Galuh, kerajaan / Jawa Barat

Kerajaan Galuh: 669–1482; terletak di Jawa Barat.
Kerajaan Galuh adalah suatu kerajaan yang berada di Tanah Sunda dan terkait erat dengan Kerajaan Sunda. Kedua kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Tarumanagara.

The Kingdom of Galuh (669-1482) was a kingdom on West Java. It was closely connected with the Kingdom of Sunda. Both kingdoms were parts of the kingdom of Tarumanagara.
For english, click here

Lokasi provinsi Jawa Barat


* Foto Jawa dulu, situs kuno dan Batavia (Jakarta): link


Tentang raja sekarang (2019)

23 juli 2018
Rd H Rasich Hanif Radinal (52) dinobatkan sebagai Raja Galuh di Petilasan Pancalikan (peninggalan singasana raja Kerajaan Galuh) situs Karangkamulyan, Senin (23/7/2018) sore.
Prosesi penobatan Raja Galuh tanpa mahkota tanpa kerajaan itu, dilakukan dalam sutau prosesi adat yang sakral.
Hadir di sana, masyarakat ada se-Ciamis, kasepuhan Galuh dari berbagai kabuyutan di Ciamis yang tergabung dalam Galuh Sadulur. Baik itu yang berasal dari Soko Galuh (Panjalu), Tengah Galuh (Imbangara) maupun dari Sirah Galuh (Kawasen).
Ada juga yang berasal dari Sukapura Tasikmalaya, Sumedang, Cirebon, Sancang dan dari beberapa daerah lainnya.

Rd Rasich Hanif Radinal merupakan anak ke-4 dari 5 bersaudara putra dari pasangan suami-isteri Rd Ir H Radinal Muhtar (alm, Menteri PU era orde baru) dan Ny H Oepin.
Dari garis keturunan ibunya, Rd Hanif merupakan keturunan ke-6 dari RAA Kusumadiningrat (Bupati ke-16 Galuh), atau keturunan ke-17 Prabu Haur Koneng.
Prabu Haur Koneng merupakan pelanjut Kerajaan Galuh, generasi ke-4 dari Sri Baduga Maraharaja (Siliwangi) – Raja Galuh yang memindahkan pusat kekuasaan dari Kawali ke Bogor. Dengan itu juga nama kerajaan berubah menjadi Galuh Pakuan Pajajaran.

Rd H Rasich Hanif Radinal Dinobatkan Jadi Raja Galuh, Keturunan Ke-17 Prabu Haur Koneng


Sejarah kerajaan Galuh, abad ke7 – 1528

I   Garis sejarah kerajaan di Jawa / Line of history of kingdoms on Java: link

II   Sejarah / History kerajaan Galuh

Tahun Berdiri : 612 M
Masa : 612-1482 M
Pusat Kerajaan : Ciamis
Ibu Kota : Ujung Galuh/Karang Kamulyan dan Kawali
Nama Lain : Kerajaan Galuh Purba
Raja Pertama : Maharajaresi Wretikandayun
Raja Terkenal : Maharaja Sanjaya dan Manarah (Ciung Wanara)
Jumlah Raja : lebih dari 22 raja
Agama Kerajaan : Hindu, Budha, Hyang, Islam
Diteruskan oleh : Kerajaan Pajajaran

Situs Pangcalikan, formasi batu bertingkat yang menjadi singgasana Raja Galuh. (Foto: MTVN)

Situs Pangcalikan, formasi batu bertingkat yang menjadi singgasana Raja Galuh. (Foto: MTVN/Surya Perkasa).

Galuh memang pernah menjadi sebuah kerajaan. Akan tetapi ceritera tentang Kerajaan Galuh, terutama pada bagian awal, penuh dengan mitos.
Ceritera tentang Kerajaan Galuh yang dapat dipercaya adalah berita dalam sumber primer berupa prasasti, naskah sejaman (ditulis pada jamannya atau tidak jauh dari peristiwa yang diceriterakannya), dan sumber lain yang akurat.
Raja Wretikandayun adalah Raja pertama di Kerajaan Galuh yang memerintah di Kerajaan Galuh dengan gelar Maharaja Suradarma Jayaprakosa dari tahun 612 sampai 702 sebagai kelanjutan dari Kerajaan Kendan masih bawahan kerajaan Tarumanagara.
Pada tahun 670 wilayah Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan; yaitu kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.

Setelah Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 s.d. abad ke-7) berakhir, di daerah Jawa Barat berdiri Kerajaan Sunda (abad. ke-8 s.d. abad ke-16). Pusat kerajaan itu berpindah-pindah, dari Galuh pindah ke Pakuan Pajajaran/Bogor (± abad ke-11 s.d abad ke-13), kemudian pindah lagi ke Kawali (abad ke-14). Selanjutnya kerajaan itu kembali berpusat di Pakuan Pajajaran, sehingga lebih dikenal dengan nama Kerajaan Pajajaran.

Nama kerajaan seringkali berubah dengan sebutan nama ibukotanya. Oleh karena itu, tidak heran bila ketika Kerajaan Sunda beribukota di Galuh, kerajaan itu disebut juga Kerajaan Galuh. Diduga pusat/daerah inti Galuh waktu itu adalah Imbanagara sekarang. Raja terkenal yang berkuasa di Galuh adalah Sanjaya. Ketika kerajaan itu berpusat di Kawali (abad ke-14) diperintah oleh Prabu Maharaja (di kalangan masyarakat setempat, raja ini dikenal dengan nama Maharaja Kawali). Pada masa pemerintahan raja itulah agama Islam masuk ke Kawali dari Cirebon antara tahun 1528-1530.

Setelah Kerajaan Sunda/Pajajaran berakhir, Galuh berdiri sendiri sebagai kerajaan merdeka (1579/1580 – 1595).
Di bawah kekuasaan Mataram, daerah-daerah di Priangan yang semula berstatus kerajaan berubah menjadi kabupaten Galuh. Galuh berada di bawah kekuasaan Mataram antara tahun 1595-1705. Oleh penguasa Mataram, Galuh dimasukkan ke dalam wilayah administratif Cirebon.

Daftar raja kerajaan Galuh

Untuk deskripsi lengkap raja raja Galuh, klik di sini

  1. Wretikandayun (Rahiyangta ri Menir, 612-702)
  2. Mandiminyak atau Prabu Suraghana (702-709)
  3. Sanna atau Séna/Sannaha (709-716)
  4. Purbasora (716-723)
  5. Rakeyan Jambri/Sanjaya, Rakai Mataram/Harisdarma (723-732); Galuh bersatu dengan Sunda
  6. Tamperan Barmawijaya (732-739)
  7. Sang Manarah (739-746)
  8. Rakeyan ri Medang (746-753)
  9. Rakeyan Diwus (753-777)
  10. Rakeyan Wuwus (777-849)
  11. Sang Hujung Carian (849-852)
  12. Rakeyan Gendang (852-875)
  13. Dewa Sanghiyang (875-882)
  14. Prabu Sanghiyang (882-893)
  15. Prabu Ditiya Maharaja (893-900)
  16. Sang Lumahing Winduraja (900-923)
  17. Sang Lumahing Kreta (923-1015)
  18. Sang Lumahing Winduraja (1015-1033)
  19. Rakeyan Darmasiksa (1033-1183)
  20. Sang Lumahing Taman (1183-1189)
  21. Sang Lumahing Tanjung (1189-1197)
  22. Sang Lumahing Kikis (1197-1219)
  23. Sang Lumahing Kiding (1219-1229)
  24. Aki Kolot (1229-1239)
  25. Prabu Maharaja (1239-1246)
  26. Prabu Bunisora (1357-1371)
  27. Mahaprabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475)
  28. Dewa Niskala (1475-1483)
  29. Ningratwangi (1483-1502)
  30. Jayaningrat (1502-1528)
  31. maharaja cipta sanghyang di galuh (1528-1595)

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh
– Sumber: http://sundalawas.blogspot.com/2017/05/kerajaan-galuh.html?m=0


Sejarah kabupaten Galuh, abad ke16 – sekarang

Setelah Kerajaan Sunda/Pajajaran berakhir, Galuh berdiri sendiri sebagai kerajaan merdeka (1579/1580 – 1595).
Di bawah kekuasaan Mataram, daerah-daerah di Priangan yang semula berstatus kerajaan berubah menjadi kabupaten Galuh. Galuh berada di bawah kekuasaan Mataram antara tahun 1595-1705. Oleh penguasa Mataram, Galuh dimasukkan ke dalam wilayah administratif Cirebon.

Akhir tahun 1705 Galuh sebagai bagian dari wilayah Priangan timur diserahkan oleh penguasa Mataram kepada Kompeni melalui perjanjian tanggal 5 Oktober 1705. Wilayah Priangan barat jatuh ke dalam kekuasaan Kompeni lebih dahulu, yaitu tahun 1677.
Sebelum terjadinya perjanjian 5 Oktober 1705, Kompeni sudah mengangkat Sutadinata menjadi Bupati Galuh (1693-1706) menggantikan Angganaya yang meninggal. Ia kemudian diganti oleh Kusumadinata I (1706-1727). Waktu itu Priangan berada di bawah pengawasan langsung Pangeran Aria Cirebon sebagai wakil Kompeni.

Akhir Desember 1799 kekuasaan Kompeni berakhir akibat VOC bangkrut. Kekuasaan di Nusantara diambilalih oleh Pemerintah Hindia Belanda yang dimulai oleh pemerintahan Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811). Di bawah pemerintahan Hindia Belanda, Galuh tetap berada dalam wilayah administratif Cirebon.
Pada masa pemerintahan Bupati Galuh, yaitu Bupati R.T.A. Sastrawinata (1914-1935), Kabupaten Galuh dilepaskan dari wilayah administratif Cirebon dan masuk ke dalam wilayah Keresidenan Priangan (tahun 1915). Nama Kabupaten diubah menjadi kabupaten Ciamis.
– Sejarah lengkap kerajaan Galuh / kabupaten Galuh: klik di sini

Kangjeng Prabu
Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan bupati Galuh yang keenambelas ini paling ternama R.A.A. Kusumadiningrat menjadi Bupati Galuh Ciamis (1839-1886). Ia mempunyai ilmu yang tinggi dan merupakan bupati pertama di wilayah itu yang bisa membaca huruf latin. Memerintah dengan adil disertai dengan kecintaannya pada rakyat. Empat puluh tujuh tahun lamanya Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memimpin. Pemerintah kolonial sedang giat-giatnya melaksanakan tanam paksa. Rakyat yang ada di Wilayah Galuh, disamping dipaksa menanam kopi juga menanam nila. Untuk meringankan beban yang harus ditanggung rakyat, R.A.A. Kusumadiningrat yang dikenal sebagai “Kangjeng Perbu” oleh rakyatnya, membangun saluran air dan dam-dam untuk mengairi daerah pesawahan. Sejak Tahun 1853, Kangjeng Perbu tinggal di kediaman yang dinamai Keraton Selagangga. Antara tahun 1859-1877, dilakukan pembangunan gedung di ibu kota kabupaten. Disamping itu perhatiannya terhadap pendidikan pun sangat besar pula. Kangjeng Perbu memerintah hingga tahun 1886, dan jabatannya diwariskan kepada puteranya yaitu Raden Adipati Aria Kusumasubrata.

Daftar Bupati Galuh

1618-1625: Bupati Galuh 1/ Bupati Wedana Galuh : Adipati Panaekan
1625-1636: Bupati Galuh ke 2 Mas Dipati Imbanagara / Ujang Purba
1636-1678: Bupati Galuh ke 3 : Raden Panji Aria Jayanegara / Mas Bongsar
1678-1679: Bupati Galuh ke 4 : Anggapraja
1679-1693: Bupati Galuh ke  : 5 Angganaya
1693-1706: Bupati Galuh/Imbanagara ke 6 : Sutadinata
1706-1727: Bupati Galuh/Imbanagara ke 7 : Kusumadinata I
1727-1732: Bupati Galuh/Imbanagara ke 8: Kusumadinata II
1732-1751: Bupati Galuh/Imbanagara ke 9: Raden Jayabaya Patih Imbanagara sebagai wali Mas Garuda
1751-1801: Bupati Galuh/Imbanagara ke 10: Mas Garuda / Kusumadinata III
1801-1806: Bupati Galuh/Imbanagara ke 11: Raden Adipati Natadikusuma/Demang Gurinda
1806-1811: Bupati Galuh/Imbanagara ke 12: Surapraja

Raden Aria Koesoemadiningrat, regent (bupati) Galuh (1879)

1811: Bupati Galuh/Imbanagara ke 13/merangkap Bupati Cibatu: Jayengpati Kertanegara
1811-1814: Bupati Galuh/Imbanagara ke 14 Tumenggung Natanagara
1814-1815: Bupati Galuh/Imbanagara ke 15 Pangeran Sutajaya
1815-1819: Bupati Galuh/Imbanagara ke 16 Raden Wiradikusumah
1819-1839: Bupati Galuh ke 17 Adipati Adikusumah
1839-1886: Bupati Galuh ke 18 : Tumenggung Kusumadinata/Rd. Adipati Aria Kusumadiningrat Dengan julukan Kangjeng Prabu
1886-1914: Bupati Galuh ke 19 : R.Adipati Aria Kusumasubrata

1914-1935: Bupati Galuh ke 20 / Bupati Ciamis: Raden Tumenggung Aria Sastrawinata

– Sumber: https://kangandrinugraha.wordpress.com/2012/03/02/daftar-nama-bupati-ciamis-galuh/
– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Bupati_Ciamis

Situs candi Bumiayu diduga peninggalan kerajaan Galuh pada abad ke-9. Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes

Situs Candi Bumiayu Diduga Peninggalan Kerajaan Galuh pada Abad Kesembilan

Wilayah kerajaan Galuh dan kerajaan Sunda

Candi Cangkuang, salah satu warisan dari Kerajaan Galuh

Berkas:Cangkuangtemple.jpg


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Galuh / Sunda: https://bisnisrumahan2012.wordpress.com/article/kerajaan-hindu-jawa/kerajaan-pajajaran/
– Sejarah kerajaan Galuh: http://galoehsalaka.blogspot.com/p/sejarah-kerajaan-galuh-ciamis.html
– Sejarah kerajaan Galuh di Wiki: Wiki
– Sejarah kerajaan Galuh: https://universitasgaluhfkipsejarah.wordpress.com/2012/04/15/sejarah-kerajaan-galuh/
– Daftar Raja Galuh: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh#Raja-raja_Galuh
———————
– Kerajaan Tarumanagara: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/java-today/tarumanagara-kerajaan-358-669/
– Kerajaan Sunda: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/java-today/sunda-kerajaan-932-1579/
– Sejarah kerajaan Sunda Galuh: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda_Galuh


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s