Blega, kerajaan / Madura

Kerajaan Blega terletak di pulau Madura, kabupaten Bangkalan, kec. Blega.

The kingdom of Blega was a kingdom on the island of Madura.
For english, click here

Lokasi Madura

————————
Lokasi kecamatan Blega


* Foto foto raja dan penguasa di Madura: link
* Foto foto suku Madura: link


Sejarah kerajaan Blega

Di kecamatan Blega ialah Makam Agung Pangeran Macan Putih yang berlokasi di Kampung Karang Kemasan. Makam tersebut merupakan makam seorang patih dari kerajaan Blega yakni Patih Macan.

Dahulu kala ketika masing-masing daerah di Madura dipimpin oleh seorang raja, Blega dipimpin oleh seorang pangeran namun dibawah kendali kerajaan Arosbaya yang dikuasai oleh Pangeran Pratano (Ki Lemah Duwur). Setelah wafatnya Ki Pratano (Ki Lemah Duwur), tahta kerajaan Arosbaya diwariskan kepada puteranya yaitu Pangeran Tengah pada tahun 1592 – 1620 dan yang menjadi raja di kerajaan Blega saat itu ialah Pangeran Blega pada tahun 1593 – 1624.

Di saat kedua kerajaan tersebut berada dalam punjak kejayaan, timbullah kesalah pahaman antara Pangeran Blega dan Pangeran Tengah (Arosbaya). Masalahnya pun termasuk sepele yaitu Pangeran Blega telat membayar upeti terhadap Pangeran Tengah karena status kerajaan Blega yang masih di bawah kekuasaan kerajaan Arosbaya, jadi sudah seharusnya Pangeran Blega membayar uang upeti tiap tahun kepada Raja Arosbaya (Pangeran Tengah).

Perang saudara antara Arosbaya dan Blega

Setelah Panembahan Lemah Duwur meninggal, maka yang menggantikannya adalah puteranya yang bernama Raden Koro dengan gelar Pangeran Tengah. Blega dipimpin oleh saudaranya yang bernama Pangeran Blega dalam hak ini dia tidak mau tunduk kepada Arosbaya, sehingga timbul peperangan antara Arosbaya dengan Blega. Tentara Arosbaya tiga kali menyerang Blega namun serangan tersebut dapat dipatahkan oleh tentara Blega, bahkan tentara Blega dapat memukul mundur pasukan Arosbaya.

Sumber dan lengkap: https://www.lontarmadura.com/macan-putih-dari-blega/


Sejarah kerajaan-kerajaan di Madura

Sejarah Madura berawal dari perjalanan Arya Wiraraja sebagai Adipati Madura pertama di abad ke-13. Dalam kitab Nagarakertagama khususnya pada lagu ke-15 dikatakan bahwa Pulau Madura pada mulanya menyatu dengan tanah Jawa, hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 1365-an orang Madura dan Jawa merupakan bagian dari masyarakat, budaya yang sama.

Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kerajaan Hindu Jawa Timur seperti Kediri, Singhasari dan Majapahit. Antara 1500 dan 1624, penguasa Madura sampai batas tertentu bergantung pada kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik dan Surabaya. Pada 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram.

Pada tahun 1624, Sultan Agung dari Mataram menaklukkan Madura dan pemerintahan pulau itu berada di bawah kekuasaan Cakraningrat, satu garis pangeran. Keluarga Cakraningrat menentang kekuasaan Jawa Tengah dan seringkali menaklukkan sebagian besar Mataram.

Setelah Perang Suksesi Jawa Pertama antara Amangkurat III dan pamannya, Pangeran Puger, Belanda menguasai setengah bagian timur Madura pada tahun 1705. Pengakuan Belanda atas Puger dipengaruhi oleh penguasa Madura Barat, Cakraningrat II yang diperkirakan mendukung klaim Puger dengan harapan perang baru di Jawa Tengah akan memberikan kesempatan bagi orang Madura untuk ikut campur. Namun, ketika Amangkurat ditangkap dan diasingkan ke Ceylon, Puger mengambil gelar Pakubuwono I dan menandatangani perjanjian dengan Belanda yang memberi mereka Madura Timur.

Para Cakraningrat setuju untuk membantu Belanda menumpas pemberontakan tahun 1740 di Jawa Tengah setelah pembantaian Cina tahun 1740. Dalam perjanjian tahun 1743 dengan Belanda, Pakubuwono I menyerahkan kedaulatan penuh Madura kepada Belanda, yang diperebutkan oleh Cakraningrat IV. Cakraningrat melarikan diri ke Banjarmasin, berlindung dengan Inggris, dirampok dan dikhianati oleh sultan, dan ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Tanjung Harapan.

Pada abad 19, Pemerintahan Hindia Belanda memberdayakan kelebihan dan kekuatan warga lokal demi mencari keuntungan. Iming-iming gelar kebesaran oleh pihak Hindia Belanda menjadi format legitimatif tersendiri bagi para kolonial. Gelar Sultan diberikan oleh pihak Kolonial kepada Raja Sumenep pada tahun 1825, Raja Pamekasan di tahun 1830, Raja Bangkalan di tahun 1847 diberi gelar Panembahan.

Tahun 1858 , Madura dire-organisasi kembali menjadi dua Karesidenan, Madura timur dengan Ibukota Karesidenan di Pamekasan dan Madura Barat dengan Ibukota Karesidenan di Bangkalan, dengan masing masing Karesidenan dikuasai Oleh Belanda. Dan pada 1858 memutuskan untuk menghapus Kerajaan Pribumi dan Kerajaan Pamekasan menjadi bagian dari Karesidenan dari struktur birokrasi Kolonial, dan pada tahun 1883 dihapuskan Kerajaan Sumenep, dan berikut Kerajaan Bangkalan pada tahun 1885.


Sumber

– Tentang keraton Pangera Blega: http://andasblega.blogspot.co.id/2013/08/sejarah-berdirinya-kraton-pangeran-blega.html
– Perang saudara Arosbaya dan Blega: http://bangkalanmemory.blogspot.co.id/2013/10/perang-saudara-antara-arosbaya-dengan_4233.html
– Pangeran Macan Putih kerajaan Blega: http://sapekerap.blogspot.co.id/2014/04/pangeran-macan-putih-kerajaan-blega.html


Peta lokasi Madura tahun 1616

——————————-

Peta lokasi Madura tahun 1660


Blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: