Asal usul raja Napu

Sumber: Pramaartha Pode, https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10216487276956660&set=gm.1236217286580693&type=3&theater

—————————————————–

Dalam Tulisannya di Buku De West Toradjas Op Midden Celebes, Albertuc C. Kruyt mencatat berbagai kisah mengenai asal usul Raja-Raja di Napu. Namun kalau kita pilahkan, berdasarkan catatan Kruyt asal usul raja Napu dapat dibagi menjadi dua kisah. Pertama kisah dari wurangka dan kedua kisah Tomopoasa.

Turunan di Wurangka

Turunan dari Wurangka berasal dari kisah seorang bernama “Rabeta” yang pergi memancing ikan dikolam wurangka yang letaknya tidak jauh dari bekas desa Lamba. Mula-mula ia terus dapat ikan. Kedua kalinya yang tergantung dalam pancingnya sebuah cincin dari rotan beranyam yang biasa dipakai sebagai tempat meletakkan belanga supaya tidak terguling. Pada kali ketiga mancing dia mendapat kapak, daun kering, satu bungkus nasi, satu buah jagung, sepotong ubi, sepotong akar ubi kayu dan terakhir seekor kambing kecil.

Kambing kecil dibawah pulang ke rumah dengan cara dibungkus dengan sarungnya lalu digendongnya dengan hati-hati. Sampai rumah kambing diikat pada tiang dibawah rumahnya, namun tidak berhenti teriak-teriak sehingga di bawah masuk dalam rumahnya. Kambing itu baru berhenti berteriak setelah ia diberi tempat dibilik tidur orang itu. Rabeta merasa heran, sebab kambing itu memakan semua makanan yang dimakan manusia kecuali telur ayam. Ketika Rabeta pulang dari ladang pada malam dilihatnya tempat tidurnya sudah dikotori dengan ludah sirih, itu berarti ada orang telah memakan sirih di kamarnya.
Ketika kejadian ini berulang ulang, ia mengisikan beberapa biji pinang dalam tasnya dan siapa yang memakan biji pinang itu menjadi mabuk. Diwaktu sore ia bergegas-gegas pulang ke rumah dan dilihatnya seorang gadis cantik berbaring di atas tempat tidurnya dan ada kulit kambing tergantung pada tiang rumahnya. Kulit kambing disembunyikan. Rabeta lalu membangunkan gadis itu dan singkat cerita menikahinya. Dari sinilah turunan Raja Raja Napu dan sejak saat itu para Bangsawan Napu dilarang makan Kambing.

Kisah diatas perlu dilakukan interpretasi karena cerita mengenai kambing hanyalah pengandaian, kalau dimaknai memancing adalah sebuah proses, maka istri itupun dicari Rabeta, hanya saja petunjuk yang ditinggalkan masyarakat adalah sang istri tidak makan kambing yang bisa diartikan adanya sebuah kepercayaan yang tidak membolehkan makan kambing.

Turunan dari Tomopoasa

Kisah yang berikutnya adalah kisah mengenai seorang Raja dari Mowumbu (saat ini penduduk desa Mowumbu tersebar di dua desa yakni desa Sulewana dan Sangginora) yang berasal dari Poso pergi nikah di Napu.

Ada yang menyebutnya Ngkalule namun namanya yang terkenal adalah Tomopoase yang berarti yang menjalankan puasa menurut kebiasaan kaum Muslimin. Puasa Topoasa adalah nama lain untuk “to isi lamu = orang Islam. Ia tidak makan lombok, daging babi, daging kerbau putih dan tidak minum tuak. Peristiwa ini yang berlaku dalam adat islam menimbulkan persangkaan bahwa Raja Mowumbu bukan orang Poso tulen tetapi ia orang Luwu atau Masamba. Peristiwa ini seakan akan belum lama terjadi atau belum satu abad lamanya atau sekitar tahun 1800-an. Dan khusus untuk peristiwa perkawinan ini dibuatkan sebuah jalan baru dari Poso ke Napu yang terkenal dengan nama “jalan orang kawin” atau “Jaya mpebolai”.

Ditempat bekas desa Lamba, orang-orang masih bisa menunjukkan dimana rumah Raja berdiri. Pada waktu perkawinannya penduduk sekitar danau Poso memberi sumbangan 30 ekor kerbau. Bagi orang Poso Raja dari Mowumbu itu bernama Tabalomore.