Pagaruyung – kerajaan Pagaruyung / Prov. Sumatera Barat – kab. Tanah Datar

Kerajaan Pagaruyung adalah sebuah kerajaan Melayu yang berdiri 1347 – 1600-an.
Kemudian kerajaan ini menjadi Kesultanan Pagaruyung.

Kab. Tanah Datar


* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link

* Foto perang Aceh – Belanda, 1873-1904: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Sejarah kerajaan Pagaruyung, 1347 – 1600-an

Kesultanan Pagaruyung, 1600-an – 1833: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/sultan-of-pagaruyung/

Munculnya nama Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui dengan pasti, dari Tambo yang diterima oleh masyarakat Minangkabau tidak ada yang memberikan penanggalan dari setiap peristiwa-peristiwa yang diceritakan, bahkan jika menganggap Adityawarman sebagai pendiri dari kerajaan ini, Tambo sendiri juga tidak jelas menyebutkannya. Namun dari beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman, menunjukan bahwa Adityawarman memang pernah menjadi raja di negeri tersebut.

Dari manuskrip yang dipahat kembali oleh Adityawarman pada bagian belakang Arca Amoghapasa disebutkan pada tahun 1347 Adityawarman memproklamirkan diri menjadi raja di Malayapura, Adityawarman merupakan putra dari Adwayawarman seperti yang terpahat pada Prasasti Kuburajo dan anak dari Dara Jingga, putri dari kerajaan Dharmasraya seperti yang disebut dalam Pararaton. Ia sebelumnya bersama-sama Mahapatih Gajah Mada berperang menaklukkan Bali dan Palembang.

Batu Kasur ini adalah salah satu tempat ujian calon-calon Raja Pagaruyung sebelum memerintah di satu daerah. Batu ini terletak antara Batusangkar dan Pagaruyung, yaitu sekitar 3 km dari Kota Batusangkar.

Sebelum kerajaan ini berdiri, sebenarnya masyarakat di wilayah Minangkabau sudah memiliki sistem politik semacam konfederasi, yang merupakan lembaga musyawarah dari berbagai Nagari dan Luhak. Dilihat dari kontinuitas sejarah, kerajaan Pagaruyung merupakan semacam perubahan sistem administrasi semata bagi masyarakat setempat (Suku Minang).

Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama Islam di Pagaruyung.

Pada abad ke-17, kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam Pagaruyung. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.

Adityawarman


Raja raja kerajaan Pagaruyung

* 1339–1375: Adityawarman
* 1375-1417: Ananggawarman, anak Adityawarman
* 1418-1440: Wijayawarman adalah raja Minangkabau atau Pagaruyung yang ke-3 sesudah Ananggawarman
* 1441-1470: Puti Panjang Rambut II adalah Raja Minangkabau Pagaruyung yang ke-4 sesudah Maharaja Wijayawarman Yang Dipertuan Maharaja Sakti I Dewang Pandan Putrawana.
* 1470-1500: Dewang Ramowano (Cindurmato)
*1500-1514 dan kembali berkuasa 1524-1539: Dewang Sari Deowano (Tuanku Marajo Sati II), Yamtuan Bakilap Alam.
* 1540-1570: Dewang Sari Magowano (Sri Raja Maharaja), Yamtuan Pasambahan
* 1570-1580: Dewang …Alias: Sultan Indo Naro, YDP Tuanku Alam Sati

Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Pagaruyung. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.
* 1641-1680: Sultan Alif I Khalifatullah.

– Sumber: https://lubukgambir.wordpress.com/2014/11/09/dinasti-para-dewang-di-malayapura-suwarnabumi-minangkabau-pagaruyung/

Komplek makam raja Pagaruyung


Sistem pemerintahan

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung#Sistem_pemerintahan

Raja

Adityawarman pada awalnya menyusun sistem pemerintahannya mirip dengan sistem pemerintahan yang ada di Majapahit masa itu, meskipun kemudian menyesuaikannya dengan karakter dan struktur kekuasaan kerajaan sebelumnya (Dharmasraya dan Sriwijaya) yang pernah ada pada masyarakat setempat. Ibu kota diperintah secara langsung oleh raja, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh Datuk setempat.

Pagaruyung memiliki sistem raja triumvirat yang disebut rajo tigo selo (“tiga orang raja yang bersila”), yang terdiri atas:

* Raja Alam yang berkedudukan di Pagaruyung;
* Raja Adat yang berkedudukan di Buo;
* Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus.

Menteri

Raja-raja Pagaruyung memiliki empat orang pembesar utama yang disebut Basa Ampek Balai, yaitu:

* Bandaro yang berkedudukan di Sungai Tarab;
* Makhudum yang berkedudukan di Sumanik;
* Indomo yang berkedudukan di Suruaso;
* Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh.

Belakangan, pengaruh Islam menempatkan Tuan Kadi yang berkedudukan di Padang Ganting menggeser kedudukan Tuan Gadang di Batipuh, dan bertugas menjaga syariah agama.

Sebagai aparat pemerintahan, masing-masing Basa Ampek Balai punya daerah-daerah tertentu tempat mereka berhak menagih upeti sekadarnya, yang disebut rantau masing-masing pembesar tersebut. Bandaro memiliki rantau di Bandar X, rantau Tuan Kadi adalah di VII Koto dekat Sijunjung, Indomo punya rantau di bagian utara Padang sedangkan Makhudum punya rantau di Semenanjung Melayu, di daerah permukiman orang Minangkabau di sana.

Selain itu dalam menjalankan roda pemerintahan, kerajaan juga mengenal aparat pemerintah yang menjalankan kebijakan dari kerajaan sesuai dengan fungsi masing-masing, yang sebut Langgam nan Tujuah. Mereka terdiri dari:

Pamuncak Koto Piliang
Perdamaian Koto Piliang
Pasak Kungkuang Koto Piliang
Harimau Campo Koto Piliang
Camin Taruih Koto Piliang
Cumati Koto Piliang
Gajah Tongga Koto Piliang


Sumber

– Kerajaan Pagaruyung: https://www.saribundo.biz/sejarah-berdirinya-kerajaan-pagaruyung.html
– Kerajaan Pagaruyung: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung
– Kerajaan Pagaruyung: https://kumparan.com/potongan-nostalgia/asal-usul-berdirinya-kesultanan-pagaruyung-di-sumatera/full


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: