Binuang, kerajaan / Prov. Sulawesi Barat – kab. Polewali Mandar

Kerajaan Binuang adalah kerajaan Suku Mandar, terletak di Sulawesi, Kabupaten Polewali Mandar, prov. Sulawesi Barat. Kerajaan ini tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Baqbana Binanga. Kerajaan ini berdiri abad ke-16.
Raja bergelar Mara’dia.

The Kingdom of Binuang was a kingdom of the Mandar People; located in Kab. Polewali Mandar, West Sulawesi. 16th Century. This kingdom was part of the federation Pitu Baqbana Binanga.
The title of the king is Mara’dia.
For english, click here

Lokasi Kabupaten Polewali Mandar


Foto foto kerajaan Binuang: di bawah


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KERAJAAN  BINUANG

Tentang Arajang (raja)

4 sept. 2021
Pelantikan arajang baru kerajaan Binuang: Ir Andi Irfan Mappaewang, arung kerajaan Binuang ke-18.
Beliau putera arung Andi Mappaewang, yang munder karena sudah tua. Memerintah 2006 – 2021.
Kerajaan Binuang di Polewali Mandar, menggelar prosesi penyerahan tahta dan pengukuhan arajang ke-18. Kegiatan tersebut berjalan lancar, Sabtu 4 September 2021.
Arajang Binuang ke-18 menyampaikan bahwa untuk menjaga dan melestarikan Adat dan Budaya Kerajaan Binuang dibutuhkan kekompakan dan kerjasama antara Lembaga Adat, Pemerintah Daerah dan masyarakat secara luas. Untuk itu sinergi harus ditingkatkan di masa akan datang.

4 sept. 2021: Penyerahan tahta dan pengukuhan arajang ke-18 kerajaan Binuang

———————-

Arajang Binuang ke-17, Andi Mapaewang, 2006-2021. Mundur september 2021 karena sudah tua


Sejarah kerajaan Binuang, abad ke-16

Kerajaan ini tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Baqbana Binanga

Berdasarkan penuturan Andi Muhammad Natsir kerajaan Binuang terletak di kabupaaten Polman, Sulawesi Barat  atau yang dekat dengan perbatasan Sulawesi Selatan. Kerajaan ini adalah kerajaan nomor dua terbesar setelah  kerajaan Balanipa yang ada di Mandar, yang mana kedua kerajaan tersebut menjalin kerja sama baik dalam  perekonomian, budaya, dan lain-lain.
Dan sistem pemerintahan di Binuang pada saat itu dilakukan secara turun temurun atau dari genersi ke generasi.  Adapun raja Binuang saat itu disebut sebagai Ammassangan, yang menurut sejarah Mandar pernah membantu kerajaan Bone dalam memerangi Arung Panikian. Atas dasar persaudaraan Raja Amassangan berangkat ke Bone   dengan membawa serta pasukan pilihan diantaranya Tapengo dan Takumba.
Sekembalinya dari membantu kerajaan Bone ke Binuang Tapengo langsung menyusun perangkat kerjanya dengan  baik dengan susunannya sebagai berikut, salah satu petinggi dari kerajaan Binuang yang bernama Sippajo Langi   membawa sebuah kayu yang dinamakan Binuang, kayu ini kemudian ditancapkan disebuah wilayah kerajaan Binuang sambil mengucapkan sumpah bahwa ditempat dia menancapkan kayu tersebut akan menjadi ibu kota  kerajaan. Maka saat itulah salah satu kerajaan yang tergabung dalam aliansi Pitu Ba’bana Binangaini disebut kerajaan Binuang.

Latar belakang gelar raja Binuang

Oleh: Akhmad Azhari

Binuang adalah salah satu kerajaan (sekarang daerah kecamatan) di provinsi Sulawesi Barat (pemekaran Sulawesi Selatan). Suku yang mendominasi di Sulawesi Barat adalah Suku Mandar. Berbeda dengan Sulawesi Selatan yang didominasi Suku Bugis (yang terkenal sebagai pedagang ulung). Gelar “Arung” adalah sebutan raja untuk suku Bugis. Beda dengan gelar raja suku Mandar yang disebut “Mara’dia”. Dahulu kala di Mandar terdapat 14 kerajaan. 7 kerajaan di hulu sungai Mandar (pitu ulunna salu, wilayah kerajaannya di daerah pegunungan) dan 7 kerajaan di hilir sungai Mandar (pitu ba’bana binanga, wilayah kerajaannya di daerah pesisir). 14 kerajaan ini terbentang dari ujung selatan sampai ujung utara provinsi Sulawesi Barat.
Kerajaan Binanga yang berada di ujung Selatan dan berbatasan langsung dengan Sulawesi Selatan memang dulunya adalah anak kerajaan Gowa, kerajaan Bugis terbesar di Sulsel. Sehingga rajanya bergelar Arung, bukan Mara’dia. Tetapi kemudian Raja Bone di daerah Bugis, Arung Palakka, melakukan pemberontakan besar-besaran untuk melengserkan hegemoni Kerajaan Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin. Kerajaan Bone (dibawah Arung Palakka) adalah rival abadi Kerajaan Gowa (dibawah Sultan Hasanuddin).
Kerajaan Gowa yang kewalahan akhirnya meminta bantuan kepada Kerajaan Balanipa, yang merupakan kerajaan induk di Mandar (Mara’dia Balanipa yang terkenal adalah Andi Depu). Mara’dia Balanipa kemudian setuju untuk mengirimkan bantuan pasukan ke Gowa. Hingga akhirnya aliansi Gowa-Balanipa berhasil mengusir Bone. Sebagai imbalannya, Raja Gowa menghadiahkan wilayah Binuang kepada Raja Balanipa. Jadi secara teritorial, Kerajaan Binuang adalah salah satu Kerajaan Mandar. Sehingga gelar rajanya bukan Arung, tapi Mara’dia. Ini yang saya baca dari Lontara (kitab yang menceritakan sejarah Mandar).


Daftar raja kerajaan Binuang

Daftar ini dikirim: Rajab Ashari

1. Sippajolangi (1576-1601)
2. Arung Ammassangan (1602-1626)
3. Puang Binuang (1627-1651)
4. La Mariona (1652-1677)
5. La Ubeng (1678-1702)
6. Karaeng Baine (1703-1730)
7. La Caco Arung Palanro (1731-1756)
8. La Makkaratang Daeng Marulu (1757-1782)
09. Paropo Daeng Pawajo (1783-1808)
10. Pammarica (1809-1835)
11. La Sattowapo Daeng Malliungan (1836-1861)
12. La Mattoangin Daeng Mangiri (1862-1887)
13. La Ma’ga Daeng Silasa (1888-1905)
14. La Madjalekka Daeng Patompo (1906-1917)
15. La Paenrongi Arajang Cappung (1918- 1930)
16. La Mattulada Puanna Saleng (1931-1948)
17. La Ma’ga (1949-1963)
18. Andi Mappaewang (2009-sekarang).


Tentang Perangkat Hadat kerajaan Binuang

.
Dalam suatu waktu saya menemui H. Matta, beliau pernah menjabat sebagai Tomakaka Penanian. Beliau juga yang melantik H. Andi Mappaewang sebagai Raja Binuang. Ada beberapa hal yang beliau sampaikan utamanya tentang Hadat Tertinggi di Kerajaan Binuang. Jika di Kerajaan Balanipa dikenal dengan istilah Appeq Banua Kaiyyang, maka di Kerajaan Binuang dikenal dgn sebutan “TALLU BATE” yaitu;
.
1. Ulu Bate, diketuai oleh Tomakaka Mirring,
2. Bate Tangnga, diketuai oleh Tomakaka Penanian,
3. Cappa Bate, diketuai oleh Tomakaka Dara.
.
Berbeda dengan Appeq Banua Kaiyyang dimana panggilan adatnya disebut “PAPPUANGAN” kalau di Kerajaan Binuang tetap menggunakan panggilan adat “TOMAKAKA”. Adapun tugas dan fungsi dari TALLU BATE ialah mencari seseorang yang pantas untuk diangkat sebagai RAJA, setelah ditemukan bakal calon untuk diangkat sebagai Raja, maka akan dirapatkan bersama 3 Tomakaka, kemudian dari hasil kesepakatan tersebut maka Tomakaka Penanian sebagai Batetangnga mengumumkan bahwa sudah ada calon untuk diangkat sebagai Raja Binuang.
Selain itu fungsi lain dari Tallu Bate adalah menurunkan tahta Raja Binuang apabila melanggar “Adaq Mappura Onro”. Sama dengan sistem pengangkatan Raja-raja di Baqbana binanga, di Kerajaan Binuang juga tidak mengenal istilah PUTRA MAHKOTA, yang dimana seorang Raja memberikan tahta kepada anaknya secara langsung.
.
Tari Toerang Batu. Tari Toerang Batu atau yang dikenal juga dengan Tari Perang Mandar, dipercaya merupakan kunci dibalik kesuksesan Kerajaan Binuang dalam menaklukkan kerajaan-kerajaan disekitarnya, dahulu kala. Sumber: http://peace-journalism.blogspot.co.id/2011/12/pertunjukan-tari-toerang-di-tengah.html


Kerajaan-kerajaan Suku Mandar

Suku Mandar terdiri atas 17 kerajaan.
Pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 negeri negeri Mandar menyatukan diri menjadi sebuah negeri yang lebih besar, yaitu tanah Mandar yang terdiri dari:
* 7 kerajaan hulu yang disebut “Pitu Ulunna Salu”,
* 7 kerajaan muara yang disebut “Pitu ba’bana binanga” dan
* 3 kerajaan yang tidak bergabung pada kedua wilayah tersebut (wilayah netral), dinamakan “Kakaruanna Tiparittiqna Uhai” atau sering juga disebut “Karua Babana Minanga”.

Kerjaan-kerajaan ini awalnya terbentuk sekitar akhir abad ke-15 (sekitar tahun 1580) setelah persekutuan kerajaan-kerajaan Bocco Tellu dan Appe Banua Kaiyyang, dan berakhir sekitar abad ke-18 (sekitar tahun 1860) setelah Belanda mulai masuk dan menjajah satu persatu kerajaan. Kerajaan-kerajaan ini juga pernah jadi wilayah Vasal dari kekuasaan kerajaan Gowa-Tallo sekitar tahun 1612 – 1667, dan kerajaan Bone menanamkan pengaruh dan hegemoni sekitar tahun 1672 – 1737.

Semua kerajaan-kerajaan di Mandar ini saling menghormati pada bagian wilayah masing-masing dan saling membantu seakan-akan mereka sebenarnya satu wilayah layaknya satu negara kesatuan, makanya beberapa ahli sejarah Mandar berpendapat bahwa kerajaan di Mandar tidak berbentuk kerajaan layaknya kerajaan lain yang memerintah dan berdaulat di daerah sendiri tapi melainkan Satu Kesatuan Wilayah yang saling menghormati.

Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ulunna Salu adalah:
1 Kerajaan Rante Bulahang, raja bergelar Indo Lembang,
2 Kerajaan Aralle, raja bergelar Indo Kadaneneq,
3 Kerajaan Tabulahan, raja bergelar Indo Litaq,
4 Kerajaan Mambi
5 Kerajaan Matangnga, raja bergelar Indo Lembang,
6 Kerajaan Tabang, raja bergelar Indo Lembang,
7 Kerajaan Bambang, raja bergelar Indo Lembang.

Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Baqbana Binanga adalah:
1 Kerajaan Balanipa, raja bergelar Arayang
2 Kerajaan Sendana, raja bergelar Arayang,
3 Kerajaan Banggae, raja bergelar Maraqdia,
4 Kerajaan Pamboang, raja bergelar Maraqdia,
5 Kerajaan Tapalang, raja bergelar Maradika,
6 Kerajaan Mamuju, raja bergelar Maradika,
7 Kerajaan Binuang, raja bergelar Arung.

Kerajaan yang bergelar Kakaruanna Tiparittiqna Uhai atau wilayah Lembang Mappi adalah sebagai berikut:
1. Kerajaan Allu
2. Kerajaan Tuqbi
3. Kerajaan Taramanuq

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandar

Ratusan barang antik yang diduga berumur ratusan tahun, ditemukan warga di wilayah bekas Kerajaan Binuang. Sumber: http://news.liputan6.com/read/251938/ratusan-jenis-barang-antik-ditemukan-warga-polewali


Tarian Taro To Eran Batu Kerajaan Binuang

Tarian Taro To Eran Batu Kerajaan Binuan merupakan tarian yang di persembahkan buat panglima perang To Eran Batu ketika selesai menaklukkan musuh-musuhnya. tarian ini senantiasa menjadi warisan buat warga khususnya di desa Batetangnga Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar Provinsi SULBAR yang saat ini yang biasa di pertunjukan ketika penyambutan tamu-tamu agung baik dari Pemerintah Daerah, Tokoh adat dan lain lain.


Sumber

– Sejarah kerajaan Binuang: http://repositori.uin-alauddin.ac.id/15796/1/Sofyan.pdf

Tentang gelar Arung sebagai Raja: http://kampung-mandar.web.id/sejarah/pus-pbb.html

———————-

– Suku Mandar di Wiki: Wiki
Sejarah Pitu Ulunna Salu: link
Pitu Ulunna Salu dan Pitu Baqbana Binanga: link
Kerajaan lokal di Mandar: link
Kerajaan Pitu Ulunna Salu: link

– Gelar Indo Litaq sebagai Raja: link
Sejarah kerajaan kerajaan Suku Mandar: link


Lokasi kerajaan Binuang (Binoeang), tahun 1909


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


9 Comments

9 thoughts on “Binuang, kerajaan / Prov. Sulawesi Barat – kab. Polewali Mandar

  1. A. Yasser

    Kami mengenal Laparopo Daeng Pawajo Arung di Kassa dan menjadi Puang Panette Enrekang, dan dimakamkan di Panette, apakah ini orang yang sama di menjadi arung, beliau adalah bapak dari Lamattoanging Dg. Maggiri dari ibu Binuang sedang di Kassa putranya bernama Lakassang Dg. sallassa Arung Buttu yg menggantikan beliau menjadi Arung Kassa

    • Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia / Sultanates and Kingdoms in Indonesia

      Terima kasih atas kirim info ini. Sudah dipublikasikan di website, Thank you, Paul

  2. Rajab Ashari

    DAFTAR Raja-raja Binuang

    1.Sippajolangi (1576-1601)
    2. Arung Ammassangan (1602-1626)
    3. Puang Binuang (1627-1651)
    4. La Mariona (1652-1677)
    5. La Ubeng (1678-1702)
    6. Karaeng Baine (1703-1730)
    7. La Caco Arung Palanro (1731-1756)
    8. La Makkaratang Daeng Marulu (1757-1782)
    09. Paropo Daeng Pawajo (1783-1808)
    10. Pammarica (1809-1835)
    11. La Sattowapo Daeng Malliungan (1836-1861)
    12. La Mattoangin Daeng Mangiri (1862-1887)
    13. La Ma’ga Daeng Silasa (1888-1905)
    14. La Madjalekka Daeng Patompo (1906-1917)
    15. La Paenrongi Arajang Cappung (1918- 1930)
    16. La Mattulada Puanna Saleng (1931-1948)
    17. La Ma’ga (1949-1963)
    18. Andi Mappaewang (2009-sekarang)

    • Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia / Sultanates and Kingdoms in Indonesia

      Terima kasih atas kirim daftar raja Binuang. Daftar ini sudah dimasukkan halaman “Kerajaan Binuang” di website. Thank you !

  3. Pembongkar makam

    Tailaso lontar sesat,andi depu pejuang belanda jauh sebelum konflik bone gowa telaso binuang jg lebih dulu berdiri sebelum balanipa

    • Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia / Sultanates and Kingdoms in Indonesia

      Terima kasih atas kommen anda !

  4. wawan daeng ewa

    Gowa bukan kerajaan bugis tapi makassar

    • Sultans in Indonesia

      KYT,

      Terima kasih atas mail anda.
      Menurut info yang kami dapat, kesultanan Gowa adalah kerajaan SUKU Bugis.
      Kalau info ini salah mohon kasih tahu.

      Dengan hormat,
      Paul, penerbit website

  5. Gelar raja Mandar bukan “Arung” tapi “Mara’dia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: