Plakaran, kerajaan / Madura

Kerajaan Plakaran terletak di Pulau Madura, kab. Bangkalan.

The kingdom of Plakaran was locted on the island of Madura, kab. Bangkalan.   For english, click here

Lokasi Madura

—————————
Lokasi kabupaten Bangkalan

kab. bangkalan


* Foto raja dan penguasa di Madura: link
* Foto suku Madura: link


Sejarah kerajaan Plakaran

Kawasan di sekitar Makam Agung, tepatnya di Desa Plakaran, Kecamatan Arosbaya, disebut-sebut pernah berdiri kerajaan kecil bernama Kerajaan Plakaran. Kerajaan ini diperintah oleh Ki Demung Plakaran, keturunan dari Prabu Brawijaya (1468-1478), raja terakhir dari Kerajaan Majapahit. Selain terkenal dengan legenda islam onggu’, situs ini juga juga amat berkait erat dengan penetapan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Bangkalan.

Pada abad ke-15, dua Suruhan dari kerajaan Majapahit yang bernama Lembu Petteng dan Menak Senoyo datang ke Madura dan tinggal di Sampang. Keturunan Lembu Petteng yang bernama Ny. Ageng Budo menikah dengan seorang pria yang bernama Aryo Pecuk, suami Ny. Ageng Budo merupakan keturunan dari Menak Senoyo. Pernikahan Aryo Pucuk dengan Ny. Ageng Budo di anugerahi seorang anak yang di berinama Ki Demung. Setelah cukup umur Ki Demung berjalan kearah barat dan Ki Demung tiba di daerah Plakaran. Disanalah Ki Demung membangun kerajaan Plakaran. Desa Plakaran jadi kec. Arosbaya.

Setelah Ki Demung meninggal, yang memegang kerajaan di ganti dengan anaknya yang bernama Pragalba dengan gelar Pangeran Plakaran yang di juluki pangeran islam Ongguk. Pangeran Plakaran punya anak yang di berinama Ki Pratanu. Dengan mengikuti tradisi para pemimpin kerajaan islam dalam penobatan raja pada tanggal 12 Robiul awal, jadi tanggal 12 Robiul Awal 1898 Ki Pratanu di nobatkan menjadi raja Plakaran dengan gelar Pangeran Lemah Duwur menggantikan bapaknya Pangeran Plakaran.

Ketika Kraton Plakaran diperintah Raden Pragalbo, putra ketiga Ki Demung Plakaran, yang kemudian populer dengan sebutan Pangeran Islam Onghu’ (Islam Mengangguk), kekuasaan kerajaan Plakaran yang pusat pemerintahannya sudah berpindah ke Arisbaya (sekarang Arosbaya), jadi semakin berkembang luas hingga ke seluruh Pulau Madura.

Gapura kembar yang jadi pintu masuk komplek makam Ki Demung Plakaran. (Foto: Agus Hidayat)


Sejarah kerajaan-kerajaan di Madura

Sejarah Madura berawal dari perjalanan Arya Wiraraja sebagai Adipati Madura pertama di abad ke-13. Dalam kitab Nagarakertagama khususnya pada lagu ke-15 dikatakan bahwa Pulau Madura pada mulanya menyatu dengan tanah Jawa, hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 1365-an orang Madura dan Jawa merupakan bagian dari masyarakat, budaya yang sama.

Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kerajaan Hindu Jawa Timur seperti Kediri, Singhasari dan Majapahit. Antara 1500 dan 1624, penguasa Madura sampai batas tertentu bergantung pada kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik dan Surabaya. Pada 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram.

Pada tahun 1624, Sultan Agung dari Mataram menaklukkan Madura dan pemerintahan pulau itu berada di bawah kekuasaan Cakraningrat, satu garis pangeran. Keluarga Cakraningrat menentang kekuasaan Jawa Tengah dan seringkali menaklukkan sebagian besar Mataram.

Setelah Perang Suksesi Jawa Pertama antara Amangkurat III dan pamannya, Pangeran Puger, Belanda menguasai setengah bagian timur Madura pada tahun 1705. Pengakuan Belanda atas Puger dipengaruhi oleh penguasa Madura Barat, Cakraningrat II yang diperkirakan mendukung klaim Puger dengan harapan perang baru di Jawa Tengah akan memberikan kesempatan bagi orang Madura untuk ikut campur. Namun, ketika Amangkurat ditangkap dan diasingkan ke Ceylon, Puger mengambil gelar Pakubuwono I dan menandatangani perjanjian dengan Belanda yang memberi mereka Madura Timur.

Para Cakraningrat setuju untuk membantu Belanda menumpas pemberontakan tahun 1740 di Jawa Tengah setelah pembantaian Cina tahun 1740. Dalam perjanjian tahun 1743 dengan Belanda, Pakubuwono I menyerahkan kedaulatan penuh Madura kepada Belanda, yang diperebutkan oleh Cakraningrat IV. Cakraningrat melarikan diri ke Banjarmasin, berlindung dengan Inggris, dirampok dan dikhianati oleh sultan, dan ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Tanjung Harapan.

Pada abad 19, Pemerintahan Hindia Belanda memberdayakan kelebihan dan kekuatan warga lokal demi mencari keuntungan. Iming-iming gelar kebesaran oleh pihak Hindia Belanda menjadi format legitimatif tersendiri bagi para kolonial. Gelar Sultan diberikan oleh pihak Kolonial kepada Raja Sumenep pada tahun 1825, Raja Pamekasan di tahun 1830, Raja Bangkalan di tahun 1847 diberi gelar Panembahan.

Tahun 1858 , Madura dire-organisasi kembali menjadi dua Karesidenan, Madura timur dengan Ibukota Karesidenan di Pamekasan dan Madura Barat dengan Ibukota Karesidenan di Bangkalan, dengan masing masing Karesidenan dikuasai Oleh Belanda. Dan pada 1858 memutuskan untuk menghapus kerajaan Pribumi dan kerajaan Pamekasan menjadi bagian dari Karesidenan dari struktur birokrasi Kolonial, dan pada tahun 1883 dihapuskan kerajaan Sumenep, dan berikut kerajaan Bangkalan pada tahun 1885.

Komplek Pasarean Pangeran Demang Plakaran, di Plakaran, Arosbaya, beberapa tahun lalu sebelum dipugar. (Foto/plakaran.blogdesa.net)


Sumber

– Sejarah kerajaan Plakaran: http://www.pulaumadura.com/2015/10/wisata-sejarah-makam-agung-arosbaya-di-bangkalan.html
– Sejarah kerajaan Plakaran: http://www.duniapusaka.com/blog/kerajaan-madura
– Sejarah kerajaan Plakaran: http://robiatuladawiyah11111.blogspot.co.id/2014/11/asal-usul-kota-bangkalan.html


Peta lokasi Madura tahun 1616

———————————————-

Peta lokasi Madura tahun 1660


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: