Tanjung Pura I, kerajaan / Prov. Kalimantan Barat

Kerajaan Tanjung Pura I berdiri 1454-1504. Terletak di Kalimantan, Kabupaten Kayong Utara, prov. Kalimantan Barat.
Kerajaan ini merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat yang wujud sejak abad ke-8.
Mulai akhir abad ke-15, ibu kota kerajaan Tanjungpura menjadi sering dipindahkan. Alhasil, kerajaan  Tanjungpura kerap disebut dengan banyak nama karena mengikuti nama ibu kotanya, sebagai:
* kerajaan Tanjungpura I,
* kerajaan Sukadana,
* kerajaan Matan,
* kerajaan Simpang Matan, sampai sekarang,
* kerajaan Indra Laya,
* kerajaan (Matan) Tanjungpura (Kayong Matan), sampai sekarang.

Lokasi Kabupaten Kayong Utara


Garis kerajaan-kerajaan di Kalimantan: link


Foto kerajaan-kerajaan di Kalimantan

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Kalimantan: link
* Foto raja2 di Kalimantan dulu: link
* Foto istana kerajaan di Kalimantan: link

* Foto Kalimantan dulu: link
* Foto perang belanda di Kalimantan, abad ke-19: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan

– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan, 45.000 SM – 2017: link
Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Barat, 45.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Tengah / Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Timur / Utara, 1M – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Banjar: link


KERAJAAN TANJUNG PURA I

Sejarah kerajaan Tanjung Pura I, 1454-1504

Kerajaan Tanjungpura adalah kerajaan tertua di Kalimantan Barat yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-8. Namun hingga saat ini, belum ditemukan sumber-sumber sejarah yang menggambarkan awal berdirinya kerajaan ini. Bahkan siapa yang pertama kali mendirikan kerajaan Tangjungpura pun masih menjadi misteri.

Memiliki banyak nama karena perpindahan ibu Kota

Mulai akhir abad ke-15, ibu kota kerajaan menjadi sering dipindahkan. Alhasil, kerajaan Tanjungpura kerap disebut dengan banyak nama karena mengikuti nama ibu kotanya, sebagai:
Pada awalnya, ibu kota kerajaan Tanjungpura terletak di Kabupaten Ketapang sekarang ini. Setelah itu, mengalami perpindahan dari satu kota ke kota lainnya. Beberapa hal yang menyebabkan kerajaan Tanjungpura mengalami perpindahan ibu kota adalah adanya serangan dari bajak laut dan kerajaan lain. Perpindahan ibu kota ini dibuktikan dengan adanya situs bersejarah yang ditinggalkan. Dari Ketapang, ibu kota kerajaan Tanjungpura kemudian dipindah ke Sukadana dan daerah Sungai Matan. Setelah itu, dipindahkan lagi ke Indra Laya, Kartapura, Desa Tanjungpura, dan terakhir ke Muliakerta. Oleh karena itu, kerajaan Tanjungpura juga disebut sebagai:
* kerajaan Tanjungpura I,
* kerajaan Sukadana,
* kerajaan Matan,
* kerajaan Simpang Matan, sampai sekarang,
* kerajaan Indra Laya,
* kerajaan (Matan) Tanjungpura (Kayong Matan), sampai sekarang.

Sejarah

Kerajaan Tanjungpura atau Tanjompura merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat yang wujud sejak abad ke-8. Kerajaan ini mengalami beberapa kali perpindahan ibu kota kerajaan, pertama kali terletak di Negeri Baru (nama desa saat ini) Kabupaten Ketapang, kemudian pindah ke Sukadana (saat ini ibu kota Kabupaten Kayong Utara) pada abad ke-14 dan pada abad ke-15 berubah nama menjadi Kerajaan Matan, sejak Rajanya Sorgi (Giri Kesuma) memeluk Islam.
Tanjungpura pernah menjadi provinsi Kerajaan Singhasari sebagai Bakulapura. Nama bakula berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tumbuhan tanjung (Mimusops elengi), sehingga setelah dimelayukan menjadi Tanjungpura.
Terdapat dua kerajaan yang menyandang nama Matan, yaitu Kerajaan Simpang-Matan di bawah Sultan Muhammad Jamaluddin, dan Kerajaan Kayong-Matan / Tanjung Pura II, yang dipimpin oleh Gusti Irawan atau Sultan Mangkurat. Dua kerajaan ini masih berada sampai sekarang (2021)


Daftar raja raja kerajaan Tanjung Pura I

1454-1472: Brawijaya
1472-1487: Bapurung
1487-1504: Panembahan Karang Tanjung

Pusat kekuasaan kerajaan Tanjung Pura I selanjutnya pindah dari Benua Lama (negeri Baru Ketapang) ke Sukadana, menjadi kerajaan Sukadana (Tanjung Pura era Sukadana).


Daftar raja kerajaan Tanjungpura I, kerajaan Sukadana, kerajaan Matan, kerajaan Simpang-Matan, dan kerajaan (Matan) Tanjungpura (Kayong-Matan)

Kerajaan Tanjung Pura I

* 1454-1472: Brawijaya
* 1472-1487: Bapurung
* 1487-1504: Panembahan Karang Tanjung

Kerajaan Sukadana
Pusat kekuasaan kerajaan Tanjung Pura I pindah dari Benua Lama (negeri Baru Ketapang) ke Sukadana, menjadi kerajaan Tanjung Pura era Sukadana.

* 1487-1504: Panembahan Karang Tunjung (Sultan Ali Aliuddin), Raja ke-4
* 1504-1518: Panembahan Pudong Berasap/ Sang Ratu Agung (Sultan Hasan Kawiuddin) raja ke-5.
* 1518-1526: Panembahan Bandala (Sultan Abu bakar Jalaluddin), Raja ke-6,
* 1526-1533: Meruhum Ratu Pangeran Anom (Mangkubumi) Raja ke-7
* 1533-1562: Panembahan Ayer Mala (Sultan Umar Akamuddin), Raja ke-8
* 1562-1590: Panembahan Baroh (Sultan Mustafa Izzudin) Raja ke-9
* 1590-1609:  Panembahan Sorgie/ Giri Kesuma (Sultan Muhammad Tajudin) Raja ke-10.
* 1609:1622: Ratu Mas Jaintan / Putri Bunku – Raja ke-11
* 1622-1677: Panembahan Giri Mustika (Sultan Muhammad Tsafiuddin) Raja ke-12.

Selanjutnya pusat kekuasaan berpindah dari  Sukadana ke Sungai Matan.

Kesultanan Matan

* 1665-1724: Gusti Jakar Kencana atau Sultan Muhammad Zainuddin atau Sulthan Ratoe
* 1724-1738: Gusti Kesuma Bandan atau Sultan Muhammad Muazzuddin atau Marhum Negeri Laya.
* 1738-1749: Gusti Bendung atau Pangeran Ratu Agung atau Sultan Muhammad Tajuddin
* 1749-1762: Gusti Kencuran atau Sultan Ahmad Kamaluddin atau Marhum Indra Laya
* 1762-1819: Gusti Asma atau Pangeran Ratu atau Sultan Muhammad Jamaluddin.

Gusti Asma adalah raja terakhir kerajaan Matan dan pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan kerajaan Matan dialihkan ke Simpang, dan nama kerajaannya pun berganti menjadi kerajaan Simpang atau kerajaan Simpang-Matan.

Yaitu: kerajaan Matan terbagi menjadi dua:

1) yang satu menghilir dari sungai Matan yang di sebut kerajaan Simpang Matan.
2) yang satu ke Muara Kayong yang di sebut kerajaan Matan Kayong / Tanjungpura

Kerajaan Simpang-Matan

Raja pertama kerajaan Simpang Matan dijabat Gusti Asma bergelar Sultan Muhammad Jamaluddin. Gusti Asma memerintah dari tahun 1762 hingga 1819 Masehi.
Gusti Asma merupakan anak Sultan Ahmad Kamaluddin (Raja Matan). Dialah yang kemudian mengalihkan kekuasaannya dari Matan ke Simpang, sehingga Dinasti Kerajaan Matan berakhir.

* 1762-1819: Gusti Asma atau Sultan Muhammad Jamaluddin Anak Sultan Ahmad Kamaluddin, raja Matan, memerintah (1749–1762)
* 1819-1845: Gusti Mahmud atau Panembahan Anom Suryaningrat. Menantu Sultan Ahmad Kamaluddin.
* 1845-1889: Gusti Muhammad Roem atau Panembahan Anom Kesumaningrat Anak Panembahan Anom Suryaningrat
* 1889-1920: Gusti Panji atau Panembahan Suryaningrat
*1912-1942: Gusti Roem atau Panembahan Gusti Roem
*1942-1943: Gusti Mesir atau Panembahan Gusti Mesir
* 1945: Gusti Ibrahim.

Gusti Mesir menjadi tawanan tentara Jepang yang berhasil merebut wilayah Indonesia dari Belanda pada 1942, karena itulah maka terjadi kekosongan pemerintahan di Kerajaan Simpang. Pada akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia, sekira tahun 1945, diangkatlah Gusti Ibrahim, anak lelaki Gusti Mesir, sebagai raja. Namun, karena saat itu usia Gusti Ibrahim baru menginjak 14 tahun maka roda pemerintahan dijalankan oleh keluarga kerajaan yaitu Gusti Mahmud atau Mangkubumi yang memimpin Kerajaan Simpang hingga wafat pada 1952.

Kerajaan (Matan) Tanjungpura / Kayong Matan

* 1749-1762: Gusti Kesuma Bandan / Giri Laya (Sultan Muhammad Muazzidin) Raja Matan Kayong ke-1.
* 1762-1790: Gusti Kencuran / Indra Laya (Sultan Ahmad Kamaluddin) Raja Matan Kayong ke-2.
* 1790-1829: Gusti Asma (Sultan Muhamad Jamaluddin) Raja Matan ke-3.
* 1829-1833: Panembahan Anom Kesuma Negara, Raja Matan Kayong ke-4.
* 1833-1835: Panembahan Cakra Negara – Raja Matan Kayong  ke-5.
* 1835-1845: Pangeran  Adi Mangkurat (Sultan Muhammad Zainuddin II) Raja Matan Kayong ke-5.
* 1845-1847: Pangeran Mangkurat Perdana Menteri, Raja Matan Kayong ke-4.

Selanjutnya  pusat kekuasaan di masa Panembahan Al Hajj Gusti Muhammad Sabran berpindah dari Matan Kayung ke Mulia Kerta:

* 1847-1908: Panembahan Al Hajj Gusti Muhammad Sabran.
* 1922-1942: Panembahan Gusti Muhammad Saunan.
* 1943-1948: Majelis Pemerintah Kerajaan Matan, terdiri dari Uti Halil (Pg. Mangku Negara), Uti Apilah (Pg. Adipati), Gusti Kencana (Pangeran Anom Laksamana)

Sejak 2009 (?): Majelis Raja Kerajaan Matan dipimpin Pangeran Ratu Kertanegara Gusti Kamboja; Pangeran Laksamana Anom Gst Fadlin, S.Sos dan Alm.Pangeran Adipati Uti Iwan Kusnadi.


Sumber

Mengenai sejarah dan silsilah raja raja kerajaan Tanjung Pura I, kerajaan Sukadana, kerajaan Matan, kerajaan Simpang-Matan, dan kerajaan Matan Tanjungpura II (Kayong-Matan) ada beberapa versi, yaitu:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Tanjungpura
https://kerajaansimpangmatan.blogspot.com/2021/03/daftar-raja-raja-tanjung-pura-sukadana.html?fbclid=IwAR14aUHaNTL-7sv_M8n5UxNulLh7WvsxnjgOvCtWdipEu5RLe6x7B0Mf2x8
http://karimunting.blogspot.com/p/kerajaan-tanjungpura.html
http://kuliahkaryawan.i-tech.ac.id/id3/2-3053-2939/Tanjungpura_37864_nusantara_kuliahkaryawan-i-tech.html


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: