Rongkong, katomakaan (kerajaan) / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Luwu Utara

Ketomakaan (kerajaan) Rongkong, kab. Luwu Utara, prov. Sulawesi Selatan.
Pemimpin Rongkong disebut Tomakaka. Wilayah yang dipimpin Tomakaka, disebut Katomakaan.

Lokasi kab. Luwu Utara


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KATOMAKAAN RONGKONG

Tentang Tomakaka sekarang (2022)

17 april 2018
Tomakaka meninggal.
Tidak ada info tentang tomakaka baru.

Tampak Alm. Tomaka Lompo Rongkong D. Pakondongan Tandigau, saat diarak pada acara Adat


Tentang katomakaan Rongkong

Rongkong merupakan sebuah kecamatan di pegunungan Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Selama ini Rongkong dikenal sebagai wilayah adat.
Rongkong terdiri dari tujuh desa, yakni Limbong, Rinding Allo, Komba, Kanandede, Marampa, Minanga, dan Pengkendekan.

Tana Rongkong adalah taktisan Kerajaan Luwu. Menurut sejarah atau kada tianna artinya sejarah ini harus di turun temurunkan hingga tidak dilupakan bagi anak cucu keturunan bangsawan Rongkong (Tomokaka).
Rongkong ini asal mulanya iyalah Lamarancina To Rongkong.

Itulah pemimpinnya yang berdampingan dengan Datu Luwu (Raja Luwu).
Setiap ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi Raja Luwu dulunya, bangsawan Rongkong lah bersama dengan pengikut-pengikutnya di harap untuk menyelesaikan.

Sumber: https://makassar.tribunnews.com

Alm. Tomakaka Pongtattu berserta Almh. Istri dengan menggunakan pakaian adat Suku Rongkong


Tentang gelar Tomakaka

Daftar katomakaan: klik sini

Tomakaka adalah pemimpin adat suatu kelompok entitas sosial di tanah Mandar lama yang konon sudah ada sejak zaman prasejarah. Namun, beberapa daerah masih mempertahankan kelembagaan adat Tomakaka hingga saat ini.

Tomakaka yang menjadi pemimpin tradisional, menjadi simbol pemersatu yang dipatuhi oleh masyarakatnya. Walaupun Tomakaka adalah elit lokal yang berasal dari keturunan pemimpin tradisional sebelumnya, tetapi pengangkatannya dilakukan secara demokratis oleh masyarakat. Jabatan sebagai Tomakaka adalah jabatan tertinggi dalam komunitas sehingga kepadanyalah masyarakat mengharap atau memperoleh perlindungan, rasa aman dan keadilan dalam menjalani hidup keseharian. Karenanya, ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan dalam pengangkatan Tomakaka, yaitu:
(1) Tomakaka harus berasal dari turunan Tomakaka atau kajajian,
(2) Tomakaka harus mempunyai kamatuaan,
(3) Tomakaka harus memiliki kekayaan atau kasugiran,
(4) Tomakaka memiliki kebijakan dan kepintaran atau kakainawaan,
(5) Tomakaka memiliki keberanian atau kabaranian,
(6) Tomakaka serta memiliki rumpun keluarga yang besar (ma’rapun).

Peran Tomakaka adalah pengayom yang brekewajiban memberi perlindungan kepada warganya. Ia wajib menegakkan keadilan sosial dan memberi rasa aman serta menjamin situasi dan kondisi masyarakat tetap harmonis. Untuk menjalankan pemerintahan tradisional tersebut, Tomakaka dibantu oleh aparatnya yaitu: Tomatua, Bungalalan, Tomateri, Tomewara, Pa’takin, dan Ana Tomakaka yang masing-masing memiliki funsi dan peranan yang harus dipertanggungjawabkan.

Pelantikan Tomakaka dilakukan oleh panitia adat yang dalam masyarakat Pattae disebut Ana’ Pattola Wali. Dihadiri Imang (Tokoh Agama), Kapala (Pemimpin Kampung) dan masyarakat adat. Barulah kemudian dilakukan pelantikan dengan mengucapkan ikrar/sumpah.

Laki laki Rongkong, 1911


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: