Sungai Iyu, kerajaan / Sumatera – Prov. Aceh, kab. Aceh Tamiang

Kerajaan Sungai Iyu terletak di Sumatera, prov. Aceh, Kab. Aceh Tamiang.
Saat kesultanan Aceh kerajaan itu merupakan vasal atau bawahan sultan Aceh dan dipimpin oleh raja yang bergelar Uleebalang.
Setelah berakhirnya Perang Aceh, tahun 1914, kerajaan kecil masuk Onderafdeling sebagai “swapraja”.

The kingdom of  Sungai Iyu was located on Sumatera, prov. Aceh, Kab. Aceh Tamiang.
During the sultanate of Aceh this kingdom was a vassal or subordinate to the sultan of Aceh and was led by the king who had the title of Uleebalang.
After the end of the Aceh War, in 1914, the small kingdoms entered an Onderafdeling as “swapraja”.

For english, click here

Kabupaten Aceh Tamiang


* Foto kesultanan Aceh Darussalem: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh: link
*
Foto Aceh dulu: link
*
Foto perang Aceh-belanda (1873-1903): link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto situs kuno di Sumatera: link


Tentang raja sekarang

Tidak ada info tentang raja sekarang.
Cuma ada foto di bawah.

Raja Muda dari Sungai Iyu, Ampon Raja Muluck Attahashi. Sumber foto: R Indra Safri A, Facebook


Tentang kerajaan Sungai Iyu

Sungai Yu dalam masa pemerintahan kolonial

Dalam perjanjian antara Teungku Muda Chik dengan Raja Bendahara tanggal 18 Januari 1899 dan disahkan dengan Surat Keputusan Pemerintah bertanggal 28 Januari 1899 Nomor 31 dinyatakan bahwa kenegerian Bendahara berdiri sendiri dengan syarat bahwa Sungai Yu harus membayar sumbangan tahunan kepada Bendahara sejumlah f 300,00.
Kenegerian tersebut terletak hampir seluruhnya dalam daerah Bendahara. Perbatasan kedua kenegerian itu ditetapkan dengan Surat Keputusan Residen Sumatera Timur bertanggal 8

September 1898 Nomor 181 yang ditambah kemudian dengan keterangan kedua kepala kenegerian itu tanggal 25 November 1904 di hadapan Asisten Residen Loriaux.

Batas kenegerian dalam keputusan tersebut sebagai berikut.

Pertama, garis lurus yang ditarik dari kuala sungai Beukah ke laut, terus ke Alur Isong dan Simpang Kiri sungai Telaga Muku.Dari sana mudik ke Simpang Kiri sampai ke tempat jatuhnya Alur Dua ke Simpang Kiri.
Selanjutnya, mudik Alur Dua sampai ke pal batas dekat Seuneubok Paya Reuhat. Dari sini garis batas melengkung arah selatan ke pal batas dekat Paya Reuncong, dengan catatan, bahwa kebun-kebun lada Paya Reuhat, Rambong Loh, dan Paya Reuncong berada di sebelah kanan, sedangkan yang di Tuku Tinggi berada di sebelah kiri.

Garis dari pal batas di Paya Reuncong ke arah lain sebelah utara Paya Menderong, yang terletak demikian rupa sehingga kebun-kebun lada di Paya Menderong berada dalam daerah Raja Bendahara. Garis lurus yang ditarik dari pal batas disebut terakhir ke tempat lain sebelah selatan kebun-kebun lada, Seuneubok Dalam, demikian rupa sehingga kebun-kebun itu berada dalam daerah Sungai Yu.

Garis lurus dari pal batas terakhir ke Punti si Gul dan yang lain yang ditarik dari sana ke Lubuk Nipah. Dari Lubuk Nipah menuju alur senama yang mengalir sepanjang Lubuk Bunga dan jatuh dekat Lubuk Tiga Sagi di sungai Buging. Dari sana ke Alur Buging sampai Kuala Alur Durhala. Selanjutnya garis lurus dari kuala tersebut ke pertemuan kuala Alur Niri dengan Terusan Barum.

Dari Terusan Barum sampai ke Sungai Yu kecil dan selanjutnya, dengan mengikuti sungai tersebut, sampai ke kualanya di laut.

Kepala pemerintahan Sungai Yu yang bergelar Kejuruan Sungai Yu adalah Teungku Ismail. Ia diangkat dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal bertanggal 3 Oktober 1910.
Memerintah 1908 sampai 4-2-1949. Lahir 1880.


Tentang istana kerajaan Sungai Iyu

Pintu Gerbang Istana Negeri Sungai Iyu kini hanya tersisa dinding pembatas parit yang dibangun dari bahan bata dan semen, dicat dengan warna putih. Bangunan istana tidak tersisa lagi, kini diganti dengan bangunan Masjid. Gerbang Istana Sungai Iyu berarsitektur Eropa dengan sepasang pilar yang menyangga sisi kiri dan kanan gerbang terdiri dari 2 tingkat dengan puncak berbentuk 2 lengkungan yang saling bertemu. Bangunan ini berorientasi ke Selatan. Bangunan ini memiliki luas bangunan 3 x 4 m.


Tentang kerajaan-kerajaan kecil di bawah Sultan Aceh

Topik penting:

* Struktur pemerintahan kerajaan kecil di Aceh (Mukim, Sagi, Nangroe, Uleebalang), lengkap: link
* Daftar Uleebalang, 1914: link
* Daftar Uleebalang, 1940: link
* Gelar orang  kesultanan Aceh: link

Wilayah bagian barat Kerajaan Aceh Darussalam mulai dibuka dan dibangun pada abad ke-16 atas prakarsa Sultan Saidil Mukamil (Sultan Aceh yang hidup antara tahun 1588-1604), kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda (Sultan Aceh yang hidup tahun 1607-1636) dengan mendatangkan orang-orang Aceh Rayeuk dan Pidie.

Daerah ramai pertama adalah di teluk Meulaboh (Pasi Karam) yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Teuku Keujruen Meulaboh, dan Negeri Daya (Kecamatan Jaya) yang pada akhir abad ke-15 telah berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya adalah Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah dengan gelar Poteu Meureuhom Daya.

Dari perkembangan selanjutnya, wilayah Aceh Barat diakhir abad ke-17 telah berkembang menjadi beberapa kerajaan kecil yang dipimpin oleh Uleebalang, yaitu : Kluang; Lamno; Kuala Lambeusoe; Kuala Daya; Kuala Unga; Babah Awe; Krueng No; Cara’ Mon; Lhok Kruet; Babah Nipah; Lageun; Lhok Geulumpang; Rameue; Lhok Rigaih; Krueng Sabee; Teunom; Panga; Woyla; Bubon; Lhok Bubon; Meulaboh; Seunagan; Tripa; Seuneu’am; Tungkop; Beutong; Pameue; Teupah (Tapah); Simeulue; Salang; Leukon; Sigulai.

Struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan Aceh

Untuk lengkap: Struktur pemerintahan kerajaan kecil di Aceh (Mukim, Sagi, Nangroe, Uleebalang): link

1) Gampong, pimpinan disebut Geucik atau Keuchik. Teritorial yang terkecil dari susunan pemerintahan di Aceh adalah yang disebut dalam istilah Aceh Gampong. Sebuah Gampong terdiri atas kelompok-kelompok rumah yang letaknya berdekatan satu dengan yang lain.
Pimpinan gampong disebut Geucik atau Keuchik, yang dibantu oleh seorang yang mahir dalam masalah keagamaan, dengan sebutan Teungku Meunasah
2) Mukim, pimpinan disebut Imum Mukim. Bentuk teritorial yang lebih besar lagi dari gampong yaitu Mukim. Mukim ini merupakan gabungan dari beberapa buah gampong, yang letaknya berdekatan dan para penduduknya.
Pimpinan Mukim disebut sebagai Imum Mukim. Dialah yang mengkoordinir kepala-kepala kampung atau Keuchik-Keuchik.
3) Sago atau Sagoe, pimpinan disebut Panglima Sagoe atau Panglima Sagi. Di wilayah Aceh Rayeuk (Kabupaten Aceh Besar sekarang), terdapat suatu bentuk pemerintahan yang disebut dengan nama Sagoe atau Sagi. Keseluruhan wilayah Aceh Rayeuk tergabung ke dalam tiga buah Sagi ini, yang dapat dikatakan sebagai tiga buah federasi. Ketiga buah Sagoe atau Sagi tersebut masing-masing dinamakan:
1. Sagi XXII Mukim, dibentuk dari 22 mukim,
2. Sagi XXV Mukim, dibentuk dari 25 mukim,
3. Sagi XXVI Mukim, dibentuk dari 26 mukim.
Pemimpin disebut dengan Panglima Sagoe atau Panglima Sagi, secara turun-temurun, juga diberi gelar Uleebalang.
Mereka pengangkatannya sebagai Panglima Sagi disyahkan oleh Sultan Aceh dengan pemberian suatu sarakata yang dibubuhi cap stempel Kerajaan Aceh yang dikenal dengan nama Cap Sikureung.
4) Nangroe, pimpinan disebut Uleebalang. Bentuk wilayah kerajaan lainnya yang terdapat di Aceh yaitu yang disebut Nangroe atau Negeri. Nangroe ini sebenarnya merupakan daerah takluk Kerajaan Aceh dan berlokasi di luar Aceh Inti atau Aceh Rayeuk.
Pimpinan Nangroe disebut Uleebalang, yang ditetapkan oleh adat secara turun-temurun. Mereka harus disyahkan pengangkatannya oleh Sultan Aceh. Surat Pengangkatan ini dinamakan Sarakata yang dibubuhi stempel Kerajaan Aceh, Cap Sikureung.
5) Sultan. Tingkat tertinggi dalam struktur pemerintahan Kerajaan Aceh adalah pemerintah pusat yang berkedudukan di ibukota kerajaan, yang dahulunya bernama Bandar Aceh Dar as Salam.  Kepala pemerintahan pusat adalah Sultan yang para kelompoknya bergelar Tuanku.

The last official crownprince of the Sungai Iju kerajaan in Tamiang area. Father of the present perwakilan of this dynasty: Raja Muda Indra Safri Attahashi. Sumber foto: R Indra Safri A, Facebook


Sumber

– Uleebalang di Aceh: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Aceh#Ul.C3.A8.C3.ABbalang_.26_Pembagian_Wilayah
– Uleebalang di kesultanan Aceh: https://www.kompasiana.com/ruslan./siapakah-uleebalang_552c324c6ea83444128b4580
– Sejarah Uleebalang: https://www.facebook.com/boy.adityamawardi/posts/771874096190147
– Struktur pemerintahan kesultanan Aceh: http://febasfi.blogspot.co.id/2012/11/struktur-atau-lembaga-pemerintahan.html
– Struktur pemerintahan kesultanan Aceh: http://helmiyymailcom.blogspot.co.id/2012/10/struktur-pemerintahaan-kerajaan-aceh.html
– Struktur pemerintahan kesultanan Aceh: http://wartasejarah.blogspot.co.id/2013/07/kerajaan-aceh.html
– Tentang uleebalang: https://id.wikipedia.org/wiki/Ul%C3%A8%C3%ABbalang


Peta Aceh tahun 1646. Achem, from ‘Livro do Estado da India Oriental’, an account of Portuguese settlements in the East Indies, by Pedro Barreto de Resende

—————————-

Peta kerajaan kecil di Aceh 1917


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: