Raja Bone XVI, La Patau Matanna Tikka Sultan Alimuddin Idris (1696-1714).

Raja Bone XVI Puatta Mangkau’E La Patau Matanna Tikka Sultan Alimuddin Idris (1696-1714).
– Sumber:  Muhammad Makmur Muhammad di Facebook

Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa Arung Palakka sebelum meninggal telah mewariskan takhta Bone kepada kemenakannya, La Patau Matanna Tikka, putra pasangan La Pakkoko Arung Timurung dengan We Mappolobombang Maddanreng Palakka. Pewarisan takhta itu dipersaksikan kepada seluruh orang Bone, Hadat Bone dan Lili Passeyajingeng Bone. “Dengarkanlah wahai seluruh orang Bone dan juga seluruh daerah passeyajingeng Tanah Bone, termasuk passeyajingeng keturunan MappajungE. Besok atau lusa datang panggilan Allah kepadaku, hanyalah kemanakan saya yang dua bisa mewarisi milikku. Yang saya tidak berikan adalah harta yang masih dimiliki oleh isteriku I Mangkawani Daeng Talele. Sebab saya dengan isteriku I Mangkawani Daeng Talele tidak memiliki keturunan. Adapun kemanakanku La Patau Matanna Tikka, anak dari Maddanreng Palakka, saya berikan akkarungeng ri Bone. Sedangkan kemanakanku yang satu anak Datu Mario Riwawo, saya wariskan harta bendaku, kecuali yang masih ada pada isteriku I Mangkawani Daeng Talele”.

La Patau Matanna Tikka berkata, “Saya telah mendengarkan pesan pamanku Petta To RisompaE bahwa saya diharapkan untuk menggantikannya kelak sebagai Mangkau’ di Bone. Namun saya sampaikan kepada orang banyak bahwa sebelum saya menggantikan Puatta selaku Arumpone, apakah merupakan kesepakatan orang banyak dan bersedia berjanji denganku ?”. Seluruh anggota Hadat dan orang banyak berkata, “Katakanlah untuk didengarkan oleh orang banyak”.

Berkata lagi La Patau Matanna Tikka, “Saya akan menerima kesepakatan orang banyak dari apa yang dikatakan oleh Puatta To RisompaE, apabila orang banyak mengakui dan mengetahui bahwa tidak akan ada lagi Mangkau’ ri Bone (Raja di Bone) kalau bukan keturunanku dan bahwa keturunanku adalah anak cucu MappajungE tidak akan dipilih dan didudukkan oleh keturunan LiliE. Begitulah yang saya sampaikan kepada orang banyak”. Seluruh orang banyak berkata, ”Angikko Puang kiraukkaju Riyao miri riyakeng mutappalireng – muwawa ri peri nyameng” (Baginda angin dan kami semua dedaunan kayu, dimana Baginda berhembus disanalah kami terbawa – menempuh kesulitan dan kesenangan). (Lontaraq Akkarungeng ri Bone dalam Makkulau, 2009).

Arumpone La Patau merasa belum kuat kedudukannya karena masih ada putra mahkota lainnya yang berpeluang untuk diangkat sebagai Arung Mangkaue’ ri Bone. Putra mahkota ancaman itu adalah La Pasompereng Petta I Teko anak dari La Poledatu ri Jeppe’ dari perkawinannya dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenri Sengngeng. Sebenarnya memang ada keinginan La Pasompereng Petta I Teko ini untuk merebut takhta Bone selain karena dirinya juga anak pattola, dirinya juga menganggap diperlakukan tidak adil. Saat Arung Palakka sebagai Arumpone, La Pasompereng tidak berada di Tanah Ugi karena diutus untuk membantu Kompeni Belanda dalam memerangi orang Timor. Setelah Arumpone Petta To RisompaE meninggal dunia, barulah La Pasompereng kembali ke Bone.

Awalnya La Patau tidak mengetahui kalau La Pasompereng cacat dimata Kompeni Belanda, namun setelah adanya surat Belanda yang menjelaskan perbuatan La Pasompereng di Timor, barulah La Patau yakin kedudukannya sebagai Raja Bone telah aman. La Pasompereng jelas tidak didukung Belanda untuk merebut takhta Bone, apalagi Datu Soppeng La Tenri Bali yang bisa mendukungnya juga telah meninggal dunia (MatinroE ri Datunna) dan tidak lagi digantikan oleh anaknya. Orang Soppeng pergi ke Bone minta La Patau Matanna Tikka agar juga menjadi Datu Soppeng. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone dalam Makkulau, 2009). Permintaan orang Soppeng itu tidak diiyakan Arumpone karena ia harus menghadapi dua musuh besar yaitu La Pasompereng Arung Teko dan Daeng Mabbani Sule DatuE ri Soppeng. Arumpone La Patau menyarankan We Yadda saudara Datu Soppeng ditunjuk menjadi Datu Soppeng. Apalagi semasa hidupnya Petta To RisompaE pernah kawin dengan sepupunya yang bernama We Yadda itu. (Lontara’ Akkarungeng ri Bone).

Sebagai Ranreng Towa Wajo, La Patau Matanna Tikka sekali sebulan harus ke Makassar untuk melihat orang Wajo di Makassar. Untuk membantunya, diangkatlah Amanna Gappa sebagai Matowa Wajo yang menggantikan dirinya bila kembali ke Bone. Setiap datang dari Bone, La Patau selalu mengadakan Duppa Sawungeng (penyabungan ayam) di Malimongeng. Semua arung Celebes Selatan yang datang ke Makassar untuk menemui Pembesar Kompeni Belanda, mereka datang lagi apabila La Patau ada. La Patau selanjutnya menempati posisi strategis, selain sebagai pembuktian jalur suksesi paska Arung Palakka dengan politik kawin mawinnya yang menyatukan kembali Bone, Gowa dan Luwu, suatu politik pengamanan kekuasaan dan memberi warna berbeda dari hubungan kerajaan lokal di nusantara dengan Belanda, bahkan jauh sesudah Arung Palakka tidur dengan tenang di Bontoala.

Sri Paduka Raja Bone XVI La Patau Matanna Tikka Sultan Alimuddin menikah dengan We Yummung Datu Larompong, putri Sri Paduka Raja Luwu XXI PYM La Onro To Palaguna (1704-1715). Dari pernikahan tersebut dikaruniai putri :
1. We Batari Tojang Dattalaga Sultanah Zainab yang kemudian menjadi Raja Bone ke-XVII (1714-1715), Raja Luwu ke-XXIII (1715-1748), Raja Bone XXI (1724-1749), dan Datu Soppeng XXII (1727-1737), dan untuk kedua kalinya menjadi Datu Soppeng ke-XXIV (1742-1744).
2. We Patimanaware Arung Timurung Datu Larompong.

Kemudian Sri Paduka Raja Bone ke-XVI La Patau Matanna Tikka menikah dengan I Mariama KaraEng Patukangang, putri Sri Paduka Raja Gowa XIX PYM I Mappadulung Daeng Mattimung KaraEng Sanrobone Sultan Abdul Djalil (1677-1709). Dari pernikahan tersebut melahirkan tiga orang putra, masing-masing:
1. La Padassajati To Appaware yang kemudian menjadi Raja Soppeng ke XIX (1714-1721), dan Raja Bone XVIII (1715-1718).
2. La Pareppa To Sappewali Sultan Ismail yang kemudian menjadi Raja Gowa ke-XX (1709-1711), Raja Bone ke-XIX (1718-1721) dan Datu Soppeng ke XX (1721-1722).
3. La Panaongi To Appawawoi yang kemudian menjadi Raja Bone ke-XX (1721-1724).

Kemudian Sri Baginda menikah lagi dengan Datu Baringeng yang melahirkan La Temmassonge To Appaweling Sultan Abdul Rasak yang kemudian menjadi Raja Bone ke-XXII (1749-1775) dan Datu Soppeng ke-XXV (1744-1746).