Raja Gowa XI, I Taji Barani daeng Marompa, 1565

—————————————————————————————————————
Sumber / Source:  http://kisahlampau.blogspot.com/2012/03/raja-gowa-xi.html

I Taji Barani daeng Marompa adalah saudara kandung Raja Gowa X I Manriwagau Daeng Bonto dan seorang lagi  saudara perempuan bernama I Syafia Karaeng Sombaopu. Ketiganya adalah anak dari Karaeng Tumapakrisik Kallonna dari permaisurinya I Raiya Karaeng Bainea.
Raja Gowa XI mempunyai kisah menarik. Beliau lahir pada tahun 1517. Tahun 1565 diangkat menjadi Raja Gowa menggantikan saudaranya untuk menjadi Raja Gowa XI Karaeng Tunipallangga Ulaweng.
I Taji Barani mengikuti jejak kakak dan ayahnya, memperluas wilayah Kerajaan Gowa sampai ke Pangkaje’ne dan Sidenreng. Baru saja 20 hari bertahta sebagai Raja Gowa, ia berangkat ke Bone. Pertempuran antara pasukan Kerajaan Gowa dan Bone terjadi di daerah Pappolongan. Pasukan Kerajaan Bone berhasil dipukul mundur sampai ke Benteng pertahanannya. Pasukan Kerajaan Gowa terus menyerang jantung pertahanan Kerajaan Bone. Bukaka pun dibakar.
Namun pada minggu ketiga setelah pasukan Gowa mengundurkan serangan, tiba-tiba datang serangan dari pasukan elit Bone yang jauh lebih besar. Mereka menghantam Pasukan I Taji Barani. Pasukan inti Bone berhasil mendekati I Taji Barani dan kemudian meletakkang kalewang itu pada kepalanya membuat Raja I Taji Barani bersimbah darah dan mati ketika itu juga. Dalam kondisi demikian pasukan Gowa tak berdaya dan terpaksa mundur menyelamatkan diri. I Taji Barani yang hanya bertahta selama 40 hari itulah kemudian mendapat gelar anumerta Karaeng Tunibatta (Raja yang ditetak).
Atas izin Raja Bone VII Latenriwala Bongkange Matinroe ri Gucina dan usaha dari penasehat Raja Bone Kajao Lalido, maka jenazah I Taji Barani dipulangkan ke Gowa dan dimakamkan di Bukit Tamalate tepatnya di Makam Sultan Hasanuddin sekarang.
Pemberangkatan jenazah I Taji Barani ke Gowa, tak hanya diangkat oleh prajurit Gowa juga pembesar dari Dewan adat Kerajaan Bone, Seperti Arung Teko, Arung Biru, Arung Sanrego dan Arung Lamoncong.
Meski dua tokoh ini bermusuhan, namun Arung Lamoncong sangat menghormati I Taji Barani. Ketika I Taji Barani dimakamkan, Arung Lamoncong sempat berpesan pada orang Gowa dan Bone, bila kelak ia meninggal, jenazahnya dimakamkan di dekat kuburan I Taji Barani. Amanah ini rupanya dilaksanakan, ketika Arung Lamoncong wafat, jenazahnya dimakamkan di tempat yang ia tunjuk yakni dekat makam I Taji Barani.
Berselang beberapa hari kemudian, diadakan perjanjian perdamaian antara Gowa dan Bone di Caleppa. Bone diwakili oleh Raja Bone La Tenriware Bongkange dan Gowa diwakili oleh Mangkubuminya I Mappatakattana Daeng Padulung. Perjanjian kemudian lebih dikenal dengan nama Ulukanaya ri Caleppa = Perjanjian Caleppa yang isinya :
  1. Bone meminta kemenangan-kemenangan yaitu kepadanya harus diberikan daerah-daerah sampai Sungai WalanaE di sebelah Barat dan sampai di daerah Ulaweng di sebelah utara.
  2. Sungai Tangka terletak diperbatasan Bone dan Sinjai akan tetapi perbatasan daerah Bone dan Gowa yaitu sebelah Utara masuk Bone dan sebelah Selatan masuk Gowa.
  3. Supaya negeri Cenrana masuk daerah kekuasan Bone karena memang dahulu Cenrana telah ditaklukkan oleh Raja Bone La Tenrisukki Mappajange (Raja Bone V) maka sebagai hasil kemenangan dalam peperangan melawan Raja Luwu bernama Raja Dewa yang sudah sekian lama menguasai Cenrana.
Makam I Taji Barani berbentuk Kuba Masjid. Orang menduga bahwa I Taji Barani adalah Muslim, tapi menurut informan Sejarah Gowa M. Jufri Tenribali, Raja I Taji Barani saat itu belum memeluk Islam. Makam itu dibangun oleh cucunya bernama I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin yang menjadi Raja Gowa XIV. Adalah Raja pertama yang memeluk Islam di Kerajaan Gowa. Beliaulah yang membangun makam I Taji Barani dalam bentuk Kuba.
I Taji Barani kawin dengan putri Karaeng ri Jumarrang bernama I Daeng Mangkasara, dikaruniai 4 orang anak, masing-masing I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa, (Raja Gowa XII), I Tamakebo Daeng Mate’ne Karaeng Botongan Karaeng Mapeddaka, I Daeng Tonji Karaeng ri Bisei Daeng Biasa.
—————————————————————————————————————-
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: