Jambi, kesultanan / Sumatera – Prov. Jambi

Lambang kesultanan Jambi

.

Kesultanan Jambi, ca. 1600 – 1903.  Terletak di Sumatera, Provinsi Jambi.
Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Malayu, dan kemudian menjadi bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad ke-14 Jambi merupakan vasal Majapahit, dan pengaruh Jawa masih terus mewarnai kesultanan Jambi selama abad ke-17 dan ke-18.
Tahun 1906 kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Sultanate of Jambi, ca. 1600 – 1903. Located in the province of Jambi. This sultanate was abolished by the dutch in 1906.
For english, click here

Provinsi Jambi


Kesultanan Jambi

* Foto kesultanan Jambi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto Istana kerajaan di Sumatera: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


KESULTANAN JAMBI

Tentang sultan sekarang, 2022
Hidup kembali kesultanan
Sejarah kesultanan Jambi
Struktur pemerintahan kesultanan Jambi
Daftar raja
Peta-peta kuno Sumatera
Sumber / Source


Tentang sultan sekarang (2022)

28 juli 2022
Sayid Fuad bin Abdurrahman Baraqbah dinobatan sebagai Sultan kesultanan Jambi.

Setelah melakukan penelitian selama sekitar 20 tahun, tim peneliti dari Universitas Jambi (UNJA) meyakini bila KDYMM Sayid Fuad bin Abdurrahman Baraqbah sebagai Sultan Jambi Daarul Haq. Dari hasil bukti-bukti yang didapat dan diteliti sebanyak 3 peti, bahwa Sayid Fuad bin Abdurrahman Baraqbah sebagai Sultan Jambi Daarul Haq adalah keturunan keempat dari Sultan Thaha Saifuddin. Akademisi Universitas Jambi Yusdi Anra mengaku, tidak mudah memastikan seseorang tersebut sebagai keturunan Sultan. Butuh banyak bukti yang autentik dan keterangan sejumlah saksi.

—————————-

23 maret 2022
Pengukuhan Pangeran Raden Wawan Fitrah Nugraha Abdurahman Thaha Syaifuddin bergelar Sultan Mudo Mangkunegoro.

Wawan mengklaim dirinya sebagai keturunan asli kesultanan Jambi. Hal ini dilatarbelakangi oleh status almarhum ayahnya, Raden A Rachman (Guntur) yang menobatkan diri sebagai sultan pelestarian melayu Jambi pada 2012 lalu. Ditambah lagi dirinya mewariskan kesultanan ini berdasarkan hasil keputusan pengadilan.

—————————

8 agustus 2021
Sultan Abdurrachman Thaha Safiuddin meninggal.

18 maret 2012
Sultan: Sultan Abdurrachman Thaha Safiuddin dinobatkan.

1904 – 2012
Terjadi kekosongan tahta di kesultanan.

8 agustus 2021: Sultan Abdurrachman Thaha Safiuddin meninggal.


Hidup kembali kesultanan Jambi, 2012

Kerajaan Melayu kesultanan Jambi hingga awal tahun 2012 ini, sebagai bagian pelestarian aset sejarah dan budaya Melayu Nusantara, malahan belum berdiri tegak. Namun kejayaan dan kemasyuran kesultanan Jambi di era Sultan Thaha Syaifuddin tempo dulu bakal terwujud dengan digelarnya prosesi adat agung penobatan penerus Sultan Thaha Syaifuddin kepada Raden Abdurrachman Bin Raden Djak’far Kertopati gelar Pangeran Mudo, sebagai Sultan kerajaan Melayu kesultanan Jambi (pelestarian) yang baru, beserta permaisuri Ratu Mas Siti Aisah Bin Raden Haji Usman Yasin gelar Ratu Aisah Kusumo Ningrat.
18 maret 2012: Penobatan Sultan Abdurrachman Thaha Safiuddin.
8 agustus 2021: Sultan Abdurrachman Thaha Safiuddin meninggal.

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Jambi

Sebuah Foto yang memperlihatkan Sultan Jambi dan Punggawanya menurut sumber: Tropenmuseum


Sejarah kesultanan Jambi, 1600 – 1903

– Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/

Kesultanan Jambi adalah kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20. Sebelum berubah menjadi kesultanan, namanya dikenal dengan kerajaan Melayu Jambi.
Kerajaan Jambi didirikan oleh Datuk Paduko Berhalo bersama istrinya, Putri Selaras Pinang Masak, pada 1460.
Pada 1615, kerajaan ini resmi menjadi kesultanan setelah Pangeran Kedah naik takhta dan menggunakan gelar Sultan Abdul Kahar. Di bawah Sultan Abdul Kahar pula, Kesultanan Jambi mencapai masa kejayaan, di mana Jambi menjadi salah satu perniagaan utama di Sumatera. Setelah berkuasa hampir empat abad, kerajaan runtuh setelah raja terakhir dari kesultanan Jambi, Sultan Thaha Syaifuddin, wafat di tangan Belanda pada 1904.

Sejarah berdirinya
Sejak dikuasai kerajaan Sriwijaya, Jambi telah dianggap memiliki peluang yang baik dalam bidang perdagangan. Kerajaan Sriwijaya pun diakui sebagai penguasa sukses, khususnya dalam membangun hubungan perdagangan.
Pada 1460, Datuk Paduko Berhalo, yang konon berasal dari Turki, mendirikan kerajaan Melayu Jambi bersama istrinya, Putri Selaras Pinang Masak. Meski letak kerajaan Jambi berada di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Jambi, tetapi keberadaannya tidak luput dari jangkauan kerajaan Majapahit. Kala itu, kerajaan Jambi berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, yang berpusat di Jawa Timur.
Pada akhir abad ke-16, kerajaan Majapahit runtuh, bersamaan dengan tersiarnya agama Islam di Jambi. Kerajaan Jambi secara resmi berubah menjadi kesultanan saat Pangerah Kedah naik takhta pada 1615 dengan gelar Sultan Abdul Kahar.

Kesultanan Jambi, 1750 M

Kerajaan Siak, 1750 M

Masa kejayaan
Sejak pertengahan abad ke-16, para penguasa Jambi mengadakan perdagangan lada yang menguntungkan dengan bangsa Portugis, Inggris, dan Belanda. Kegiatan perdagangan itu juga melibatkan bangsa China, Melayu, Makassar, dan Jawa. Kehidupan ekonomi kesultanan Jambi yang makmur akibat kegiatan perdagangan inilah yang mampu membawa kerajaan menuju masa kejayaan di bawah Sultan Abdul Kahar.
Sultan kesultanan Jambi yang pertama ini berhasil membawa kerajaannya menjadi makmur berkat monopoli perdagangan lada dan pengenaan bea ekspor. Bahkan, pada 1616, ibu kota Jambi sudah dipandang sebagai pelabuhan terkaya kedua di Sumatera, setelah Aceh.
Berdasarkan data VOC, Sultan Jambi meraup keuntungan 30-35 persen dari lada yang terjual. Sultan Abdul Kahar juga dikatakan sebagai penguasa yang kuat, bahkan tidak takut dengan tuntutan Raja Johor dan tidak pernah mau bekerja sama dengan VOC.

Kediaman sultan Jambi di Dusun Tengah (sekarang di desa Rambutan Masam, Kecamatan Muara Tembesi),kabupaten Batanghari pada tahun 1877-1879

Keruntuhan kesultanan Jambi
Pada 1643, Sultan Abdul Kahar memilih turun takhta dan kedudukannya digantikan oleh Pangeran Depati Anom atau Sultan Agung. Hal ini dilakukan setelah VOC menyodorkan perjanjian dagang kepada Kesultanan Jambi, dengan tujuan melakukan monopoli.
Sultan Abdul Kahar menolak perjanjian tersebut dan memilih mengundurkan diri dari takhta kerajaan. Setelah Pangeran Depati Anom, perjanjian pertama Kesultanan Jambi dengan VOC pun dilakukan, yang perlahan membawa kemunduran bagi kerajaan.
Pada 1680-an, Jambi mulai kehilangan kedudukannya sebagai pelabuhan lada utama setelah pertempuran dengan pihak Johor. Selain itu, adanya penyelundupan dan utang, juga menjadi penyebab runtuhnya Kesultanan Jambi, yang diperparah dengan campur tangan Belanda dalam politik kerajaan. Ketika berada di bawah jeratan Belanda, intrik di dalam kerajaan semakin membuat Jambi terpuruk dan rakyatnya dilanda kemiskinan.

Pada 1855, Sulyam Mazaruddin wafat dan kedudukannya sebagai sultan digantikan oleh putranya, Taha Safiuddin. Berbeda dari penguasa sebelumnya, Sultan Taha menolak keras perjanjian dengan Belanda. Bahkan, utusan Belanda yang beberapa kali datang untuk menyodorkan perjanjian kepadanya, selalu dihindari.
Akibatnya, Belanda marah dan melayangkan serangan pada 1858, hingga berhasil menguasai istana. Dalam serangan itu, Sultan Taha melarikan diri, sehingga Pangeran Prabu kemudian diangkat oleh Belanda menjadi penguasa baru di Kesultanan Jambi dengan gelar Sultan Ahmad Nazaruddin. Ketika Sultan Taha dalam pelarian, Kesultanan Jambi sempat dipimpin oleh beberapa sultan di bawah pengaruh Belanda. Kesempatan datang ketika terjadi kekosongan kekuasaan pada 1899, setelah Sultan Zainuddin dicopot oleh Belanda.

Namun, Belanda masih berkuasa dengan menempatkan seorang residen untuk menempati posisi sultan. Riwayat Kesultanan Jambi benar-benar berakhir saat Sultan Taha dibunuh oleh Belanda di persembunyiannya pada 1904. Kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindai Belanda pada 1906.

Kemudian, pada 2012, Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin dinobatkan sebagai penerus kesultanan Jambi, tetapi hanya sebagai simbol adat dan tidak memiliki kekuatan politik.

Pangeran Ratu Martaningrat menyerah ke Belanda tahun 1903.


Struktur pemerintahan kesultanan Jambi

Kesultanan Jambi dipimpin oleh raja yang bergelar sultan. Raja ini dipilih dari perwakilan empat keluarga bangsawan (suku): suku Kraton, Kedipan, Perban dan Raja Empat Puluh. Selain memilih raja keempat suku tersebut juga memilih pangeran ratu, yang mengendalikan jalan pemerintahan sehari-hari. Dalam menjalankan pemerintahan pangeran ratu dibantu oleh para menteri dan dewan penasihat yang anggotanya berasal dari keluarga bangsawan. Sultan berfungsi sebagai pemersatu dan mewakili negara bagi dunia luar.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Jambi

Menurut R. Sahabuddin (1954) dalam buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi (1978/1979), pemerintahan di pusat Kesultanan Jambi dipimpin oleh seorang sultan yang dibantu oleh pangeran ratu (putra mahkota) yang memimpin Rapat Dua Belas. Rapat Dua Belas terdiri atas dua bagian:
1. Kerapatan Patih Dalam (Dewan Menteri Dalam)
2. Kerapatan Patih Luar (Dewan Menteri Luar)
Masing-masing kerapatan terdiri dari 6 orang, 1 orang ketua dan 5 orang anggota.

Kerapatan Patih Dalam diketuai oleh Putra Mahkota yang bergelar Pangeran Ratu dengan para anggota yang diberi gelar :
1. Pangeran Adipati
2. Pangeran Suryo Notokusumo
3. Pangeran Jayadiningrat
4. Pangeran Aryo Jayakusumo
5. Pangeran Notomenggolo atau Pangeran Werokusumo

Kerapatan Patih Dalam pada hakekatnya merupakan Majelis Kerajaan (Rijksraad) yang berfungsi sebagai lembaga legislatif (DPR) pada masa sekarang.

– Sumber dan lengkap: http://tasman1959.blogspot.co.id/

jambi - Struktur Pemerintahan Kesultanan Jambi


Daftar Raja

1460-1480: Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang Masak,
1480-1490: Orang Kayo Pingai,
1490-1500: Orang Kayo Kedataran,
1500-1515: Orang Kayo Hitam,
1515-1540: Pangeran Hilang diair.

1540-1565: Panembahan Rengas Pandak,
1565-1590: Panembahan Bawah Sawo,
1590-1643: Panembahan Kota Baru,
1615-1643: Sultan Abdul Kahar,
1643-1665: Pangeran Depati Anom/Sultan Abdul Djafri/Sultan Agung.

1665-1690: Raden Penulis/Sultan Abdul Mahji/Sultan Ingologo,
1690-1696: Raden Tjakra Negara/Pangeran Depati/Sultan Kiyai Gede,
1696-1740: Sultan Mochamad Syah,
1740-1770: Sultan Sri Ingologo,
1770-1790: Sultan Zainuddin/Sultan Anom Sri Ingologo.

1790-1812: Mas’ud Badaruddin/Sultan Ratu Sri Ingologo,
1812-1833: Sultan Mahmud Muhieddin/Sultan Agung Sri Ingologo,
1833-1841: Sultan Muhammad Fakhruddin bin Mahmud,
1841-1855: Sultan Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud,
1855-1858: Sultan Thaha Syaifuddin bin Muhammad Fakhruddin.

1858-1881: Sultan Ahmad Nazaruddin bin Mahmud,
1881-1885: Sultan Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman,
1885-1899: Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad,
1900-1904: Sultan Thaha Syaifuddin bin Muhammad Fakhruddin.

2012-2021: Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin
2022-…..    : Pangeran Raden Wawan Fitrah Nugraha Abdurahman Thaha Syaifuddin bergelar Sultan Mudo Mangkunegoro.

– Sumber / Source: Wiki

Perjanjian kesultanan Jambi – kolonial belanda


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber kerajaan Jambi

– Sejarah kesultanan Jambi di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/
Sejarah kesultanan Jambi: https://p2k.unkris.ac.id/
– Sejarah kesultanan Jambi: http://www.kompasiana.com/

Daftar Raja:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Jambi
Dinobatkan Sultan  baru 2012:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Jambi


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: