Lamakera, kerajaan / P. Solor – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Lamakera terletak di pulau Solor, Kab. Flores Timur, Prov. Nusa Tenggara Timur.

The kingdom of Lamakera is located on the island of Solor.
For english, click here

Lokasi pulau Solor

Lokasi pulau Solor


* Foto foto pulau Solor dulu: link


Tentang Raja / About the King

Raja (2008): Raja H. Abdul Gafur Ibrahim Dasi of Lamakera.
Sumber: link

Raja H. Abdul Gafur Ibrahim Dasi dari Lamakera (foto 2008)


Sejarah kerajaan Lamakera

Ada 2 kerajaan di pulau Solor:
* Kerajaan Lohayong,
* Kerajaan Lamakera.

Berdirinya Kerajaan Lamakera

Dibelahan Timur Adonara ada kerajaan Lama Hala, Bani One (Terong) serta dua kerajaan di pulau Solor yaitu Menanga, Lama Kera serta sebuah kerajaan Lebala (Lembata) telah membuat kesepakatan dengan VOC tahun 1613 untuk menahan laju perkembangan kekuasaan Portugis yang sudah membangun bentengnya di Lohayong.

Sebelum terbentuknya kerajaan, sistem pemerintahan di Lamakera diatur oleh Bela yang berkedudukan sebagai raja yang memerintah pada lingkungan tertentu, yaitu hanya terbatas pada wilayah Lamakera. Pada awalnya Bela dipegang oleh kelompok yang pertama kali menghuni Lamakera, yakni kelompok Sika Songge tetapi untuk menghormati saudara dari isteri yang berasal dari suku Ema Onang, maka kekuasaan diserahkan kepada suku Ema Onang. Dan kemudian untuk menghormati pamannya dan juga disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menjalankan roda pemerintahan, maka kekuasaan raja itupun diserahkan suku Ema Onang kepada suku Kampung Lamakera.

Lamakera merupakan sebuah wilayah kerajaan yang penyelenggaraan dipimpin oleh seorang raja. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, raja Lamakera didampingi oleh Pagawe Paa Kae atau empat orang pembantu raja, sebagai penopang utama tegaknya Lewo Tanah, Tanah Ekang atau tanah tumpah darah, yang terdiri dari:

1.Kapitang Belang
Pembantu yang menduduki jabatan sebagai komandan besar yang menguasai angkatan darat. Jabatan ini pada awalnya dipegang oleh Klen Tamukin dari suku Hari Onang tetapi karena selalu gagal dalam memimpin peperangan, maka atas kesadaran dan kemauan sendiri dengan disetujui oleh raja komandan besar angkatan darat ini diserahkan kepada Klen Sianggantong dari suku Kukun Onang dengan pahlawan terkenalnya Dasi Merak.

2.Kapitang Laot
Pembantu raja ini berfungsi sebagai komandan angkatan laut sekaligus yang berwenang dan menguasai seluruh urusan perairan di Lamakera, sehingga siapapun yang berkehendak melakukan penangkapan ikan di wilayah perairan Lamakera harus terlebih dahulu mendapat izin darinya. Kekuasaan ini dipegang oleh suku Lewoklodo dari Klen Beloweng Matang dengan pahlawan terkenalnya Pati Sumbamang dan Boli Sumbamang.

3.Huku Lawerang
Jabatan ini dipangku oleh Klen Kedang Onang dari suku Lawerang yang berfungsi sebagai penasehat kerajaan dan khatib.

4.Huku Lewolein
Kedudukan dari jabatan ini sama dengan Huku Lawerang yang berfungsi sebagai penasehat kerajaan dan khatib. Fungsi ini dipegang oleh klen Lawang Onang dari suku Ema Onang.

(foto 2011) Dari kanan ke kiri: – Raja Amam Kelake, kerajaan Lohayong, Raja Nuhur Adi Pehang, kerajaan Lamahala, Raja Ibrahim Tuan Dasy, kerajaan Lamakera, Raja Ibrahim Baha Mayeli, kerajaan Labala and Raja Bapa Pukeng kerajaan Terong.

(foto 2011) From R to L: - Raja Amam Kelake of Lohayong, Raja Nuhur Adi Pehang of Lamahala, Raja Ibrahim Tuan Dasy of Lamakera, Raja Ibrahim Baha Mayeli of Labala Lembata and Raja Bapa Pukeng of Terong

Pada saat Raja Sangaji Dasi berkuasa, keempat pembantu raja tersebut mempunyai peran yang dominan dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Lamakera. Namun menjelang masa tuanya, Raja Sangaji Dasi melakukan pemekaran dalam bidang pemerintahan kerajaan. Jabatan-jabatan baru ini diserahkan kepada lima orang puteranya dengan pertimbagan agar tidak terjadi perebutan kekuasaan oleh kelima orang puteranya. Pembagian kekuasaan ini ditetapkan melalui musyawarah antara raja beserta empat pembantunya dengan seluruh sesepuh atau pemimpin-pemimpin suku yang ada di Lamakera. Kelima orang puteranya kemudian diserahkan kekuasaan antara lain sebagai berikut:

1.Kabelang Pukang
Kekuasaan ini dipegang oleh anak pertama bernama Karaeng Bara. Jabatan ini berfungsi sebagai kepala dari sesepuh atau pemimpin-pemimpin suku yang ada di Lamakera dalam urusan adat dan menjadi pusat koordinasi dari segala kegiatan adat.

2.Raja Lamakera
Kedudukan ini diserahkan kepada putra kedua bernama Abubakar Sangaji Dasi. Keturunannya membentuk klen Parak Onang dengan menempati rumah raja yang bernama Lango Nipa, Lango Wato atau Lango Seng. Pada awalnya, prosesi pengangkatan raja di Lamakera dilakukan seperti halnya pengangkatan Kabelang Pukang dan imam masjid Lamakera, yakni melalui musyawarah sesepuh adat dari seluruh suku beserta raja dan keempat pembantunya, namun setelah kerajaan Lamakera bergabung dengan Swapraja Larantuka, maka setiap pengangkatan harus disaksikan oleh Raja Larantuka atau petugasnya tanpa mengintervensi proses pemilihan sedikitpun. Raja terakhir yang berkuasa di Lamakera adalah H. Muhamamd Shaleh Ibrahim Dasi (berkuasa pada tahun 1960 hingga 1975). Beliau juga masih keturunan Abubakar Sangaji Dasi.

3.Imam Lamakera
Posisi ini berfungsi sebagai imam dan penanggungjawab kemakmuran masjid Lamakera. Kedudukan ini diserahkan kepada putra ketiga yang bernama Kampuis Sangaji Dasi dan keturunannya membentuk klen Sinun Onang. Hingga saat ini, H. Rauf Sinun Dasi yang menjabat sebagai imam masjid Al-Ijtihad Lamakera, masih keturunan dari Kampuis Sangaji Dasi.

4.Ata Dacing Kotang
Kekuasaan yang diserahkan kepada putera keempat yang bernama Bajo Amang ini berfungsi sebagai pemegang kekuasaan dalam hal keluar masuknya barang-barang dagang di Lamakera. Bersama keturunan Abubakar Sangaji Dasi, keturunan Bajo Amang membentuk klen Parak Onang dan keturunan Bajo Amang menjadi kepala klen dengan menempati rumah adat klen Parak Onang yang diberi nama Lango Ketuda (rumah yang dindingnya terbuat dari pelepah gebang).

5.Imam Kampung Solor
Putra terakhir yang diberi nama Suban Pulo oleh Raja Sangaji Dasi ditugaskan untuk menjadi imam di Kampung Solor Kupang.

Sistem masyarakat Lamakera yang telah digambarkan di atas merupakan ikhtiyar dan ijtihad leluhur Lamakera untuk membangun peradabannya. Kini semuanya sudah ditafsir sesuai dengan perkembangan zaman. Yang masih terpelihara saat ini adalah struktur adat karena masih dianggap penting sebagai wadah pemelihara sikap gotong royong, persatuan dan kebersamaan masyarakat dalam menjaga dan membangun Lamakera yang lebih baik pada hari ini dan di masa yang akan datang.
– Sumber: https://www.kompasiana.com/ayonusatimur/54f681dda333112e068b4f3e/sejarah-tumbuh-dan-berkembangnya-masyarakat-lamakera

Peta kerajaan Adonara, Lohayong, Lamakera, Terong, Lamahala, Labata 


Persekutuan Solor Watan Lema atau Negeri Lima Pantai

Lima kerajaan kecil yang dibangun masyarakat Muslim membuat persekutuan untuk melawan Portugis di Pulau Solor, NTT. Selanjutnya mereka disebut persekutuan Solor Watan Lema atau Negeri Lima Pantai.

Kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Watan Lema:
* Lohayong,
* Lamakera,
* Lamahala,
* Terong, dan
* Labala.

Latar belakang terbentuknya persekutuan Solor Watan Lema dijelaskan dalam jurnal berjudul Situs Menanga Solor Flores Timur, Jejak Islam di NTT yang ditulis Muhamad Murtadlo. Diterbitkan Jurnal Lektur Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017.
Murtadlo menceritakan, Sultan Menanga bernama Shahbudin bin Ali bin Salman Al Farisi yang datang ke Pulau Solor berhasil memimpin persekutuan Solor Watan Lema antara tahun 1613-1645. Kemudian Shahbudin menyebut dirinya Sultan Menanga karena berkuasa di wilayah Menanga.

Persekutuan lima kerajaan kecil sendiri bertujuan untuk melawan bangsa Portugis yang telah membangun benteng di Lohayong. Benteng tersebut kini dikenal dengan nama Benteng Lohayong atau Benteng Fort Henricus.
“Karena ada momen itu, lima kerajaan pantai yang semuanya hampir bisa dikatakan Kerajaan Islam bersatu, mereka menyusun kekuatan bersama untuk menaklukkan Benteng Portugis,” kata Murtadlo belum lama ini.
Sebelumnya diceritakan dalam jurnalnya, bangsa Portugis datang ke Solor sekitar 1561. Kemudian mereka membangun Benteng Lohayong pada 1566. Pada saat itu masyarakat Solor dan sekitarnya meminta Sultan Menanga untuk memimpin perlawanan terhadap Portugis.

Perlawanan Sultan Menanga bersama Negeri Lima Pantai terhadap Portugis didukung oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Diketahui VOC sendiri memiliki keinginan menggeser kekuasaan Portugis di daerah Lohayong.
Sebagai imbalan untuk Sultan Menanga, VOC akan mengakui kedaulatan persekutuan Solor Watan Lema. Terkait tujuan VOC menggeser Portugis tidak lepas dari kepentingan mereka untuk mendapatkan keuntungan dari kepergian Portugis.


Sumber / Source

– Sejarah Lamakera: http://www.kompasiana.com/ayonusatimur/sejarah-tumbuh-dan-berkembangnya-masyarakat-lamakera_54f681dda333112e068b4f3e
– Suksesi kerajaan Lamakera, studi raja H. Ibrahim Dasy dan raja B.Shaleb Ibrahim Dasy: http://digilib.uin-suka.ac.id/18126/
– Masuknya Islam di Lamakera: http://lewolamakera.blogspot.co.id/2014/08/sejarah-masuknya-agama-islam-di-lamakera.html

– Raja of Lamakera (2008): link
Raja of Lamakera (2008): http://indonesianrecretion.blogspot.com/2008/10/raja-h-abdul-gafur-ibrahim-dasi-of.html
———————

Suku Solor: http://suku-dunia.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-suku-solor.html
Benteng Lohayong di pulau Solor: http://travel.kompas.com/read/2012/10/22/20372773/Benteng.Lohayong.Cikal.Bakal.Misi.Portugis.di.Flores.


Peta kuno pulau Solor

Peta Solor tahun 1656

———————————————-

Kepulauan Sunda Kecil, tahun 1725


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s