab. Gowa, prov. Sulawesi Selatan. Raja kerajaan Tallo masih ada (2022).
Pembentukan kerajaan Gowa terjadi pada sekitar tahun 1300.
Abad ke-15 mendirikan kerajaan Tallo.
Hingga pada akhirnya, Gowa dan Tallo bersatu dalam kesepakatan “dua raja tetapi satu rakyat” pada 1565. Setelah bersatu kembali, kerajaan ini disebut kerajaan Gowa-Tallo atau kerajaan Makassar.

The kingdom of Tallo (Gowa-Tallo), 15th century – 1856, was located in south Sulawesi; in the district Gowa. South Sulawesi. There is still (2022) a king of Tallo.
The Gowa kingdom was founded around 1300.
The kingdom of Tallo was founded in the 15th century.
Gowa and Tallo were united in the agreement of “two kings but one people” in 1565. After reuniting, this kingdom was called the Gowa-Tallo kingdom or the Makassar kingdom.
For english, click here

Lokasi kab. Gowa


* Foto kerajaan Tallo: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KESULTANAN TALLO

Tentang Raja

Sultan (2020): Raja Tallo ke-19, I Paricu Muhammad Akbar Amir Sultan Aliyah Dg Manaba Karaeng Tanete.


Sejarah kerajaan Tallo

Umum

Umum

Pembentukan kerajaan Gowa terjadi pada sekitar tahun 1300, di mana masyarakat dan penguasanya masih menganut kepercayaan animisme.
Kerajaan Gowa pernah terbelah menjadi dua setelah masa pemerintahan Tonatangka Lopi pada abad ke-15. Dua putra Tonatangka Lopi, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero, berebut takhta sehingga terjadilah perang saudara. Setelah Batara Gowa menang, Karaeng Loe ri Sero turun ke muara Sungai Tallo dan mendirikan kerajaan Tallo.
Selama bertahun-tahun, dua kerajaan bersaudara ini tidak pernah akur. Hingga pada akhirnya, Gowa dan Tallo bersatu dalam kesepakatan “dua raja tetapi satu rakyat” pada 1565. Setelah bersatu kembali, kerajaan ini disebut kerajaan Gowa-Tallo atau kerajaan Makassar.

Sejarah kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo

Sejarah kerajaan Gowa-Tallo terbagi dalam dua zaman, yaitu periode sebelum memeluk Islam dan setelah memeluk Islam.

Kerajaan Gowa-Tallo merupakan gabungan dari dua kerajaan yang berasal dari keturunan sama, yakni kerajaan Gowa. Pada awalnya, di wilayah Gowa terdapat sembilan komunitas yang dikenal dengan nama Bate Salapang atau Sembilan Bendera. Sembilan komunitas tersebut adalah Tambolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data, Agangjene, Bisei, Kalili, dan Sero.

Dengan berbagai cara, baik damai ataupun paksaan, sembilan komunitas tersebut membentuk kerajaan Gowa. Tomanurung kemudian diangkat menjadi raja dan mewariskan kerajaan Gowa kepada putranya, Tumassalangga. Bukti genealogis dan arkeologis mengisyaratkan bahwa pembentukan kerajaan Gowa terjadi pada sekitar tahun 1300, di mana masyarakat dan penguasanya masih menganut kepercayaan animisme.

Kerajaan Gowa pernah terbelah menjadi dua setelah masa pemerintahan Tonatangka Lopi pada abad ke-15. Dua putra Tonatangka Lopi, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero, berebut takhta sehingga terjadilah perang saudara. Setelah Batara Gowa menang, Karaeng Loe ri Sero turun ke muara Sungai Tallo dan mendirikan Kerajaan Tallo.

Selama bertahun-tahun, dua kerajaan bersaudara ini tidak pernah akur. Hingga pada akhirnya, Gowa dan Tallo bersatu dalam kesepakatan “dua raja tetapi satu rakyat” pada 1565. Setelah bersatu kembali, kerajaan ini disebut kerajaan Gowa-Tallo atau kerajaan Makassar dengan sistem pembagian kekuasaan. Raja Gowa dipilih dari garis keturunan Gowa dan menjadi Sombayya (raja tertinggi) sedangkan raja Tallo selain sebagai tetap raja Tallo, juga merangkap sebagai Tuma’bicara Butta (Perdana Menteri dari keturunan Tallo).

Di antara raja-raja Tallo yang menonjol adalah Karaeng Matoaya (1593-1623) dan anaknya Karaeng Pattingalloang (1641-1654), yang adalah para perdana menteri yang terpelajar dan andal, yang membawa kesultanan Makassar pada masa keemasannya.

Keruntuhan

Siasat politik adu domba yang dijalankan Belanda terbukti ampuh. Sebab, Raja Bone yaitu Aru Palaka, akhirnya mau bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makassar. Perang inilah yang kemudian dikenal dengan nama Perang Makassar.

Setelah bertahun-tahun berperang, kerajaan Makassar harus mengakui kekalahannya dan menandatangani Perjanjian Bongaya pada 1667. Dalam perjanjian tersebut, banyak pasal yang merugikan Makassar, tetapi harus diterima Sultan Hasanuddin. Dua hari setelah perjanjian itu, Sultan Hasanuddin turun takhta dan menyerahkan kekuasaan kepada Sultan Amir Hamzah.

Perjanjian Bongaya menjadi awal keruntuhan kesultanan Gowa-Tallo. Pasalnya, raja-raja setelah Sultan Hasanuddin bukanlah raja yang merdeka dalam penentuan politik kenegaraan.


Perang Makasar (1666-1669) dan Perjanjian Bungaya (1667)

Pada masa Sultan Hasanudin (berkuasa 1653 – 1669), kerajaan Gowa-Tallo harus menghadapi VOC penyebabnya keinginan VOC untuk memonopoli perdagangan di Indonesia bagian timur jelas tidak bisa diterima oleh sultan.

Konflik terjadi dan Hasanuddin berhasil menghalau pasukan VOC dari kawasan Maluku. Namun, upaya Belanda untuk menguasai jaringan perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur itu tidak pernah surut. Dengan siasat adu domba, Belanda berhasil memanfaatkan Aru Palaka (Raja Bone) untuk memasukkan pengaruhnya. Saat itu, kerajaan Bone masuk dalam kekuasaan kerajaan Makassar.

Tanggal 7 Juli 1667, meletus Perang Goa. Tentara VOC dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman, diperkuat oleh pengikut Aru Palaka dan ditambah orang-orang Ambon di bawah pimpinan Jonker van Manipa. Kekuatan VOC ini menyerang pasukan Goa dari berbagai penjuru.

Beberapa serangan VOC berhasil ditahan pasukan Hasanuddin. Tetapi dengan pasukan gabungan disertai peralatan senjata yang lebih lengkap, VOC berhasil mendesak pasukan Hasanuddin. Benteng pertahanan tentara Goa-Tallo di Barombang dapat diduduki oleh pasukan Aru Palaka. Hal ini menandai kemenangan pihak VOC atas kerajaan Gowa-Tallo. Hasanuddin kemudian dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang isinya antara lain:

* Makassar harus mengakui monopoli VOC,
* Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal Gowa saja,
* Makassar harus membayar ganti rugi atas peperangan,
* Hasanuddin harus mengakui Aru Palakka sebagai Raja Bone,
* Gowa tertutup bagi orang asing selain VOC,
* Benteng-benteng yang ada harus dihancurkan kecuali Benteng Rotterdam.

Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan VOC, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat milik kesultanan Gowa yaitu Benteng Somba Opu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

Sebuah nisan di pemakaman Raja-raja Tallo


Daftar Raja (Datuk) 

sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Kingdom_of_Tallo

  • Karaeng Loe ri Sero’ mid-15th century
  • Tunilabu ri Suriwa (putera) c. 1500
  • Tunipasuru’ (putera) ?-c. 1540/43
  • I Daeng Padulu (putera) 1540/43-1576
  • I Sambo (puterputerai) 1576-90
  • Tunipasulu’ (son) 1590-1593
  • Karaeng Matowaya, Abdullah (paman) 1593-1623
  • Karaeng Kanjilo, Muzaffar (putera) 1623-1641
  • Karaeng Patingalloang (saudara) 1641-1654
  • Harunarrasyid (putera Karaeng Kanjilo) 1654-1673
  • Abdul Qadir Mappajanji (putera) 1673-1709
  • Sirajuddin Mappaurangi (putera) 1709-1714
  • Najmuddin I Manrabia (putera) 1714-1729
  • Sirajuddin Mappaurangi (second time) 1729-1739
  • Safiuddin Karaeng Limpangang (putera) 1739-1760
  • Tu Timoka (cucu Najmuddin) 1760-1761
  • Abdul Qadir Karaeng Majannang (cucu Karaeng Patingalloang) 1761-67
  • Sitti Saleh I (Ratu dari Taeng) 1767-1777
  • interregnum 1777-1814
  • Sitti Saleh II (puteri Safiuddin) 1814-1824
  • Abdul Rauf Karaeng Limbangparang (saudara) 1824-1825
  • I Kumala Abdul Kadir (putera) 1825
  • La Odanriu Karaeng Katangka (paman) 1825-1845
  • Aisyah (sister) 1845-1850
  • La Makkarumpa Daeng Parani (cucu La Odanriu) 1850-1856

klik gambar untuk besar


Komplek makam raja-raja Tallo

Makam Raja-raja Tallo terletak di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, sekitar enam kilometer sebelah utara titik nol kilometer Kota Makassar, Lapangan Karebosi.

Makam-makam di kompleks itu umumnya berciri makam abad XVII yang menyerupai bangunan candi. Terbuat dari batu cadas dan batu bata dari tanah liat yang direkatkan satu sama lain. Total luas kompleks itu adalah 1 hektare. Tertata sebagai sebuah taman yang teduh karena banyak pohon besar dan rindang.

Terdapat 78 makam di kompleks tersebut. Berisi makam Raja Tallo pertama beserta anak cucunya. Makam-makam itu memiliki tiga tipe yang berbeda-beda. Tipe pertama adalah susun timbun, yaitu makam yang dibuat dari susunan balok balok batu persegi menyerupai candi. Terdiri atas kaki, tubuh, dan atap dengan bagian dalam yang berongga.
Tipe kedua adalah papan batu, yaitu makam yang dibuat menurut bangunan kayu yang terdiri dari empat bilah papan batu berbentuk empat persegi panjang. Tipe ketiga adalah bangunan kubah, yaitu makam dengan bangunan berongga dan berdiri di atas batu segi empat dengan atap kubah terdiri atas empat bidang lengkung.

Makam para raja ini memiliki beragam hiasan, antara lain hiasan tumbuh tumbuhan, medalion, tumpal, huruf arab, dan huruf lontara (tulisan khas Bugis-Makassar).


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Tallo Wiki: link
Sejarah kerajaan Tallo:  http://gowa-negeri1001cerita.blogspot.co.id/2014/04/sejarah-kerajaan-tallo.html
Sejarah Kesultanan Gowa di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Gowa
– Sejarah kesultanan Makasar di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Makassar

– Daftar Raja Tallo:  http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html
Daftar Raja Tallo:  http://jejakcelebes.blogspot.co.id/2012/06/silsilah-raja-raja-tallo.html

Situs komplex makam raja Tallo: http://www.haeruddinsyams.com/2014/05/situs-sejarah-kompleks-makam-raja-tallo.html
Asal usul kerajaan Gowa Tallo: http://youchenkymayeli.blogspot.co.id/2012/10/asal-usul-kerajaan-gowa-tallo.html
————-
Facebook:  Kerajaan Tallo


Raja Tallo the 19th, Sultan Auliah Akbarsyah in 2014

Raja Tallo the 19th, Sultan Auliah Akbarsyah in 2014


Sulawesi Selatan tahun 1590

—————————–

Sulawesi Selatan, tahun 1909


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: