Suku Kubu (Anak Dalam) – prov. Sumatera Selatan/Jambi

Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.

Lokasi prov. Jambi


Penyebutan Orang Rimba / Orang Kubu

Ada tiga sebutan yang mengandung makna yang berbeda, yaitu:

1. Kubu, merupakan sebutan yang paling populer digunakan oleh terutama orang Melayu dan masyarakat Internasional.
2. Suku Anak Dalam, sebutan ini digunakan oleh pemerintah melalui Departemen Sosial. Anak Dalam memiliki makna orang terbelakang yang tinggal di pedalaman.
3. Orang Rimba, adalah sebutan yang digunakan oleh etnik ini untuk menyebut dirinya. Makna sebutan ini adalah menunjukkan jati diri mereka sebagai etnis yang mengembangkan kebudayaannya yang tidak bisa lepas dari hutan.


Wilayah pemukiman

Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.


Tentang Suku Kubu, Anak Dalam

Info di bawah diambil dari: http://suku-dunia.blogspot.com/2014/08/sejarah-suku-anak-dalam-di-sumatera.html

Masyarakat ini selalu berpindah-pindah di lingkungan hutan, sehingga dianggap sebagai masyarakat yang masih terasing secara budaya dan perhubungan. Pada masa sekarang sebagian kecil sudah ada yang menetap dan mulai bercocok tanam seperti masyarakat tetangganya.

Kebanyakan dari mereka masih betah hidup melangon atau melangun (berpindah-pindah) di sekitar daerah aliran sungai Musi, Rawas dan Tembesi. Jumlah populasinya susah diperkirakan. Walaupun sudah ada yang menetap dan mulai belajar bertani, namun mata pencaharian utama sebagian besar penduduknya masih sebagai peramu hasil hutan, pemburu dan penangkap ikan tetap mereka jalankan. Sebagian dari yang sudah menetap ada yang bekerja sebagai penebang kayu, atau penakik getah di perkebunan penduduk lain.

Kekeluargaan dan kekerabatan Suku Anak Dalam

Kesatuan hidup mereka dalam keluarga inti cukup penting, tetapi masyarakat pengembara ini lebih senang hidup berkelompok dalam lingkungan keluarga orang tuanya. Prinsip hubungan kekerabatan mereka mungkin cenderung bilateral. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang laki-laki senior yang dianggap bijaksana dan berpengalaman. Masyarakat ini umumnya masih menganut sistem perkawinan endogami kelompok, tapi disertai dengan larangan kawin dengan saudara sekandung dan saudara sepupu pihak ibu.

Rumah Suku Kubu

Kemasyarakatan Suku Anak Dalam

Kelompok Anak Dalam yang sudah lama menetap dan terpengaruh oleh kebudayaan orang Melayu biasanya mempunyai pemimpin setempat yang disebut depati. Selain itu mereka masih memandang tokoh besale (dukun) sebagai pemimpin spritual yang disegani. Ada pula tokoh-tokoh yang ahli dalam masalah adat dan kemasyarakatan serta menguasai pengetahuan esoteris warisan nenek moyang mereka, tokoh ini disebut malim, tapi perannya bisa pula dirangkap oleh besale.

Agama dan kepercayaan Suku Anak Dalam

Kelompok Anak Dalam yang tinggal dekat pemukiman orang Melayu sudah ada yang memeluk agama Islam. Sedangkan yang lain umumnya masih memegang teguh keyakinan asli mereka yang bersifat animisme dan dinamisme.


Sumber

– Suku Kubu, Anak Dalam: http://suku-dunia.blogspot.com/2014/08/sejarah-suku-anak-dalam-di-sumatera.html
– Suku Kubu, Anak Dalam: http://dunia-kesenian.blogspot.com/2015/02/sejarah-asal-usul-dan-kebudayaan-suku-kubu.html
– Suku Kubu, Anak Dalam: https://www.kompasiana.com/al-bukhari/5a50ba42dd0fa81ff35f9064/mengenal-suku-anak-dalam-di-pedalaman-provinsi-jambi?page=all
– Suku Kubu, Anak Dalam: http://aufi42.blogspot.com/2015/06/tradisi-dan-upacara-adat-suku-kubu-ibd.html


Sekelompok orang Kubu pada tahun 1930-an. – Sumber: Tropenmuseum, Netherlands