Suku Muna – prov. Sulawesi Tenggara

Suku Muna merupakan suku asli dari Sulawesi Tenggara yang mendiami sebagian besar Pulau Muna dan bagian sekitarnya.
Mata pencaharian utama dari Suku Muna itu sendiri ialah sebagai nelayan dan sebagian kecil menjadi petani.

Lihat juga: kerajaan Muna

Kabupaten Muna


Umum

Dari bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) terlihat bahwa orang Muna asli lebih dekat ke suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia ketimbang ke Melayu. Hal ini diperkuat dengan kedekatannya dengan tipikal manusianya dan kebudayaan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor dan Flores umumnya. Motif sarung tenunan di NTT dan motif sarung muna sangat mirip yaitu garis-garis horisontal dengan warna-warna dasar seperti kuning, hijau, merah, dan hitam.
Bentuk ikat kepala juga memiliki kemiripan satu sama lain. Orang Muna juga memiliki kemiripan fisik dengan suku Aborigin di Australia. Sejak dahulu hingga sekarang nelayan-nelayan Muna sering mencari ikan atau teripang hingga ke perairan Darwin. Telah beberapa kali Nelayan Muna ditangkap di perairan ini oleh pemerintah Australia. Kebiasaan ini boleh jadi menunjukkan adanya hubungan tradisional antara orang Muna dengan suku asli Australia: Aborigin.

Raja kerajaan Muna, La Ode Imbo


Adat Istiadat Suku Muna

Info di bawah diambil dari: http://suku-dunia.blogspot.com/2015/09/kebudayaan-suku-muna-di-sulawesi.html

Salah satu dari adat istiadat Suku Muna ialah Kariya (pingitan). Kariya adalah upacara adat bagi masyarakat muna yang pertama diadakan pada masa pemerintahan Raja La Ode Husein yang bergelar “omputo sangia” terhadap putrinya yang bernama Wa Ode Kamomo Kamba. Menurut kaidah bahasa muna kariya berasal dari kata “kari” yang artinya sikat atau pembersih, dan penuh atau sesak misalnya mengisi sebuah keranjang dengan suatu benda atau barang sampai penuh sehingga dalam bahasa muna disebut nokari (sesak).

Pemaknaan dari simbolis nokari atau penuh bahwa perempuan yang di kariya telah penuh pemahamannya terhadap materi yang disampaikan oleh pemangku adat atau tokoh agama, khususnya yang berkaitan dengan seluk beluk kehidupan berumah tangga. Sedangkan makna secara konkrit bahwa kata kariya (Muna) berarti rebut atau keributan adalah ramai atau keramaian. Dalam acara kariya dimana sang gadis (kalambe) selama empat hari empat malam ditempatkan dalam sebuah tempat tertutup (sangi atau sua). Untuk menghilangkan rasa stres para gadis (kalambe) dalam tempat tersebut maka diselingi dengan acara-acara lain yaitu rambi wuna, rambi padangga (rambi bajo), mangaro yaitu acara sandiwara perkelahian. Selama para gadis (kalambe) dalam songi acara rambi wuna, rambi padangga, dan mangaro senantiasa di demonstrasikan oleh orang-orang atau golongan yang telah dipilij dan ditetapkan secara adat.

Harfiah dari kariya (keributan atau keramaian) benar adanya, karena pandangan mata dan pendengaran selama proses pelaksanaan kariya 4 hari 4 malam senantiasa dirayakan dengan acara pukul gong (rambi) dan mangaro. Ini disimbolkan bahwa jenis rambi (pukul gong) seperti bersifat ajakan bagi setiap orang yang mendengarnya untuk hadir di tempat (lokasi) pelaksanaan upacara agar suasana senantiasa ramai dan semua orang ikut berkumpul yang kemudian ditetapkan secara adat untuk melakukan demonstrasi rambi (pukul gong).

Padangga adalah merupakan ciri khas yang dapat memberi isyarat kepada semua orang yang menyaksikan upacara tersebut sebagai suasana kekerabatan sehingga walaupun orang jauh datang beramai-ramai di tempat itu. Proses ini dilakukan dengan harapan bahwa seorang wanita ketika telah diisyarati dengan ritual kariya maka dianggap lengkaplah proses pembersihan diri secara hakiki. Kepercayaan masyarakat muna bahwa upacara ritual kariya menjadi kewajiban bagi setiap orang tua yang memiliki anak perempuan, karena itu proses pembersihan diri melalui ritual kariya menjadi tanggung jawab orang tua. Dalam kaitannya dengan konsepsi keagamaan bahwa kariya merupakan proses yang berkepanjangan yang diawali dengan kangkilo (sunat), katoba (pengislaman), hingga sampai pada pelaksanaan upacara kariya.


Sumber

– Suku Muna: http://suku-dunia.blogspot.com/2015/09/kebudayaan-suku-muna-di-sulawesi.html
– Suku Muna: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Muna
– Suku Muna: https://formuna.wordpress.com/tentang-muna/orang-muna/