Aceh – Mukim

Bentuk teritorial yang lebih besar dari gampong yaitu Mukim.

Mukim ini merupakan gabungan dari beberapa buah gampong yang letaknya berdekatan dan para penduduknya melakukan sembahyang bersama pada setiap hari Jumat di sebuah masjid. Pimpinan disebut Imum Mukim.
Mukim terbentuk dari minimal empat gampong. Setiap mukim dipimpin oleh seorang Uleebalang atau seorang Imuem. Beberapa mukim membentuk suatu “Nanggroe” yang dipimpin oleh Uleebalang.

Hal ini tentunya dimaksudkan untuk tujuan politis, yaitu bila terjadi peperangan dengan pihak luar agar mudah menghimpun tenaga-tenaga tempur. Dalam perkembangannya fungsi Imum Mukim menjadi kepala pemerintahan dari sebuah Mukim. Dialah yang mengkoordinir kepala-kepala kampung atau Keuchik-Keuchik. Dengan berubahnya fungsi Imum Mukim berubah pula nama panggilannya, yakni menjadi Kepala Mukim. Untuk pengganti sebuah imam sembahyang pada setiap hari Jum’at di sebuah masjid, diserahkan kepada orang lain yang disebut Imuem Mesjid.

Dalam bekas kesultanan Aceh, di Aceh Besar sekitarnya, dibentuklah federasi mukim yang disebut Sagoë Mukim atau Sagi Mukim. Federasi ini disebut juga dengan Aceh Lhèë Sagoë. Mukim Sagoë dipimpin oleh seorang Panglima Sagoë atau Panglima Sagi.

Ketiga Sagoë Mukim itu adalah:
* Sagi XXV Mukim, dibentuk dari 25 mukim,
* Sagi XXVI Mukim, dibentuk dari 26 mukim,
* Sagi XXII Mukim, dibentuk dari 22 mukim.

Sagi XXV Mukim dan Sagi XXVI Mukim daerahnya dipisahkan oleh Krueng Aceh.

Sagi XXV Mukim di kiri dan berpusat di mesjid Indrapurwa Pancu.
Sagi XXVI Mukim dikanan dan berpusat di mesjid Ladong.
Sagi XXII Mukim menguasai daerah di bagian selatan dan berpusat di mesjid Indrapuri.

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Mukim_(Aceh)


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: