* Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Sawu


Foto kerajaan-kerajaan di P. Sawu

* Foto kerajaan2 di Sawu: link


Foto / video budaya Suku Sawu

* Foto foto suku Sawu: link
* Foto situs kuno / megalitik Sawu: link

* Video tarian adat suku Sawu: link
* Video tarian adat suku Sawu: link

* Video rumah adat suku Sawu: link


Sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Sawu

Menurut sejarah, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat jauh yang letaknya di sebelah Barat pulau Sabu.
Pada abad ke-3 sampai abad ke-4 terjadi arus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India Selatan ke Kepulauan Nusantara. Perpindahan penduduk itu disebabkan karena pada kurun waktu itu terjadi peperangan yang berkepanjangan di India Selatan. Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh informasi sejarah mengenai negeri asal leluhur Sabu. Syair-syair itu mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di seberang lautan di sebelah Barat yang bernama Hura.
Di India terdapat Kota Surat di wilayah Gujarat Selatan yang terletak di sebelah Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat pada waktu itu sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan. Orang Sabu tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebutnya Hura.
Para pendatang dari India Selatan ini menjadi penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.

Pembagian wilayah di Sabu terjadi pada masa Wai Waka (generasi ke 18). Pembagian ini dibuat berdasarkan jumlah anak-anaknya yang akan dibagikan wilayahnya masing-masing yakni:
– Dara Wai mendapat wilayah Habba (Seba)
– Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara)
– Wara Wai mendapat wilayah Liae
– Laki Wai mendapat wilayah Dimu (Timu)
– Dida Wai mendapat wilayah Menia
– Jaka Wai mendapat wilayah Raijua

Sawu / Nusa Tenggara Timur, 1200 M

Pembagian ini telah menyebabkan terbentuknya komunitas genelogis-teritorial, dimana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Karena rumpun ini berkembang semakin besar maka dibentuk suatu sub rumpun yang disebut Udu yang dikepalai oleh seorang Bangu Udu. Di Habba (Seba) terdapat 5 Udu yang nantinya akan terbagi lagi menjadi Kerogo-Kerogo. Di Sabu dan Raijua seluruhnya terdapat 43 Udu dan 104 Kerogo.

Diyakini terdapat pengaruh Majapahit yang pada abad ke 14 sampai awal abad ke 16 berhasil menguasai dan menyatukan nusantara terhadap kehidupan masyarakat Sabu. Beberapa bukti tersebut dapat dilihat pada:
– Mitos (cerita rakyat) yang memberikan penghormatan terhadap Raja Majapahit sehingga muncul cerita bahwa Raja Majapahit dan istrinya pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
– Ada kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk memelihara babi yang setiap saat akan dikumpul untuk persembahan kepada Raja Majapahit.
– Ada batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita.
– Setiap 6 tahun sekali ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
– Motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura.
– Di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai profil seperti orang Jawa dan ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang diambil dari bahasa Jawa Mulih yang berarti pulang.

Kontak awal adalah dengan Vereenigde Belanda Oost-Indische Companie pada tahun 1648. Referensi untuk Savu dari periode tersebut selalu menyangkut tentara Savati, tentara bayaran atau budak. Pada tahun 1674, awak kapal Belanda dibantai di Savu Timur, setelah kapal mereka kandas. Belanda menanggapi dengan membentuk sebuah aliansi dengan raja Seba, sehingga pasukan dapat dikirim untuk melakukan pembalasan. Namun, mereka gagal memasuki benteng Hurati, di Desa B’olou, Eastern Savu, karena dikelilingi oleh tiga dinding pertahanan. Untuk menyelamatkan muka, pasukan Belanda menerima pembayaran berupa budak, emas dan manik-manik.

Raja of Seba (Sawu) ca. 1870

Raja of Seba (Sawu) ca. 1870

Mobilitas ke luar Sabu dimulai sejak saat kontrak antara Sabu dan Belanda ditandatangani tahun 1756. Telah ditetapkan bahwa Sabu wajib menyediakan tentara bagi Belanda demi kepentingan pertahanannya di Kupang. Tujuan utama tenaga bersenjata ini adalah untuk melancarkan ekspedisi militer seperti yang dilakukan oleh Von Pluskow sejak 1758 hingga 1761. Ketrampilan orang Sabu di bidang militer ini ditambah dengan keberanian mereka meluaskan keterlibatan mereka antar lain ekspedisi di tahun 1838 untuk menghentikan kebiasaan orang Ende menyerang Sumba demi mendapatkan budak. Emigrasi orang Sabu ke Sumba yang diawali oleh hubungan perkawinan antara Raja Melolo di Sumba Timur dan Raja Sabu di Habba kemudian berkembang menjadi perkampungan Sabu di Sumba Timur.

Beberapa kali wabah penyakit menyerang penduduk Sabu diantaranya cacar yang memakan korban jiwa di tahun 1869 membuat Sabu dan Raijua kehilangan hampir seperenam jumlah mereka, kolera di tahun 1874 dan berulang tahun 1888 yang membuat rakyat di kedua pulau Sabu dan Raijua berkurang sangat signifikan. Baru sekitar tahun 1925 penduduk Sabu mencapai jumlah semula.

Pada tahun 1918 kerajaan-kerajaan kecil di pulau Sawu disatukan dalam satu swapraja Sabu yang di-perintahi oleh raja S. Th. Djawa.


Sumber

– Asal-Usul Orang Sabu: https://voxntt.com/
– Sejarah Sabu Raijua: https://saburaijuakab.go.id/halaman/sejarah
– Sejarah Kab. Savu Raijua: https://id.wikipedia.org/wiki/
– Sejarah Suku Savu: http://suku-dunia.blogspot.co.id/


Peta kuno pulau Savu

Nusantara, tahun 1493

——————————–

Nusantara, tahun 1725


 

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: