* FOTO kesultanan Bima / P. Sumbawa

18 sept. 2016: Muhammad Putera Ferryandi, dilantik sebagai Jena Teke atau Sultan Muda ke-17 Kesultanan Bima. Putera pertama almarhum Sultan Bima ke-16, Ferry Zulkarnain.
Foto penobatan Sultan baru 18 sept. 2016: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumbawa/bima/foto-penobatan-sultan-bima-xvii-18-9-2016/

———————————–

putera mahkota kesultanan Bima, 2014

———————————–

Keluarga Besar Sultan Bima. 2013

———————————–

Kesultanan Gowa, kesultanan Bima dan kerajaan Sumenep. Dari kiri ke kanan – princess dari Gowa, sultan Bima, somba (raja) Gowa, princess dari Sumenep. 2016.

———————————–

Bersama Ibunda Ibu Suri Kesultanan Bima DYM Dr. Hj. Siti Maryam R. Salahuddin Ruma Bhumi Partiga

———————————–

Di tengah putera mahkota Bima, dan kiri pangeran dari Cirebon-Kacirebonan. 2014

———————————–

Salah satu peninggalan yang berharga dari Kerajaan dan Kesultanan Bima adalah Mahkota kerajaan yang terbuat dari lapisan Emas dan Berlian. Dibuat pada abat ke 18 pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah Dzifullah Fil Alam (1773 – 1817), sultan Bima ke-9. Dan salah satu ciri dan karakteristik emas dalam lapisan Mahkota itu adalah berwarna merah dan tidak sama dengan emas pada umumnya. Sedangkan Berlian yang kelap kelip dalam mahkota itu merupakan berlian termahal di dunia yang lebih tinggi nilainya dari berlian Inggris. Sebelumnya memang sudah ada Mahkota kerajan yang dibuat pada masa sebelum Sultan Abdul Hamid yang terbuat dari perak.

———————————–

Istana Asi Mbojo.
Untuk semua istana kesultanan Bima, lihat: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumbawa/bima/

———————————–

sultan sultan kesultanan Bima 

———————————–

Sultan Muhammad Salahuddin (baju putih).

———————————–

Sultan IBrahim, 1881 – 1915.

———————————–

sultan Bima

———————————–

Sultan Bima M. Salahuddin. Sumber Sultan Muhammad Kaharuddin IV, FB

———————————–

Sultan Bima berkunjung ke istana kesultanan Sumbawa 1927

———————————–

Sultan Abdul Hamid, 1920-1950

———————————–

Pegawai di istana Bima.

———————————–

Pangkat dan Gelar Kesultanan-Bima

———————————–

Naib terakhir Kesultanan Bima di Reo Manggarai tahun 1930, Abdullah Daeng Mananja.

———————————–

Majelis Syara Hadat 1925 Kesultanan.

———————————–

Kunjungan pimpinan Militer Belanda kepada Sultan Muhammad Salahuddin Bima

———————————–

Keluarga sultan Bima ke-14.

———————————–

Kesultanan Bima. Foto Jena teke (putra mahkota) Muhammad Salahuddin, beserta Sultan Bima ke-13 Sultan Ibrahim (tengah), saat di Batavia tahun 1911 beserta anak-anaknya.

———————————–

Pejabat kesultanan Bima sama Sultan. 1927

———————————–

Setelah kegiatan doho sara foto bersama depan istana Asi Bou kesultanan Bima. Depan dari kanan, Ruma Parenta, Jeneli Woha Idris M. Djafar Ruma Kala, Naib Nazaruddin, Sultan Muhammad Salahuddin, Raja Bicara Abdul Hamid, Amakau Olla baris kedua dari kanan, Ruma Uwi, Jeneli Rasanae, Jeneli Bolo. Sumber: Fahru Rizki, FB.

———————————–

Radja Bicara dan Radja Sakuru dua jabatan yang saling mengisi untuk membantu Sultan dalam mengambil kebijakan, Radja Bicara bertugas sebagai tubuh kesultanan untuk mengatur tata pemerintahan sedangkan Radja Sakuru merupakan mata yang selalu mengawasi berjalanannya kebijakan, Radja Sakuru atau juga disebut Ruma Parenta selalu berada di samping Sultan untuk membantu dan menasehati setiap kebijakan yang akan di putuskan. dalam majelis Syara segala sesuatu yang akan di putuskan oleh Sultan harus ada perundingan terlebih dahulu dengan Radja Sakuru dan Radja Bicara. Sumber: Fahru Rizki, FB.
Kommen Fahru Rizki: ini foto Raja Bicara / perdana menteri dan Raja Sakuru/ Penasehat sultan.

———————————–

La Manggila, ikon pasukan berkuda Kesultanan Bima, sejak Sultan Abdul Khair Sirajuddin hingga Sultan Muhammad Salahuddin, nama untuk kuda parafu terus diberikan pada kuda yang dipilih untuk menyandang “La Manggila”. kuda tersebut harus berwarna putih dan mempunyai upacara adat khusus saat di mandikan pada hari Jum`at. dalam catatan Jasper saat mengunjungi Bima tahun 1908.
Sumber: fahru rizki, FB

———————————–

Atas perintah Sultan Bima Abdul Kadim, Tureli Bolo mengangkat Dalu Todo sebagai kepala semua dalu di Manggarai 28 Des. 1767. Dalu adalah kepala Desa (distrik), Dalu harus keturunan dari Ndewa kepercayaan. Sumber Fahru Rizki FB, foto para dalu manggarai ca 1934

———————————–

Perangkat lengkap majelis Kesultanan Bima.
Riset yg belum sempurna, keterangan di bantu oleh berbagai pihak kurang lebih lima tahun telusurnya. foto tahun 1911 di sebuah studio Batavia saat kunjungan Majelis Paruga Suba di Gubernur Batavia Hindia Belanda Alexander Willem Frederik Idenburg.

dalam foto:
1. Sultan Ibrahim
2. Jena Teke Muhammad Salahuddin
3. Controleuur A.A Banse
4. Raja Bicara Muhammad Qurais
5. Ruma Parenta Abdul Majid
6. Bumi Luma Rasanae Muhammad Saleh
7. Bumi Jara Tolotui Mbojo Karim
8. Bumi Luma Bolo
9. Ompu Cepe Abdullah
10. Ompu Cepe Abdul Nabi
11. Ompu Toi

———————————–

Asi Bou berdampingan dengan Istana Bima. Istana ini sebenarnya hanya tempat tinggal keluarga kerajaan dan tidak digunakan sebagai pusat penyelenggaraan pemerintahan.
Sesuai namanya, Asi Bou dibangun belakangan, pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1881 – 1961).  Sultan Ibrahim membangun Asi Bou untuk anaknya yang menjadi putra mahkota atau Raja Muda yakni Muhammad Salahuddin. Kelak, setelah Muhammad Salahuddin menjadi raja, dia memilih tinggal di Istana Lama. Asi Bou selanjutnya ditempati oleh adiknya, Haji Abdul Azis atau akrab dipanggil Ruma Haji. Dia menempati Asi Bou sampai akhir hayatnya. Selanjutnya, istri dan anak – anaknya, menempati rumah tersebut.


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: