Sejarah lengkap kesultanan Daya / Sumatera – Prov. Aceh, kab. Aceh Jaya

Oleh: Pewaris Tahta ke-12 Kerajaan Negeri Daya: RAJA SAIFULLAH
http://acehmemory.blogspot.co.id/2012/03/home-profile-program-berita-gallery.html
.

1) BERDIRINYA KERAJAAN NEGERI DAYA
.
Kerajaan Negeri Daya didirikan pada tahun 1480 M dengan raja pertama “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” atau lebih dikenal dengan julukan “Po Teumeureuhom”, atau “Cik Po Kandang” yang membawahi empat kerajaan yang di persatukannya, yaitu:
  1. Kerajaan Negeri Keuluang.
  2. Kerajaan Negeri Lamno.
  3. Kerajaan Negeri Kuala Unga, dan
  4. Kerajaan Negeri Kuala Daya.
Kerajaan ini merupakan bagian dari kerajaan Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan oleh Sulthanah Siti Hur Khairil Barri Wal Bahriyah yang berkuasa pada tahun 1520 M – 1553 M.
Negeri Daya sebelumnya dikenal dengan Negeri Indra Jaya, karena pada abad ke V masehi, di pesisir barat Aceh, kalau sekarang berada di Kuala Unga dan Pante Ceureumen Kecamatan Jaya, Asal usul Negeri ini didirikan oleh keturunan raja Negeri Sedu yang melarikan diri dari serbuan armada China yaitu di Panton Bie yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar, dalam catatan:
  1. Dalam catatan Marcopolo Negeri Indra Jaya disebut dengan “DAGROIAN”, Marcopolo sewaktu pulang dari Tiongkok singgah di negeri ini.
  2. Dalam kitab Mahabrata Negeri Indra Jaya disebut dengan BHARAT.
Negeri Indra Jaya dengan pusat pemerintahannya di Kuala Unga, sangat disayangkan sampai dua abad lamanya tidak diketahui sejarahnya, baru pada abad ke VII Masehi pelabuhan RAMI (EL-RAMI) di Lamno Negeri Indra Jaya ramai disinggahi kapal-kapal dagang Asing termasuk dari Negara Arab, Persia, Tiongkok dan India, dan pada abad ke VIII Masehi pelabuhan EL-RAMI di Lamno Negeri Daya sudah menjadi bandar yang rutin disinggahi oleh pedagang dari Negara Arab dan Yunani.
Pada abad ke X Raja Kerajaan Perlak yaitu Meuruah Pupok dengan gelar Teungku Sangob atau Meureuhom Unga  putera Makhdum Malik Musir Ibni Makhdum Malik Ishaq Ibni Makhdum Malik Ibrahim Johan Berdaulat, merebut kembali pusat Pemerintahan Indra Jaya dari pendudukan armada China, tepatnya di Gampong Keude Unga sekarang. dan pada abad ke XIV Masehi Kekuasaan Portugis di Negeri Keuluang dilumpuhkan oleh “Sulthan Alaiddin Ri’ayat Syah” dan membentuk Kerajaan Negeri Daya.  Pada masa kepemimpinannya Negeri Daya mengalami perubahan besar, rakyatnya hidup makmur dan sejahtera sekaligus merupakan puncak Kejayaan Negeri Daya.
.

2) ASAL KETURUNAN RAJA DI KERAJAAN NEGERI DAYA

Raja Negeri Daya Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah atau lebih dikenal dengan “Po Teumeureuhom”, atau “Cik Po Kandang” adalah putra raja madat “Raja Pidie” yang menakluk Negeri Darul Kamal dan Kuta Alam, dan sekarang berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar, atau dalam sejarah lebih dikenal dengan nama “Sulthan Inayat Syah” putera raja “Abdullah Malikul Mubin”, selanjutnya keturunan ini menjadi cikal bakal Raja-raja di Aceh Darussalam, “Sulthan Inayat Syah” dikaruniai 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan, 3 orang anak laki-laki yaitu:

  1. Sulthan Muzaffar Syah mewarisi Negeri Darul Kamal.
  2. Sulthan Munawar Syah mewarisi Negeri Kuta Alam.
  3. Sulthan Salathin Alaiddin Ri’ayat Syah menjadi raja di Kuta Madat, Negeri Pidie dan terakhir sebagai raja di Negeri daya, atau lebih dikenal dengan “Po Teumeureuhom”, atau “Cik Po Kandang”.
3) RIWAYAT SINGKAT KERAJAAN INDRA JAYA
SEBELUM DITAKLUK MENJADI KERAJAAN NEGERI DAYA.
Pada abad ke XI Masehi Negeri Indra Jaya kedatangan serombongan bangsawan dari samudera Pasai yaitu rombongan “Datuk Paghu” putera maha raja “Bakoi Ahmad Permala Syah” yang berkuasa di samudera pasai pada tahun 801-831 M, “Datuk Paghu” dianugerahi tiga orang putra, yaitu:
  1. “Johan Pahlawan” atau Syeh Johan”.
  2. “Datok pahlawan syah”.
  3. “Muda Perkasa”
Rombongan ini membuka daerah yang masih runyam dan membangun negeri baru, negeri yang dibangunnya dibagi kepada putranya, yaitu:
  1. Wilayah Negeri Kuala Daya meliputi Lam Beusoe di kuasai dan diperintahkan oleh “Johan Pahlawan” Atau Syeh Johan”.
  2. Wilayah Negeri Keuluang di kuasai dan diperintahkan oleh “Datok Pahlawan Syah” yang dikenal sebagai pemberani.
  3. Wilayah Negeri Lamno, di kuasai dan diperintahkan langsung oleh “Datuk Paghu” dibantu oleh putranya yang bungsu yaitu “Muda Perkasa”.
Berkat kesungguhannya ketiga datuk ini dalam beberapa puluh tahun daerah kekuasaannya menjadi makmur dengan hasil kehutanan dan pertanian terutama di Negeri Keluang sangat  dikenal dengan Negeri penghasil Lada. Pada pertengahan abad ke XIII Masehi, Negeri Keuluang telah menjalin hubungan dengan Portugis sehingga semua hasil lada di Negeri Keuluang dimonopoli oleh portugis, dan pada akhirnya portugis menanamkan pengaruhnya dalam bidang politik pemerintahan Negeri Keuluang, sampai-sampai pada saat itu pahlawan menganggap dirinya sebagai Eropa (Portugis).
.

4) PENAKLUKAN KERAJAAN NEGERI INDRA JAYA MENJADI KERAJAAN NEGERI DAYA

 

Pada abad ke IV Negeri Indra Jaya kemudian disebut Negeri Daya dirintis oleh “Raja Abdullah Malikul Mubin” yang bertujuan untuk menciptakan keamanan dan menghalangi penjajahan di pantai barat Aceh oleh bangsa Portugis. “Raja Abdullah Malikul Mubin” diusianya yang sudah sangat tua juga keberadaannya sangat dibutuhkan pada pusat pemerintahan Aceh dan Pidie, karena “Inayat Syah” membutuhkan nasehat-nasehat beliau dalam menghadapi ancaman Portugis di wilayah utara, “Raja Abdullah Malikul Mubin” meninggalkan Negeri Daya secara mendadak dan kembali ke Aceh dan Pidie dan Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah yang waktu itu berkedudukan di Kota Madat diberi tugas untuk pergi ke Negeri Indra Jaya (Negeri Daya) bersama 300 bala tentaranya, yang bertugas sebagai:
  1. Pemersatu antara raja-raja di Negeri Indra Jaya, yang sedang diadu domba oleh Bangsa Portugis.
  2. Berdakwah untuk mengembangkan agama islam yang pada saat itu sudah tidak murni lagi di Negeri Indra Jaya (Negeri Daya).

Setibanya di Negeri Indra Jaya “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” pada satu tempat yang dikenal dengan “Beureuha” sekarang lebih dikenal dengan Pante Cermen, Imuem Beureuha dan Imuem Katong dapat ditundukkan, di tempat ini beliau dan bala tentaranya bermukim selama tiga musim panen, guna mempersiapkan perbekalan sebelum menakluk Negeri Indra Jaya, selanjutnya melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan rakit bambu melalui sungai yang airnya sangat deras menuju kewilayah pesisir Negeri Indra Jaya, sesampai di Negeri Lamno terjadi ketegangan dengan penguasanya yaitu “Datuk Paghu” dan puteranya “Muda Perkasa” dengan penuh kebijaksanaan “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” segera dapat mengatasinya, dan akhirnya  “Datuk Paghu” dan puteranya “Muda Perkasa” mengaku takluk. Kemudian melanjutkan perjalanannya sampai mendekati muara sungai, dan beliau mendarat pada satu tempat yang sampai sekarang di kenal dengan nama Gampong Darat. Raja “Johan Pahlawan” sebagai penguasa Negeri Kuala Daya, segera di hubungi oleh diplomasi jihad yang deplomatis sehingga Negeri Kuala Daya dapat ditaklukkan. Setelah menakluk dua Negeri ini beliau beserta rombongan melanjutkan perjalanan ke tujuan pokok yaitu menakluk Negeri Keuluang dan mengusir pendudukan portugis yang sedang merong-rong “Datuk Pahlawan Syah” tapi yang sangat menyedihkan “Datuk Pahlawan Syah” telah dibujuk dan diikat melalui bermacam-macam perjanjian oleh Portugis, ditambah lagi selera hidupnya yang ala eropa, sehingga berualang kali hubungan deplomasi yang di bangun oleh “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” dan bala tentaranya mengalami jalan buntu, dan pada akrhirnya terjadi pertempuran sengit, dalam pertempuran ini pada awalnya Portugis membantu sepenuhnya angkatan perang “Datuk Pahlawan Syah”, tapi pada saat posisi pertahanannya mulai dikuasai oleh pasukan “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” maka portugis mengkhianati “Datuk Pahlawan Syah” dan mundur ke Kuala Keuluang dan kembali kepangkalannya di Goa. Berkat kebijaksananaan baginda “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” tetap menempatkan “Datuk Pahlawan Syah” yang takluk tanpa syarat pada posisinya  semula, hanya saja urusan luar negeri dan perdagangan yang ditangani oleh baginda, ketentuan ini juga berlaku bagi “Datuk Muda Perkasa” dan Raja Johan Pahlawan.

Dengan ditakluknya Negeri Keuluang maka seluruh kekuatan “Datuk Paghu” telah bersatu, dan terbentuklah pemerintahan baru di Indra Jaya yang di pimpin oleh raja pertama yaitu : “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah”, dengan nama wilayahnya Negeri Daya.

Setelah tiga Negeri ini berhasil ditaklukkan, “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” mengirim utusan diplomasi ke Negeri Kuala Unga dan mengajak untuk bersatu di bawah bendera Negeri Daya, usaha ini tidak mengalami kendala yang berarti, sehingga diseluruh lembah Daya yang membentang:

  1. Utara dengan Glee Geurutee.
  2. Selatan dengan Krung No.
  3. Barat meliputi seluruh pesisir pantai.
5) PEMERINTAHAN NEGERI DAYA
Kepada empat Negeri yang telah ditakluk, “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” mengkoordinir keempat Negeri ini yang masing-masing memperoleh hak otonom untuk mengatur Kerajaannya sendiri, antara lain:
  1. Wilayah Negeri Kuala Daya meliputi Lam Beusoe tetap di kuasai dan diperintahkan oleh “Johan Pahlawan” atau Syeh Johan”.
  2. Wilayah Negeri Keuluang Lamno tetap di kuasai dan diperintahkan oleh “Datok Pahlawan Syah” yang dikenal sebagai pemberani.
  3. Wilayah Negeri Lamno, tetap di kuasai dan diperintahkan oleh “Muda Perkasa”.
  4. Wilayah Negeri Unga , tetap di kuasai dan diperintahkan oleh keturunan “Meurah Pupok” atau “ Teungku Disagob”.

Pusat pemerintahan (Ibu kota) Negeri Daya “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” menetapkannya di “Lamkuta” dan “Kuta Dalam” kedua tempat ini sekarang terletak di Gampong Glee Jong, Kemukiman Kuala Daya.

Untuk kelancaran administrasi pemerintahan “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” menetapkan jabatan dan satuan tugas serta mengangkat:

  1. Seorang dengan jabatan Wazir merangkap Katibul Muluk.
  2. Seorang dengan jabatan Hakim Tinggi.
  3. Seorang dengan jabatan Mufti Besar.
  4. Seorang dengan jabatan Panglima.
  5. Beberapa orang Menteri Negeri.
  6. Empat orang dengan jabatan Staf Sulthan dalam setiap sidang penting yaitu masing-masing dijabat oleh raja Negeri.

Dalam masa pemerintahannya, “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” telah mengukir sejarah karena dalam masa pemerintahannya telah mampu menciptakan kesejahteraan dan kejayaan bagi rakyatnya di Negeri Daya, pengembangan ekonomi Negeri Daya diciptakan melalui:

  1. Membangun dan mengembangkan usaha pertanian dengan membangun irigasi, percetakan sawah baru, yang dirintis sejak baginda mendarat di BEUREUHA.
  2. Menumbuh kembangkan sikap solidaritas di  Negeri Daya.
  3. Mendidik generasi muda sebagai tentara dan tenaga professional dalam rangka menjaga kedaulatan Negeri.
  4. Membuka usaha-usaha perkebunan dengan memfasilitasi modal usaha yang cukup kepada rakyatnya yang melakukan usaha disektor perkebunan.
  5. Mendirikan pondok pendidikan islam agar Rakyatnya dapat mendalami ilmu agama, karena sebelumnya telah berantakan.

Ditengah kesejahteraan dan kejayaan, rakyat Negeri Daya kembali berduka karena tepatnya pada 7 hari bulan Ra’jab 913 Hijriah baginda “Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah” wafat, dan dimakamkan dipuncak bukit di Gampong Gle Jong yang sejak saat itu diabadikan namanya yaitu Gle Kandang. Baginda meninggalkan dua orang anak, yaitu:

  1. Raja Unzir.
  2. Puteri Nurul Huda atau Siti Hur.

Raja Unzir menggantikan posisi ayahdanya untuk memerintahkan Negeri Daya,  dalam masa yang sangat singkat (hanya beberapa tahun saja), sedangkan Puteri Nurul Huda atau Siti Hur menikah dengan “Raja Ali Mughayat Syah” putera raja Aceh Darussalam “Sulthan Syamsul Syah” yang berkuasa pada tahun 902 – 916 Hijriah.

6) KERAJAAN NEGERI DAYA MENJADI KESATUAN KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

“Sulthan Syamsul Syah” digantikan oleh puteranya “Sulthan Ali Mughayat Syah” berkuasa pada tahun 916 – 936 Hijriah atau tahun 1511 – 1530 Masehi, dalam masa pemerintahannya selalu disibukkan oleh berbagai kegiatan untuk memerangi Portugis diseluruh perairan Nanggroe Aceh Darussalam, sementara Adiknya “Raja Ibrahim” ditugaskan di wilayah Aru, guna membendung armada Portugis dibagian pesisir timur Nanggroe Aceh Darussalam, dengan jabatan “Raja Muda” dan “Raja Muda” wafat di Aru pada tahun 930 Hijriah.

Untuk menggantikan pimpinan di Aru baginda “Sulthan Ali Mughayat Syah” segera mengutuskan “Raja Unzir”, sehingga pada saat itu Negeri Daya tidak memiliki Pimpinannya, dan sejak saat itu pula Kedaulatan Negeri Daya menjadi kerajaan inti Aceh Darussalam, disamping Pidie yang dipimpin serta dikendalikan langsung oleh baginda “Sulthan Ali Mughayat Syah”, sebagai perwakilan pemerintahan di Negeri Daya baginda “Sulthan Ali Mughayat Syah” menetapkan Puteri Nurul Huda atau Siti Hur isterinya untuk menjalankan pemerintahannya di Negeri Daya. Tepatnya pada bulan Jumadil Awal tahun 931 Hijriah atau tahun 1526 Masehi “Raja Unzir” wafat di Aru.

Baginda “Sulthan Ali Mughayat Syah”  mangkat pada hari Selasa 12 Zulhijjah tahun 936 Hijriah atau 1530 Masehi, maka sejak saat itu  Puteri Nurul Huda atau Siti Hur isteri Baginda “Sulthan Ali Mughayat Syah”   berkuasa penuh di Negeri Daya pada tahun 93 – 960 Hijriah atau tahun 1530 – 1554 Masehi, dan beliau mangkat pada hari Kamis tanggal 11 Muharram tahun 960 Hijriah atau tahun 1554 Masehi.

Setelah mangkatnya Puteri Nurul Huda atau Siti Hur isteri Baginda “Sulthan Ali Mughayat Syah” sejak saat itu pula Negeri Daya mengalami kemunduran, ini semua disebabkan jauhnya hubungan dengan pemerintahan pusat, dan sering kali timbul peperangan antara empat raja di Negeri Daya, karena memperrebutkan pajak Lada, peperangan ini sering timbul sampai dua abad lamanya.

Semenjak Kerajaan Aceh Darussalam di perintahkan oleh “ Raja Sulthan Jamalul Alam Badrul Munir” atau “Po Teu Jamaloy” Negeri Daya kembali mendapat perhatian khusus.

7) TRADISI PADA KERAJAAN NEGERI DAYA

“ Sulthan Jamalul Alam Badrul Munir” atau “Po Teu Jamaloy” yang berkuasa pada tahun 1711 – 1735 Masehi, dalam mengambil kebijakannya kurang mendapat sambutan dan tidak disukai oleh Pembesar-pembesar kerajaan di Aceh,  sehingga baginda tidak memperoleh dukungan kuat untuk kekuatan pemerintahan pusat“ oleh karena itu baginda sering melakukan kunjungan-kunjungannya untuk mencari simpati dari raja-raja kecil yang merupakan kesatuan dari kerajaan Aceh Darussalam.

Baginda “ Sulthan Jamalul Alam Badrul Munir” atau “Po Teu Jamaloy” melakukan lawatan khusus ke Negeri Daya untuk menertibkan pemerintahan yang sudah semeraut, sesampainya di Negeri Daya Baginda menghimpun semua raja-raja, kepala adat dan unsure lain yang ada kaitannya dengan pemerintahan Negeri Daya, pada kesempatan itu baginda menetapkan beberapa ketentuan yang tidak boleh dilanggar oleh segenap unsure di Negeri Daya, diantaranya:

  1. Kedaulatan Raja-raja di Negeri Daya tetap berjalan sebagaimana mestinya, hanya pajak usaha yang tetap disetor kepada Raja Aceh Darussalam.
  2. Keturunan hakim tinggi pada masa “Po Teumeureuhom” ditunjuk sebagai coordinator urusan kehakiman serta melakukan perdamaian jika terjadi perselisihan atau sengketa di antara Raja-raja di Negeri Daya.
  3. Untuk mengenang jasa “Po Teumeureuhom” menetapkan upacara agung yang diselenggarakan pada setiap 10 Zulhijjah sebagaimana yang selalu diselenggarakan oleh  “Po Teumeureuhom”, yaitu upacara “Seumuleng dan Peumeunab” merupakan upacara kenegaraan pada setiap tahunnya, dan ditentukan pula tata cara pelaksanaannya serta badan pelaksana dari turun temurun,.
  4. Dalam pelaksanaan upacara “Seumuleng dan Peumeunab” yang merupakan upacara kenegaraan,  sehingga ditetapkannya pula standard perlengkapan upacara, meliputi:
  • Sebidang tanah lapang sebagai alun-alun yang ditengahnya dibangun “balee astaka di Raja”  sebagai tempat pelaksanaan upacara, dan disekelilingnya untuk para pengunjung upacara.
  • Tidak jauh dari “balee astaka di Raja” dibangun “Balee Peuniyoh” untuk para tamu dan pembesar Negeri yang diundang untuk menyaksikan upacara.
  • Jauh sedikit dari “balee astaka di Raja” dibangun “Balee Meunaroi dan Jambo Dabeuh” yang digunakan sebagai tempat dihidangkan kenduri (makanan) dan tempat menyimpan benda-benda “Po Teumeureuhom” sebelum dipakai dalam upacara.Disebelah kiri pentas di Raja duduk para pemimpin peut sagoe Daya yaitu: Teuku Alue Encek, Teuku Muda Kuala, Teuku Datok Johan Syah Banda Meunaga (Kuala Daya), Teuku Datok Perkasa Lamno, dan Keturunan Datok Pahlawan Syah Keuluang.

Tata tertib upacara “Seumuleng dan Peumeunab” yang merupakan upacara kenegaraan, dilaksanakan sebagai berikut:

  • Raja memasuki “balee astaka di Raja” dengan diiringi oleh “Wazir” serta pembantunya dijaga oleh panglima. Para hadirin berdiri serta menyambut kedatangan Raja dengan meneriakkan “Daulad Tuanku”.
  • Raja mengambil tempat dan dua “Khadam” duduk mengipas raja.
  • Acara pembukaan oleh “Wazir” dan mempersilahkan raja untuk menyampaikan amanat kepada rakyatnya dan kepada para hadirin.Pembacaan “Do’a atau Khatam Payang” yang dibacakan oleh “Mufti Besar Negeri Daya atau Mahdum Syah Babah Dua”, atau oleh “Petua Mahkamah Agama Rantoe XII Keuluang Teunom yaitu Teungku Chik Rumpet”.

8) KERAJAAN NEGERI DAYA DIMASA YANG AKAN DATANGPewaris tahta ke-12 yaitu “Raja Saifullah”, bertekad untuk mengembalikan marwah Negeri Daya, serta menciptakan kemakmuran bagi rakyat di Negeri Daya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai islam yang bertujuan untuk mengembalikan kejayaan Negeri Daya sebagaimana masa leluhurnya.

Untuk mencapai maksud tersebut, Baginda Raja Saifullah selalu memperjuangkannya melalui Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dan Pemerintah Aceh agar dapat mengalokasikan dana untuk membangun taman Kerajaan Negeri Daya, yang dilengkapi dengan fasilitas:

  1. Pelabuhan.
2. Pagar keliling.
3. Gerbang masuk dan Keluar.
4. Jalan lingkungan.
5. Pos Scurity.
6. Gedung Mesium Kerajaan Negeri Daya.
7. Monumen Kerajaan Negeri Daya.
8. Mushalla.
9. Gedung “Balee Astaka Di Raja”.
10. Gedung “Balee Peuniyoh”.
11. Gedung “Balee Meunaroi”.
12. Gedung “Balee Jambo Dabeuh”.
13. Instalasi air bersih.
14. Taman mainan anak-anak.Menurut Baginda Raja Saifullah, dana yang di keluarkan untuk pembangunan taman Kerajaan Negeri Daya, dapat memberi dampak yang sangat positif, diantaranya:

  1. Masyarakat di Negeri Daya akan sadar terhadap kedaulatan dan  kemampuan pendahulu mereka dengan diwariskan peradaban yang sangat berharga di abad ini, sehingga mereka akan tumbuh menjadi generasi yang aktif serta menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi leluhurnya.
  2. Menjadi situs yang sangat bersejarah, dan akan menjadi objec Wisata di Kabupaten Aceh Jaya yang sangat diincar oleh turis manca Negara terutama Amerika Serikat, Inggris, Portugal dan Negara-negara Arab, dengan sendirinya menjadi Income bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya.
  3. Menjadi symbol (Icon) objek wisata di kabupaten Aceh Jaya, sehingga Daerah ini akan dikenal diseluruh dunia seperti sedia kala.
  4. Sudah seharusnya menjadi prioritas pemerintah, karena Negeri Daya merupakan titik pertahanan wilayah Pantai barat Aceh dalam melawan Armada Cina dan penjajahan Portugis, serta Kerajaan Negeri Daya merupakan kerajaan inti Kerajaan Aceh Darussalam.
  5. Pembangunan ini menjadi modal awal untuk menarik minat investor untuk berinvestasi di Kabupaten Aceh Jaya.
  6. Negara yang maju adalah Negara yang menjaga Situs Peradabannya, yang merupakan peninggalan pendahulunya, dan akan kehilangan jati dirinya disaat dia mengabaikan peradabannya, dan hina dimata Negara lain yang menjaga peradabannya.

Selanjutnya Baginda Raja Abdullah, memperjuangkan kemandirian masyarakatnya dalam bidang ekonomi melalui pengembangan sector usaha di Bidang Pertanian, peternakan, Perkebunan, Perikanan, kelautan, perdagangan, industry rumah tangga dan bidang pertambangan serta menciptakan akses informasi, kegiatan ini diharapkan mampun menciptakan kesejahteraan dalam bidang kesehatan dan pendidikan, karena setelah ekonominya mapan sudah pasti Kesehatan dan pendidikan rakyat saya akan pasti dapat terpenuhi, kuncinya hanya pemberdayaan ekonomi yang perlu kita kembangkan.

Wassalam
Pewaris Tahta ke-12 Kerajaan Negeri Daya: Raja Saifullah


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: