Putra Raja Bone Datang ke Bengkalis (sejarah Daeng Tuagik)

Sumber artikel di bawah: https://nurulhidayantiweb.wordpress.com/2017/03/19/sejarah-bukit-batu/

——————————————————-

Sejarah Bukit Batu

Bandar Bengkalis

Pulau Bengkalis yang mempunyai luas daratan ±2.400 km² berbatasan sebelah Utara dan Timur dengan Selat Malaka, sebelah Selatan dan Barat dengan Selat Bengkalis. Pulau yang lebih dikenal dengan julukan Pulau Terubuk ini, menurut cerita orang tua-tua dari mulut ke mulut yang dapat dipercaya kebenarannya bahwa pada masa dahulunya, yakni sekitar abad ke-15 atau sekitar tahun 1645M pernah ada sepasang suami istri tiba dikampung Muntai, yaitu sebuah desa yang terletak di pantai Utara pulau Bengkalis. Mereka datang dari negeri seberang yakni Melaka.

Setibanya di Muntai mereka menghadap Batin Muntai dengan maksud agar mereka diizinkan untuk tinggal dan menetap di Muntai tersebut. Menurut adat perbatinan waktu itu, bahwa setiap pendatang yang bermaksud tinggal atau menetap harus terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan Batin-batin (kepala suku) yang ada di Bengkalis. Mereka atau pendatang dapat diizinkan oleh para Batin apabila pendatang tersebut tidak akan membuat kerusuhan di tengah masyarakat. Demikian pula halnya dengan sepasang suami istri ini, akhirnya mereka diizinkan menetap di Muntai.

Sebagai pendatang dari sebuah negeri yang telah memiliki tamaddun yang tinggi, tak pelak lagi bahwa mereka merupakan tempat bertanya bagi penduduk tempatan. Mereka bergaul dengan tidak ada merasa asing lagi, dan dari hari ke hari pergaulan mereka semakin akrab. Namun sebagai suami isteri yang sudah lama menikah, mereka belum dikaruniai seorang anak.

Keinginan untuk mendapatkan cenderamata sangatlah mereka dambakan. Berbagai usaha sudah dilakukan, namun Tuhan belum mengabulkannya. Didorong oleh rasa ingin memiliki anak, akhirnya mereka mengangkat seorang anak perempuan. Rasa bangga dan bahagianya mendapatkan seorang anak itu, mereka berikanlah namanya Intan. Begitulah tingginya nilai sesuatu yang sangat diharap-harapkan.

Sesuatu terjadi di luar jangkauan manusia, waktu berselang tidak beberapa lama ibu angkat Intan hamil pula, dan tak berapa lama lahir pula seorang anak perempuan yang mereka beri nama Encik Mas.

Berbekalkan ilmu pengetahuan yang mereka bawa dari negeri asalnya Melaka, mereka mendidik dan mengasuh kedua anaknya dengan penuh rasa kasih saying hingga dewasa.

Diatas sudah dijelaskan bahwa kehadiran kedua suami isteri tersebut di kampong yang sekarang bernama Muntai adalah suatu tumpuan tempat bertanya masyarakat tempatan. Bahkan bukan sekedar itu saja, melainkan saran dan pendapatnya sangat diperlukan oleh Batin-batin dalam mengambil dan menetapkan suatu keputusan.

Bukan saja pertumbuhan dan perkembangan kedua anaknya saja semakin hari semakin bertambah, demikian pula halnya laut Muntai/Selat Melaka yang kian hari kian ramai dilewati oleh perahu-perahu asing yang menuju Melaka. Adapun hal tersebut tidak menutup kemungkinan ramainya perahu-perahu yang singgah dan berhenti sementara di laut dan pangkalan Muntai, sambil memberi buah Suntai yang banyak dijual oleh penduduk tempatan kepada pedagang-pedagang untuk dibawa ke Bandar Melaka sebagai bahan baku untuk pembuatan minyak. Mungkin dari nama buah Suntai inilah nama kampong Muntai ini berasal.

Mengingat letak kampong Muntai sangat berdekatan sekali dengan Bandar Melaka dan banyaknya pendatang yang datang membeli buah Suntai, yang kesemuanya dapat menimbulkan kerusuhan masyarakat Muntai, maka oleh ayah Encik Mas mengusukan kepada batin Muntai agar ditunjuk seseorang yang menjadi Datuk Bandar yang berkedudukan di Muntai, sebagaimana yang terdapat di Negeri Melaka.

Usulan tersebut diterima oleh para Batin, tetapi siapakah gerangan yang dianggap mampu atau patut diangkat menjadi Datuk Bandar, sedangkan beberapa orang batin meragukan kemampuan ayah Encik Mas. Akan tetapi setelah melalui beberapa ujian, sepakatlah seluruh Batin menunjuk ayah Encik Mas menjadi Datuk Bandar Bengkalis yang pertama.

Di dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai Datuk Bandar, ayah Encik Mas selalu didampingi oleh kedua putrinya, yaitu Intan dan Encik Mas. Kepada kedua putrinya inilah beliau banyak menurunkan ilmu-ilmunya, terutama ilmu pemerintahan, ilmu bela diri, dan ilmu menolong orang. Dan jika ayahnya berangkat ke negeri Melaka maka Encik Mas lah yang selalu menggantikan kedudukannya selama beliau tidak berada ditempat.

Pada tahun 1675M dan usia kedua puterinya sudah beranjak dewasa, Datuk Bandar Bengkalis meninggal dunia, dan sebagainya penggantinya maka ditunjuklah anak kandungnya Encik Mas sebagai Datuk Bandar Bengkalis yang kedua.

Dengan berbekal ilmu dan seni yang diterima dari ayahnya, Encik Mas menata sistem pemerintahan serta adat istiadat, yang disusunnya dengan baik menurut adat istiadat dan tata cara kerajaan Melayu Melaka. Dalam beliau melaksanakan pemerintahan, beliau didampingi oleh pembesar-pembesar dan panglima-panglima yang terdiri dari anak-anak para batin yang berada di Bengkalis.

Dan yang perlu dicatat, dalam upayanya menjaga ketertiban dan ketentraman pulau Bengkalis, Encik Mas telah membentuk badan keamanan didalam Bandar, dan beliau tidak mengizinkan untuk mendirikan angkatan bersenjata dan kendaraan di laut, karena menurut pertimbangan beliau bila hal ini dibentuk akan menimbulkan niat jahat menyerang negeri orang lain.

Putra Raja Bone Datang ke Bengkalis

Selang beberapa waktu kemudian, sekitar tahun 1680M, pulau Bengkalis didatangi sebuah perahu layar, kalau ditinjau dari peralatannya dapatlah dikatakan sebuah kapal perang dari Sulawesi Selatan yaitu Wajok, dan di dalamnya terdapat empat orang putra Sultan Wajok, yaitu masing-masing Daeng Tuagik, Daeng Puarik, Daeng Ronggik, dan Daeng Senggerik.

Setelah mendarat di Bengkalis, mereka datang menemui Encik Mas Datuk Batuk Bandar Bengkalis, dan menyampaikan maksud kedatangan mereka, yaitu bahwa mereka datang dari Sulawesi (Wajok), adalah untuk mencari pengalaman dan pengetahuan di seluruh nusantara, serta mencari persahabatan. Mendengar perkataan keempat anak Sultan Wajok dan melihat tingkah laku dan sopan santun yang baik, maka disambutlah oleh Datuk Bandar dengan senang hati, sehingga mereka diizinkan tinggal di Bengkalis selama beberapa waktu mereka mau.

Selang beberapa purnama tinggal di Bengkalis, kemudian anak-anak Sultan Wajok tersebut memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, dan mohon diri kepada Datuk Bandar. Akan tetapi, salah seorang dari mereka, yaitu Daeng Tuagik, dan saudara yang paling tua menyatakan tidak ikut melanjutkan perjalanan, dengan alasan bahwa beliau belum puas tinggal di Bengkalis. rupanya maksud ini disetujui oleh kedua belah pihak, baik dari adik-adik Daeng Tuagik maupun dari pihak Datuk Bandar Bengkalis.

Selama di Bengkalis rupanya Daeng Tuagik menaruh hati terhadap Encik Mas, timbul niat dihatinya untuk mempersunting Encik Mas yang kebetulan saat itu masih berstatus gadis untuk dijadikannya isteri. Niat hati dan perasaannya tersebut disampaikan kepada Encik Mas, ternyata niat hati Daeng Tuagik mendapat tanggapan yang baik dari Encik Mas.

Melalui perantaraan orang-orang Encik Mas menyampaikan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Daeng Tuagik bila kelak menjadi suami Encik Mas, yaitu sebagai berikut:

  1. Keturunannya (Daeng Tuaugik dan Encik Mas), hingga ke anak cucunya nanti, tidak boleh memakai gelar dari Sulawesi.
  2. Daeng Tuagik sendiri tidak boleh membentuk angkatan bersenjata di laut, sebagaimana terdapat dalam dasar pemerintahan Bengkalis.

Setelah syarat-syarat tadi disampaikan kepada Daeng Tuagik dan difikirkannya matang-matang, maka diterimanyalah syarat-syarat tersebut. Tidak beberapa lama kemudian diadakan acara perminangan dan berlanjut dengan dilaksanakan acara pernikahan yang meriah sekali.

Pada usia perkawinan Datuk Bandar Bengkalis dan Daeng Tuagik genap satu tahun, maka diadakanlah pesta besar-besaran yang belum pernah diadakan sebelumnya. Bertepatan dengan acara itu pula atas mufakat bersama ditabalkanlah atau diangkatlah Daeng Tuagik sebagai ketua panglima-panglima yang ada di Bengkalis dengan gelar Panglima Tuagik, dibawah pemerintahan Datuk Bandar Bengkalis.

Walaupun situasi dan kondisi Bengkalis pada waktu itu dalam keadaan aman dan tentram hingga bertahun-tahun lamanya, tetapi dilain pihak yaitu Daeng Tuagik selalu dalam kegelisahan. Apabila didengarnya berita-berita dari orang bawahannya bahwa didaerah lain di pulau-pulau yang berdekatan dengan pulau Bengkalis selalu saja didatangi perampok-perampok. Perampok-perampok tersebut disamping menjarah barang-barang penduduk, juga tidak segan-segan untuk melakukan penyiksaan dan pembunuhan secara kejam. Sepak terjang dan kekejaman perampok-perampok tersebut menyebabkan Panglima Tuagik bermuram durja, hidupnya selalu dalam kegelisahan.

Dilain pihak apabila ia memandang ke tengah lautan, disana tampaklah olehnya kapal-kapal Belanda hilir mudik entah dari mana tidak diketahui dengan pasti, maklumlah dilihat dari daratan yang jauh. Betapa tidak, darah Bugis yang mengalir didalam tubuhnya itu, tidak mengizinkan ia berdiam diri saja. Seperti kita ketahui dalam sejarah, bahwa bangsa Bugis dikenal sebagai bangsa pelaut yang gagah berani mengarungi lautan. Demikian pula halnya dengan Panglima Tuagik sebagai seorang putra raja Wajok. Perlu diketahui, bahwa putra Wajok ini mempunyai darah campuran antara Bone dan Luwu. Kalau Sultan Bone bergelar Mangkaue yang berarti bertahta atau yang memerintah, sedangkan Raja Luwu bergelar Mapayunge artinya berpayung. Baginda Luwu biasanya tersebut Datuk Luwu. Dan jika Raja Bone terkenal gagah beraninya, maka Datuk Luwu terkenal juga dengan hal ini. Baginda terkenal juga sebagai seorang Sultan yang baik budi bahasanya, lagi arif bijaksana dalam memerintah dan memimpin rakyatnya. Baginda Datuk Luwu memerintah sangat adilnya, serta penuh kasih saying seluruh rakyatnya.

Demikianlah Panglima Tuagik adalah keturunan dari dua suku bangsa Bugis yang dikenal gagah berani dan perkasanya, yaitu mengarungi lautan dan menghapuskan segala perampok atau menghadang kapal-kapal Belanda yang berniat menjajah bangsanya.

Berpegang pada syarat perkawinannya yaitu apabila mendapat keturunan tidak boleh diberi gelar dengan gelaran Bugis dan namanya tidak boleh mengikut nama Bugis, maka anak mereka tersebut diberi nama Jamal, dan anak ini setelah dewasa, dinamakannyalah dengan nama Encik Jamal.

Setelah berumur tiga puluh tahun, maka oleh ibundanya diangkatlah Encik Jamal sebagai Datuk Bandar. Setelah tampuk pemerintahan Bengkalis dipegang oleh Datuk Bandar Jamal, maka Encik Mas pun kembalilah sebagaimana orang biasa. Dalam keadaan yang demikian Panglima Tuagik mengambil kesempatan untuk mendesak putranya Datuk Bandar Jamal agar membentuk sebuah angkatan laut yang cukup dengan persenjataannya. Akan tetapi selalu ditentang oleh ibundanya yang berbalik menasehatinya agar jangan diturut kehendak ayahandanya Panglima Tuagik. Karena sesuai dengan prinsip pemikirannya sejak dahulunya, bahwa membentuk angkatan laut beserrta kelengkapan persenjataannya akan memancing timbulnya pertentangan dan permusuhan.

Namun akhirnya sekitar tahun 1720 M terfikir pula oleh Datuk Banda Jamal, kalau kehendak ayahandanya ini tidak diturut, ditakutkan ayahandanya akan pergi meninggalkan Bengkalis. untuk menjaga hati sang ayahanda tercinta dibuatnyalah sebuah perahu yang amat besar, perahu tersebut menyerupai perahu-perahu yang banyak terdapat didaerah Sulawesi. Setelah perahu yang besar tersebut siap dibuat, maka perahu itu diberi warna kuning bertumpu-tumbuk pada bagian badannya dengan memakai layar Bugisnya. Layar dan jibnya (layar kecil didepan) berwarna putih. Perahu yang besar itu dinamakan Lancang Kuning. Perahu tersebut dipasang bendera diujung tiang berwarna hijau lumut, yang melambangkan kemakmuran. Pada tahun 1720 M itu juga dikawinkanlah Datuk Bandar Jamal dengan anak batin Senerak yang bernama Encik Mahiran.

Panglima Tuagik Ikut Menyerang Johor

Sebelum sampai pada kisah penyerangan ke Johor, maka terlebih dahulu kita lihat keadaan kerajaan Johor sebelum itu.

Kerajaan Johor sekitar tahun 1691M, diperintah oleh Sultan Mahmud Syah II yang memerintah selama delapan tahun. Beliau mangkat pada tahun 1699M.

Sultan Mahmud Syah II mangkat ditikam oleh Laksemananya sendiri yang bernama Megat Sri Rama. Dalam catatan tulisan tangan kerajaan Johor dan juga catatan tulisan tangan kerajaan Siak Sri Indrapura, dituturkan seulas nangka yang menyebabkan peristiwa tersebut.

Dinyatakan juga Sultan Mahmud Syah II ditikam oleh Laksemana Magat Sri Rama sewaktu ia sedang dijulang. Sultan merasa dirinya kena tikam ia sempat mencabut keris dipundaknya lalu dilontarkannya kepada Laksemana Megat Sri Rama, keris tersebut mengenai ibu jari Megat Sri Rama. Disebabkan keris Sultan itu sangat berbisa maka Megat Sri Rama pun mati seketika itu juga. Adapun kematian Sultan disebut Almarhum Mangkat dijulang.

Tersebar berita tewasnya Sultan Mahmud Syah II dan Megat Sri Rama, merupakan pemicu terjadi kekacauan didalam negeri Johor. Keluarga Megat Sri Rama menyerbu masuk kedalam istana membinasakan keluarga Sultan Mahmud Syah II. Dalam kekacauan itu salah seorang dari isteri Sultan yang bernama Encik Pong dapat diselamatkan dan dilarikan ke dalam hutan oleh nakhoda Malin yaitu salah seorang dari hulubalang Sultan.

Dalam keadaan negeri Johor yang kacau tersebut, dilantiklah putra dari bendahara paduka raja sebagai pengganti Sultan dengan gelar Sultan Abdul Jalil IV. Pelantikan itu dilakukan karena di Johor tidak ada lagi keturunan Sultan Mahmud Syah II.

Dalam pelariannya Encik Pong salah seorang isteri almarhum Sultan Mahmud Syah II dalam keadaan hamil, dan akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamakan Raja Kecil. Untuk menghindari kejaran pengikut-pengikut Megat Sri Rama, bayi dan ibunya diungsikan ke Jambi dan terus ke Indragiri. Kemudian setelah beberapa lama di Indragiri dibwa ke kerajaan Pagaruyung.

Diwaktu itu yang memerintah di Pagaruyung ialah Yang Dipertuan Sakti dengan ibundanya Putri Janilan. Selama Raja Kecil di Pagaruyung, ia dididik oleh Yang Dipertuan Sakti seperti anaknya sendiri. Berbagai ilmu pengetahuan diajarkan kepadanya, baik dalam ilmu yang menyangkut pemerintahan, maupun ilmu kependekaran. Setelah selesai semua yang dipelajarinya itu, maka digelarlah ia oleh Raja Pagaruyung dengan gelaran Yang Dipertuan Cantik Raja Kecil.

Setelah ibundanya mangkat, maka sekitar tahun 1719M, timbullah niat Yang Dipertuan Cantik Raja Kecil untuk pergi ke Johor untuk menuntut bela atas kematian ayahandanya. Hal ini disampaikannya kepada Raja Pagaruyung. Beliau mengizinkannya dan kepada Raja Kecil disertakannya pengiring terdiri dari orang-orang besar kerajaan Pagaruyung sejumlah 5 (lima) orang.

Perjalanan menuju Johor dilakukan melewati Tapung Kiri, Petapahan menghilir Sungai Jantan (Siak). Sesampainya di hilir yaitu pulau Sabak didapati disana ada sebuah perkampungan yang besar yang diketuai oleh seorang Datuk Bandar yang bergelar Datuk Bandar Sabak Aur. Oleh petugas Bandar, sampan Raja Kecil diminta cukai kepala sebagaimana yang dilakukan terhadap pedagang yang lalu lintas disana. Raja Kecil yang menyamar sebagai pedagang itu tidak berniat bermusuhan dalam perjalanannya. Akan tetapi Raja Kecil ingin mencoba kepada Petando (opas) dengan berkata, “kami tidak mempunyai uang.” Perkataan Raja Kecil itu dijawab oleh Petando, “kalau tidak ada uang harus dibayar dengan benda-benda lain yang serupa uang, jika tidak, maka sampan akan dinaikkan ke darat.

Mendengar perkataan Petando tersebut, kemudian Raja Kecil memotong tali epoknya (tempat sirih) dari emas urai, lalu diberikannya kepada Petando tadi sambil berkata, “Kami tidak mempunyai uang. Nah ambillah ini (tali epok), nanti apabila kami pulang harus kami tebus dengan darah Datuk Bandar Sabak Auh.” Alangkah terkejutnya Petando melihat tali epok yang terbuat dari emas serta mendengar perkataan dari Raja Kecil tersebut. Tetapi apa hendak dikata perbuatannya sudah terlanjur.

Yang Dipertuan Raja Kecil meneruskan perjalanannya hingga kemudian tampaklah sebuah perkampungan yang sangat ramai penduduknya. Yang Dipertuan Raja Kecil bertanya kepada pengikutnya perihal perkampungan tersebut, dan lalu diterangkannyalah oleh salah seorang dari mereka yang mengetahui nama kampong itu yaitu Bengkalis. yang Dipertuan Raja Kecil pun sesampai di Bengkalis, lalu menyamar sebagai seorang saudagar. Setelah beberapa hari Yang Dipertuan Raja Kecil di Bengkalis, akhirnya keberadaannya diketahui oleh Datuk Bandar Jamal dan ayahandanya Panglima Tuagik. Yang Dipertuan Raja Kecil pun membuka rahasianya, lalu menjelaskan hal sebenarnya kepada Datuk Bandar Jamal dan Panglima Tuagik, bahwa beliau adalah putra Sultan Mahmud Syah II yang bergelar Sultan Mahmud Syah Mangkat Dijulang.

Selanjutnya beliau mengisahkan ikhwal perjalanannya sejak dilahirkan sampai ke Pagaruyung, dan mereka sekarang bermaksud akan menuju Johor untuk merebut kembali tahta ayahandanya. Setelah mendengar maksud dan tujuan Yang Dipertuan Raja Kecil itu, orang-orang Bengkalis ingin bersama-sama membantu perjuangan Raja Kecil. Untuk membantu maksud tersebut, dibentuklah sebuah angkatan yang dikepalai oleh Datuk Panglima Tuagik, siap siaga menunggu perintah.

Dipenghujung tahun 1720M, pasukan Panglima Tuagik beserta Raja Kecil berlayarlah menuju Johor. Sesampainya di Johor, didapati bahwa kerajaan Johor di bawah sultan Abdul Jalil IV pada waktu itu kurang memperhatikan pertahanan negerinya, sehingga sangat lemah, karena Sultan telah hanyut oleh kemewahan istana saja.

Keadaan demikian menyebabkan lanun-lanun bermaharajalela di lautan dan pengaruh bangsa asing kian menghebat disana. Sementara itu dikalangan istana timbul perpecahan, ini disebabkan Sultan sendiri bukan memiliki darah keturunan dari Sultan Johor sebelumnya. Kebetulan pada waktu angkatan perang Panglima Tuagik serta Yang Dipertuan Raja Kecil tiba, bertepatan di Johor sedang mengadakan keramatan genapnya Sultan memerintah selama 20 (duapuluh) tahun. Keadaan demikian dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pasukan pimpinan Panglima Tuagik dan Ynag Dipertuan Muda Raja Kecil, sehingga secara mudah mereka menyerbu masuk ke dalam istana.

Menghadapi keadaan dan situasi demikian pengawal istana segera melaporkan kepada sultan Abdul Jalil IV, bahwa angkatan Dipertuan Muda Raja Kecil datang menyerang dan sekarang berada dalam istana. Setelah sultan Abdul Jalil IV mengetahui hal tersebut beliau segera melarikan diri melewati pintu belakang dan selanjutnya masuk ke dalam hutan di hulu sungai Johor. Karena waktu maghrib sudah tiba, dengan meniti pada batang, turunlah Sultan ke sungai untuk mengambil air wudhu. Akan tetapi tanpa disadarinya, salah seorang dari orang-orang Yang Dipertuan Raja Kecil yang bernama Gangsa Betuang mengikutinya dari belakang. Sesampainya Sultan di ujung batang hendak mengambil air wudhu, segera Panglima Gangsa Betuang menghunus kerisnya dan ditikamkan keris tersebut ketubuh Sultan, dan akhirnya Sultan tewas. Setelah itu ia pun pulang dan melaporkan kepada Yang Dipertuan Raja Kecil atas kematian sultan Abdul Jalil Syah IV, dan belalu langsung digelarkan Almarhum Mangkat Dibatang. Sultan ini meninggalkan tiga orang anak, satu anak laki-laki dan dua perempuan, yaitu: Raja Sulaiman Putra, Raja Kamariah Putri, Raja Mah Bungsu Putri, Putra dan Putri Sultan tidak sempat melarikan diri, mereka tetap didalam negeri Johor, kemudian oleh Dipertuan Raja Kecil dijemput kembali ke dalam istana.

Setelah pertempuran hampir reda dan keadaan dapat dikendalikan, Yang Dipertuan Raja Kecil dilantik menjadi sultan Johor yang bergelar sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah tahun 1720M.

Beliau berniat untuk mengambil salah satu dari putri sultan Abdul Jalil IV untuk dijadikan permaisurinya. Adapun putri yang dipilih oleh Yang Dipertuan Raja Kecil atau sultan Jalil Rakhmad Syah ialah putri bungsu yang bernama Mah Bungus. Hal ini rupanya menyebabkan Raja Kamariah berkecil hari, ia adalah putri yang tertua dalam keturunannya, kenapa pula yang bungsu dahulu dikawinkan. Akan tetapi sultan Rakhmad Syah sendiri tidak mengetahui atau menyangka sama sekali bahwa Raja Kamariah Putri menaruh dendam kepadanya.

Didalam sejarah dikisahkan sesudah perkawinan sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah dengan Mah Bungsu, timbul rasa tidak senang Raja Kamariah yang amat dalam. Karena itu Raja Kamariah mendesak abangnya (Raja Sulaiman), agar membunuh sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah dan merampas kembali tahta kerajaan Johor. Rupanya sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah sudah mengetahui maksud jahat ipar-iparnya itu, dan ia berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Maksud baiknya itu disampaikan kepada ipar-iparnya dengan perantaraan istrinya. Akan tetapi Raja Kamariah tidak merasa puas dengan tindakan seperti ini, sehingga untuk mencapai niatnya tersebut ia mengirim utusan secara diam-diam meminta bantuan dari negeri Bugis. Raja Bugis setelah menerima utusan dan kabar berita Raja Kamariah, dan menyatakan kesediaannya untuk membantu, yang selanjutnya mengirim putra-putra beliau, yang salah seorangnya Daeng Perani.

Akibatnya terjadilah peperangan antara pengikut sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah dengan pengikut Raja Sulaiman dan Raja Kamariah yang dibantu oleh rombongan dari negeri Bugis, yang dipimpin oleh Daeng Perani dan adik-adiknya. Dalam pertempuran itu Raja Sulaiman dan Raja Kamariah beserta pengikutnya mengalami kekalahan dan Daeng Perani tewas. Melihat peristiwa ini, dendam Raja Sulaiman dan Raja Kamariah yang tidak kunjung padam, ditambah pula dengan desakan dari istri beliau (Raja Mah Bungsu), maka Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah bersedia berunding dan menyerahkan kerajaan Johor kepada ipar-iparnya yaitu Raja Sulaiman dan Raja Kamariah, asalkan mereka ini dapat menghapuskan rasa dendam dan permusuhan ini. Tetapi Raja Kamariah tidak dapat menerima hal itu begitu saja dan dendam ini terus membara didalam hatinya.

Melihat permasalahan tak kunjung selesai dan berkepanjangan, maka menurut hemat Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah, kalaulah penyelesaian masalah tak kunjung tuntas, ia yakin pada suatu saat nanti akan berkobar lagi peperangan yang sangat dahsyat, antara pengikutnya dengan Raja Sulaiman dan Raja Kamariah beserta pengikutnya, padahal mereka ini adalah saudara-saudara dari isterinya yang tercinta. Ternyata apa yang dikhawatirkan tersebut menjadi kenyataan, dalam peperangan tersebut Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah meninggalkan kerajaan Johor beserta isterinya yang tercinta menuju Lingga, pada tahun 1722M.

Untuk sementara kita tinggalkan kisah perjalanan Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah (Yang Dipertuan Raja Kecil) beserta isterinya yang bernama Raja Mah Bungsu menuju Lingga.

Kita kembali mengikuti perkembangan panglima Tuagik. Adapun Panglima Tuagik setelah penabalan Yang Dipertuan Raja Kecil menjadi Sultan yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah, ia pun kembali ke Bengkalis beserta panglima-panglimanya dengan membawa kemenangan yang gemilang. Semenjak kepulangan ini, beliau selalu saja berada dalam lancing anaknya, Datuk Bandar Jamal. Disanalah ia menurunkan segala ilmunya, baik dalam siasat perang, maupun dalam ilmu kebatinan yang menyangkut tentang kegagahan seorang panglima.

Tidak berapa lama kemudian pada tahun 1722M, ibunda dari Datuk Bandar Jamal yaitu Encik Mas jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sebagai pewaris pemerintahan dipangku oleh Datuk Bandar Jamal sebagai Datuk Bandar Bengkalis. adapun isteri dari Datuk Bandar Jamal, anak dari batin Senderak yang bernama Encik Mahiran melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Encik Ibrahim. Setelah Encik Ibrahim berumur 15 tahun, ia dididik oleh kakeknya Panglima Tuagik dan ayahandanya Datuk Bandar Jamal dengan berbagai ilmu, baik menyangkut peperangan, ilmu kebatinan dan ilmu-ilmu lainnya, tidak saja secara teori tatapi langsung dengan prakteknya sekali.

Janji Setia Antara Panglima Tuagik dan Sultan Siak Sri Indrapura

Setelah upacara peresmian kesultanan kerajaan Siak Sri Indrapura, Sultan menyatakan pula, “dengan ini, dari permulaan hari ini hingga sampai pemerintahan anak cucu kami nantinya, harus tetap setia sebagaimana yang kita saksikan pada hari ini. Pengangkatan anak cucu kami menjadi Sultan nanti hendaklah digelar oleh turunan Panglima Tuagik dan turunan Datuk Bandar Jamal, serta disetujui oleh orang-orang besar kerajaan Siak Sri Indrapura.” Kemudian segala yang hadir serentak menjawab, “daulat Tuanku! Daulat Tuanku! Daulat Tuanku!”

Adapun orang-orang besar kerajaan Siak Sri Indrapura, untuk mendampingi Sultan Sri Indrapura, untuk mendampingi Sultan dalam melaksanakan roda pemerintahan sehari-hari yang merupakan kepala persukuan digelar dengan Datuk, terdiri dari:

  1. Datuk Lima Puluh, yang dibawanya dari Pagaruyung bernama Bebas Sri Bijuangsa
  2. Datuk Pesisir, bernama Syawal Sri Dewa Raja
  3. Datuk Tanah Datar, bernama Syamsudin Sri Perkiran
  4. Datuk Kampar, bernama Hamzah bergelar Buyung Ancah (putra Titah sungai Tarap)

Adapun datuk-datuk yang berempat ini dinamakan datuk-datuk empat suku.

Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah adalah sultan Siak Sri Indrapura yang pertama mempunyai tiga orang putra, yaitu:

  1. Tengku Alam, bergelar Yang Dipertuan Muda
  2. Tengku Ngah, meninggal sebelum dewasa
  3. Tengku Buang Asmara, bergelar Tengku Mahkota

Menjelang akhir hayatnya sultan ini sering sakit-sakitan. Dalam keadaan beliau yang sangat uzur itu terjadi pula perselisihan antara kedua putra beliau, sehingga hampir menimbulkan perang saudara. Memperhatikan keadaan tersebut, sultan yang sedang sakit itu makin bertambah sakitnya. Untuk mengatasi hal itu selanjutnya dipanggil kedua putranya, diwaktu itulah beliau berkata, “Jika kamu tidak mau menurut titahku, pergilah kamu dari negeri yang aku dirikan dengan susah payah ini. Negeri ini bukanlah untuk tempat pertarungan kamu.”

Berdasarkan ucapan inilah putra beliau yang tertua yaitu Tengku Alam yang bergelar Yang Dipertuan Muda meninggalkan Buantan. Hal ini pulalah yang menyebabkan penyakit sultan bertambah parah, dan akhirnya pada tahun 1740 beliau mangkat di Buantan, san setelah mangkat beliau digelar Marhum Buantan. Selanjutnya sesuai dengan ikrar yang pernah diucapkan oleh sultan Siak Sri Indrapura hendaklah digelar oelh keturunan panglima Tuagik dan Datuk Bandar Jamal, juga dihadiri oleh datuk-datuk yang berada di kerajaan Siak Sri Indrapura, maka dari itu jemputlah datuk panglima Tuagik serta datuk Bandar Jamal, untuk menghadiri dan memberi gelar atas penobatan Tengku Buang Asmara menjadi sultan Siak Sri Indrapura yang kedua, dengan gelar Sultan Muhammad Abdul Muzafar Syah tahun 1740M.

Kemudian terfikir oleh Sultan Muhammad Abdul Muzafar Syah, bahwa menurutnya mangkatnya Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah ayahandanya adalah akibat dari perselisihannya dengan kakandanya Tengku Alam dulu, dan ini menjadi penyesalannya yang tidak berkesudahan. Dengan sedih beliau juga mengenangkan kepergian kakandanya yang tidak terdengar kabar beritanya. Untuk menghilangkan kenangan pahit dan memilukan ini, beliau memutuskan untuk membuat negeri baru dan memindahkan ibu kerajaan ke satu tempat yang lain.

Sekitar tahun 1750M dibangunlah satu negeri pada suatu tempat ang bernama Mempura. Setelah selesai dibangun, maka pindahlah ibu kerajaan dari Buantan ke Mempura besar ini. Sejak itulah Sungai Jantan berubah namanya menajdi Sungai Siak, karena didalam sungai Mempura besar banyak batang siak-siak.

 

Perang Guntung

Pada masa itu, kolonial Belanda telah menancapkan kekuasaan dan pengaruhnya disemenanjung tanah Melayu. Dalam keadaan demikian dimanfaatkan oleh Sultan Johor yang telah mempunyai dendam terhadap Yang Dipertuan Raja Kecil, dan Sultan Johor memiknta bantuan Belanda guna menyerang dan menguasai kerajaan baru ini, sebagai pewaris dari Yang Dipertuan Raja Kecil.

Kesempatan inilah yang ditunggu-tunggu oleh Belanda. Dengan menyusun strategi secara halus Belanda mengirimkan utusan kepada Sultan Siak, bermohon diberikan kesempatan untuk mengadakan hubungan dagang dengan kerajaan Siak Sri Indrapura. Permintaan Belanda ini dikabulkan oleh Sultan Siak. Semenjak itulah kapal-kapal dagang Belanda mengangkut hasil bumi daerah ini. Sebagaimana biasa sifat dan taktik penjajah, setelah hubungan erat dengan Sultan, sekali lagi Belanda bemohon kepada Sultan agar diperbolehkan mendirikan sebuah loji di pulau Guntung, dekat dengan sungai Siak. Sultan sengat terpengaruh dengan bujukan dari belanda ini, dan mengizinkan pula.

Pada tahun 1756M berdirilah loji Belanda di pulau Guntung itu. Pada mulanya Belanda bersikap manis dan lunak, bahkan merendah, tetapi setelah lojinya kuat dan kokoh dengan peralatan perang maka mulailah kelihatan belangnya. Terhadap pedagang-pedagang yang melewati lojinya dikenakan pajak kepala (pancung alas). Para nelayan harus membawa hasil tangkapan ikannya kepada Belanda. Mulailah kegelisahan dikalangan rakyat, terutama dari Bengkalis dan sekitarnya.

Sementara itu, Panglima Tuagik dan Datuk Bandar Jamal, setelah selesai acara penobatan Tengku Buang Asmara menjadi Sultan Siak, maka Panglima Tuagik dan Datuk Bandar Jamal pulang ke Bengkalis. pada waktu itu kondisi negeri Bengkalis sangat aman dan makmurnya, demikian pula Panglima Tuagik dan Datuk Bandar Jamal serta anknya Encik Ibrahim senantiasa bersukaria dan berlatih cara berperang didalam lancangnya.

Pada suatu hari Panglima Tuagik menasehatkan kepada anak dan cucunya Encik Ibrahim:

  • Kalau kita sebagai kepala pemerintahan jangan sekali-kali mungkir janji, ikrar kita hendaklah dimuliakan.
  • Sebagai amanah dariku, peliharalah segala senjata-senjata yang telah kutinggalkan kepadamu dan keturunanku yang akan datang yaitu beberapa batang meriam, terutama meriam sumpitan bone dan beberapa batang keris, antara lain keris Tabe Alam, keris Samarik dan keris Gambar.

Keris Tabe Alam merupakan senajta yang memiliki kekuatan, sehingga tidak ada satu senjatapun yang bisa menandinginya, sehingga seluruh alam tunduk kepadanya dan barangsiapa yang memegang atau memakainya ia akan menjadi kepala dari segala panglima.

Keris Tuasik memiliki keistimewaan yaitu barangsiapa yang memakainya ia akna menjadi orang besar di negeri itu. Satu lagi pesanku kepadamu dan anak cucuku dikemudian hari, jangan membawa luka di belakang berarti lari. Kalau berlaku juga hal tersebut berarti ia bukanlah keturunanku.

Demikianlah beberapa pesan dan amanah dari Panglima Tuagik kepada cucunya Encik Ibrahim.

Tidak berapa lama kemudian panglima Tuagik masuk ke dalam kholawatnya. Ia tidak keluar beberapa lama dari tempat itu sehingga menimbulkan rasa ingin tahu didalam hati cucunya Encik Ibrahim. Pada suatu hari pergilah Encik Ibrahim mengintip datuknya yang sudah sekian lama tidak keluar, alangkah terkejutnya tatkala dilihatnya datuknya itu ternyata tidak ada lagi didalam kamarnya. Dengan hati yang kesal ia pergi menyampaikan hal ini kepada ayahandanya Datuk Bandar Jamal. Kemudian merekapun pergi ke tempat itu. Benar hal itu terjadi pada diri Panglima Tuagik, peristiwa ini berlaku pada tahun 1750M. dengan adanya kejadian ini genaplah Panglima Tuagik berumur 100 tahun (30 tahun dibesarkan di Sulawesi dan 70 tahun ia berada di Bengkalis).

Adapun Datuk Bandar Jamal sepeninggal ayahandanya, ia tetap menjalankan pemerintahan sebagaimana biasa. Hubungan dengan kerajaan Siak Sri Indrapura tetap berjalan sebagaimana biasa. Pada suatu hari Datuk Bandar Jamal melakukan ronda mengelilingi pulau Bengkalis mengarungi selat Malaka dan selat Bengkalis dengan lancing kuningnya (Lancang Kuning ini ialah nama dan benda kenaikan Raja Mahmud Raja Muda, Raja Ikan Terubuk, yang dicontoh oleh Datuk Bandar Jamal tatkala Raja Muda ini datang menemui Datuk Bandar Jamal dalam mimpinya). Sesampainya diujung pulau Bengkalis disebelah barat, bertemulah dengan sebuah kapal Belanda. Oleh Datuk Bandar Jamal diperintahkannya juru kemudi lancangnya menuju kapal dagang Belanda itu.

Berlayarlah Lancang Kuning Datuk Bandar Jamal dengan megahnya dengan lambing bendera hijau lumut. Setelah berdampingan, ditanyalah oleh Datuk Bandar Jamal tujuan dan maksud kapal Belanda tersebut. Pertanyaan itu dijawab oleh orang yang berada dalam kapal Belanda itu bahwa ia adalah utusan Belanda yang berada di Johor untuk menemui Sultan Siak Sri Indrapura. Selesai mengadakan Tanya jawab antara Datuk Bandar Jamal dengan orang yang berada didalam kapal Belanda itu, maka kapal itupun berpisah dengan tujuannya masing-masing.

Didalam perjalanannya Datuk Bandar Jamal bercerita dengan panglima-panglimanya yang berada didalam kapalnya itu (lancang), bahwa Siak nantinya pasti dijajah oleh Belanda. Kita mau tak mau akan menghadapi peperangan dengan Belanda.

Dugaan Datuk Bandar Jamal itu tepat sekali, pada tahun 1760M datanglah utusan dari Siak Sri Indrapura, bahwa melalui suratnya Sultan Siak sangat mengharapkan bantuan yang sepenuhnya dari Datuk Bandar Jamal untuk menyerang loji Belanda yang berada di pulau Guntung. Didalam surat itu juga dinyatakan bahwa Belanda melecehkan dan mencabuli kedaulatan kerajaan Siak Sri Indrapura. Kami telah mengirimkan wakil untuk menegur perbuatan Belanda yang tidak menyenangkan itu, tetapi dijawabnya dengan perbuatan yang kurang menyenangkan. Maka untuk itu kami Sultan Siak Sri Indrapura mengambil keputusan untuk menyerangnya. Tetapi mengingat loji Belanda itu mempunyai persenjataan dan peralatan yang tangguh, maka penyerangan hendaklah diatur dengan menyusun siasat dengan sebaik-baiknya.

Dinyatakan juga didalam surat itu cara-cara yang telah diatur untuk penyerangan itu sebagai berikut:

“Kami Sultan Siak Sri Indrapura mengirimkan surat kepada Belanda yang menyatakan bahwa kerajaan Siak Sri Indrapura akan mengadakan perundingan persahabatan yang lebih erat dengan Belanda dan mengantarkan berupa hadiah yang akan diantarkan oleh Sultan Siak sendiri beserta seorang anaknya yang masih kecil. Dalam pada itu panglima-panglima Siak akan menyamar sebagai orang upahan untuk mengangkat talam-talam yang berisikan hadiah itu, yang sebenarnya isi talam itu adalah senjata-senjata yang diperlukan untuk peperangan itu nanti. Demikianlah rencana kami dari Siak. Selanjutnya kami mengharapkan kepada Datuk Bandar Jamal setelah tiba saat yang ditentukan datanglah dan adakan penyerangan besar-besaran kepada loji Belanda itu.”

Setelah surat dibaca, Datuk Bandar Jamal menjawab, “Insya Allah kami dari Bengkalis tetap membantu dan melaksanakan sebagaimana yang dimaksudkan Sultan.”

Sepeninggal utusan itu Datuk Bandar Jamal mempersiapkan segala keperluan untuk menghadapi peperangan dengan Belanda itu. Kerajaan Siak pun mengirimkan utusannya kepada Belanda yang berada di Guntung. Belanda tidak menduga sama sekali, bahwa Sultan Siak Sri Indrapura mau bersahabat dengan Belanda, apalagi memberi hadiah, mereka menyambut baik maksud Sultan ini, tetapi dengan syarat sebagai berikut:

  1. Belanda menerima kehendak Sultan untuk mengunjungi loji Belanda di Guntung tetapi hendaklah melarang orang-orang membawa senjata tajam mengunjungi loji.
  2. Seluruh kapal-kapal Sultan tidak boleh merapat di dermaga loji, orang-orang Siak dijemput dengan sekoci, oleh serdadu-serdadu Belanda. Syarat-syarat ini diterima oleh Sultan Siak demi kelancaran siasat tersebut.

Pada penghujung tahun 1760M, tepat dengan janji Sultan kepada Datuk Bandar Jamal itu berangkatlah Lancang Kuning Datuk Bandar Jamal menuju Kuala Siak, dan berlindung disana sambil menunggu kode/isyarat bunyi dari Sultan. Serentak dengan itu angkatan Sultan juga berangkat dari Siak menuju ke loji Belanda yang berada di Guntung. Dalam perjalanan itu, sebahagian dari panglima-panglima Siak naik ke darat untuk mengadakan penyerangan dari darat. Sultan dengan kenderaannya yang bernama Lancang Kuning Sri Buantan meneruskan perjalanannya menuju lojo Belanda tersebut.

Kedatangan Sultan itu disambut oleh Belanda dengan senang hati. Seluruh pengiring Sultan dipersilakan naik ke darat, lengkap dengan talam-talam yang berisikan hadiah. Karena hari mendekati senja dan waktu maghrib talah masuk, maka orang-orang Siak melakukan sholat maghrib dilluar benteng Belanda itu. Selesai sholat maghrib barulah diadakan pertemuan antara kedua belah pihak. Komandan loji Belanda yang merasa dirinyaa berkuasa penuh di daerah itu, maka timbullah rasa keangkuhannya kepada Sultan, dan berkata, “Tuan Sultan, skearang tuanku sudah berada di benteng kami, sebaiknya Sultan menurut saja apa yang kami tentukan.”Mendengar perkataan orang Belanda, Sultan tetap tenang saja, walaupun didalam hatinya berkecamuk perasaan ingin bertindak.

Tepat pada waktu yang ditentukan, tiba-tiba Sultan memberi aba-aba kepada seluruh pengiringnya, baik yang ikut secara nyata maupun yang bersembunyi didalam semak belukar disekitar benteng itu: “Serbu . . . .!!!Serang Belanda . . .!!! Serentak dengan seruan itu Sultan menghunus kerisnya dan langsung menghunjamkan ke dada komandan loji. Terjadilah pertempuran yang kacau balau. Datuk Bandar Jamal setelah hari hampir gelap, lancing kuningnya mendekati loji. Setelah melihat adanya isyarat yang diberikan, lancing kuningnya memuntahkan peluru-peluru meriamnya silih berganti, sehingga Belanda menjadi kocar-kacir. Panglima-panglima yang dari semak belukar itupun keluar dengan gagah beraninya mengamuk. Akhirnya loji Belanda yang megah itu sunyi senyap, karena tidak ada satupun tentara Belanda yang masih hidup berada disana.

Selesailah sudah peperangan yang berkobar ini antara Belanda dengan Sultan Siak Sri Indrapura yang memakan waktu tidak begitu lama. Kemudian Sultan kembali naik ke lancang kuningnya, dan memberi isyarat kepada Datuk Bandar Jamal, agar menghancurkan loji Belanda itu. Isyarat dari Sultan ini diterima oleh Datuk Bandar Jamal dengan tidak membuang waktu lagi, lancang kuning Datuk Bandar Jamal memuntahkan peluru-peluru panas kearah loji Belanda itu, sehingga loji tersebut hancur tidak sedikitpun meninggalkan bekas bangunan lagi. Kisah peperangan ini terkenal didalam sejarah baik kerajaan Siak Sri Indrapura maupun dalam sejarah Bukit Batu dengan nama perang Guntung.

Akibat peperangan tersebut hubungan antara Siak Sri Indrapura dengan Belanda terputus. Namun demikian Sultan Siak Sri Indrapura tidaklah tinggal diam saja. Beliau mempersiapkan diri dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan yang dilengkapi dengan meriam-meriam. Sebahagian meriam itu hasil rampasan dari loji Belanda yang mengalami kekalahan dalam perang Guntung.

Pada tahun 1761M, Belanda mengadakan keramaian genapnya lima belas tahun beliau memerintah di kerajaan Siak Sri Indrapura. Di dalam keramaian tersebut, sebagai rasa terima kasihnya Baginda Sultan menghadiahkan kepada Datuk Bandar Jamal yang telah membantunya, yakni seorang selirnya. Kemudian setelah habis masa iddahnya baru dinikahi oleh Datuk Bandar Jamal secara Islam. Semenjak itu seringlah Datuk Bandar Jamal pergi pulang ke Siak Sri Indrapura. Setahun kemudian istri Datuk Bandar Jamal yang berada di Siak Sri Indrapura itu melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Encik Baki.

Dibawah pemerintahan Sultan Muhammad Abdul Muzafar Syah kerajaan Siak Sri Indrapura sangat kuat, baik dalam pertahanan maupun dalam hal-hal yang lain. Tetapi sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT, umur manusia ini sudah ditentukannya. Beliau mangkat pada tahun 1765M dan memerintah selama 19 tahun. Setelah beliau mangkat digelar dengan gelar Marhum Mempura.

Sebelum mangkat beliau berpesan kepada putranya yaitu Tengku Ismail:

  1. Jangan sekali-kali mau tunduk kepada Belanda kafir itu.
  2. Jangan sekali-kali berperang sesame saudara/keluarga sendiri
  3. Seandainya Tengku Alam (abangnya) yang bergelar Dipertuan Muda, kembali ke Siak, hendaklah kamu serahkan tahta kerajaan kepadanya.

Begitulah bunyi pesan beliau kepada putranya Tengku Ismail, yang kemudian dinobatkan menjadi Sultan Siak Sri Indrapura dengan gelar Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah tahun 1765M. adapun pemberian gelar ini dilakukan oleh Datuk Bandar Jamal, seperti yang diamanahkan oleh Sultan Siak yang pertama, dan disetujui oleh datuk-datuk empat suku, juga pembesar-pembesar kerajaan. Tetapi sayangnya Sultan ini tidak lama memerintah, disebabkan setelah satu tahun memerintah, datanglah serangan Belanda yang mempergunakan Tengku Alam sebagai perisai.

Rupanya akibat dari kemenangan Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah dahulu menjadi duri dalam daging bagi Belanda yang berada di Johor, walaupun mereka kelihatan tenang-tenang saja tetapi mereka mengatur siasat bagaimana untuk menebus kekalahan tersebut. Kebetulan Belanda mengetahui, bahwa Tengku Alam yang berselisih dengan saudaranya Tengku Buang Asmara, telah menyebabkan ia meninggalkan Siak Sri Indrapura dan kini bermukim di Johor. Keadaan itu tidak disia-siakan oleh Belanda yang licik. Dengan rayuan yang manis, dibujuknya Tengku Alam supaya pulang ke Siak Sri Indrapura dan menduduki tahta kerajaan yang sebenarnya beliaulah yang berhak menjadi Sultan Siak Sri Indrapura dan bukan keturunan Tengku Buang Asmara. Tengku Alam menolak bujukan dari Belanda itu, tetapi Belanda tidak putus asa. Belanda terus berusaha untuk membujuknya lagi, dan bahkan Belanda menjanjikan kepada Tengku Alam untuk menjamin keselamatan dan keutuhan kerajaan Siak Sri Indrapura, seandainya beliau dinobatkan menjadi raja kelak. Tengku Alam terbujuk juga dengan janji-janji manis Belanda ini, dengan syarat Belanda jangan merusak persahabatannya dengan mencampuri urusan kekeluargaan kerajaan Siak Sri Indrapura. Persyaratan ini diterima Belanda. Atas dasar persetujuan inilah Tengku Alam kembali ke Siak bersama-sama dengan angkatan perang Belanda. Berita kedatangan angkatan perang Belanda ini cepat sampai ke Siak Sri Indrapura, adapun Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah segera mengadakan musyawarah dengan orang-orang besar Siak dan panglima-panglima. Siding memutuskan, walau bagaimanapun pasukan Belanda harus dihadapi dengan cara apapun juga. Maka diaturlah perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan untuk menghadapi Belanda.

Pada tahun 1766M, bertemulah kedua angkatan perang ini di kuala sungai Siak, dan terjadilah pertempuran yang dahsyat. Tetapi Belanda yang telah mempersiapkan dirinya dengan angkatan perangnya yang lebih sempurna, akhirnya dapat memukul mundur angkatan perang Siak sampai ke pinggir kota Siak Sri Indrapura. Pada waktu penyerangan Belanda ini, Datuk Bandar Jamal belum mengetahuinya. Namun akhirnya ia mendapat kabar juga, tentang kerajaan ini. Dengan tidak membuang waktu lagi, berangkatlah beliau dengan lancang kuningnya dan beberapa puluh buah lagi yang membawa panglima-panglima dari Bengkalis. Sesampainya dekat tempat kejadian, lancang kuning kenaikan Datuk Bandar Jamal memuntahkan peluru-peluru meriamnya kearah kapal Belanda. Belanda menjadi kocar-kacir mendapat serangan yang tiba-tiba itu, apalagi datang dari belakang. Sedangkan dari hadapan tembakan-tembakan dari angkatan perang Siak bertambah gencar, mereka ini menggunakan rakit-rakit berapi sampan-sampan yang berisi mesiu, dan pahlawan-pahlawan Siak mengadakan jihadnya (jibaku), sehingga beberapa buah kapal perang Belanda banyak yang dapat ditenggelamkan. Belanda hampir mendekati kekalahan.

Pada saat yang penting Belanda mempergunakan Tengku Alam sebagai perisai. Dengan perasaan sedih dan bercampur dengan kemarahan, komandan angkatan perang Belanda bermohon kepada Tengku Alam supaya mengirim surat kepada Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah dan kepada putranya sendiri yaitu panglima besar kerajaan Siak Sri Indrapura, agar menghentikan pertempuran.

Surat Tengku Alam diterima oleh Sultan Siak dan dibacanya dihadapan para pembesar kerajaan Siak Sri Indrapura dengan berlinang air mata. Perasaannya berkecamuk antara kemenangan yang didepan mata atau saudara kandung ayahnya yang telah diamanahkan oleh ayahnya untuk mengembalikan tahta kerajaan, seandainya pamannya itu kembali ke Siak Sri Indrapura ini. Ternyata Sultan memilih amanah orang tuanya yaitu menyerahkan tahta kerajaan Siak Sri Indrapura kepada pamannya Tengku Alam, walaupun pengorbanan yang tidak terhingga akan dialaminya.

Dikeluarkanlah perintah untuk menghentikan pertempuran, dan mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut kedatangan pamannya Tengku Alam.

Tidak berapa lama kemudian dinobatkanlah Tengku Alam menjadi Sultan di kerajaan Siak Sri Indrapura dengan gelar Sultan Abdul Jalil Alamsyah. Sedangkan Tengku Ismail, sesudah meletakkan jabatannya sebagai Sultan, mengundurkan diri ke Langkat dan meninggal disana dengan gelar Marhum Balai 1776M.

Inilah awal permulaan cengkraman kuku Belanda pada kerajaan Siak Sri Indrapura. Lambat laun cengkraman itu meluas sampai ke daerah sekitarnya. Adapun pengangkatan Tengku Alam ini tidak disetujui oleh Datuk Bandar Jamal, karena penobatan tersebut tidak menurut amanah dari Sultan Siak yang pertama (Yang Dipertuan Raja Kecil). Oleh sebab itu Datuk Bandar Jamal kembali ke Bengkalis, dan memutuskan hubungannya dengan Siak Sri Indrapura.

Menurutnya kerajaan Siak Sri Indrapura tidak harus dihormati dan dipatuhi lagi sebab telah dicampuri oleh Belanda. Istana Sultan telah diinjak oleh Belanda kafir, ditambah pula lagi bahwa penobatan Sultan tidak lagi menurut ikrar yang telah diikrarkan oleh Sultan Siak Sri Indrapura yang pertama. Perasaan yang kurang menyenangkan dalam hati Datuk Bandar Jamal tersebut disampaikan kepada Sultan melalui surat.

Tatkala Sultan menerima dan membaca surat tersebut, timbullah murkanya dan Datuk Bandar Jamal dipanggil ke Siak Sri Indrapura. Akan tetapi panggilan itu tidak dihiraukan oleh Datuk Bandar Jamal. Peristiwa ini hampir menimbulkan perpecahan dan peperangan antara kerajaan Siak dan Bengkalis. akan tetapi secara arif Datuk Bandar Jamal tidak berfikir demikian, bahkan beliau menasehatkan kepada anaknya yaitu Encik Ibrahim dan panglima-panglimanya yang ada di Bengkalis, janganlah hal ini akan menimbulkan permusuhan dikemudian hari. Mengingat hal itu beliau mengambil keputusan untuk meninggalkan Bengkalis, sebab Sultan adalah murka dengannya saja.

Kemudian pada tahun 1767M, berangkatlah Datuk Bandar Jamal dengan lancang kuningnya menuju Melaka. Semenjak itu beliau menetap disana disuatu kampong yang bernama Perenu hingga akhir hayatnya. Beliau dimakamkan diatas bukit yang banyak ditumbuhi pohon ketapang, oleh sebab itu beliau digelar Datuk Ketapang.

Selanjutnya pemerintahan Bengkalis, sepeninggalan Datuk Bandar Jamal dipegang oleh anaknya Encik Ibrahim dengan gelar Datuk Sri Maha Raja Lela. Setelah beberapa lamanya beliau memerintah di Bengkalis, datanglah utusan dari Siak Sri Indrapura yang isinya, bahwa Sultan Siak mengundang Datuk Sri Maha Raja Lela untuk memperbaiki hubungan antara Bengkalis dengan Siak Sri Indrapura yang telah lama terjalin semenjak kerajaan Siak Sri Indrapura berdiri.

Guna memenuhi undangan itu, Datuk Sri Maha Raja Lela berangkat ke Siak. Sesampainya disana beliau disambut oleh orang-orang besar kerajaan dan langsung dibawa menghadapi Sultan. Didalam pertemuan itu Sultan mengakui kesalahannya terutama mengenai pengangkatan Sultan tidak menurut amanah yang telah diamanahkan oleh Sultan Siak yang pertama.

Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Datuk Bandar Jamal dahulu mengenai Belanda kafir itu memang benar. Belanda yang telah diberikan keizinan berdagang dari Sultan itu memperbesar pengaruhnya. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun Sultan Abdul Jalil Alamsyah sendiri merasa sedih, atas kerakusan Belanda ini. Kemudian teringat pula ia kepada kemenakannya yang telah pergi, terbayang pula bagaimana ia dahulu pergi membawa diri. Dikarenakan Sultan ini seorang yang alim lagi taat kepada agama, kesedihan itu tidak dinampakkannya, hanya disimpan didalam hatinya. Ia senantiasa berdo’a semoga Allah Swt senantiasa memberikan kesejahteraan kepada beliau dan rakyatnya.

Gelar Datuk Laksemana Raja Dilaut

Kemudian Sultan bertitah kepada Datuk Sri Maha Raja Lela, berharap: “Mulai dari sekarang ini, marilah kita pupuk kembali hubungan antara Siak dan Bengkalis. beta harap kepada Datuk, segala sesuatu yang telah berlaku adalah menajdi pelajaran bagi kita dan anak cucu kita dibelakang hari, selanjutnya kami harap kepada Datuk, meskipun Datuk telah bergelar di Bengkalis, kami akan mengadakan pelantikan/pemberian gelar keatas diri Datuk. Ini untuk mengembalikan amanah yang telah diamanahkan dahulu oleh keturunan kami sesuai dengan kedudukan Datuk yaitu daerah lautan, dengan ini kami gelar dengan gelaran Datuk Laksemana Raja Dilaut.

Dengan selesainya penggelaran itu berarti Datuk mempunyai dua gelaran :

  1. Datuk Sri Maha Raja Lela yang didapatinya dari Bengkalis
  2. Datuk Laksemana Raja Dilaut yang didapatinya dari Sultan Siak Sri Indrapura

Inilah permulaan keturunan Panglima Tuagik bergelar laksemana, hingga kepada Datuk Ali Akbar sebagai laksemana terakhir. Selesai pelantikan itu, maka Datuk Laksemana Raja Dilaut (Datuk Ibrahim) bermohon diri untuk pulang ke Bengkalis. tidak berapa lama, beliau membuat sebuah lancang berwarna kuning berbentuk sebuah kapal penjajah (penjelajah) lengkap dengan meriam-meriamnya dan alat-alat lain yang berguna untuk keperluan perang, di antara meriam-meriam tersebut adalah:

  1. Sumpitan Bone, yang dibawa oleh Daeng Tuagik dari Sulawesi, terbuat dari kuningan buatan Roma.
  2. Tupai beradu, dari Petapahan (nama tupai beradu karena pada meriam itu tergantung dua ekor tupai) juga terbuat dari kuningan.
  3. Dan lain-lain

Adapun Sumpitan Bone diletak dibagian muka diatas apelannya, sedangkan meriam Tupai Beradu disebelah kanan penjajab dan disebelah kirinya kawan dari meriam Sumpitan Bone. Dibahagian belakangnya diletakkan dua buah meriam yang lebih kecil daripada yang dimuka. Semuanya terbuat dari kuningan. Demikianlah megahnya kapal perang Datuk Sri Maha Raja Lela yang juga bergelar Datuk Laksemana Raja Dilaut. Diatas tiangnya (tiang layar) berkibar bendera persatuan antara Siak Sri Indrapura dengan Bengkalis (Datuk Sri Maha Raja Lela atau Datuk Laksemana Raja Dilaut). Pada tiang belakangnya berkibar pula bendera yang berwarna hijau lumut. Arti dari warna bendera tersebut sebagai berikut:

  1. Kuning ditengah adalah lambing kerajaan Siak Sri Indrapura (raja)
  2. Hitam adalah lambing/pakaian hulubalang
  3. Hijau lumut melambangkan kemakmuran (bendera Bengkalis)

Dengan keterangan tadi dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa kerajaan Siak Sri Indrapura (raja) dilindungi oleh Datuk Laksemana Raja Dilaut.