Duo Baleh Koto (Rantau XII Koto), rantau / Prov. Sumatera Barat – Kab. Solok Selatan

Rantau Duo Baleh Koto (Rantau XII Koto) adalah rantau di kab. Solok Selatan, prov. Sumatera Barat.


Tentang Rantau

Untuk penjelasan Rantau, klik di sini


Tentang raja

1 Desember 2019
Bendrianto didaulat menjadi “Yang Dipertuan Maharjo Bungsu” atau raja rantau Duo Baleh Koto di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, menggantikan Syafril yang mangkat pada 24 September 2019.

Daulat yang dipertuan Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror Sultan Muhammad Farit Thaib Tuanku Abdul Fatah (kiri) dan Bendrianto Yang Dipertuan Maharjo Bungsu saat prosesi melewakan gelar Rajo Rantuo Duo Baleh Koto, Minggu. (ANTARA SUMBAR/ist)

Bendrianto Didaulat Sebagai Raja Rantau Duo Baleh Koto

24 September 2019
Raja Rantau Duo baleh (XII) Koto, Syafri. Tuanku Yang Dipertuan Maharajo Bungsu dalam usia 65 tahun, Almarhum meninggal dunia rabu malam 23/10.

Penulis: Khadijah, http://klikpositif.com/baca/59400/solsel-berduka-raja-rantau-xii-koto-meninggal-dunia
Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria mengatakan sangat berduka atas meninggalnya Raja Rantau Duo baleh (XII) Koto, Syafri. Tuanku Yang Dipertuan Maharajo Bungsu dalam usia 65 tahun, Almarhum meninggal dunia rabu malam 23/10.
“Beliau Almarhum Syafri Tuanku Yang Dipertuan Maharajo Bungsu adalah salah satu tokoh yang berjasa sehingga terbentuknya kabupaten Solok Selatan ini,” Kata Bupati Solsel Muzni Zakaria saat memberikan sambutan sebelum prosesi Shalat Jenazah Raja tersebut di Masjid Nurul Huda Durian Tarung Kamis, 24/10.
Dia juga mengungkapkan almarhum adalah sosok seorang raja yang dihormati serta sangat peduli pembangunan Kabupaten Solok Selatan.
“Beliau Almarhum sesekali bertemu dengan saya memberikan masukan dan saran untuk kemajuan Solok Selatan, mari do’akan semoga Almarhum mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT hendaknya, aamiin”., ujarnya.
Salah seorang kerabat Raja Rantau XII Koto tersebut Ultradinata menyebutkan almarhum menjadi raja Yang Dipertuan Maharajo Bungsu sejak 50 tahun yang lalu.
“Beliau memegang gelar yang Tuanku Dipertuan Maharajo Bungsu sejak berusia 15 tahun atau sejak 50 tahun yang lalu, beliau wafat diusia 65 tahun”, Katanya.
Ia melanjutkan sebelum prosesi pemakaman almarhum telah dilakukan pemindahan gelar ke generasi berikutnya.
“Sekarang Tuanku Yang Dipertuan Maharajo Bungsu adalah Bendrianto sebelumnya bergelar Inyiak Sutan Bandaro, Gelar Inyiak Sutan Bandaro dipindahkan ke Rezi Saputra.

Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria bersama Kapolres Solok Selatan AKBP Imam Yulisdianto turut mengantarkan Jenazah Raja Rantau XII Koto, Syafri. Tuanku Yang Dipertuan Maharajo Bungsu ke tempat peristirahatan terakhirnya (KLIKPOSITIF/Kaka)

Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria bersama Kapolres Solok Selatan AKBP Imam Yulisdianto turut mengantarkan Jenazah Raja Rantau XII Koto, Syafri. Tuanku Yang Dipertuan Maharajo Bungsu ke tempat peristirahatan terakhirnya


Tentang penobatan Yang Dipertuan Maharjo Bungsu, desember 2019

 – Sumber: Padang Aro (ANTARA)

Bendrianto didaulat menjadi “Yang Dipertuan Maharjo Bungsu” atau raja rantau duo baleh koto di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat menggantikan Syafril yang mangkat pada 24 September 2019.

Prosesi penobatan dan malewakan gelar Raja Rantau Duo Baleh Koto kepada Bedrianto Yang Dipertuan Maharjo Bungsu dihadiri langsung oleh Daulat yang dipertuan Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror Sultan Muhammad Farit Thaib Tuanku Abdul Fatah serta Wakil Bupati Solok Selatan Abdul Rahman, Kapolres AKBP Imam Yulisdianto Dandim 0309 Solok Letkol Priyo Iswahyudi yang diwakili Danramil Sangir Kapten Inf Afrizal, di Padang Aro, Minggu.

Daulat yang dipertuan Rajo alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror Sultan Haji Dokter Muhammad Farit Thaib Tuanku Abdul Fatah berpesan supaya Bendrianto Yang Dipertuan Maharjo Bungsu menjalankan amanah sebaik-baiknya sesuai pepatah minang “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.

“Pepatah ini sudah ditetapkan sejak 1403 masehi atau 804 hijriah oleh raja pertama Pagaruyung Editiawarman”, katanya.
Dia mengatakan, penobatan Bendrianto sebagai Yang Dipertuan Maharjo Bungsu sudah ditetapkan saat pendahulunya Safril meninggal dunia.

“Patah Tumbuh Ilang Baganti jadi saat Safril meninggal ninik mamak nan 36 di Rantau Duo Baleh Koto langsung mendapat penggantinya yaitu Bedrianto yang hari ini dilewakan,” ujarnya.
Dia berharap, Pemerintah Daerah bisa membimbing ninik mamak supaya dapat membantu pembangunan baik Sumber Daya Manusia maupun secara fisik.

Wakil Bupati Solok Selatan Abdul Rahman mengatakan, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak menepikan raja-raja di Nusantara.
“Bahkan konstitusi juga menjunjung hak-hak adat yang ada di nusantara,” ujarnya.
Dia mengatakan, Pemerintah daerah dari waktu ke waktu sudah melakukan peningkatan kapasitas pemangku adat.
Dari dana desa katanya, sebagiannya digunakan untuk peningkatan kapasitas pemangku adat.
Sedangkan untuk pembangunan rumah adat dari dana pemerintah selama ini terkendala regulasi.
“Kedepan bagaimana caranya supaya anggaran pemerintah bisa juga untuk pembangunan balai adat atau rumah adat,” katanya.


Rumah Gadang Kerajaan Rantau XII Koto

Bangunan ini dahulu merupakan Istana dari raja yang bernama Tuanku Yang Dipertuan Maharajo Bungsu. raja ini merupakan raja yang berkuasa di daerah Rantau 12 Koto. Tuanku Yang Dipertuan Maha Rajo Bungsu adalah anak dari Putih Intan Jori yang merupakan keturunan dari kerjaan Pagaruyung. Menurut ahli waris kerjaan yang bernama Maas Datu Rajo Lelo bahwa asal muasal Kerajaan Rantau 12 Koto ini berasal dari kerajaan Pagaruyung. Asal Muasal kata Rantau 12 Koto berasala dari kata 12 orang yang datang ke daerah ini untuk mencari Putih Intan Jori yang merupakan putri dari kerajaan Pagaruyung yang melarikan diri ke daerah Sangir . Setelah mereka menemukan Putih Intan Jori, 7 dari antara mereka tinggal di daerah sangir sedangkan yang 5 orang pulang ke Pagaruyung.

Bangunan Yang sekarang ini merupakan bangunan yang kedua sedangkan bangunan yang pertama telah hancur karena terbakar. Bangunan ini dibangun pada tahun 1942. Bangunan ini sekarang berfungsi sebagai tempat diadakannya rapat adat atau pertemuan masyarakat Rantau 12 Koto.
– Sumber: https://situsbudaya.id/rumah-gadang-malayu-kampung-dalam-rumah-gadang-kerajaan-rantau-xii-koto/