Jimbarwana, kerajaan / Bali

Kerajaan Jimbarwana terletak di Bali, kab. Jembrana.

Lokasi pulau Bali

Lokasi Kab. Jembrana


* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


Sejarah kerajaan Jimbarwana

– Sumber: http://kadekagusekapermana.blogspot.com/2017/02/sejarah-desa-dangintukadaya_23.html

Menurut sumber yang mengetahui dan layak dipercaya disamping juga dipadukan dengan prasasti Druwe Jero Bakungan bahwa asal usul Desa Dangintukadaya berkaitan erat dengan keberadaan kerajaan Jimbarwana pada zaman Bahari dan Kerajaan Berangbang dan Kerajaan Jimbarwana diserang oleh I Gusti Ngurah Panji Sakti Raja Kerajaan Denbukit (Buleleng), tahun 1660-an. Di dalam peperangan tersebut kalahlah Kerajaan Berangbang dan Kerajaan Jimbarwana serta sekaligus menjadi kekuasaan Kerajaan Denbukit (Buleleng). Dengan perdamaian Gelar (Perdamaian dilakukan di medan peperangan di lembah Gunung Merbuk dan sampai sekarang tempat tersebut bernama Gelar).

I Gusti Ngurah Giri Raja Kerajaan Berangbang dan I Gusti Pancoran Raja Kerajaan Jimbarwana ditunjuk sebagai Mangkubumi atas daerah kekuasaan masing-masing  dibawah Pengawasan Patih I Gusti Ngurah Tamblang. I Gusti Ngurah Tamblang adalah Patih dari Kerajaan Denbukit (Buleleng) yang memimpin Pasukan Goak untuk menggempur Kerajaan Berangbang dan Kerajaan Jimbarwana. Berkat jasanya itu, disamping beliau ditunjuk sebagai pengawas terhadap kedua Mangkubumi tersebut, juga beliau diberikan daerah kekuasaan khusus yaitu disebelah timur sungai aya. Disitulah kemudian beliau bermukim dengan diikuti oleh para Hulubalang dan prajurit-prajurit Kerajaan Denbukit (Buleleng).

Tidak berselang lama daerah pemukiman I Gusti Ngurah Tamblang berkembang dengan pesatnya dengan kedatangan imigran besar-besaran dari Denbukit (Buleleng). Membuka hutan blantara sekitarnya, dijadikan perladangan dan persawahan sehingga akhirnya daerah yang tadinya kecil lambat laun menjadi besar. Karena I Gusti Ngurah Tamblang pulang ke Denbukit (Buleleng), sebagai pengganti beliau ditunjuklah I Gusti Ngurah Meranggi. Untuk mengenang jasa-jasa I Gusti Ngurah Tamblang oleh Raja I Gusti Ngurah Panji Sakti, daerah kekuasaan I Gusti Ngurah Tamblang ditetapkan menjadi Kerajaan Tamblang dalam kesatuan Denbukit (Buleleng).

Dalam kepemimpinan I Gusti Meranggi atas Kerajaan Tamblang suasana kehidupan masyarakat antara masyarakat Kerajaan Jimbarwana dan masyarakat Kerajaan Berangbang dalam keadaan damai, aman, tentram dan sejahtera. Akan tetapi tanpa sama sekali diduga oleh Raja I Gusti Ngurah Meranggi, Raja Anak Agung Made Agung dari Kerajaan Denbukit (Buleleng) setelah peperangan sengit sekian lamanya, kalanya Kerajaan Denbukit (Buleleng) dan sekaligus menjadi kekuasaan kerajaan Mengwi termasuk juga daerah kekuasaan Kerajaan Tamblang, Kerajaan Jimbarwana dan Kerajaan Berangbang dibawah kekuasaan Raja Anak Agung Made Agung (Raja Mengwi) dalam proses selanjutnya Kerajaan Tamblang, Kerajaan Jimbarwana serta Kerajaan Berangbang oleh Anak Agung Made Agung dijadikan satu kerajaan yang diberi nama Kerajaan Jembrana.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: