Dolago, kerajaan / Prov. Sulawesi Tengah – kab. Parigi Moutong

Kerajaan Dolago adalah kerajaan di Sulawesi, Kabupaten Parigi Moutong, provinsi Sulawesi Tengah.
Kerajaan Parigi adalah sebuah kerajaan Islam di Indonesia yang umumnya terletak di wilayah Parigi, Sulawesi Tengah. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1515.  Wilayah kerajaan ini umumnya terdiri dari empat wilayah; yaitu Lantibu, Masigi, Toboli, dan Dolago.

The kingdom of Dolago is a small kingdom in Sulawesi, Kabupaten Parigi Moutong, provinsi Sulawesi Tengah.
For english, click here

Lokasi kabupaten Parigi Moutong


* Foto foto Sulawesi dulu, suku Sulawesi dan situs kuno: link


Tentang Maradika (Raja) sekarang (2019)

4 aug. 2019: Maradika kerajaan Dolago dinobatkan.
Telah meninggal dunia Anggota Dewan Adat Patanggota Kerajaan Parigi Alm. YM Sumanga Laroda, Gelar Adat: Maradika/Gubernur Dolago di Kerajaan Parigi Sulawesi Tengah, dan langsung menunjuk dan menobatkan YM. Andi Pala Pandake sebagai Maradika Dolago selanjutnya.
Di saksikan masyarakat yang hadir dan di nobatkan langsung oleh YM. Raja Parigi YM H. Andi Tjiembu Tagunu Beserta Dewan Adat Patanggota Parigi.


Sejarah Kerajaan Dolago

Kerajaan Parigi adalah sebuah kerajaan Islam di Indonesia yang umumnya terletak di wilayah Parigi, Sulawesi Tengah. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1515.  Wilayah kerajaan ini umumnya terdiri dari empat wilayah; yaitu Lantibu, Masigi, Toboli, dan Dolago.

Dolago merupakan desa yang diapit oleh Dua desa diantaranya adalah sebelah utara di batasi oleh Desa Boyontongo, sebelah selatan di batasi oleh Desa Masari.
Sejarah singkat terbentuknya desa ini, mula-mula desa ini tidak adanya seorang penguasa yang memimpin masyarakat Desa Dolago. Pada waktu itu, sehingga muncul istilah Tamalanggai yang artinya dimana suatu orang yang mempunyai kelebihan didalam kekuatan, pemikiran, ketegasan dan kewibawaan maka itulah yang menjadi pemimpin dan panutan bagi masyarakat Dolago.
Pada tahun 1602 SM, asal mula nama Dolago berasal dari nama sebuah pohon, yang dimana pohon tersebut memiliki kelebihan yaitu memiliki lingkaran pohon sama dengan delapan orang yang membentangkan tangannya di lingakaran pohon tersebut, dan tidak memiliki satu pun bibit atau tunasnya didaerah Dolago.
Pada zaman itu hanya terdapat bahasa ta’a yang pencetusnya adalah Lalofe (orang kaili asli) dan yang kedua Labaresi (orang kaili asli). Diciptakan bahasa ta’a tersebut disebabkan karena para pencetus wilayah Dolago tidak mau menerima masuknya penjajahan kolonial Belanda, sehingga pejuang dari Dolago tidak mau mengikuti dan memakai bahasa tara yang di terapkan oleh kerajaan Parigi, sehingga munculah peperangan antara kerajaan Dolago dengan kerajaan Parigi yang mengakibatkan korban berjatuhan di kedua belah pihak sama banyak.

Maradika kerajaan Dolago, yang sudah meninggal


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber

– Sejarah Dolago: https://karangtarunasampesuvudolago.blogspot.co.id/2016/11/sejarah-desa-dolago.html