Riau – Sejarah dan daftar kerajaan2 di Riau / Sumatera – prov. Riau

Di Riau, Sumatera, pernah ada beberapa kerajaan.

Lokasi provinsi Riau


* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link

* Foto perang Aceh – Belanda, 1873-1904: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Daftar kerajaan di Riau

Kerajaan Kandis Lubukjambi, Riau, abad ke-3 SM
Kerajaan Koto Alang Lubukjambi, Riau, abad ke-2 M
Kerajaan Andiko 44 Kampar, tidak ada info
Kerajaan Keritang, Riau, abad ke-12
Kerajaan Inderagiri, Riau, 1347–1945
Kerajaan Sangar Telukmeranti, tidak ada info
Kerajaan Pekantua Kampar, Riau, 1505-1675
Kerajaan Gasib, Riau, abad ke-14 dan ke-15
Kerajaan Segati, Riau, abad ke-15 hingga ke-16
Kerajaan Rokan IV Koto, Riau, abad ke-13
Kerajaan Pekaitan, Riau, abad ke-15 M
Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau, 1723-1945
Kesultanan Pelalawan, Riau, 1725-1946
Kerajaan Gunung Sahilan, Riau, 1700 – 1946
Kerajaan Kunto Darussalam, Riau, 1878 – 1942
Kerajaan Rambah, Riau, abad ke-19
Kerajaan Kepenuhan, Riau, abad ke-19
Kerajaan Tambusai, Riau,
Kerajaan Mandah, Riau
Kerajaan Kuantan, Riau,
Kerajaan Kampa, Riau,
Kerajaan Kemuning, Riau, abad ke-13
Kerajaan Tanjung Negeri, Riau, 1675-1725
Kerajaan Pekantua Kampar, Riau, 1505-1675
Kerajaan Rantaubinuang, Riau, tidak ada info
Kerajaan Tanah Putih, Riau
Kerajaan Sintong, Riau
Kerajaan Bangko, Riau
Kerajaan Kubu, Riau


Sejarah kerajaan2 di Riau

Masa prasejarah

Riau diduga telah dihuni sejak masa antara 10.000-40.000 SM. Kesimpulan ini diambil setelah penemuan alat-alat dari zaman Pleistosin di daerah aliran sungai Sungai Sengingi di Kabupaten Kuantan Singingi pada bulan Agustus 2009. Alat batu yang ditemukan antara lain kapak penetak, perimbas, serut, serpih dan batu inti yang merupakan bahan dasar pembuatan alat serut dan serpih.
Tim peneliti juga menemukan beberapa fosil kayu yang diprakirakan berusia lebih tua dari alat-alat batu itu. Diduga manusia pengguna alat-alat yang ditemukan di Riau adalah pithecanthropus erectus seperti yang pernah ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah. Penemuan bukti ini membuktikan ada kehidupan lebih tua di Riau yang selama ini selalu mengacu pada penemuan Candi Muara Takus di Kampar sebagai titik awalnya.

Masa prakolonial

Pada awal abad ke-16, Tome Pires, seorang penjelajah Portugal, mencatat dalam bukunya, Summa Oriental bahwa kota-kota di pesisir timur Sumatra antara suatu daerah yang disebutnya Arcat (sekitar Aru dan Rokan) hingga Jambi merupakan pelabuhan dagang yang dikuasai oleh raja-raja dari Minangkabau.
Di wilayah tersebut, para pedagang Minangkabau mendirikan kampung-kampung perdagangan di sepanjang Sungai Siak, Kampar, Rokan, dan Indragiri, dan penduduk lokal mendirikan kerajaan-kerajaan semiotonom yang diberi kebebasan untuk mengatur urusan dalam negerinya, tetapi diwajibkan untuk membayar upeti kepada para raja Minangkabau. Satu dari sekian banyak kampung yang terkenal adalah Senapelan yang kemudian berkembang menjadi Pekanbaru, yang kini menjadi ibu kota provinsi.

Sejarah Riau pada masa pra-kolonial didominasi beberapa kerajaan otonom yang menguasai berbagai wilayah di Riau. Kerajaan yang terawal, kerajaan Keritang, diduga telah muncul pada abad ke-6, dengan wilayah kekuasaan diperkirakan terletak di Keritang, Indragiri Hilir.
Kerajaan ini pernah menjadi wilayah taklukan Majapahit, namun seiring masukkan ajaran Islam, kerajaan tersebut dikuasai pula oleh kesultanan Melaka. Selain kerajaan ini, terdapat pula kerajaan Kemuning, kerajaan Batin Enam Suku, dan kerajaan Indragiri, semuanya diduga berpusat di Indragiri Hilir.

Masa kolonial Belanda

Invasi Belanda yang agresif ke pantai timur Sumatra tidak dapat dihadang oleh Siak. Belanda mempersempit wilayah kedaulatan Siak, dengan mendirikan Keresidenan Riau (Residentie Riouw) di bawah pemerintahan Hindia Belanda yang berkedudukan di Tanjung Pinang.
Para sultan Siak tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka telah terikat perjanjian dengan Belanda. Kedudukan Siak semakin melemah dengan adanya tarik-ulur antara Belanda dan Inggris yang kala itu menguasai Selat Melaka, untuk mendapatkan wilayah-wilayah strategis di pantai timur Sumatra. Para sultan Siak saat itu terpaksa menyerah kepada kehendak Belanda dan menandatangani perjanjian pada Juli 1873 yang menyerahkan Bengkalis kepada Belanda, dan mulai saat itu, wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi kekuasaan Siak satu demi satu berpindah tangan kepada Belanda.
Pada masa yang hampir bersamaan, Indragiri juga mulai dipengaruhi oleh Belanda, namun akhirnya baru benar-benar berada di bawah kekuasaan Batavia pada tahun 1938. Penguasaan Belanda atas Siak kelak menjadi awal pecahnya Perang Aceh.

Di pesisir, Belanda bergerak cepat menghapuskan kerajaan-kerajaan yang masih belum tunduk. Belanda menunjuk seorang residen di Tanjung Pinang untuk mengawasi daerah-daerah pesisir, dan Belanda berhasil memakzulkan Sultan Riau-Lingga, Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah pada Februari 1911.


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: