Masapi, katomakaan (kerajaan) / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Luwu Utara

Ketomakaan (kerajaan) Masapi terletak di Desa Sepakat, Kecamatan Masamba, prov. Sulawesi Selatan.
Pemimpin Masapi disebut Tomakaka. Wilayah yang dipimpin Tomakaka, disebut Katomakaan.
Katomakaan Masapi dibawah kerajaan Luwu.

Lokasi kab. Luwu Utara


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KATOMAKAAN MASAPI

Tentang pelantikan tomakaka Masapi, 9 febr. 2020

9 febr. 2020
Warga Kampung Adat Kombong Masapi, resmi mendapat tetua adat yang baru, setelah Amiruddin resmi dikukuhkan sebagai Tomakaka Kombong Pitu Masapi ke-25.

Kampung Adat Kombong Pitu Masapi berada di Desa Sepakat, Kecamatan Masamba dimana Kombong Pitu diartikan sebagai 7 wilayah kekuasaan yang nantinya akan dipimpin oleh tomakaka yang baru. Sementara, Tomakaka secara harfiah diartikan sebagai orang yang dituakan, dan memiliki gelar kepemimpinan yang bersifat non formal serta predikat pemangku adat yang dituakan untuk menjadi tempat bertanya tentang tradisi budaya agar tak hilang ditelan jaman.

Perwakilan Datu, dari Istana Kerajaan Luwu, Maddika Bua, Andi Syaifuddin, dalam sambutannya menjelaskan tugas tomakaka tidak hanya menjaga kelestarian budaya yang ada di wilayah adatnya, namun juga bagaimana menerapkan serta menaati seluruh aturan yang telah diberlakukan oleh tetua sebelumnya.

“Tugas tomakaka itu ada 3. Memimpin wilayahnya dengan aturan yang berlaku, mensejahterakan masyarakat juga bagian dari tugas tomakaka serta bagaimana menjaga lingkungannya. Dan itu juga perlu dibantu oleh pemerintah,” ungkap Maddika Bua seraya menyapa Sekretaris Daerah Luwu Utara.

Sementara itu, Sekda Armiady, dalam sambutannya mengatakan jika kehadiran Tomakaka Masapi merupakan salah satu bagian dari kearifan lokal yang sejalan dengan visi misi Kabupaten Luwu Utara yakni pembangunan daerah yang merata dan berlandaskan kearifan lokal, dimana Tomakaka serta perangkat adat lainnya yang ada di Luwu Utara, diharapkan dapat bersinergi dengan pemerintah menyelesaikan persoalan sosial yang ada di masyarakat.

“Di era seperti sekarang ini menjadi tantangan untuk menjaga kebudayaan serta adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur, dan disitulah peran perangkat adat, dan pemerintah tentu tidak akan lepas tangan. Selain itu kehadiran perangkat adat seperti tomakaka, makole dan lainnya sangat membantu pemerintah menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat melalui musyarawah,” terang Armiady.

Sejumlah ritual khas kampung adat masapi dilakukan sebelum pengukuhan berlangsung. Diantaranya penjemputan rombongan kedatuan secara adat yang diusung menggunakan bambu, dan disambut dengan tarian pangarru serta alunan musik dari lesung atau dalam bahasa setempat disebut dengan isung-isung.


Tentang katomakaan Masapi

Info di bawah di ambil dari: http://oedheentz.blogspot.com/2011/04/komunitas-adat-masapi.html

Komunitas Masyarakat Adat Masapi adalah merupakan hasil dari perkawinan seorang laki-laki yang berasal dari Kamiri atau anak datu dari Palopo yang bernama Mangirang dan seorang perempuan yang berasal dari Baluli yang sekarang bernama Balebo. Perkawinan tersebut menghasilkan 3 orang anak masing-masing bernama; Pese, Mo’ne dan Rangkei. Ketiga anak ini diberi kekuasaan untuk menempati wilayah yang masing-masing;

1. Pese diberi kekuasaan untuk menempati wilayah Masapi.
2. Mo’ne diberi kekuasaan untuk tinggal di Bone yang sekarang bernama Masamba
3. Rangkei diberi kekuasaan untuk tinggal di Uraso

Selain pemberian kekuasaan tersebut diatas, Pese diberi kuasa untuk membawahi kombongan pitu yaitu;

Masapi atau kombongan pitu yang terdiri atas Salu Bomba, Salu Tolambu, Manuk, Salu Lindu, Salu Balombong, Latang Tallang, Bala Kala. Nama Masapi memberi makna yang terkait dengan sumber kekayaan alamnya terutama sungai. Masapi adalah satu lembar daun tarra’ di sungai jika dibuka banyak ikan belut didalamnya.
• Maipi atau kombongan karua dan memiliki Tomakaka tersendiri,
• Mo’ne yang sekarang dibernama Masamba. Nama Mo’ne bermakna sebagai penghasil beras di tana rata
• Kombongan Kasera. Nama ini bermakna ada 9 kampung yaitu; Bone, KurriKurri, Baliase, Panda, Tondok Tuwara, Indo Koro, Po’do, Kappuna, Sa’pe (Tonduk Tua).


Tentang gelar Tomakaka

Daftar katomakaan: klik sini

Tomakaka adalah pemimpin adat suatu kelompok entitas sosial di tanah Mandar lama yang konon sudah ada sejak zaman prasejarah. Namun, beberapa daerah masih mempertahankan kelembagaan adat Tomakaka hingga saat ini.

Tomakaka yang menjadi pemimpin tradisional, menjadi simbol pemersatu yang dipatuhi oleh masyarakatnya. Walaupun Tomakaka adalah elit lokal yang berasal dari keturunan pemimpin tradisional sebelumnya, tetapi pengangkatannya dilakukan secara demokratis oleh masyarakat. Jabatan sebagai Tomakaka adalah jabatan tertinggi dalam komunitas sehingga kepadanyalah masyarakat mengharap atau memperoleh perlindungan, rasa aman dan keadilan dalam menjalani hidup keseharian. Karenanya, ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan dalam pengangkatan Tomakaka, yaitu:
(1) Tomakaka harus berasal dari turunan Tomakaka atau kajajian,
(2) Tomakaka harus mempunyai kamatuaan,
(3) Tomakaka harus memiliki kekayaan atau kasugiran,
(4) Tomakaka memiliki kebijakan dan kepintaran atau kakainawaan,
(5) Tomakaka memiliki keberanian atau kabaranian,
(6) Tomakaka serta memiliki rumpun keluarga yang besar (ma’rapun).

Peran Tomakaka adalah pengayom yang brekewajiban memberi perlindungan kepada warganya. Ia wajib menegakkan keadilan sosial dan memberi rasa aman serta menjamin situasi dan kondisi masyarakat tetap harmonis. Untuk menjalankan pemerintahan tradisional tersebut, Tomakaka dibantu oleh aparatnya yaitu: Tomatua, Bungalalan, Tomateri, Tomewara, Pa’takin, dan Ana Tomakaka yang masing-masing memiliki funsi dan peranan yang harus dipertanggungjawabkan.

Pelantikan Tomakaka dilakukan oleh panitia adat yang dalam masyarakat Pattae disebut Ana’ Pattola Wali. Dihadiri Imang (Tokoh Agama), Kapala (Pemimpin Kampung) dan masyarakat adat. Barulah kemudian dilakukan pelantikan dengan mengucapkan ikrar/sumpah.


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: