Suku Bawean – Jawa

Orang-orang Bawean merupakan satu kelompok kecil dari masyarakat Melayu yang berasal dari Pulau Bawean yang terletak di Laut Jawa antara dua pulau besar yaitu Pulau Kalimantan di utara dan Pulau Jawa di selatan.
Pulau Bawean terletak sekitar 80 mil ke arah utara Surabaya, dan masuk kabupaten Gresik.

Lihat juga: Kerajaan Bawean

Lokasi pulau Bawean


Tentang Suku Bawean

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa

Pada mulanya, pulau ini dihuni oleh penduduk yang berasal dari Madura. Sementara pendapat menyatakan proses masuknya orang Madura kesini adalah sekitar tahun 1.350. Namun sekarang penduduk pulau ini tidak mau disebut orang Madura atau turunan orang Madura. Mereka ini memang merupakan hasil pembauran dengan para pendatang dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera, sehingga lahirlah satu masyarakat yang menamakan dirinya orang Bawean. Orang dari Sulawesi itu adalah orang-orang Bugis, dan yang dari Sumatera adalah orang Palembang yang di Bawean disebut “Kemas”.

Sebagian besar orang Bawean hidup dari pertanian sawah dan menangkap ikan (nelayan). Pertanian sawah ada yang dilaksanakan dengan setengah teknis dengan menggunakan irigasi, sedangkan sebagian lain merupakan sawah tadah hujan. Pada masa terakhir ini para nelayannya telah sering menggunakan perahu motor sehingga hasilnya bisa langsung dibawa ke Jawa atau ke pulau Madura. Ikan yang ditangkap adalah ikan tuna dan ikan bingkul. Selain itu penduduknya ada yang membuat tikar sebagai hasil kerajinan.

Sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan dalam bidang ekonomi, orang Bawean dikenal dengan budaya “merantau”nya, yang sudah berlangsung sejak sekitar 150 tahun yang lalu. Mereka merantau antara lain ke Singapura dan Malaysia, dan tentunya ke daerah lain di Indonesia. Di Singapura mereka disebut orang Boyan. Waktu merantau itu ada yang dalam jangka lama, sehingga Bawean sebagai kampung halaman hanya seolah-olah hanya untuk tempat lahir dan untuk mati saja. Bagaimanapun selama di rantau selama puluhan tahun mereka ingin tetap kembali ke Bawean. Namun sebagian dari mereka merantau itu untuk sekedar mencari uang dan setelah dapat mereka kembali lagi ke kampung.

Pada awalnya orang Bawean ini menganut kepercayaan yang animistis. Kemudian masuk pengaruh Hindu dan Buddha sesuai dengan peninggalan yang terdapat di desa Sidogedong Batu. Kini mereka adalah pemeluk agama Islam, yang diperkirakan setidak-tidaknya sejak sekitar tahun 1601. Pengalaman agama terbilang cukup kuat yang terlihat dari banyaknya tempat-tempat ibadah, seperti masjid, langgar dan madrasah. Anak-anak laki-laki yang berusia enam atau tujuan tahun mendapat pelajaran Agama atau mengaji di langgar. Anak perempuan mendapat pelajaran mengaji dan menginap di rumah kiyai perempuan. Para kiyai cukup dihormati dalam masyarakat Bawean.


Sumber

– Suku Bawean: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bawean
– Suku Bawean: https://www.negerisatu.id/2019/01/mengenal-suku-bawean-sub-suku-jawa/
– Suku Bawean: http://suku-dunia.blogspot.com/2016/05/sejarah-suku-bawean.html
– Budaya Suku Bawean: https://agama-agamalokal20174akelompok1.blogspot.com/2017/05/suku-bawean.html

Kerajaan Bawean