Alor, kerajaan / P. Alor – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Alor terletak di pulau Alor. Kab. Alor, Prov. Nusa Tenggara Timur.

The Kingdom of Alor is located on the island of Alor. District of Alor.
For english, click here

Lokasi pulau Alor

—————————-
Lokasi Pulau Alor


Raja kerajaan Alor

Present Raja (2008): Raja Muda Muhammad Marzuki Nampira.


Sejarah / History kerajaan Alor

Umum

Dinasti Nampira sebenarnya berasal dari kerajaan Lamakera di pulau Solor (sebelah timur dari Alor dan Flores), sesuai dengan tradisi lokal.
Judul lokal untuk Kapitan adalah Atabeng.
Keluarga raja Nampira di pulau Alor sebelum hanya adalah Kapitan Dulolong, di sisi lain dari teluk Kalabahi dari kediaman raja-raja Alor dari apa yang sekarang mereka sebut dinasti Tulimau.
Beberapa raja dari dinasti ini sangat nonbekerja sama, tidak cocok benar-benar menjadi raja dan mungkin beberapa alasan lain.

Pulau Alor

Tentang raja Nampira

Ditulis oleh Eka R. Abdurachman Nampira, SP

Bapak Raja Nampira Bukang berkuasa sejak tahun 1908 sampai dengan tahun 1915. Saat itu terjadi peralihan kekuasaan oleh Belanda dari Dinasti Tulimau di Alor Besar kepada Dinasti Nampira di Dulolong. Belanda lebih memilih Bapak Nampira Bukang dari dinasti Nampira di Dulolong karena beliau berpendidikan dan fasih berbahasa Belanda. Sebagai kompensasinya, putra mahkota Tulimau ditunjuk sebagai Kapitan Lembur. Bapak Raja Nampira Bukang meninggal dunia pada tahun 1915. Setelah meninggal, kekuasaan raja beralih ke putranya yakni Bapak RAJA MARDJUKI BALA NAMPIRA (anak Raja Nampira Bukang dari istri ke-5).

Mardjuki Bala Nampira, memerintah 1915 – 1918

Ketika terjadi peralihan kerajaan oleh Belanda kepada Raja Nampira pada tahun 1908, terjadi protes sampai dengan pengalihan dari Raja Nampira Bukang ke anaknya Raja Mardjuki Bala Nampira (Raja Nampira ke-2) yang memerintah dari tahun 1915 sampai dengan 1918, tapi protes tersebut kemudian diredam dengan bantuan Belanda. Terjadi protes karena anggota-anggota Galiau Watang Lema menganggap pergantian raja tersebut sebagai pelanggaran dalam aliansi mereka, karena para sekutu mereka telah dipermalukan.

Rasa tidak puas dan protes pengalihan kerajaan oleh Belanda tersebut kepada Raja Nampira, karena mereka diharuskan tunduk dibawah kekuasaan Raja Nampira termasuk Kerajaan Abui dan Munaseli. Para sekutu Galiau Watang Lema yang tidak puas dengan pengalihan kekuasaan raja itu menjanjikan sebuah moko yang bernilai tinggi kepada seorang wanita dari Manet bernama Malailehi apabila dapat membunuh Raja Nampira. Dengan cara ini mereka berniat mengembalikan takhta Bunga Bali ke Alor Besar. Pada tahun 1918, Raja Nampira ke-2 yang menggantikan ayahnya meninggal dunia di Atengmelang. Penyebab meninggalnya Raja Nampira ke-2 ini masih diperdebatkan sampai saat ini.
Sebagai pengganti dari Raja ke-2 Nampira ini adalah Raja Oemar Watang Nampira sebagai Raja Nampira ke-3. Dan Raja Oemar Watang Nampira menikah dengan Mama Holo Tulimau, dan berjalan dengan baik karena situasi sudah normal dan telah dimulai pembangunan seperti para istri pegawai pemerintah dikirim ke Alor, jalan utama di tengah kota, rumah-rumah pegawai Pemerintah Kolonial dibangun, juga kerja sama dengan lima kerajaan di Alor dan Pantar relatif baik.

Raja Umar Watang Nampira, memerintah 1919 – 1952

 Bapak Raja Nampira Bukang memiliki 7 (tujuh) istri. Istri pertama Mama Lilo Todo berasal dari Mananga / Solor / Flores Timur dan dikarunia 5 (lima) orang anak yakni; 1) anak pertama Bapak Watang Nampira; meninggal di Mekka Tanah Suci saat menunaikan ibadah Haji ditanah suci pada tahun 1911, 2) anak kedua Ina Wadang Nampira (Ina Wadang Nampira menikah dengan Bapak Boki yang berasal dari Lamahala suku Hering Guhir dan dikaruniahi 4 (empat) orang anak yakni; Bapak Tahir Boki, Mama Gina Boki, Bapak Minta Boki dan bapak Kasim  M. Tahir). 3) anak ketiga Bapak Koso Nampira meninggal di Waiwerang / Flores Timur, 4) anak keempat Bapak Noni Nampira, dan 5) anak kelima Bapak Ambao Nampira.

Istri ke-2 dari Bapak Raja Nampira Bukang adalah Amma Saloi atau biasa dipanggil Ina Holo, Ina Holo adalah anak dari Raja Lamakera / Flores Timur dan dikaruniahi 4 (empat) orang anak yakni; 1) Ina Lensu Nampira, menikah dengan Bapak Raja Tulimau, asal suku Bunga Bali – Alor Besar dan dikaruniahi seorang anak yakni; Mama Holo Bunga Tulimau. 2) Amma Somi Nampira, 3). Haji Abdurahman Nampira. H. Abdurachman Nampira meninggal dunia pada tahun 1940, Bapak H. Abdurachman Nampira menikah dengan Ina Kou dari Lakaduli-Alor Kecil dan dikaruniahi 6 (enam) orang anak yakni; Bapak Halim Abdurachman Nampira, Bapak Haji Ilyas Abdurachman Nampira (bapak H. Ilyas Nampira memiliki anak; Sofyan Abdurachman Nampira, Muslich Abdurachman Nampira, Ahmad Abdurachman Nampira, Hj. Hapsah Abdurahman Nampira, Norma Abdurachman Nampira, Arifin Abdurachman Nampira, Aisya Abdurachman Nampira), Bapak Mardzuki Abdurachman Nampira, Mama Holo H. Abdurachman Nampira, Bapak Saleh H. Abdurachman Nampira, Hajja Siti Khadijah Abdurachman Nampira.  4) Ina Lima Nampira.

Ahmad Bala Nampira, memerintah 1952 – 1962

Istri ke-3 dari Bapak Raja Nampira Bukang adalah Mama Leti, berasal dari suku Lekaduli Alor Kecil dan dikaruniahi 7 (tujuh) orang anak. Istri ke-4 bapak Raja Nampira Bukang adalah Ina Patu berasal dari kampung Foang/Hamap dan dikaruniahi seorang anak perempuan yakni Mama Helang. Istri ke-5 dari bapak Raja Nampira Bukang adalah Mama Hulu yang berasal dari suku Uma Sina Alor Kecil dan dikaruniahi 4 (empat) orang anak  yakni; bapak Mardzuki Bala Nampira (bapak Mardzuki Bala Nampira yang dilantik menjadi Raja Alor ke-2 ini menikah dengan Mama Koda yang berasal dari suku Bugis/Makasar dan dikaruniahi 2 (dua) orang anak yakni : Bapak Ahmad Bala Nampira kemudian menjadi Raja Alor ke-4 dan Mama Doti Nampira). Istri ke-6 (enam) dari Bapak Raja Nampira Bukang adalah Mama Bui Wanja yang berasal dari suku Mudiluang Alor Kecil. Istri ke-7 dari Bapak Raja Nampira Bukang adalah Ina Malle yang berasal dari Foang/Hamap.

Daftar Raja kerajaan Alor

1) 1908 – 1915: Nampira Bukang, http://rajanampira.blogspot.com/2017/01/raja-nampira-bukang.html
2) 1915 – 1918: Mardjuki Bala Nampira, http://rajanampira.blogspot.com/2017/01/raja-mardjuki-bala-nampira.html
3) 1919 – 1952: Oemar Watang Nampira, http://rajanampira.blogspot.com/2017/01/raja-oemar-watang-nampira_14.html
4) 1952 – 1962: Ahmad Bala Nampira, http://rajanampira.blogspot.com/2017/01/raja-ahmad-bala-nampira.html

Raja Nampira Bukang, memerintah 1908 – 1915


Kerajaan kerajaan di pulau Alor

* Kerajaan Abui,
* Kerajaan Alor,
* Kerajaan Batulolong,
* Kerajaan Bungabali,
* Kerajaan Kolana,
* Kerajaan Kui,
* Kerajaan Mataru,
* Kerajaan Pureman.


Sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Alor

Menurut ceritra yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.

Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, pada akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.

Sekitar awal tahun 1300-an, detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli, tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli, sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alo. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa. Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan.
Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua di Pantar. Aliansi 5 kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya. Bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.
Pendiri ke 5 kerajaan daerah pantai tersebut adalah 5 Putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua diantara mereka memerintah daerah tersebut. Pada masa ini ada sebuah perjanjian yang disepakati,dimana perjanjian itu dinamakan perjanjian Lisabon pada tahun 1851.

Berdasarkan catatan Antonio Pigafetta, seorang ilmuwan dan penjelajah asal Venesia, pada 9 sampai 25 Januari 1522, pulau Alor-Pantar dikunjungi oleh kapal Victoria, yakni sisa terakhir dari armada Magellan. Antonio menulis bahwa ketika sampai ke Alor-Pantar, ia menemukan penduduk pulau ini buas seperti hewan dan makan daging manusia. Mereka tidak mempunyai raja dan tidak berpakaian. Mereka hanya memakai kulit kayu, kecuali kalau pergi ke medan perang.

Berdasarkan sejarah, pada masa kekuasaan Portugis, Portugis di Alor hanya terbatas pada pengibaran bendera pada beberapa daerah pesisir, seperti di Kui, Mataru, Batulolong, Kolana, dan Blagar. Begitu pula pada masa awal pendudukan Belanda, hanya terbatas pada pengakuan atas penguasa-penguasa yang berada di pesisir dan pada penempatan seorang Posthouder di Alor Kecil, tepatnya di pintu teluk Kabola pada tahun 1861.

Dengan Perjanjian Lisabon pada tahun 1851, kepulauan Alor diserahkan kepada Belanda dan pulau Atauru diserahkan kepada Portugis. Orang-orang Portugis sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menduduki Alor, walaupun masih ada sisa-sisa dari zaman Portugis seperti sebuah jangkar besar di Alor Kecil.

Pada tahun 1911, Pemerintah colonial Belanda memindahkan pelabuhan laut utama dan pusat Pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Kalabahi dipilih karena datarannya lebih luas dan lautnya lebih teduh. Kota Kalabahi artinya pohon kusambi, yang mana dulunya memang menghutani dataran ini. Dengan pemindahan pusat kekuasaan ke Kalabahi, Pemerintah colonial Belanda menempatkan Mr. Bouman sebagai Kontroler pertama di Alor. Sebelumnya tanda kehadiran colonial belanda di Alor, hanya terdiri dari seorang penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan.

Pada masa kontroler Bouman, beberapa pegawai pemerintah Belanda didatangkan. Upaya-upaya mengkristenkan para penganut animismepun mulai dilakukan. Baptisan pertama dilakukan pada tahun 1908 di pantai Dulolong. Pada masa ini Alor terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).

Pada tahun 1912 terjadi pengalihan kekuasaan raja dari dinasti Tulimau di Alor Besar kepada dinasti Nampira di Dulolong. Pemerintah colonial Belanda lebih cenderung memilih Nampira Bukang menjadi raja Alor sebab beliau berpendidikan dan fasih berbahasa belanda. Sebagai kompensasi, putra mahkota Tulimau ditunjuk sebagai kapitan Lembur. Pengalihan kekuasaan ini menyebabkan terjadinya beberapa pemberontakan namun dapat diredam dengan bantuan Belanda, sehingga sehingga secara tidak langsung pengalihan kekuasaan ini telah menjadi bibit salah satu lembaran hitam sejarah Alor dengan terbunuhnya Bala Nampira.

Di masa pendudukan Belanda di tahun 1910 -1916, Belanda banyak mendapat tantangan dari rakyat Alor-Pantar. Kerajaan-kerajaan yang terkenal sering melakukan perlawanan adalah Kerajaan Bunga Bali, Kerajaan Kui, Kerajaan Kolana, Kerajaan Pureman, Kerajaan Mataru, Kerajaan Batulolong, Kerajaan Baranusa, Kerajaan Pandai, dan Kerajaan Blagar. Namun, Belanda dengan devide et impera (Politik pecah belah atau politik adu domba) dan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) akhirnya berhasil menaklukkan para raja tersebut. Dari 9 kerajaan yang sering melakukan perlawanan, Belanda akhirnya melakukan perampingan hingga tertinggal 4 kerajaan, yakni Kerajaan Kui, Kerajaan Alor Pantar, Kerajaan Kolana, dan Kerajaan Batulolong. Dengan demikian, Belanda semakin mudah melakukan pengawasan.


Kepaulauan Sunda Kecil 1602

———————————

Kepaulauan Sunda Kecil 1748 (Alor = I. Omba)


Sumber / Source

Raja dari kerajaan Nampira: http://rajanampira.blogspot.com/2017/01/raja-nampira-bukang.html
———————

– Sejarah kerajaan2 P. Alor: http://inihari.co/blog/2019/03/03/sekilas-tentang-sejarah-alor/
– Sejarah kerajaan2 P. Alor: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Alor#Sejarah
– Sejarah kerajaan2 P. Alor: http://alorkab.go.id/new/index.php/profil/sejarah1

– Suku Alor: http://suku-dunia.blogspot.nl/2014/08/sejarah-suku-alor-di-nusa-tenggara.html


 

3 Comments

3 thoughts on “Alor, kerajaan / P. Alor – Prov. Nusa Tenggara Timur

    • Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia / Sultanates and Kingdoms in Indonesia

      Terima kasih atas kirim info ini. Paul, penerbit website

  1. Chief rajas are Alor(old and new dynasty;Nampira is new dynasty),Batulolong,Kui and Kolana,Then you have some more little dyansties ,which the bigger dynasties not want tom recognizwe as real rajas like Mataru.Look for all info on the Almanach de Bruxelles site.But..sorry..I do not think he will like you take all info fromn there and put it on your site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s