Badung, kerajaan / Bali – kota Denpasar

Kerajaan Badung, 1788–1950. Terletak di pulau Bali, prov. Bali. Pusat pemerintahan kerajaan Badung berada di Puri Agung Denpasar sampai akhirnya pasukan Belanda mengalahkan kerajaan Badung melalui Perang Puputan Badung pada tahun 1906.

The Kingdom of Badung, 1788–1950.  Located on the province of Bali. The centre of the kingdom was in the city of Denpasar, named Puri Agung Denpasar.
For english, click here

Lokasi kota Denpasar

———————-

Lokasi pulau Bali


* Foto Puri Agung Denpasar, Badung: link


* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


* Video sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, 45.000 SM – sekarang: klik


* Garis kerajaan-kerajaan di Bali: klik


KERAJAAN BADUNG

Raja sekarang (2020)

Raja sekarang (2020): Ida Cokorda Ngurah Jambe Pemecutan / Raja Denpasar IX  (sejak 2005).

Ida Cokorda Ngurah Jambe Pemecutan / Raja Denpasar IX, bersama isteri, 2020


Sejarah kerajaan Badung, 1788–1950

– Sumber sejarah kerajaan Badung: https://www.kompas.com/stori/read/2021/12/07/160016479/kerajaan-badung-sejarah-raja-raja-keruntuhan-dan-peninggalan?page=all

Kerajaan Badung merupakan kerajaan yang terletak di Pulau Bali bagian selatan, dengan pusat pemerintahan berada di Puri Agung Denpasar. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-18 ini sempat terlibat konflik dengan Belanda hingga akhirnya terjadi Puputan Badung (1906). Setelah perang puputan selesai pada awal abad ke-20, Kerajaan Badung resmi dikuasai penuh oleh Belanda.

Sejarah berdirinya

Pada 1343, Majapahit masih menguasai Bali dengan pusat kekuasaan berada di Samprangan, yang dipimpin oleh Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan. Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan memiliki putra mahkota yang diberi nama I Dewa Anom Pemayun.
Menurut cerita rakyat Bali, I Dewa Anom Pemayun melakukan perjalanan panjang menuju daerah Pura Ulun Danu Batur. Begitu sampai, ia memohon kepada Ida Betari Ulun Danu Batur untuk diberikan panugrahan agar di masa depan menjadi seorang yang berwibawa dan dihargai oleh rakyatnya.
Atas permohonan tersebut, Ida Betari Batur mengabulkannya dan meminta I Dewa Anom Pemayun untuk pergi ke barat daya, tepatnya Gumi Badeng di Tonjaya. Pada saat itu, daerah tersebut ditempati oleh Ki Bendesa bersama dengan saudaranya, yaitu Ki Pasek Kabayan, Ki Ngukuhin, dan Ki Tangkas.

Begitu sampai di Gumi Badeng, melalui musyawarah antara Ki Bendesa dan saudaranya, diputuskan bahwa I Dewa Anom Pemayun diangkat menjadi penguasa di daerah tersebut dan mendapat gelar Sira Arya Benculuk Tegeh Kori. Setelah pengangkatan tersebut, bersama warga, Ki Bendesa membangun istana yang diberi nama Puri Benculuk.
Selanjutnya, wilayah tersebut ditetapkan namanya menjadi Badung, yang berasal dari kata Badeng. Setelah menjadi penguasa di Badung, I Dewa Anom menghadap penguasa Bali yang juga merupakan ayahnya, Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan. Ia melaporkan bahwa sudah diangkat menjadi penguasa Badung pertama yang bergelar Dalem Benculuk Tegeh Kori.
Keturunan dari Tegeh Kori ini diperkirakan berkuasa antara 1360 hingga 1750. Selama itu pula, Badung merupakan bawahan Kerajaan Gelgel, yang saat itu membangun Puri Ksatriya dan Puri Tegal Agung.

Lalu pada akhir abad ke-18, terjadi perebutan kekuasaan yang membuat Puri Ksatriya jatuh ke tangan Kyayi Ngurah Made. Kyayi Ngurah Made berinisiatif untuk membangun puri baru, karena puri sebelumnya rusak akibat perang perebutan kekuasaan. Kyayi Ngurah Made kemudian memerintahkan untuk membangun puri di Tetaman, Denpasar, yang berada di sebelah selatan Puri Ksatriya.
Puri itu selesai dibangun dan secara resmi digunakan pada 1788 sebagai pusat Kerajaan Badung. Kyayi Ngurah Made dinobatkan sebagai raja pertamanya dengan gelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan.

Konflik dengan Belanda

Pada 1904, ketika masa pemerintahan I Gusti Ngurah Made Agung, kapal berbendera Belanda milik seorang Tionghoa bernama Sri Komala kandas di Pantai Sanur. Pemerintah Belanda dan pemilik kapal menuding masyarakat setempat melucuti, merusak, dan merampas isi kapal.
Mereka menuntut kepada raja Badung untuk mengganti segala kerusakan tersebut dengan 3.000 dolar perak dan menghukum orang yang merusak kapal. Menanggapi tuntutan tersebut, Raja I Gusti Ngurah Made Agung menolak ganti rugi ataupun menghukum orang yang dianggap merusak kapal. Akibat penolakannya itu, Belanda mengirim ekspedisi militer ke Bali pada September 1906 untuk menyerang Kerajaan Badung.

Runtuhnya kerajaan Badung

Belanda berhadapan dengan segenap kekuatan militer Kerajaan Badung di pintu gerbang ibukota Badung. Disitulah kekuatan militer Kerajaan Badung yang dipimpin oleh raja menghadapi Belanda. Adapun militer kerajaan Badung saat itu terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari tentara, pengawal raja, kerabat kerajaan, pendeta, dan rakyat laki-laki maupun perempuan.
Mereka siap melakukan puputan (berperang sampai titik darah terakhir), karena berdasarkan kepercayaan mereka dalam agama Hindu, menyerah dalam pengasingan adalah kehinaan. Maka dari itu, seluruh elemen kerajaan turut berperang melawan Belanda, atau yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Puputan Badung. Setelah peristiwa puputan tersebut, Kerajaan Badung resmi jatuh ke tangan Belanda.

Bergabung dengan NKRI

Ketika Badung dikuasai oleh Belanda, I Gusti Ngurah Alit, putra mahkota I Gusti Ngurah Made Agung, diasingkan ke Lombok. Namun, atas desakan tokoh masyarakat di Lombok, I Gusti Ngurah Alit akhirnya dikembalikan ke Bali. Kemudian pada 1929, setelah Puri Agung Denpasar yang hancur saat puputan telah diperbaiki, I Gusti Ngurah Alit diangkat sebagai Bupati Badung dengan gelar Cokorda Alit Ngurah.
Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan sistem pemerintahan Zelfbestuur atau swapraja untuk mempermudah pengawasan di Bali. Badung, bersama daerah di Bali lainnya, ditetapkan sebagai daerah swapraja dengan dipimpin oleh keturunan raja-raja di Bali yang tergabung dalam federasi raja-raja atau disebut Paruman Agung.

Berdasarkan UU No. 69 tahun 1958, terhitung mulai tanggal 1 Desember 1958, daerah swapraja di Bali diubah menjadi Daerah Tingkat II yang setingkat kabupaten, termasuk Badung. Hal ini menjadi tanda bahwa Kerajaan Badung benar-benar usai dan berganti menjadi daerah Kabupaten Badung di bawah Pemerintahan Indonesia.
Adapun peninggalan dari kerajaan ini berupa Puri Agung Denpasar, yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Badung. Puri ini didirikan oleh Kyai Agung Made Ngurah sebagai raja Denpasar pertama dan selesai dibangun pada tahun 1788. Puri ini juga menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Badung sampai Belanda menguasai seluruh Bali pada tahun 1906.

Cokorda Alit Ngurah, Puri Agung Denpasar/Badung. 


Puputan Badung 1906

Pada tahun 1904 sebuah kapal wangkang berbendera Belanda milik seorang Tionghoa dari Banjarmasin bernama “Sri Komala” kandas di Pantai Sanur. Pemilik kapal dan pemerintah Hindia Belanda menuduh masyarakat setempat melucuti, merusak, dan merampas isi kapal serta menuntut kepada raja-raja Badung atas segala kerusakan itu sebesar 3.000 dolar perak dan menghukum orang-orang yang merusak kapal. Penolakan raja atas tuduhan dan pembayaran kompensasi itu, menyebabkan pemerintah Hindia Belanda mempersiapkan ekspedisi militernya ke Bali pada tanggal 20 September 1906. Tiga batalyon infantri dan 2 batalyon pasukan artileri segera mendarat dan menyerang kerajaan Badung.

Pada tanggal 14 September 1906, pasukan substansial Angkatan Darat Kerajaan Hindia Belanda, bernama Ekspedisi Militer Keenam, mendarat di bagian utara pantai Sanur. Itu di bawah komando Mayor Jenderal M.B. Rost van Tonningen.
Intervensi Belanda menghancurkan kerajaan Bali bagian selatan, Badung dan Tabanan

Setelah menyerang Badung, Belanda menyerbu kota Denpasar, hingga mencapai pintu gerbang kota, mereka belum mendapatkan perlawanan yang berarti namun tiba-tiba mereka disambut oleh segerombolan orang-orang berpakaian serba putih, siap melakukan “perang puputan” (mati berperang sampai titik darah terakhir). Dipimpin oleh Raja I Gusti Ngurah Made Agung dan para pendeta, pengawal, sanak saudara, laki-laki serta perempuan menghiasi diri dengan batu permata dan berpakaian perang keluar menuju tengah-tengah medan pertempuran. Hal itu dilakukan karena dalam ajaran Hindu, bahwa tujuan kesatria adalah mati di medan perang sehingga arwah dapat masuk langsung ke surga. Menyerah dan mati dalam pengasingan adalah hal yang paling memalukan. Dikabarkan bahwa sebelum terjadi puputan, putra mahkota dari I Gusti Ngurah Made Agung bernama I Gusti Alit Ngurah yang usianya sudah menginjak 10 tahun, terlebih dahulu dilarikan oleh beberapa laskar khusus pengawal kerajaan didampingi ibunya serta beberapa keluarga dekat puri, pergi ke daerah barat tepatnya di Desa Seminyak, Kuta. Pada tanggal 17 Januari 1907, I Gusti Alit Ngurah pun ditangkap dan menjadi tawanan perang, serta diasingkan ke Mataram, Lombok, oleh pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1929, setelah pembangunan kembali Puri Agung Denpasar yang hancur saat puputan, I Gusti Alit Ngurah diangkat oleh Hindia Belanda sebagai Regent Badung dengan gelar Cokorda Alit Ngurah. Pemerintah Hindia Belanda mulai menerapkan sistem pemerintahan yang baru yaitu Zelfbestuur (pemerintahan swapraja) guna dapat mempermudah mengatur daerah jajahan yang demikian luasnya pada tanggal 1 Juli 1938.


Istana: Puri Agung Badung

Puri Agung Denpasar (Puri Agung Satria) merupakan sebuah puri peninggalan raja-raja bali khususnya di daerah Bali selatan. Puri ini didirikan oleh Kyai Agung Made Ngurah (I Gusti Ngurah Made Pemecutan) sebagai Raja Denpasar pertama dan pembangunannya selesai pada tahun 1788 setelah sebelumnya beliau memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Badung dari Puri Jambe Kesatria. Selanjutnya pusat pemerintahan Kerajaan Badung berada di Puri Agung Denpasar sampai akhirnya Pasukan Belanda mengalahkan Kerajaan Badung melalui Perang Puputan Badung tahun 1906.
* Foto Puri Agung Denpasar, Badung: link


Daftar raja kerajaan Badung

* 1779-1788 / 1813: I Gusti Ngurah Made Pemecutan / Raja Badung VI / Raja Denpasar I.
* 1813-1817: I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan / Raja Denpasar II.
* 1817-1829: I Gusti Made Ngurah Pemecutan / Raja Denpasar III.
* 1829-1848: I Gusti Gede Ngurah Pemecutan / Raja Denpasar IV.

* 1848-1902: I Gusti Alit Ngurah Pemecutan / Raja Denpasar V.
* 1902-1906: I Gusti Ngurah Made Agung / Raja Denpasar VI, masa puputan Badung.
* 1929-1947: Cokorda Alit Ngurah / Raja Denpasar VII.
* Cokorda Ngurah Agung / Ida Cokorda Denpasar VIII, awal kedaulatan NKRI.
* 2005-………:Ida Cokorda Ngurah Jambe Pemecutan / Raja Denpasar IX.

– Sumber / source: link

Raja Puri Agung Denpasar/Badung


Puri (istana) di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Gerbang Utama Puri Agung Denpasar sebelum Perang Puputan Badung, 1906.


Pura (tempat ibadah) di Bali

Pura adalah istilah untuk tempat ibadat agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura di Bali dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa zona yang dikelilingi tembok. Masing-masing zona ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran. Lingkungan atau zonasi yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan2 di Bali abad ke-119

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber kerajaan Badung

– Sejarah kerajaan Badung di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Badung
– Sejarah kerajaan Badung: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.co.id/2011/04/sejarah-puri-denpasar.html
– Sejarah kerajaan Badung: http://puriagungdenpasar.com/sejarah-2/sejarah/

Website Puri Agung Denpasar: link
————————-

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-i-1846/
– 1848: Perang Bali II: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-ii-1848/
– 1849: Perang Bali III: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-iii-1849/
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-bali-1906/
– 1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-klungkung-1908/


Official emblem of the family of Puri Agung Denpasar.
“Ratu Hawir Bhuja Puri Agung Denpasar”,
which has the meaning of the sentence is: the King of kings. same as in the system of government in the Malaysia kingdom.


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: