* Sejarah kerajaan-kerajaan di Kep. Bangka – Belitung

Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta ratusan pulau-pulau kecil, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung terletak di bagian timur Pulau Sumatra.

Kep, Bangka Belitung


Daftar kerajaan-kerajaan di Kep. Bangka Belitung

Kerajaan Badau
Kerajaan Balok
Kerajaan Belantu
Kerajaan Buding
Kerajaan Kota Kapur


Sejarah Kepulauan Bangka Belitung

Belitung merupakan kepulauan yang mengalami beberapa pemerintahan raja-raja. Pada akhir abad ke-7, Belitung tercatat sebagai wilayah Kerajaan Sriwijaya, kemudian ketika Kerajaan Majapahit mulai berjaya pada tahun 1365, pulau ini menjadi salah satu benteng pertahanan laut kerajaan tersebut. Baru pada abad ke-15, Belitung mendapat hak-hak pemerintahannya. Tetapi itupun tidak lama, karena ketika Palembang diperintah oleh Cakradiningrat II, pulau ini segera menjadi taklukan Palembang.

Orang Eropa pertama yang tiba di Bangka adalah Inggris pada tanggal 20 Mei 1812. Namun, dengan Perjanjian Inggris-Belanda tahun 1824, Inggris meninggalkan Bangka Belitung, dan Belanda mengambil alih. Atas kesepakatan tersebut, Belanda dapat menguasai Kepulauan Pasifik. Namun, ada upaya kudeta oleh elit lokal melalui Depati Barin dan putranya Depati Amir yang terkenal dengan perang Depati Amir dengan masa perang sekitar tiga tahun (1849-1851) untuk melawan penjajahan di Bangka Belitung. Namun perang ini kemudian dimenangkan oleh Belanda dan menyebabkan Depati Amir diasingkan ke Kupang di Nusa Tenggara Timur. Karenanya, Depati Amir menjadi pahlawan nasional dan dikenang melalui bandar udara daerahnya yaitu Bandara Depati Amir.

Kep. Bangka Belitung, 1880 M

Bangka Belitung memiliki sejarah panjang dengan migrasi orang Tionghoa (terutama orang Hakka). Orang Tionghoa pada abad ke-13 sudah mulai merantau ke wilayah Bangka. Pada abad ke-17 para penguasa Palembang melihat ada potensi luar biasa yang kemudian ditemukannya tambang timah di Belitung. Timah inilah yang paling banyak menjadi alasan Belanda memutuskan mendatangkan pekerja kontrak dari daratan Cina yang dimukimkan kembali di Belitung. Timah itu sendiri yang membantu mendorong perkembangan pulau dan menjadikannya seperti sekarang ini. Sejak itu, beberapa migran Tionghoa telah pulang sementara yang lain memutuskan untuk tetap tinggal. Yang memutuskan untuk tinggal mulai berasimilasi dengan masyarakat setempat dan dilanjutkan dengan perkawinan silang, mereka hidup berdampingan dengan damai meskipun ada perbedaan agama dan suku.


Depati Amir

Depati Amir (lahir di Mendara, Bangka, 1805 – meninggal di Air Mata, Kota Lama, Kupang, Nusa Tenggara Timur, 28 September 1869) merupakan salah satu pahlawan nasional dari Bangka. Semangat kepahlawanannya menggema hampir di seluruh Pulau Bangka. Depati Amir aktif melawan penjajahan Belanda di Bangka yang saat itu memiliki kepentingan terhadap aktivitas tambang timah. Akhirnya ia diasingkan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Sketsa Depati Amir

Perang melawan kolonial belanda tahun 1848-1850 di pulau Bangka

Perjuangan Depati Amir bermula dari urusan keluarganya dengan Belanda. Saat itu, Belanda mulai membuat parit-parit tambang timah di Pulau Bangka dan berkonsi dengan Depati Bahrin untuk mengeruk timah di tanah miliknya. Namun, Belanda tidak memenuhi kewajibannya untuk membayarkan hasil tambangnya. Hal itu menyulut Depati Amir mengajukan tuntutan kepada perusahan Belanda tersebut dan mendapat dukungan dari masyarakat Bangka.

Tuntutan Depati Amir terdengar oleh Residen Belanda untuk Bangka yang bernama F. van Olden. Residen tersebut menilai bahwa tindakan Depati Amir dapat menyulut pergolakan di Bangka. Lalu, Pemerintah Belanda mengutus pejabat-pejabat penting untuk menangkapnya. Namun, usaha tersesbut gagal. Depati Amir semakin mendapat dukungan masyarakat yang selama ini telah dipekerjakan oleh Belanda, baik dari kalangan Melayu Bangka maupun Tionghoa Bangka. Dukungan juga datang dari para pemimpin lokal yang juga merasa dirugikan akibat kehadiran Belanda. Akibat dukungan-dukungan ini, Depati Amir mendapat bantuan senjata baik dari lokal maupun dari Singapura. Perlawanan Depati Amir meluas di sepanjang pesisir timur Bangka.

Pengasingan

Pada 7 Januari 1851, Depati Amir berhasil ditangkap oleh Belanda. Penangkapan itu dapat terjadi karena Belanda berhasil menyuap 7 orang panglima dan 36 pasukan Depati Amir yang sedang kesulitan logistik. Amir tertangkap dalam kondisi sakit.

Pada 11 Februari 1851, Depati Amir dikirim ke tempat pengasingan di Kupang, Timor. Walau dalam pengasingan, perjuangan Depati Amir melawan Belanda tidak juga padam. Bersama adiknya, Hamzah atau dikenal juga sebagai Cing, ia menjadi penasihat bagi raja-raja di Timor dan juga turut aktif menyebarkan agama Islam di Pulau Timor.

Pahlawan Nasional

Pada tanggal 8 November 2018, Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Ir. Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dengan diterbitkannya Keppres No 123/TK/Tahun 2018, tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.


Sumber kerajaan2 di kep. Bangka Belitung

– Sejarah kep. Bangka Belitung: https://id.wikipedia.org/wiki/
– Sejarah kerajaan2 di kep. Bangka Belitung: https://belitungpojok.wordpress.com
– Sejarah kerajaan2 di kep. Bangka Belitung: https://www.ubb.ac.id
Depati Amir: https://id.wikipedia.org/wiki/Depati_Amir

– Sejarah pulau Bangka: https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Bangka
– Sejarah pulau Belitung: https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Belitung


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: