Panembahan Sambas, Sambas kuno, kerajaan / Prov. Kalimantan Barat

Kerajaan Panembahan Sambas, Sambas kuno: abad ke-15 – 1671.
Terletak di provinsi Kalimantan Barat. Sejak abad ke-7 di bagian utara Kalimantan Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Budha, kerajaan-kerajaan ini disebut “Kerajaan Sambas kuno”.
Kerajaan Panembahan Sambas merupakan pendahulu kesultanan Sambas, sebagaimana halnya Kerajaan Kutai merupakan kerajaan pendahulu yang ditaklukan oleh Kesultanan Kutai. Tetapi Dinasti (garis keturunan) Raja-Raja kerajaan Sambas berbeda dengan Dinasti / Nasab Sultan-Sultan kesultanan Sambas.

The kingdom of Ancient Sambas: 15th century – 1671. Located on West Kalimantan.
This kingdom became later the Sultanate of Sambas.
For english, click here

Lokasi kabupaten Sambas


Garis kerajaan-kerajaan di Kalimantan: link


Foto kerajaan-kerajaan di Kalimantan

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Kalimantan: link
* Foto raja2 di Kalimantan dulu: link
* Foto istana kerajaan di Kalimantan: link

* Foto Kalimantan dulu: link
* Foto perang belanda di Kalimantan, abad ke-19: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan

– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan, 45.000 SM – 2017: link
Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Barat, 45.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Tengah / Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Timur / Utara, 1M – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Banjar: link


KERAJAAN  PANEMBAHAN  SAMBAS

Sejarah kerajaan Panembahan Sambas, Sambas kuno, abad ke-15 – 1671

Umum

Sejak abad ke-7 di bagian utara Kalimantan Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Budha, yaitu:
kerajaan Wijayapura, abad ke 7-9
kerajaan Nek Riuh, (abad ke13 – abad ke14),
kerajaan Tan Unggal, (abad ke-15), dan
– kerajaan Panembahan Sambas, abad ke-15 – 1671.

– Setelah 1671 adalah kesultanan Sambas, sampai sekarang.
Keempat kerajaan tersebut murni bercorak Hindu-Budha, tapi masuknya agama Islam di Kalimantan Barat, Panembahan Sambas merupakan kerajaan terakhir di utara Kalimantan Barat.
Setelah keruntuhan Panembahan Sambas di Kota Lama, berdirilah sebuah kerajaan baru yaitu kesultanan Sambas dengan Raden Sulaiman menjadi Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Shafiuddin I yaitu pada tahun 1671.

Sejarah kerajaan Panembahan Sambas, Sambas kuno, abad ke15 – 1671

Kerajaan Panembahan Sambas merupakan pendahulu kesultanan Sambas, Tetapi Dinasti (garis keturunan) Raja-Raja kerajaan Sambas berbeda dengan Dinasti / Nasab Sultan-Sultan kesultanan Sambas. Raden Sulaiman menjadi Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Shafiuddin I pada tahun 1671.

Setelah membangun pemukiman di hulu Sungai Sambas, rombongan bangsawan pengungsi ini mendirikan kerajaan yang dinamakan Panembahan Sambas. Tak ada halangan untuk mendirikan kerajaan baru, sebab kerajaan terdahulu kerajaan Tan Unggal sudah terkubur bersama rajanya.
Raja pertama kerajaan Panembahan Sambas adalah ayah dari Ratu Timbang Paseban yang tidak diketahui namanya. Setelah sang raja mangkat, Ratu Timbang Paseban kemudian diangkat sebagai pewaris tahta. Dari Ratu Timbang Paseban kemudian tahta turun kepada Ratu Sapudak adiknya. Sebutan ratu adalah kebiasaan penyebutan di Jawa yang memiliki arti sama dengan raja pria. Jadi ratu yang dimaksudkan bukan raja bergender wanita.

Pada masa pemerintahan Ratu Sapudak tibalah rombongan Sultan Tengah dari kesultanan Sukadana. Ratu Sapudak menyambut kedatangan mereka dengan hangat bahkan memberikan tanah di Kembayat Sri Negara sebagai tempat tinggal mereka. Tidak lama setelah itu, Ratu Sapudak tiba-tiba mangkat secara mendadak dan tahta diwariskan kepada Raden Kencono, putra Ratu Timbang Paseban sekaligus menantunya. Raden Kencono dinobatkan dengan gelar Ratu Anom Kesumayuda.

Tepat sepuluh tahun setelah rombongan Sultan Tengah menetap di Kalimantan, Sulaeman, putra sulung Sultan Tengah akhirnya menikahi adik bungsu permaisuri kerajaan Panembahan Sambas yang bernama Mas Ayu Anom. Karena pernikahan ini Sulaeman mendapat gelar kebangsawanan yaitu Raden Sulaeman. Selain itu raja mempercayakan posisi Menteri Besar yang bertugas melakukan diplomasi dengan negara-negara luar dan bertanggung jawab atas keamanan kerajaan.

Raden Sulaeman berhasil mendapat simpati dan menjadi orang kepercayaan raja karena terbukti mampu menjalankan tugas yang diembannya sebagai Menteri Besar dengan baik. Selain itu beliau juga berperan sebagai penyebar agama Islam yang dihormati sehingga mampu menarik simpati banyak kerabat kerajaan dan masyarakat untuk masuk Islam. Keadaan ini menimbulkan kedengkian pada diri Raden Aryo Mangkurat adik Ratu Anom Kesumayuda. Setelah kelahiran Raden Bima, buah pernikahan Raden Sulaeman dan Mas Ayu Anom, Sultan Tengah dan keluarganya kecuali Raden Sulaeman memutuskan untuk kembali ke tanah airnya di Serawak. Sayangnya Sultan Tengah terbunuh pada perjalanan ini karena pengkhianatan yang dilakukan oleh pengawalnya sendiri. Jenazah Sultan Tengah akhirnya dimakamkan di lereng Gunung Santubong yang menjadi obyek wisata ziarah pada saat ini.

Hal ini mempermudah Raden Aryo Mangkurat menjalankan siasatnya untuk menyingkirkan Raden Sulaeman. Berbagai muslihat Raden Aryo Mangkurat tak pernah berhasil menyingkirkan Raden Sulaeman. Malahan Raden Aryo Mangkurat membunuh Kyai Setia Baktri, orang kepercayaan Raden Sulaeman. Raden Sulaeman melaporkan peristiwa ini kepada raja, tetapi tidak diikuti dengan tindakan tegas dari raja karena pembunuh itu adalah adiknya sendiri. Peristiwa ini membuat Raden Sulaeman kecewa dan memutuskan untuk pergi dari kerajaan. Rombongan Raden Sulaeman ini terdiri dari keluarganya, orang-orang Jawa yang telah menjadi mualaf, dan anggota rombongan Sultan Tengah dahulu.


Peta Kalimantan kuno

Untuk peta-peta Kalimantan kuno (1570, 1572, 1594, 1601, 1602, 1740, 1747, 1760, 1835), klik di sini.

Peta Kalimantan (Borneo) tahun 1601


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Sambas kuno di Wiki: Wiki
Sejarah kerajaan Sambas kuno:  https://www.facebook.com/permalink.php?id=327994650637217&story_fbid=327998270636855
Sejarah kerajaan Sambas kuno:  http://www.misterpangalayo.com/2015/10/kerajaan-wijayapura-kerajaan-hindu-di.html


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: