Raja-raja kecil yang menyerah tahun 1874

Sumber dan Penulis: Adi Fa, Facebook: https://www.facebook.com/tabibadi.f


Raja-raja kecil yang menyerah tersebut yaitu Teuku Tjhik Tua Kaway XII, Meulaboh. Dia menyerah pada 24 Februari 1874 di Aceh Barat. Selain itu, di Aceh Selatan juga disebutkan ada raja kecil yang berdamai dengan Belanda seperti:
Datuk Baginda penguasa Susoh pada 28 Februari 1874;
Teuku Nyak Sawang Blang Pidie;
Datuk Ujung Batu Labuhan Haji menyerah pada 6 Maret 1874;
Datuk Cut Amat Meukek pada 9 Maret 1874;
Cut Ma Patimah selaku Raja Terbangan Kluet pada 11 Maret 1874;
Tuanku Raja Muda dari Teunom pada 29 April 1874; dan
Datuk Raja Muda Amat di Tapak Tuan pada 5 Mei 1874.

Selain raja-raja tersebut, Belanda juga mengklaim ada beberapa penguasa daerah lainnya yang berdamai dengan strategi tersebut. Seperti dari Simeulue yaitu Datuk Pono, Moh. Hamzah dari Salang, Datuk Moh. Ali Sigulai pada 27 Mei 1874, Datuk Sitongga dari Tapak; Datuk Jawab dari Lakeuen. Beberapa penguasa di pesisir Timur Aceh juga diklaim oleh Belanda telah berdamai dan meletakkan senjatanya seperti:
Teuku Said Sungai Rayeu pada 25 Maret 1874;
Teuku Tjhik Idi Rayeuk pada 15 April 1874;
Teuku Tjhik Peureulak pada 27 Juli 1874;
Teuku Muda Angkasa dari Pasai pada 2 April 1874;
Teuku Tjhik Poling Keureutoe pada 7 April 1874;
Teuku Maharaja Mangkubumi Lhokseumawe pada 23 Juli 1874;
Teuku Tjhik Peusangan pada 8 Agustus 1874.

Di Pidie, beberapa raja kecil juga diklaim oleh Belanda telah mengibarkan bendera putih seperti:
Teuku Bintara Keumangan Pocut Osman Gigieng pada 15 Maret 1874;
Teuku Laksamana Njong pada 6 April 1874;
Teuku Ismail Ie Leubeue pada 8 Juni 1874 dan
Teuku Mohammad Hanafiah Lampasai selaku Raja Kluang di Aceh Besar pada 3 September 1874.

Klaim Belanda ini sebenarnya tidak benar karena pada dasarnya beberapa raja kecil tersebut terus meneus mengadakan perlawanan di daerahnya. Belanda hanya mendapatkan tanda menyerah di atas kertas namun tidak pernah terealisasi di lapangan.