* FOTO kerajaan Bone

Raja sekarang, 2020: Arumpone Bone: Andi Baso Hamid Achmad bersama isteri

Dari kiri ke kanan: pangeran dari kerajaan Bone, Arumpone (raja) Bone, Andi Baso Hamid Achmad, dan Karaeng Laikang.



Pusaka Kerajaan Bone

Selempang emas. Merupakan Pusaka Kerajaan Bone yang ada pada masa Raja Bone yang ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka

——————-

Sebuah Kalewang yang disebut Alameng serta hulunya berlapis emas dan dihiasi intan permata. Pusaka ini merupakan Pusaka Raja Bone ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka.

——————-

Merupakan keris yang disebut juga Tappi Tatarapeng Pusaka Raja Bone ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka. Keris Pusaka ini seluruh hulu dan sarungnya berlapis emas.

——————-

Matompa atau pencucian benda pusaka Kerajaan Bone. Benda pusaka yang dicuci antara lain berupa senjata tajam, kalung dan mahkota emas.

——————-

Mahkota Raja Bone, PYM La Tenri Tatta Petta Too Risompai’e XVI

 


Istana atau Saoraja kerajaan Bone

Istana Saoraja merupakan nama tempat bertahta Raja-raja Bone.
Setiap raja di Bone mempunyai Saoraja, oleh karenanya istana-istana tersebut banyak yang tidak bertahan seiring dengan berlalunya masa kekuasaan setiap raja.

Ballalompoa Jongaya, rumah kediaman H. Andi Mappanyukki, Raja Bone ke-32, dibangun tahun 1935, terletak di Jalan Kumala Nomor 160 Makassar.
Di rumah ini, pada tanggal 15 Oktober 1945 diadakan pertemuan raja-raja Sulawesi Selatan yang melahirkan Deklarasi Jongaya, dan rumah ini dijadikan pusat perlawanan rakyat Sulawesi Selatan mendukung Gubernur Sulawesi Dr.G.S.S.J.Ratulangi.

——————————–

Rumah Raja Bone yang disebut “Saoraja” atau Istana Raja Bone La Pawawoi yang disita oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1907.
Pada tahun 1914, rumah ini dibawa ke Semarang, Jawa Tengah mewakili Pameran Paviliun “Celebes” (Sulawesi). Model istana raja dari Bone itu sangat menarik, terutama fakade (eksterior) bangunan, tangga, dan dinding tengah.
Setelah pameran, rumah itu dikembalikan ke Makassar dan ditempatkan di sudut Hospitalweg dan Marosweg, Makassar (sebelah timur Lapangan Karebosi) yang kemudian ditempati Kantor Kehutanan dan Museum Belanda.
Sumber: nur kasim, FB

——————————–

Kerajaan Bone, Sulawesi / Istana "Saoraja Petta Ponggawae"… | Flickr

——————————–

 Raja Bone ke-32, La Mappanyukki, 1931-1946

——————————–

Arumpone Lapawawoi dari Bone bersama keluarga ca. 1906.

——————————–

La Pawawoi, mantan raja Bone, dalam tandu.

————————-

La Pabbanteng, Raja Bone Ke- 33. La Pabbenteng Petta Lawa Arung Macege (1946–1950)

————————-

La Mappanjuki (Andi Mappanyukki), Raja Bone Datoe Soeppa- Datoe Siladja Sulawesi Selatan.

————————-

La Makoerada Daeng Matana; anggota majelis pemerintahan Bone 1905-191. Meninggal 1915. Saudara tiri raja Arumpone Lapawawoidari Boni (-1905)

————————-

Andi Idjo Karaeng Lalolang (Raja Gowa ke 36) dan H. Andi Mappanyukki (Raja Bone ke 32)

————————-

Raja raja dibawah Bone

————————-

Raja Bone ke-31, La Pawawoi Karaeng Sigeri yang digendong dari rumah ke tandunya di bawah pengawasan tentara Belanda

————————-

Pelantikan raja Bone

————————-

Haji Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Raja Bone ke-32 putera dari I. Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tu Lenguka ri Bundu’na Raja Gowa yang ke-33.

————————-

 La Pawawoi Arung Segeri, Raja Bone (1895-1905) dalam keadaan luka pada kaki sebelah kiri ketika ditangkap disebuah hutan di Bulu Awo (239 km utara Makassar) daerah Pitumpanua, Wajo pada tanggal 18 Nopember 1905. Dalam foto, La Pawawoi (duduk di tengah) didampingi tiga orang perempuan dari keluarganya sedang dikelilingi tentara KNIL yang bersenjata lengkap yang akan diantar ke Makassar melalui pelabuhan Parepare.

————————-

Berdiri di depan dari kiri ke kanan:
– Andi PangEran Petta Rani Arung Bulo-Bulo (Ex. Gubernur Sulawesi, Putera Andi Mappanyukki ArumponE),
– Andi Soji KaraEng KanjEnnE Datu Suppa (Menantu Andi Mappanyukki ArumponE,
– Permaisuri Andi Abdullah Bau MassEpE Datu Suppa Lolo),
– Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Mangkau ri BonE,
– Ir. Soekarno.

————————-

 Makam raja-raja La Tenri Ruwa merupakan kompleks makam yang terletak di tengah Kota Bantaeng, tepatnya di Jalan Pemuda Lingkungan Lembang Cina, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng. Lokasi makam tersebut berjarak sekitar 130 kilometer dari arah Kota Makassar.
Raja Bone ke-11 merupakan raja yang pertama kali menerima ajakan dari Raja Gowa ke-14 I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin untuk memeluk Agama Islam. Makam La Tenri Ruwa sangat melegenda dan begitu dikenang di Bantaeng, karena La Tenri Ruwa memilih tinggal di Bantaeng setelah merasa terkucilkan di tanah kelahirannya Bone.  


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: