Hulu Aik, kerajaan / Prov. Kalimantan Barat

Kerajaan Hulu Aik terletak di Kalimantan, Kab. Ketapang, prov. Kalimantan Barat.
Berdiri sekitar tahun 1700-an.

The kingdom of Hulu Aik is located on Kalimantan, Kab. Ketapang, prov. Kalimantan Barat.
It existed in the 1700-ies.
For english, click here

Kabupaten Ketapang


* Video Tarian Adat Hulu Aik: link
* Foto kerajaan2, situs kuno dan suku di Kalimantan:  link


Tentang raja sekarang

Raja Hulu Aik ke-51: Singa Bansa, Raja Dayak se-Borneo. (Foto maret 2019)


Sejarah kerajaan Hulu Aik

Kerajaan Ulu Aik adalah kerajaan Tanjungpura kuno, berdiri sekitar tahun 800 Masehi oleh Maniaka (dikenal sejarah indonesia dengan nama Sang Maniaka), berpusat di Pancur Sambore dan Tanjung Porikng, hulu Sungai Krio, Ketapang, Kalimantan Barat (sekarang Desa Menyumbung Kec.Sandai Kab.Ketapang).
Salah seorang anak Maniaka bernama Siak Bahulun, bergelar Todungrusi. Ia seorang Dayak yang bengis dan kejam pada musuh-musuhnya. Wilayah kerajaannya sebagaimana tercatat sejarah Indonesia Jawa (Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca) meliputi daerah yang dikenal dengan Labai Lawai, atau Laman Sembilan Domong Sepuluh (sekarang meliputi sebagian Kecamatan Meliau, Tayan Hilir dan Toba Kabupaten Sanggau hingga Kecamatan Simpang Hulu,
Hulu Sungai, Sandai Kabupaten Ketapang).

Karena tidak ada anak, Raja Siak Bahulun banyak mengangkat anak orang lain sebagai anaknya. Beberapa dikenal sebagai Karamuning dan Karamuna. Belakangan, anak-anaknya ini menurunkan raja-raja diwilayah Labai Lawai, seperti Dayang Putung atau Putri Junjung Buih yang menikah dengan bangsawan dari Kerajaan Majapahit bernama Prabu Jaya atau Brawijaya yang kelak menurunkan raja-raja Tanjungpura serta Raja Baparung di Sukadana, Raja Likar di Meliau dan Raja Mancar di Tayan.
Pada abad ke-17, masuknya pengaruh islam dikawasan pesisir Kalimantan pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit, membuat para bangsawan kerajaan terpecah. Sebagian memutuskan pindah ke muara sungai Pawan yang dipimpin Giri Kusuma, dan sebagian tetap bertahan dihulu sungai krio yang dipimpin Ukir. Dimuara Sungai Pawan, Giri Kusuma mendirikan kerajaan baru bernama kerajaan Matan Tanjungpura
Sementara Ukir tetap bertahan di hulu sungai krio dan mengelola istana Ulu Aik. Ia kemudian menjadi raja bergelar Patih Empu Garemeng.
.
Berikut raja-raja Ulu Aik pasca Patih Empu Guremeng:
1. Patih Bihuk Tiung, Raja Ulu Aik I
2. Patih Bansa Pati, Raja Ulu Aik II
3. Patih Ira Bansa, Raja Ulu Aik III
4. Patih Jambu, Raja Ulu Aik IV
5. Patih Bebek, Raja Ulu Aik V
6. Patih Singa Bansa, Raja Ulu Aik VI (sampai sekarang ini, pusat kerajaan/istana/keraton terletak di Kampung Sengkuang, Desa Benua Krio, Kec. Hulu Sungai, Kab.Ketapang).


Patih Singa Bansa, Raja Ulu Aik VI ini memiliki istri bernama Anastasia Bijan dan seorang anak lelakinya bernama Edi Kurniawan. Di istana kerajaan, tersimpan benda-benda pusaka milik kerajaan seperti Keris Bosi Koling Tungkat Rakyat, sebilah keris dari besi kuning yang panjangnya 20 Cm. Keris ini dipercayai sebagai keris yang dipakai dan dititipkan Mahapatih Gajah Mada, dari Kerajaan Majapahit itu kepada Kerajaan Ulu Aik. Cukup banyak benda-benda pusaka lainnya di istana ini, yang dimandikan raja dan keluarganya melalui Upacara Meruba yang diadakan tanggal 25 Juni, setiap tahun.
Sayangnya, saat ini (Juni 2017), kondisi keraton/istana kerajaan yang sudah berusia ratusan tahun ini tak pernah ada pemugaran/renovasi dari pemerintah daerah. Bangunan istana kebanggaan bangsa Dayak ini sebagian sudah rusak dan tak digantikan, jangankan renovasi istana, fasilitas listrik dan lain-lainpun tak pernah dinikmati raja dan keluarganya. Sungguh miris, tapi inilah potret Raja Dayak yang terpinggirkan zaman.(*)
Sumber: Y Supriadi, SE, M.S i.

– Sumber: https://www.facebook.com/263894060757016/posts/serial-raja-raja-dayak-di-kalimantanpatih-singa-bansa-raja-ulu-aik-vimungkin-hin/271183026694786/

Istana kerajaan Hulu Aik sekarang


Raja Singa Bansa; simbol kebersahajaan Orang Dayak

Raja identik dengan kekuasaan (wilayah kekuasaan) dan kekayaan. Tidak demikian halnya dengan raja Dayak: tanpa kekuasaan dan kekayaan. Belum ada setitikpun tercantum dalam berbagai buku sejarah Indonesia. Lebih tragis lagi, jangankan orang luar, orang Dayakpun banyak yang tidak tahu kalau mereka mempunyai raja.
Penduduk kampung sekitarnyapun tidak tahu lagi apakah raja mereka masih ada. Sebaliknya, sebagian warga Dayak dari luar kabupatan Ketapang (di Kalbar) dan sebagian kecil Dayak di Sarawak (Malaysia) sampai kini datang memberi upeti dan masih percaya dan menghormatinya sebagai raja; apalagi mereka yang akrab dengan dunia kebathinan/supranatural.

Memang, jika pertama kali berjumpa kita akan terkejut melihat sosok seorang Raja Hulu Aik. Pembawaannya tenang, pendiam. Jika bicara dan mengambil keputusan barulah kharismanya sebagai raja nampak. Sangat bersahaja, sederhana, jujur dan apa adanya. Dialah Raja Singa Bansa (27 th), pewaris ke-6 tahta Raja Hulu Aik; satu-satunya Raja Dayak di Indonesia.

Raja Hulu Ai adalah sebutan untuk pemimpin Kerajaan Hulu Aik. Awal mula Kerajaan Hulu Aik di wilayah Pancur Sembore dan Tanjung Porikng, udik sungai Krio (kini masuk Desa Menyumbung, Kec. Sandai, Kab. Ketapang-Kalbar), sekitar tahun 1700-an. Pemimpin pertamanya Pang Ukir Empu Geremeng.
Ia digantikan Bihukng Tiung. Sejak Bihukng inilah wilayah Pancur Sembore- Tanjung Porikng dinamakan kerajaan Hulu Aik. Bihukng sebagai raja I. Bihukng digantikan Bansa Pati (II), Ira Bansa (III), Temenggung Jambu (IV), Bebek (ayah Raja Singa Bansa, raja ke-5). Dan Raja Hulu Aik VI adalah Singa Bansa. Karena tidak ada wilyah kekuasaan yang jelas, pusat kerajaan Hulu Aik berpindah-pindah mengikuti siapa rajanya di sepanjang daerah aliran sungai Krio.
– Raja Singa Bansa; simbol kebersahajaan Orang Dayak: klik di sini


Peta Kalimantan (Borneo) kuno

Untuk peta-peta Kalimantan kuno (1570, 1572, 1594, 1601, 1602, 1740, 1747, 1760, 1835), klik di sini.

Peta Kalimantan (Borneo) tahun 1601


Sumber

– Kerajaan Hulu Aik: http://kerajaansimpang.blogspot.co.id/2010/05/sejarah-kerajaan-simpang.html
Kerajaan Simang, perdaduan Hulu Aik: http://www.kalbariana.web.id/kerajaan-simpang-perpaduan-ulu-aik-dan-tanjungpura-menelusuri-keberadaan-istana-kerajaan-di-kalbar-10/
– Tentang kerajaan Hulu Aik: https://banuadayak.wordpress.com/2010/09/06/raja-singa-bansa-simbol-kebersahajaan-orang-dayak/
– Sejarah kerajaan Hulu Aik: https://www.facebook.com/263894060757016/posts/serial-raja-raja-dayak-di-kalimantanpatih-singa-bansa-raja-ulu-aik-vimungkin-hin/271183026694786/
– Sejarah kerajaan Hulu Aik: https://www.facebook.com/BorneoOracle/photos/kerajaan-dayak-ulu-aik-kalimantan-barat-borneo-pada-artikel-kali-ini-sebagai-sat/889785634401655/
– Sejarah kerajaan Hulu Aik: https://elegansipikiran.blogspot.com/2019/05/kerajaan-hulu-aik.html