Penjelasan raja raja kerajaan Batu Lappa

Sumber: Faizal Tanri Baru
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=497995397719476&set=a.129111674607852&type=3&theater

——————————————–

PERIODE BASO PUANG BUTTU KANAN (1665-1700)

Baso Puang Buttu Kanan, oleh Palisuri dijelaskan sebagai Raja Batulappa yang kesembilan, yang memerintah sekitar abad ke 17/18. Periode kepemimpinan yang dikemukakan itu sangat panjang. Apabila periode kepemimpinan menggunakan metode bacward dengan perhitungan sekitar rata-rata 25 tahun setiap periode kepemimpinan Raja, maka diperoleh waktu kepemimpinan beliau, adalah sekitar sebelum tahun 1700-an. Perhitungan itu dilihat dari periode kepemimpinan raja kerajaan Batulappa ke 15 I Coma yang menandatangani kontrak perjanjian dengan Belanda pada tahun 1890.

Baso Puang Buttu kanan yang memerintah sekitar tahun 1700-an tersebut, belum ada sumber yang jelas menunjukkan aktivitas kepemimpinannya. Masa itu Belanda telah meletakkan upaya penguasaannya di kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan sekarang, yang diawali dengan penandatangan Perjanjian Bongaya 18 November 1667 di Makassar antara Belanda yang diwakili Cornelis Spelman dengan Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke 16. Penandatanganan Perjanjian Bongaya (Bongaais Verdrag) 1667 tersebut, kelihatannya Belanda belum dapat menata Pemerintahannya sebagai wilayah jajahannya yang lain, karena munculnya perlawanan kerajaan-kerajaan lokal seperti perlawanan Batara Gowa I Sangkilang. Oleh karena itu, pengaruh langsung Belanda kepada Kerajaan-Kerajaan lokal Sulawesi Selatan termasuk Kerajaan Batulappa. ini berarti kerajaan Batulappa sebuah kerajaan yang berdaulat, dalam mengurus pemerintahannya sendiri.

Baso Puang Buttu Kanan, sebagai Raja Kerajaan Batulappa, kawin dengan seorang perempuan keturunan Batulappa bernama Besse Pinrang, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki bernama Wellangrungi yang kelak menjadi Raja Kerajaan Batulappa yang kesepuluh.
Pada masa pemerintahan beliau, pusat kerajaan Batulappa yang sebelumnya terletak di gunung Tirasa di pindahkan ke daerah daratan rendah didekat sungai daerah persawahan di kampung Rada

WELLANGRUNGI (1700-1740) DI BATULAPPA
Wellangrungi, anak Raja Kerajaan Batulappa ke 9 Baso Puang Buttu Kanan, dari ibu yang bernama Besse Pinrang. Beliau menduduki tahta Kerajaan Batulappa saat kondisi damai, dan kerajaan-kerajaan di wilayah Masserenrempulu masih berstatus sebagai kerajaan yang merdeka. Perjanjian Bongaya yang ditanda tangani pada 18 Novenber 1667, belum mempengaruhi pemerintahan kerajaan Batulappa.
Periode kepemimpinan beliau, berdasarkan catatan Palisuri, dijelaskan bahwa beliau menduduki tahta kerajaan Batulappa pada abad ke XVIII sebagai raja kerajaan Batulappa yang ke sepuluh.

CONRA PUANG MALING (1745-1775) DI BATULAPPA
Conra juga di kenal dengan nama Puang Maling Conra, memerintah di kerajaan Batulappa setelah ayahnya Welangrungi tidak mampu lagi menjalankan roda pemerintahan. Conra Puang Maling adalah anak kandung Welangrungi dari perkawinannya dengan Sawia Puang Bosso Enrekang, setelah beliau meninggal diberi gelar Anumerta MatinroE Ri Si’kirina

S O M P A (1775-1815) DI BATULAPPA
Raja Kerajaan Batulappa Selanjutnya, adalah Sompa. Beliau adalah saudara kandung Raja Kerajaan Batulappa Conra Puang Maling. Sompa memerintah dikerajaan Batulappa di awal ke XIX, sebagai Raja ke 12. Selain menduduki tahta Kerajaan Batulappa Sompa juga kemudian diangkat menjadi Arung Buttu ke VII pada masa pemerintahan Puang Baso sebagai Raja Enrekang yang diperkirakan memerintah pada tahun 1825 sampai tahun 1860. Sompa adalah salah seorang raja selain menduduki tahta kerajaan Batulappa juga menduduki posisi sebagai Arung Buttu VII . Arung Buttu, merupakan posisi khusus dalam persekutuan atau Federasi Massenrempulu sebagai ketua pemangku adat Masserempulu, sekaligus menjadi panglima gabungan Angkatan Perang Masserempulu (farid 1989)

SEMAGGA (1815-1840) DI BATULAPPA
Raja Kerajaan Batulappa selanjutnya, adalah Semagga. Beliau adalah anak raja Batulappa Sompa dari istri kedua yang bernama BUBA Batulappa. Ia memerintah kerajaan Batulappa sebagai raja ke 13. Periode kepemimpinan beliau belum ada sumber yang menjelaskan secara detail. Periode 1800-1840, ditentukan berdasarkan data susunan raja-raja kerajaan Batulappa. periode kepemimpinan beliau, terjadi perubahan besar dalam penataan pemerintahan Hindia Belanda di willayah sulawesi dan daerah taklukannya. Tahun 1824, terjadi pembaharuan atas perjanjian Bongaya 1667, yakni pada tanggal 9 agustus 1824 yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan raja-raja di Sulawesi Selatan(Limbugau,1985). Menurut perjanjian tersebut, kerajaan-kerajaan dibagi dalam tiga kategori, yakni kerajaan yang diperintah langsung, seperti Makassar, Maros, Bontain, Bulukumba dan Selayar. Kerajaan yang tidak langsung di bawah pemerintahan Belanda, seperti Pare-Pare, Tanete, Tallo, Wajo dan Laiwoi. Kerajaan-kerajaan dalam Federasi Massenrempulu masuk dalam kategori ketiga, yakni kerajaan-kerajaan merdeka yang hubungannya dengan Belanda didasarkan pada perjanjian tahun 1824. Terhadap kerajaan-kerajaan kategori ketiga ini, Belanda hanya menuntut pengakuan kedaulatannya (Limbugau 1985).

BASO PUANG MOSENG ARUNG TEMMATE (1840-1875)

Pada akhir abad ke XIX, kerajaan Batulappa dipimpin oleh Baso Puang Moseng. Beliau adalah cucu raja Batulappa ke 12 Sompa dari perkawinannya dengan Fatima Enrekang, ibunya adalah Buku anak kandung Sompa yang kawin dengan Datu Lanrisang dari Jampue. Ia memerintah di kerajaan Batulappa sebagai raja ke 14 yang berpusat di Bungi. Beliau dalam masa pemerintahannya berhasil memindahkan pusat kerajaan Batulappa ke Bungi. Pemindahan itu didasarkan pada pemberian hadiah dari kerajaan Sawitto kepada kerajaan Batulappa, karena perannya dalam membantu perang. Oleh karna itu, Baso Puang mosang biasa dikenal dengan istilah Babae ri Batulappa dan Bulurompenna Bungi Pinrang.