Putabangun, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Selayar

Kerajaan Putabangun terletak di P. Selayar, prov. Sulawesi Selatan. Kerajaan ini berdiri sampai abad ke-19.

Lokasi pulau / kab. Selayar


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


Tentang kerajaan Putabangun

Putabangun dahulu adalah ibu kota Kerajaan Selayar, dan sekaligus kerajaan pertama yang berdiri di Selayar. Dalam silsilah raja Putabangun yang terdapat atau tertulis di “lontara jangangjangang” / lontara Putabangun yang berjumlah 252 halaman ditulis pada tahun 1797 masehi, dikatakan bahwa raja pertama Putabangun adalah Tenri Dio dengan nama lengkap We Tenri Dio Batari Bissu Punna LipuE ri Mallimongeng Datu ri Silaja PunnaE Langkana Manurung ri Sabanglowa, seorang wanita anak kedua putri dari Sawerigading,
Pengangkatan Tenri Dio diawali dengan adanya restu dari Dewata, ditandai dengan munculnya “Passapu Dendang Ri Langi’ Kasa Malluluang Anging” yang berarti Bendera yang berkibar menantang arah angin tanpa tiang penyangga.
Bendera tersebut berjumlah empat belas lembar, satu diantaranya bergambar macan dan menjadi bendera kerajaan Putabangun, sedangkan tigabelas lainnya adalah pertanda bahwa dibelakang akan muncul tiga belas kerajaan lainnya di Selayar. Wilayah kekuasaan Tenri Dio mulai dari Balang Pong sampai ke Tanamalala. Nama-nama Gallarangnya (Sistem Pemerintahan yang ada dibawahnya) antara lain:

  1. Gallarang Tanete, bernama Pa’beso’
  2. Gallarang Balla Bulo, bernama Pattara
  3. Gallarang Batangmata, bernama Suleman
  4. Gallarang Buki’, bernama Ake’
  5. Gallarang Bonea (Kadieng I Lau), bernama Dulang
  6. Gallarang Mare-Mare (Kadieng Iraya), bernama Kappara
  7. Gallarang Opa-Opa, bernama Mappatantang
  8. Gallarang Laiolo, bernama Muka
  9. Gallarang Boto Borusu, bernama Poto’
  10. Gallarang Onto bernama Tarolle
  11. Gallarang Barang-Barang bernama I Bau
  12. Gallarang Gantarang, bernama Role’
  13. Gallarang Bontobangun, bernama Juma Daeng Maruttung

Dari ke-13 sistem pemerintahan inilah maka muncullah kerajaan kecil dari Tanete sampai Barang-barang. Selain memuat tentang sistem pemerintahan Lontara Putabangun juga memuat tentang mas kawin anak perempuan Lalaki Putabangun yaitu sembilan puluh kati, sembilan puluh tai’, sembilah puluh kerbau, sembilan puluh kepala (hamba), dan seratus nane’.

Tenri Dio mempunyai gaukang (lambang kerajaan) Gong Nekara atau gong besar, masyarakat sekitar menyebutnya Opu Gelemoni (raja tetapi tak bicara) dan bendera bergambar macan yang letak kerajaannya di Laikang.Jika Opu/raja ingin mengumpulkan rakyatnya maka ditabuhlah gong nekara tersebut dengan 3 kali tabuhan, tabuhan pertama rakyat bersiap-siap untuk berangkat ke istana, tabuhan kedua rakyat sedang dalam perjalanan dan tabuhan ketiga ketika rakyat telah tiba dan berkumpul di istana.

Setelah sepeninggalan Tenri Dio (Opu pertama Putabangun) gong besar ini menjadi gaukang kerajaan Putabangun turun temurun, gong ini sempat disembunyikan atau ditanam di daerah Papanglohea atas perintah Opu Putabangun ketika Selayar diserang oleh kerajaan Maluku, Gong Nekara(gaukang) yang ditanam tersebut kemudian ditemukan kembali oleh seorang petani yang bernama Pao Dg.Mappau cangkulnya mengenai satu katak dari gong tersebut hingga patah, Opu terakhir Putabangun adalah Sumahe Dg. Mappasang dengan masa terakhir pemerintahan tahun 1869, Dua tahun kemudian Putabangun bergabung dengan Bontobangun saat itu Bontobangun dibawah kekuasaan Opu Umara Dg. Macora, Gong Nekara simbol kerajaan Putabangun tersebut kemudian dipindahkan ke kerajaan Bontobangun di Mattalalang.


Daftar raja Putabangun

Silsilah Opu Kerajaan Putabangun:

  1. Tenri Dio (perkiraan awal abad ke-10 M),
  2. Lalaki kedua,
  3. Lalaki ketiga / Kemenakan dari Murrang Dg. Mannuruki / anak dari Mallangiki anak dari Tenri Dio,
  4. Lalaki Tutinrowa Ri Zikkirina anak dari Murrang Dg. Mannuruki,
  5. Lalaki Dg.Mattata Tutinrowa Ri Parentana anak dari Tutinrowa Ri Zikkirina,
  6. Lalaki Dg. Mamuji anak dari Lalaki ketiga,
  7. Lalaki Dg. Pabeta anak dari Dg. Mamuji,
  8. Lalaki Dg. Mangemba Tutinrowa Ri Liana anak dari Dg. Mattata Tutinrowa Ri Parentana,
  9. Lalaki kesembilan,
  10. Lalaki Dg. Ngiraja Tutinrowa Ri Puasana anak dari Dg. Mangemba Tutinrowa Ri Liana,
  11. Lalaki Dg. Masarro Tutinrowa Ri Sombala’na anak dari Dg. Ngiraja Tutinrowa Ri Puasana,
  12. Lalaki Binongko Dg. Ngiraja Tutinrowa Ri Bulupaa anak dari Dg. Masarro Tutinrowa Ri Sombala’na,
  13. Lalaki Launru Dg. Marutung Tutinrowa Ri Gaukanna anak dari Binongko Dg. Ngiraja Tutinrowa Ri Bulupaa,
  14. 1834-1849: Lalaki Andi Toto Dg. Mamuji anak dari Launru Dg. Marutung Tutinrowa Ri Gaukanna,
  15. 1849-1869: Lalaki Sumahe Dg. Mappasang anak dari Dg. Rilangi anak dari Dg. Pabeta (Lalaki ketujuh).

Masuknya islam di pemerintahan Putabangun saat Dg. Mangemba Tutinrowa Ri Liana sebagai Lalaki kedelapan, sedangkan Hindia Belanda menginjakkan kaki di Putabangun pada saat Lalaki kesebelas Tutinrowa Ri Sombala’na yaitu Dg. Masarro.


Gong Nekara

Nekara terbesar di Asia Tenggara dan bahkan diduga tertua di dunia yang pernah ditemukan adalah nekara yang ditemukan di Pulau Selayar. Menurut informasi dari tetua adat dan penduduk Kelurahan Bontobangun, Selayar (tempat ditemukannya nekara terbesar), nekara tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang penduduk dari Kampung Rea-Rea yang bernama Sabuna pada tahun 1686.

Pada saat itu Sabuna sedang mengerjakan sawah Raja Putabangun di Papaniohea, tiba-tiba cangkul Sabuna membentur benda keras yang ternyata adalah hiasan katak yang merupakan bagian dari nekara yang terkubur. Sejak berakhirnya Dinasti Putabangun pada tahun 1760, nekara tersebut dipindahkan ke Bontobangun dan menjadi kalompoang atau arajang (benda pusaka kerajaan) kerajaan Bontobangun.

Nekara Selayar ini terbuat dari perunggu yang bentuknya menyerupai dandang terbalik, dengan luas lingkaran permukaan sebesar 396 cm persegi, luas lingkaran pinggang 340 cm persegi, dan tinggi 95 cm persegi. Keunikan yang dimiliki gong yang dikenal sakral itu adalah adanya motif flora dan fauna yang terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah, dan ikan 18 ekor.


Sumber

https://www.mediaselayar.com/2018/03/cerita-tentang-kerajaan-kerajaan-di.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Putabangun,_Bontoharu,_Kepulauan_Selayar


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: