Mandailing, sistem pemerintahan adat / Prov. Sumatera Utara – kab. Mandailing Natal Edit

Umum

Pada masa yang lalu, sebelum Belanda menduduki wilayah Mandailing menjelang pertengahan abad 19, di wilayah tersebut terdapat banyak kerajaan-kerajaan kecil yang masing-masing diperintah oleh rajanya. Kerajaan-kerajaan kecil itu umumnya hanya terdiri dari beberapa huta atau kampung. Raja-rajanya memerintah secara demokratis bersama satu lembaga perwakilan yang dikenal sebagai lembaga Namora Natoras. Di dalam lembaga tersebut duduk Kepala-kepala Ripe, yaitu pimpinan kelompok orang-orang dari satu marga, ataupun pimpinan komunitas-komunitas lain yang terdapat dalam satu huta. Di dalam lembaga Namora Natoras biasanya duduk pula tokoh-tokoh adat, cerdik- cendekiawan dan tokoh-tokoh yang dituakan di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh yang berkedudukan sebagai Namora Natoras boleh dikatakan sebagai wakil rakyat. Bersama merekalah raja menyelenggarakan pemerintahan termasuk di dalam melaksanakan pengadilan terhadap orang-orang yang berbuat kesalahan.

Kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di Mandailing pada masa yang lalu, masing-masing berdiri secara otonom, msekipun di antara raja-raja kecil itu pada dasarnya terdapat hubungan kekeluargaan berdasarkan adat.

Sistem pemerintahan di Mandailing

Sistem pemerintahan di Mandailing, sebelum datangnya Belanda merupakan pemerintahan yang dipimpin oleh pengetua-pengetua adat, yaitu raja dan Namora Natoras sebagai pemegang kekuasaan dan adat.

Raja di Mandailing terdiri atas beberapa jenis, yaitu Panusunan (raja tertinggi), Ihutan (di bawah Panusunan), Pamusuk (raja satu huta, tunduk pada Panusunan dan Pamusuk) , Sioban Ripe (di bawah raja Pamusuk) dan Suhu (di bawah Pamusuk dan Sioban Ripe, tetapi tidak terdapat di semua Huta).

Semua raja Panusunan yang ada di Mandailing berasal dari satu keturunan yaitu marga Lubis di Mandailing Julu dan marga Nasution di Mandailing Godang yang masing-masing berdaulat penuh di wilayahnya. Namora Natoras terdiri atas Namora (orang yang menjadi kepala dari tiap parompuan kaum kerabat raja yang merupakan kahanggi raja), Natoras (seseorang yang tertua dari satu parompuan), suhu (orang yang semarga dengan Raja Panusunan/Pamusuk tetapi bukan satu keturunan Raja) dan Bayo-bayo Nagodang (mereka yang tidak semarga dengan raja, yang datang bersama-sama pada waktu tertentu ke huta tersebut).

Fungsionaris Sistem Adat Mandailing terdiri dari:

  1. Raja.
  2. Namora Natoras.
  3. Pembantu-pembantu Raja lainnya.

Raja.

Struktur Kepala Pemerintahan dan Raja Adat  menurut penelitian Commissie Kruese Stibbe:
1) Raja Panusunan  (Koeriahoofd).
Raja yang tertinggi  dari kesatuan beberapa Huta dan sekaligus sebagai Raja Huta di dalam Hutanya sendiri.
2) Raja Ihutan (Onderkoeria). Raja dari kumpulan Huta (kampung) yang berada di bawah Raja Panusunan.
3) Raja Pamusuk (Kampoenghoofd). Raja yang memimpin satu huta (kampung) yang berada dibawah  Raja Ihutan dan Raja Panusunan.
4) Raja Sioban Ripe. Yang berada di bawah Raja Pamusuk yang berdiam bersama-sama di satu Huta.
5) Suhu. Yang berada dibawah Raja Pamusuk dan Raja Sioban Ripe.

Pada tahun 1906 Jabatan Raja Ihutan (Onderkoeria) dan Raja Sioban Ripe dihapuskan oleh Pemerintahan Belanda dan Jabatan Ihutan (Onderkoeria) ditetapkan menjadi Kepala Kuria (Koeriahoofd).

Sampai saat ini dalam acara adat, dimana Ketua Adat di Masyarakat Mandailing hanya dikenal dengan nama:
1) Raja Panusunan. Raja Panusunan adalah penguasa tertinggi dari kesatuan beberapa kampung (Huta) mempunyai wewenang membawahi beberapa orang Raja Pamusuk (Kepala Kampung).
2) Raja Pamusuk. Raja Pamusuk adalah bawahan dari Raja Panusunan dan tunduk kepada Raja Panusunan baik segi adat maupun dari segi pemerintahan. Raja Pamusuk dalam melaksanakan tugasnya bersifat otonom di dalam kampungnya sendiri.


Namora Natoras.

Namora Natoras berfungsi sebagai pendamping raja di dalam mengambil keputusan saat membahas atau menyelesaikan suatu peradatan yang menyangkut kepentingan kesatuan huta yang dipimpinnya, serta mendampingi raja dalam menjalankan pemerintahannya.

Namora Natoras tersebut, terdiri dari:
* Namora. Orang yang menjadi kepala dari tiap parompuan kaum kerabat raja, yang merupakan Kahanggi Raja, yang tidak dibedakan apakah ia setaraf nenek ayah, adik atau saudara tua dari Raja.
* Natoras. Seorang yang tertua dari satu parompuan (satu nenek atau satu marga) yang oleh suatu kerapatan adat suatu Huta  diangkat dan disyahkan sebagai urutan mewakili kerabatnya pada setiap kerapatan adat.
* Suhu.  Mereka yang semarga dengan Raja Panusunan atau Raja Pamusuk, tapi bukan satu turunan dari Raja tersebut atau mereka yang bukan semarga dengan Raja tapi berjasa terhadap Huta tersebut.
* Bayo-Bayo Nagodang. Mereka yang tidak semarga dengan Raja yang datang bersama-sama atau datang kemudian ke Huta tersebut. Mereka ini adalah dari cabang-cabang yang tertua dari Natoras-Natoras.

Raja dan Namora Natoras memegang peranan penting dalam suatu peradatan untuk mengambil suatu keputusan yang disebut: Domu Ni Tahi.
– Untuk lengkap lihat: http://patuandolok.blogspot.co.id/2010/02/sistem-pemerintahan-raja-panusunan-di.html


Sumber

– Kerajaan kerajaan Mandailing: https://radarmandailing.blogspot.co.id/2016/11/kerajaan-kerajaan-di-mandailing_9.html
– Suku Mandailing (lengkap): https://banuamandailing.blogspot.com/2011/07/mandailing-tano-sere.html
– Sistem pemerintahan raja panusunan di Mandailing: http://patuandolok.blogspot.co.id/2010/02/sistem-pemerintahan-raja-panusunan-di.html
– Tambo raja raja Mandailing: http://thegreatmandailing.weebly.com/translation.html
– Marga Mandailing: https://id.wikipedia.org/wiki/Marga_Mandahiling
– Sejarah Suku Mandailing: http://geschiedenisfarizpratama.blogspot.co.id/2015/11/sejarah-suku-mandailing-sumatera-utara.html
– Sejarah Mandailing Natal: http://mandailing1993.blogspot.co.id/