* FOTO raja-raja dulu di p. Sumbawa

Isi:

* Kesultanan Bima,
* Kesultanan Dompu,
* Kerajaan Sanggar,
* Kesultanan Sumbawa.

Kesultanan Bima

Kesultanan Bima. Radja Bicara dan Radja Sakuru dua jabatan yang saling mengisi untuk membantu Sultan dalam mengambil kebijakan, Radja Bicara bertugas sebagai tubuh kesultanan untuk mengatur tata pemerintahan sedangkan Radja Sakuru merupakan mata yang selalu mengawasi berjalanannya kebijakan, Radja Sakuru atau juga disebut Ruma Parenta selalu berada di samping Sultan untuk membantu dan menasehati setiap kebijakan yang akan di putuskan. dalam majelis Syara segala sesuatu yang akan di putuskan oleh Sultan harus ada perundingan terlebih dahulu dengan Radja Sakuru dan Radja Bicara.
Sumber: Fahru Rizki, FB.
Kommen Fahru Rizki: ini foto Raja Bicara / perdana menteri dan Raja Sakuru/ Penasehat sultan.

——————————–

Kesultanan Bima. Setelah kegiatan doho sara foto bersama depan asi bou (istana baru) kesultanan Bima.
Depan dari kanan, Ruma Parenta, Jeneli Woha Idris M. Djafar Ruma Kala, Naib Nazaruddin, Sultan Muhammad Salahuddin, Raja Bicara Abdul Hamid, Amakau Olla
baris kedua dari kanan, Ruma Uwi, Jeneli Rasanae, Jeneli Bolo. Sumber: Fahru Rizki, FB.

——————————–

Kesultanan Bima. Atas perintah Sultan Bima Abdul Kadim, Tureli Bolo mengangkat Dalu Todo sebagai kepala semua dalu di Manggarai 28 Desember 1767, Dalu adalah kepala Desa (distrik), Dalu yang di angkat harus keturunan dari Ndewa kepercayaan.
Sumber: Fahru Rizki FB, foto: para dalu manggarai ca 1934

——————————–

Kesultanan Bima. Bata Dadi (pengurus sawah sultan) bertugas memimpin Do`a dana saat penanaman padi di sawah sultan, biasanya untuk menanam padi didatangkan wanita2 dari Tente karena keahlian dan keuletan mereka dalam menanam padi.
(foto : seorang Bata Dadi Kesultanan Bima bersama wanita Tente, saat memimpin penanaman sawah milik Sultan di Cenggu tahun 1930). Sumber: Fahru Rizki FB.

——————————–

Kesultanan Bima. Lalu Abdullah (Ruma Qadhi kili), ketua badan Sara Syara kesultanan Bima era Sultan Muhammad Salahuddin dan beliau juga menjadi guru agama dan tata pemerintahan raja2 Tidore, Bacan, dan Ternate yang datang ke Bima.
Sumber: Fahru Rizki, FB.

——————————–

Kesultanan Bima. Sultan IBrahim, 1881 – 1915.

——————————–

Sultan Bima Muhamad Salahuddin, (tengah..), Raja Bicara Abdul Hamid, Ruma Sangaji dan Ruma Bicara,

——————————–

Sultan Bima berkunjung ke istana kesultanan Sumbawa 1927

——————————–

Kesultanan Bima. Raja Bicara Abdul Hamid yang ditengah memakai kopiah

——————————–

Kesultanan Bima. Raja Bicara Abdul Hamid Kesultanan Bima

——————————–

Kesultanan Bima. Pejabat kesultanan Bima sama Sultan. 1927

——————————–

Kesultanan Bima. Naib terakhir Kesultanan Bima di Reo Manggarai tahun 1930, Abdullah Daeng Mananja.

——————————–

Kesultanan Bima. Sultan Ibrahim bersama Jena Teke (putra mahkota) Muhammad Salahudin, beserta kerabat istana dan para hamba-hamba istana, setelah prosesi pengangkatan Jena Teke kesultanan Bima tahun 1910.

——————————–

Kesultanan Bima. Sultan Abdul Hamid, 1920-1950

——————————–

Kesultanan Bima. Kunjungan pimpinan Militer Belanda kepada Sultan Muhammad Salahuddin Bima. Coll. Tropenmuseum

——————————–

Kesultanan Bima. Foto Jena teke (putra mahkota) Muhammad Salahuddin, beserta Sultan Bima ke 13 Sultan Ibrahim (tengah), saat di Batavia tahun 1911 beserta anak-anaknya.

——————————–

Kesultanan Bima. 1930 Dewa Masmawa Sultan Muhammad Djalaluddindyah lll berfoto bersama Datu Ranga Abdullah Lalu Intan Dewa Rumah Bicara Bima berdiri

——————————–

Kesultanan Bima. Keluarga sultan Bima ke-14. Dari kanan: Siti Halimah, Siti Jahara, Siti Aisyah (istri kedua Sultan), Abdul Kahir, Sultan Muhammad Salahuddin, Siti Maryam, Manta (anak angkat berasal dari sumbawa).


Kesultanan Dompu

Kesultanan Dompu. Sultan Dompu, YM Ayahanda Kahrul Zaman, wafat 8 maret 2020

 

——————————–
Kesultanan Dompu. Sultan Dompu Muhammad Sirajudin, tahun 1924 di Dompu
Kesultanan Dompu. Muhammad Tajul Arifin, Sultan Dompu, berkuasa 1947-1955, setelah diangkat oleh sultan Bima dari djeneli, untuk mengisi kekosongan dari tahun 1934 hingga 1942. Sumber Fahru Rizki FB

——————————–

Kesultanan Dompu. Kanan: Sultan Dompu, Sultan Kahrul Zaman. M.Hum. Wafat 8 maret 2020. Foto 2013

——————————–

Kesultanan Dompu. Keluarga besar Sultan Dompu. 1990-an

——————————–

Kesultanan Dompu. Sultan Dompu naik kuda.

——————————–

Kesultanan Dompu. Sultan Dompu Muhammad Sirajuddin (berkuda) bersama ketua distrik dan Djeneli Kema depan Istana Dompu ca 1923.

——————————–

Kesultanan Dompu. Foto, saat sultan Dompu berbincang dengan Gerhard Heberer dan tim ekpedisi tahun 1927. Saat ekpedisi zoology Expedition Rensch 1927, Heberer menceritakan kesederhanaan Sultan Dompu Muhammad Sirajuddin II saat menemani mereka berkeliling di wilayah2 Dompu, orang yang sangat sederhana dan pintar, betul2 seorang bangsawan yang ramah, katanya.


Kerajaan Sanggar

Kerajaan Sanggar. Daeng Sanggar Bin Abdul Aziz

——————————–

Raja kerajaan Sanggar terakhir. 1910

——————————–

 Kerajaan Sanggar. Raja Abdullah berburu dengan kepala residen pulau sumbawa tahun 1915  Dikatakan bahwa Raja Abdullah (1900-1926) raja Sanggar yang ke-15 mempunyai keahlian berburu atau dalam bahasa setempat nggilo (masih sama seperti bahasa Bima), dari beberapa wawancara dengan narasumber bahwa beliau tidak pernah memakan hasil dari buruannya, beliau berburu hanya untuk kepentingan bila ada dari rakyatnya yang memrlukan makanan. Sumber: Fahru Rizki, FB.

———————————

Raja kerajaan Sanggar, Abdullah Samsuddin Daeng Manggalai (1900-1926), yang melepaskan jabatannya sebagai Raja dan memutuskan untuk bergabung bersama Bima tahun 1928, untuk sebuah alasan yaitu “BERSATU”, sejak dulu masyarakat Sanggar mengenal konsep bersatu yang dapat dilihat paska meletusnya gunung tambora 1815, yaitu terbentuknya kembali sanggar setelah meletusnya Tambora di desa Kaboro, Kaboro yang mempunyai makna BERSATU atau dalam bahasa setempat BERSAMA.


Kesultanan Sumbawa

Kesultanan Sumbawa. Sultan Sumbawa XVII, Daeng Abdurrahman Kaharuddin. Penobatan tahun 2011

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Sumbawa, Muhammad Kaharuddin III (1931 – 1958)

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Sumbawa Muhammad Jalaluddin III, Sultan Sumbawa 1883 – 1931.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Sumbawa Kaharuddin III dan permaisuri, diabadikan sehabis upacara Penobatan, 1931.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Sumbawa Dewamasmawa Muhammad Amrullah (Kakek dari Sultan Djslaluddin III) beserta keluarga dan pejabat2 Pangkat Adat Kesultanan Sumbawa. Sumber Sultan Muhammad Kaharuddin IV, FB

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Muhammad Djalaluddin III, 1883 – 1931.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan dan Kerabat dengan Petinggi Belanda.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Bima M. Salahuddin. Sumber – Sultan Muhammad Kaharuddin IV, FB

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Foto bersama Sultan Sumbawa Muhammad Djalaluddin III dan assistent-resident Seegeler di kediaman Controller Sumbawa tahun 1920.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. dari kiri – sultan Muhammad Salahuddin bersama ayahnya, sultan Ibrahim tengah dan adik-adik sultan Muhammad Salahuddin

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Sumbawa, Kaharuddin III.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Muhammad Djajaluddin

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Sumbawa di Istana Bala Putuh. 1934.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Djalaluddin dengan para pengawalnya.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Muhammad Djalaluddinsyah III [1883-1931] Sultan Sumbawa ke-16 berfoto bersama Tau Rabawa petugas pembawa Parewa Kamutar (1900)

—————————–

Sultan Kesultanan Sumbawa.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Dewa Masmawa, Sultan Muhammad Kaharuddin III [1932-1958] Sultan Sumbawa ke-16 dari dinasti Dewa dalam bawa.

—————————–

Kesultanan Sumbawa. Sultan Sumbawa masih muda bersama orang tua. Tahun 1946.


Blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: