Pagaruyung – kerajaan Pagaruyung / Prov. Sumatera Barat – kab. Tanah Datar

Kerajaan Pagaruyung adalah sebuah kerajaan Malayu yang berdiri 1347 – 1600-an.
Kemudian kerajaan ini menjadi Kesultanan Pagaruyung.
Kerajaan Malayu (Melayu) adalah kerajaan kuno di prov. Sumatera Barat.
Keberadaan kerajaan Malayu yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke-15 berpusat di Suruaso atau Pagaruyung.
Pada umumnya, kerajaan ini dibedakan atas tiga periode, yaitu:
* Kerajaan Malayu Tua (kerajaan Minanga) pada abad ke-7, berpusat di Minanga Tamwan,
* Kerajaan Malayu Muda (kerajaan Dharmasraya) pada abad ke-13, berpusat di Dharmasraya,
* Kerajaan Pagaruyung, abad ke-15, berpusat di Pagaruyung.

Kab. Tanah Datar


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KERAJAAN PAGARUYUNG

Sejarah kerajaan Pagaruyung, 1347 – 1600-an

Umum

Kerajaan Malayu (Melayu) adalah kerajaan kuno di prov. Sumatera Barat.
Keberadaan kerajaan Malayu yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke-15 berpusat di Suruaso atau Pagaruyung.
Pada umumnya, kerajaan ini dibedakan atas tiga periode, yaitu:
* Kerajaan Malayu Tua (kerajaan Minanga) pada abad ke-7, berpusat di Minanga Tamwan,
* Kerajaan Malayu Muda (kerajaan Dharmasraya) pada abad ke-13, berpusat di Dharmasraya,
* Kerajaan Pagaruyung, abad ke-15, berpusat di Pagaruyung.

——————————–

Sejarah singkat kerajaan Pagaruyung

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/08/09/130000079/kerajaan-pagaruyung-sejarah-letak-pendiri-dan-peninggalan?page=all

Ada:
* Kerajaan Pagaruyung, berdiri dari tahun 1347 sampai tahun 1600-an.
* Kesultanan Pagaruyung, 1600-an sampai 1833.

Kerajaan Pagaruyung termasuk salah satu kerajaan di nusantara yang pernah mengalami masa Hindu-Buddha kemudian berubah menjadi bercorak Islam. Ketika didirikan oleh Adityawarman pada sekitar 1347 M, kerajaan ini masih bercorak Hindu-Buddha.
Kerajaan Pagaruyung kemudian resmi berubah menjadi kesultanan Islam pada abad ke-17, pada masa pemerintahan Sultan Alif.
Letak kerajaan Pagaruyung berada di Provinsi Sumatera Barat dan sebagian Provinsi Raiu sekarang. Setelah hampir lima abad berkuasa, kerajaan ini runtuh dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Padri.

Dari manuskrip yang terdapat pada bagian belakang arca Amoghapasa, diketahui bahwa pada 1347 M Adityawarman menyatakan dirinya sebagai raja di Malayapura. Meski nama Pagaruyung tidak ditemukan dalam berbagai sumber sejarah, Adityawarman diduga kuat sebagai pendiri kerajaan Pagaruyung. Adityawarman adalah seorang keturunan Minangkabau-Jawa, putra dari Adwayawarman (pemimpin Ekspedisi Pamalayu dari kerajaan Kediri) dan Dara Jingga (putri kerajaan Dharmasraya). Namun, sebagian sejarawan berpendapat bahwa Adityawarman adalah putra dari Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit) dan Dara Jingga. Terlepas dari perbedaan pendapat para ahli, Adityawarman adalah sepupu Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit) dari pihak ibu.

Sebelum mendirikan kerajaan Pagaruyung, ia pernah menaklukkan Bali dan Palembang bersama Mahapatih Gajah Mada. Pasalnya, Adityawarman adalah raja bawahan (uparaja) dari Majapahit yang dikirim untuk menundukkan daerah-daerah penting di Sumatera. Dalam perjalanannya, ia berusaha melepaskan diri dari Majapahit hingga dikejar oleh pasukan dari Jawa Timur. Setelah terlibat pertempuran dahsyat di daerah Padang Sibusuk, Adityawarman akhirnya menang.

Adityawarman

Puncak kejayaan kerajaan Pagaruyung

Di bawah pemerintahan Adityawarman dan putranya, Ananggawarman, kerajaan Pagaruyung menjadi sangat kuat hingga berhasil melebarkan kekuasaannya ke wilayah Sumatera bagian tengah. Dari berita China, diketahui bahwa antara 1371 hingga 1377 Adityawarman pernah mengirimkan utusan ke Dinasti Ming sebanyak enam kali. Namun, keturunan Ananggawarman bukanlah raja-raja yang kuat dan dapat melanjutkan kejayaan pendahulunya. Setelah Adityawarman meninggal, kerajaan Majapahit diduga kembali mengirimkan ekspedisi pada 1409. Pemerintahan kemudian digantikan oleh orang Minangkabau sendiri, yaitu Rajo Tigo Selo yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar, dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh kesultanan Malaka dan Aceh.

Berubah menjadi kesultanan Pagaruyung

Pada abad ke-16, agama Islam mulai berkembang di Pagaruyung setelah dibawa oleh para musafir yang singgah dari Aceh dan Malaka. Salah satu ulama yang pertama kali menyebarkan Islam di Pagaruyung adalah Syaikh Burhanuddin Ulakan, murid ulama terkenal dari Aceh. Memasuki abad ke-17, kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan dan raja pertamanya yang masuk Islam adalah Sultan Alif.
Setelah itu, banyak aturan adat Minangkabau yang dihilangkan karena bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya sedikit sistem dan cara adat yang dipertahankan, hingga nantinya mendorong pecahnya perang saudara atau dikenal dengan Perang Padri. Di saat yang sama, kerajaan ini harus mengakui kedaulatan kesultanan Aceh.

Batu Kasur ini adalah salah satu tempat ujian calon-calon Raja Pagaruyung sebelum memerintah di satu daerah. Batu ini terletak antara Batusangkar dan Pagaruyung, yaitu sekitar 3 km dari Kota Batusangkar.


Raja raja kerajaan Pagaruyung

* 1339–1375: Adityawarman
* 1375-1417: Ananggawarman, anak Adityawarman
* 1418-1440: Wijayawarman adalah raja Minangkabau atau Pagaruyung yang ke-3 sesudah Ananggawarman
* 1441-1470: Puti Panjang Rambut II adalah Raja Minangkabau Pagaruyung yang ke-4 sesudah Maharaja Wijayawarman Yang Dipertuan Maharaja Sakti I Dewang Pandan Putrawana.
* 1470-1500: Dewang Ramowano (Cindurmato)
*1500-1514 dan kembali berkuasa 1524-1539: Dewang Sari Deowano (Tuanku Marajo Sati II), Yamtuan Bakilap Alam.
* 1540-1570: Dewang Sari Magowano (Sri Raja Maharaja), Yamtuan Pasambahan
* 1570-1580: Dewang …Alias: Sultan Indo Naro, YDP Tuanku Alam Sati

Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Pagaruyung. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.
* 1641-1680: Sultan Alif I Khalifatullah.

– Sumber: https://lubukgambir.wordpress.com/2014/11/09/dinasti-para-dewang-di-malayapura-suwarnabumi-minangkabau-pagaruyung/

Komplek makam raja Pagaruyung


Sistem pemerintahan

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung#Sistem_pemerintahan

Raja

Adityawarman pada awalnya menyusun sistem pemerintahannya mirip dengan sistem pemerintahan yang ada di Majapahit masa itu, meskipun kemudian menyesuaikannya dengan karakter dan struktur kekuasaan kerajaan sebelumnya (Dharmasraya dan Sriwijaya) yang pernah ada pada masyarakat setempat. Ibu kota diperintah secara langsung oleh raja, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh Datuk setempat.

Pagaruyung memiliki sistem raja triumvirat yang disebut rajo tigo selo (“tiga orang raja yang bersila”), yang terdiri atas:

* Raja Alam yang berkedudukan di Pagaruyung;
* Raja Adat yang berkedudukan di Buo;
* Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus.

Menteri

Raja-raja Pagaruyung memiliki empat orang pembesar utama yang disebut Basa Ampek Balai, yaitu:

* Bandaro yang berkedudukan di Sungai Tarab;
* Makhudum yang berkedudukan di Sumanik;
* Indomo yang berkedudukan di Suruaso;
* Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh.

Belakangan, pengaruh Islam menempatkan Tuan Kadi yang berkedudukan di Padang Ganting menggeser kedudukan Tuan Gadang di Batipuh, dan bertugas menjaga syariah agama.

Sebagai aparat pemerintahan, masing-masing Basa Ampek Balai punya daerah-daerah tertentu tempat mereka berhak menagih upeti sekadarnya, yang disebut rantau masing-masing pembesar tersebut. Bandaro memiliki rantau di Bandar X, rantau Tuan Kadi adalah di VII Koto dekat Sijunjung, Indomo punya rantau di bagian utara Padang sedangkan Makhudum punya rantau di Semenanjung Melayu, di daerah permukiman orang Minangkabau di sana.

Selain itu dalam menjalankan roda pemerintahan, kerajaan juga mengenal aparat pemerintah yang menjalankan kebijakan dari kerajaan sesuai dengan fungsi masing-masing, yang sebut Langgam nan Tujuah. Mereka terdiri dari:

Pamuncak Koto Piliang
Perdamaian Koto Piliang
Pasak Kungkuang Koto Piliang
Harimau Campo Koto Piliang
Camin Taruih Koto Piliang
Cumati Koto Piliang
Gajah Tongga Koto Piliang


Sumber

– Kerajaan Pagaruyung: https://www.saribundo.biz/sejarah-berdirinya-kerajaan-pagaruyung.html
– Kerajaan Pagaruyung: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung
– Kerajaan Pagaruyung: https://kumparan.com/potongan-nostalgia/asal-usul-berdirinya-kesultanan-pagaruyung-di-sumatera/full


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: