Sejarah lengkap kerajaan Tanjung Kasau

Ada seorang benama DATUK PADUKA TUAN turunan dari Bukit Gombak Pagaruyung membawa 2 orang anaknya yaitu RAJA MANSYURSYAH dan RAJA ALI KADIR dengan pengiringnya, mereka sampai ke Batubara. Lalu mereka membuat perrkampungan di sana. Lama kelamaan banyaklah berdatangan orang suku Simelungun untuk berdagang, sehingga karena makmurnya, Portugis datang dari Melaku sehingga terbitlah peperangan. Di dalam menangkis serangan Portugis itu, disuruhnya orang membuat tangga besi yang dibakar, sehingga Portugis tak jadi mendarat. Sejak itu kampung itu dinamakan “TANGGA BESI”.
Karena dicekam perasaan was was selalu maka RAJA MANSYURSYAH minta bantuan panglima dan senjata pada Sultan Aceh, yang lalu mengirimkan panglima panglimanya yang bernama Panglima Gugub, Panglima Payung, Panglima mungkin dan panglima Mahir. Merekalah yang membuat benteng pertahanan dengan dilengkapi meriam. Sejak itu orang Portugis sudah tidak dating lagi.
Panglima Mahir dan mugkin kembali menjadi Aceh dan Raja Mansyursyah menjadi Raja di Tangga Besi. Putranya bernama RAJA ABDUL JALIL, membuat kampung baru di Tanjung Rih. Putera Raja Abdul Jalil, bernama RAJA ADIM, membuat pula kampung di Tanjung Matoguk. Turunan di Raja Adim, ialah RAJA AHMAD, membuat pulakampung di Tanjung Bolon. Di zaman Raja Amad menjadi raja, ia menghadap sultan Aceh dengan menaiki kapal bernama “Gajah Ruku”. Oleh sultan Aceh, ia lalu diberi gelar SULTAN ALAM PERKASA dan dari situ nama Tanjung Bolon awalnya dan nama Perkasa di akhirnya, dijadikannya negeri, yaitu “Tanjung Kasa” atau kemudian menjadi “Tanjung Kasau”, ia mempunyai 2 orang putera : Raja Bolon dan Raja Muda Indrajari.
Penggantinya adalah Raja Bolon yang membangun kampung Tanjung Meraja. Raja Bolon mempunyai Putera 3 orang dan yang menjadi penggantinya adalah yang bernama RAJA SABDA yang kembali berkedudukan di Tanjung Bolon. Pengganti Raja Sabda ialah RAJA SAID yang membuat kampung Huta Usang. Raja Said mempunyai 5 orang putera. Mula-mula sebagai penggantinya ialah yang tua RAJA MUHAMMADSYAH, kemudian digantikan abangnya RAJA JINTANALI menjadi raja yang membuat kampung di Huta Limau Kayu.
Ada 9 orang anaknya. Ketika ia sudah tua, ia turun tahta dan digantikan puteranya RAJA MARAH yang membuat kampung baru di kampung Mabar. Ia ini mempunya 11 orang anak. Ia diturunkn Belanda karena melawan ditahun 1900 dan digantikan adiknya RAJA MARAHUDDIN yang membangun kampung Suka. Raja Marahuddin punya 6 orang anak. ketika ia berhenti, menjadi raja pula adiknya RAJA RAETAL sebagai pemangku putera tertua Raja Morah. Tetapio tibatiba mati Raja Raefal, dan kini menjadi pemangku ialah DATUK BENTARA, menantu dari almarhum Raja Jintananali. Ada kira-kira 1½ tahun ia memangku maka iapun meninggal dunia pula. Di tahun 1916, ketika masa kontelir batubara bernama RADERSMA, dicalonkannyalah ABDUL SOMAD gelar TENGKU BUSU menjadi pemangku negeri Tanjung Kasau.

Adapun negeri Tanjung Kasau itu mempunyai juga Orang Besarnya, yaitu RAJA POSO turunan Raja Morah. RAJA INJAR turunan Raja Bolon, RAJA GRAHA turunan Raja Morah juga dan Orang Kaya MATRAWAN turunan Panglima Payung dari Aceh. Pada suatu waktu Raja Tanjung Kasau bermusyawarah dengan Raja Silau, Raja Siantar dan Raja Pane dan bersama mereka membuat rumah besar di Pematang Pane tempat mereka bermusyawarah kalau ada perkara diantara mereka. Ketika di Asahan sudah ditempatkan Belanda Kontelir Van Assen, maka negeri Tanjung Kassau dicaplok masuk Hindia Belanda dan Raja Marsyah (Muhammadsyah) waktu itu diberikan Beslil 16 Oktober 1882. Ketika Raja Jintanali menjadi Raja di Tanjung Kasau, ia bersama Orang Besarnya disumpash oleh Kontelir B.A Kroesen dari Batubara.

Dalam suratnya, Kontelir Asahan dan Batubara, Van Assen, tertanggal 16 Oktober 1882 menyebut bahwa “Radja Djintanali is van een vorstelijk moeder : Radja Madseh van een orang ketjil. Radja Djintanali is de broeder van Radja Madsah, een oprechte en geode Battaker. Radja Madsah is beter om te onderhandeler, daarhij goed Maleisch spreekt”. (Raja Jintanali mempunyai ibu turunan bangsawan, sedangkan Raja Madseh ibunya orang biasa. Raja Jintanali adalah saudara Raja Madsah, adalah seorang yang baik dan jujur. Dengan Raja Madsah agak mudah berhubungan karena ia bisa berbicara melayu dengan fasih).