Amabi, kerajaan / P. Timor – prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Amabi, terletak di pulau Timor barat, kabupaten Kupang.
Kerajaan Amabi berdiri sejak abad ke-17.
Sejak abad ke-17 hingga 1917, Amabi memainkan peran dalam persaingan antara kolonial Portugal dan Belanda di Pulau Timor.

The kingdom of Amabi, located on west Timor island.
The kingdom of Amabi exists since the 17th century.
For english, click here

Kabupaten Kupang

——————
Lokasi pulau Timor


* Foto raja-raja sekarang di Timor: link
* Foto raja-raja dulu di Timor: link

* Foto situs kuno pulau Timor: link
* Foto suku Timor: link


Raja kerajaan Amabi (2021)

augustus 2018
Penerus kerajaan Amabi, Baltasar Junus Amtaran Van Amabi.

4  nov. 2017
Raja kerajaan Amabi, Gideon Breory Jabi Amabi, wafat, 4 nov. 2017

Penerus kerajaan Amabi, Baltasar Junus Amtaran Van Amabi

—————–
Raja Gideon Breory Jabi Amabi, wafat, 4 nov. 2017


Sejarah kerajaan Amabi

Menurut catatan tradisional, garis dinasti dari Amabi terkait dengan salah satu kerajaan terkemuka di Timor Barat, Sonbai, dan kerajaan Wehali di Timor Tengah Selatan. Melalui upaya misionaris Dominika di awal abad ke-17, kerajaan ini terikat untuk Portugal di Timor. Pada tahun 1655, raja dari Amabi, bersama-sama dengan Sonbai, berganti pihak dan membuat aliansi dengan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC), yang telah didirikan di Kupang dua tahun sebelumnya. Belanda dan sekutu baru mereka segera terbukti sangat berhasil melawan Portugal di Timor. Pada musim gugur tahun 1657, raja dari Amabi dibunuh di pertempuran Gunung Mollo di pedalaman Timor Barat.
Pada bulan September 1658, sebagian besar dari penduduk Amabi melarikan diri ke Kupang untuk melarikan diri dari musuh mereka, dan diizinkan oleh Belanda untuk menetap di dekat ke benteng Eropa. Sebagian dari populasi ini tinggal di pedalaman. Kelompok ini, Amabi Oefeto, berada di bawah naungan kerajaan Amarasi, yang kemudian menjadi sekutu Portugal.

Masyarakat pengungsi Amabi ternyata menjadi sekutu VOC yang loyal. Bersama-sama dengan pemerintah Kupang, Sonbai Kecil, Amfoan dan Taebenu, mereka merupakan tulang punggung strategi Belanda di Timor. Selama abad ke-17 dan ke-18, mereka mengobarkan perang skala kecil melawan sekutu Portugal, khususnya Amarasi. Peran ini menjadi kurang penting setelah 1749, ketika wilayah Portugal di Timor Barat telah hilang.
Namun, di akhir abad ke-19, Amabi dianggap kerajaan paling kuat di antara sekutu lokal dari pemerintah kolonial Belanda. Ketika Belanda menerapkan kontrol penuh atas wilayah pedalaman Timor Barat pada awal abad ke-20, peran pelindung kerajaan Amabi menjadi tidak jelas. Melalui reorganisasi administratif, Amabi digabung dengan empat kerajaan lain pada tahun 1917, ke zelfbesturend landschap Kupang. Hingga tahun 1962, mantan penguasa Amabi menyelenggarakan fungsi fettor. Di tahun tersebut, pemerintah Republik Indonesia menghapus sistem kerajaan.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Amabi

Kiri fettor-raja dari Amabai. 2017


Daftar raja kerajaan Amabi

* Sebastião mentioned 1652
* Saroro Neno mentioned 1655
* Ama Kefi Meu 1666-1704
* Ama Kefi 1704-1725 (son)
* Loti 1725-1732 (son)
* Nai Balas 1732-1755 (brother)
* Balthazar Loti 1755-1790 (son of Loti)
* Osu I 1791-1795 (son)
* Slolo 1795-c. 1797
* Afu Balthazar c. 1797-before 1824
* Arnoldus Adriaan Karel Loti before 1824-1834 (son)
* Osu II 1834-1859 (brother)
* Mano 1859-1883 (nephew)
* Lelo 1884-1894 (son)
* Kusa 1895-1901 (second cousin)
* Arnoldus 1901 (son of Lelo)
* Junus Amtaran 1901-1903
* Kase Kome 1903-1912 (nephew of Osu II)
* Jacob Ch. Amabi 1912-1917 (son).

–  Sumber:   https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_rulers_of_Timor#Kings_of_Amabi.5B4.5D

Kiri: raja Amabi, Kesultanan Dompu (Sumbawa) dan raja kerajaan Kupang (Timor). 2017


Sejarah kerajaan di pulau Timor

Pulau Timor dihuni sebagai bagian dari migrasi manusia yang telah membentuk Australasia secara lebih umum. Pada tahun 2011, bukti ditemukan pada manusia di Timor Timur pada 42.000 tahun yang lalu, di lokasi gua Jerimalai.
Sekitar 3000 SM, migrasi kedua membawa orang Melanesia. Orang-orang Veddo-Australoid sebelumnya mengundurkan diri saat ini ke pedalaman pegunungan. Akhirnya, proto-Melayu tiba dari Cina selatan dan Indocina utara.

Catatan sejarah paling awal tentang pulau Timor adalah Nagarakretagama abad ke-14, Canto 14, yang mengidentifikasi Timur sebagai pulau di dalam wilayah Majapahit. Timor dimasukkan ke dalam jaringan perdagangan Jawa, Cina, dan India kuno pada abad ke-14 sebagai pengekspor cendana aromatik, budak, madu dan lilin, dan diselesaikan oleh Portugis, pada akhir abad ke-16, dan Belanda, yang berbasis di Kupang, pada pertengahan abad ke-17.

Pulau Timor dijajah oleh Portugis pada abad ke-16; mengklaim pada tahun 1520. Para pelaut Portugis mungkin pertama kali tiba di Timor Timur sekitar tahun 1514. Penjelajah Eropa menemui beberapa kerajaan kecil di awal abad ke-16. Yang paling penting adalah Wehale di Timor Tengah.  Pada waktu itu, lereng-lereng bukit diliputi hutan kayu cendana. Perdagangan kayu cendana sangat menguntungkan, dan pohon-pohon ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi orang Portugis untuk mendirikan pos perdagangan. Gereja Katolik juga berminat pada daerah itu dan ingin mengirim para misionaris untuk menobatkan penduduk pribumi. Kedua faktor ini menggerakkan orang Portugis untuk mulai menjadikan pulau ini jajahan mereka pada tahun 1556.
VOC Belanda tiba pada tahun 1640, mendesak Portugis ke Timor Lorosa’e dan bentuk koloni Belanda-Timor.
Pertengkaran antara Belanda dan Portugal akhirnya menghasilkan sebuah perjanjian tahun 1859 dimana Portugal menyerahkan bagian barat pulau tersebut ke Belanda.

Duduk kanan: raja dari Amabi

Zaman kebangkitan nasional (1900-1942)

Pada masa sesudah tahun 1900, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada umumnya telah berubah status menjadi status menjadi Swapraja. Swapraja-swapraja tersebut, 10 berada di Pulau Timor (Kupang, Amarasi, Fatuleu, Amfoang, Molo, Amanuban, Amanatun, Mio mafo, Biboki, Insana). Swapraja-swapraja tersebut terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang wilayahnya lebih kecil. Wilayah-wilayah kecil itu disebut Kafetoran-kafetoran.

Zaman pemerintahan Hindia Belanda

Wilayah Nusa Tenggara Timur pada waktu itu merupakan wilayah hukum dari keresidenan Timor dan daerah takluknya. Keresidenan Timor dan daerah bagian barat (Timor Indonesia pada waktu itu, Flores, Sumba, Sumbawa serta pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Rote, Sabu, Alor, Pantar, Lomblen, Adonara, Solor).

Keresidenan Timor dan daerah takluknya berpusat di Kupang, yang memiliki wilayah terdiri dari tiga afdeling (Timor, Flores, Sumba dan Sumbawa), 15 onderafdeeling dan 48 Swapraja. Afdeeling Timor dan pulau-pulau terdiri dari 6 onderafdeeling dengan ibukotanya di Kupang. Afdeeling Flores terdiri dari 5 onder afdeeling dengan ibukotanya di Ende. Yang ketiga adalah Afdeeling Sumbawa dan Sumba dengan ibukota di Raba (Bima). Afdeeling Sumbawa dan Sumba ini tediri dari 4 oder afdeeling.

Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Gezaghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda. Para kepala onder afdeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant. (Ch. Kana, 1969,hal . 49-51).

Zaman kemerdekaan (1945-1975).

Setelah Jepang menyerah, Kepala Pemerintahan Jepang (Ken Kanrikan) di Kupang memutuskan untuk menyerahkan pemerintahan atas Kota Kupang kepada tiga orang yakni Dr.A.Gakeler sebagai walikota, Tom Pello dan I.H.Doko. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pasukan NICA segera mengambil alih pemerintahan sipil di NTT, dimana susunan pemerintahan dan pejabat-pejabatnya sebagian besar adalah pejabat Belanda sebelum perang dunia II.
Dengan demikian NTT menjadi daerah kekuasaan Belanda lagi, sistem pemerintahan sebelum masa perang ditegakkan kembali. Pada tahun 1945 kaum pergerakan secara sembunyi-sembunyi telah mengetahui perjuangan Republik Indonesia melalui radio. Oleh karena itu kaum pegerakan menghidupkan kembali Partai Perserikatan Kebangsaan Timor yang berdiri sejak tahun 1937 dan kemudian berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Perjuangan politik terus berlanjut, sampai pada tahun 1950 dimulai pase baru dengan dihapusnya dewan raja-raja. Pada bulan Mei 1951 Menteri Dalam Negeri NIT mengangkat Y.S. Amalo menjadi Kepala Daerah Timor dan kepulauannya menggantikan H.A.Koroh yang wafat pada tanggal 30 Maret 1951. Pada waktu itu daerah Nusa Tenggara Timur termasuk dalam wilayah Propinsi Sunda Kecil.

Kerajaan-kerajaan di Timor tahun 1900


Peta-peta kuno P. Timor

Klik di sini untuk peta kuno P. Timor tahun 1521, 1550, 1600, 1650, 1700-an, 1733, 1762, 1900, 1902.

Timor tahun 1521


Sumber

Sejarah kerajaan Amabi: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Amabi
Sejarah kerajaaan Amabi: http://everything.explained.today/Amabi/
Daftar Raja Amabi:  http://everything.explained.today/Amabi/

– Sejarah NTT (incl. Timor): https://pulautimor.wordpress.com/sejarah-ntt/
– Sejarah NTT (incl. Timor): https://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Tenggara_Timur#Sejarah
– Mitologi asal usul Timor: http://daonlontar.blogspot.com/2013/04/mitologi-asal-usul-pulau-timor.html


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: