Sejarah lengkap negeri Hunut

Info tentang negeri Hunut di ambil dari: https://desahunut.com/sejarah-desa-hunut/

————————————————-

Desa Hunuth-Durian Patah adalah sebuah desa kecil yang terletak di sisi Teluk Dalam Pulau Ambon di mana pada zaman penjajahan Belanda disebut dengan nama “Benen bay”. Dari catatan sejarah, Hunuth merupakan salah satu negeri dari tujuh negeri yang sekarang menjadi negeri Hitu, yakni:

  1. Negeri Soupele
  2. Negeri Waipaliti
  3. Negeri Laten
  4. Negeri Olong
  5. Negeri Tomu
  6. Negeri Hunuth
  7. Negeri Masapal.

Ketujuh negeri ini mempunyai “Uli” yang bernama “Ulihelawan” yang artinya : “Persekutuan Emas”. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bekas tempat Baileo (tempat pertemuan negeri) dan Kakehang (tempat Kapitan beristirahat dan mengasah peralatan perangnya) yang berada di desa Hunuth (baca: Sejarah Tanah Hitu di dalam buku yang ditulis Rumphius).

Pada zaman dahulu sebelum terjadi perang Hitu atau yang dikenal dengan perang Huamual, negeri Hunuth didiami oleh orang Hitu, namun ketika perang Hitu berlangsung, mereka dipanggil pulang ke Hitu untuk menjaga dan mempertahankan Negeri Hitu dari serangan penjajah bangsa Portugis.  Pada waktu itu, bersama-sama dengan orang Hitu yang mendiami Hunuth ini ada 3 (tiga) marga yaitu: Marga Barnella, Pelasula dan Sohilait. Pada waktu orang Hitu akan pulang ke negeri Hitu, mereka sempat berpesan kepada ketiga marga tersebut yaitu : “katong pulang ke Hitu dan basudara dong tinggal untuk menjaga Pintu Belakang, dan samua hasil yang ada yang katong makang sama-sama, basudara ambil saja dan makang seperti biasa”.

Dalam perkembangan zaman dari tahun ke tahun, terjadi pertambahan penduduk yang datang dan mendiami Hunuth sejak tahun 1817 tatkala terjadi perang Pattimura di Pulau Saparua, sehingga penduduk yang mendiami Hunuth saat ini sudah tidak ada yang dari ketiga marga  yang mula-mula mendiami Hunuth.

Dari catatan sejarah tersebut di atas, maka Hunuth pada awalnya berada dalam negeri Hitu, namun belakangan di kuasai oleh negeri Halong. Hal tersebut terjadi ketika pada zaman

dahulu negeri Halong memiliki sebuah Masjid dengan kuba yang terbuat dari emas murni. Orang Hitu berkeinginan untuk mengambil/memiki kepala Mesjid dimaksud sehingga terjadi peperangan antara Hitu dan Halong. Dalam peperangan tersebut, pasukan Hitu mengalami kekalahan dan perahu yang mereka tumpangi di tinggalkan di tepi  pantai negeri Halong, dan konon kemudian perahu tersebut berubah wujud menjadi sebuah Batu dan sampai sekarang tempat itu disebut “Batu kora-kora”.

Dalam perjalanan pulang dari negeri Halong menuju negeri Hitu, ketika sampai di atas sebuah bukit yang bernama “Pule Cap” Kapitan Hitu mengambil alat pancing untuk mengambil/memancing kepala Masjid  tersebut, namun karena beratnya kepala mesjid yang terbuat dari emas murni, akhirnya kepala masjid itu jatuh tenggelam di tengah laut..

Dalam perjalanan waktu, setelah ada kesepakatan damai antara Halong dan Hitu, maka terjadilah perkawinan antara Putera Raja Negeri Hitu dan Puteri raja Negeri Halong dan selesai dilangsungkan acara pernikahan, kedua mempelai dijemput keluarga raja dari Hitu untuk diantar pulang ke Hitu turut bersama keluarga dari raja Halong. Dalam perjalanan menyeberang laut kembali ke Hitu, rombongan kedua mempelai tiba di suatu tempat perbukitan yang dari situ kelihatan negeri Halong di seberang lautan, kemudian anak raja Hitu (mempelai pria)  sambil memandang ke negeri Halong, Ia berkata kepada keluarga raja Halong : “basudara sudah antar beta dengan beta pung bini sampe di sini dan tidak ada apa-apa yang bisa beta berikan untuk basudara, tapi ini ada sepotong tanah, mulaindari sini tempat katong berdiri berbatas dengan pantai, batas dengan negeri Passo dan batas dengan negeri Rumah Tiga, basudara ambil akang sebagai harta dapur”.

Dengan demikian maka mulai saat itu Halong menguasai daerah-daerah tersebut tadi sampai saat ini sebagai milik negeri Halong dan Hunuth menjadi daerah yang berada dalam kekuasaan negeri Halong. Pada tahun 1965, tanah-tanah tersebut sudah dibagi kepada masyarakat yang mendiami Hunuth-Durian Patah dan Waiheru dengan status tanah “Landreforom”, dan sejak itu maka tanah tanah tersebut diusahakan dan diolah masyarakat Hunuth-Durian Patah dan Waiheru kecuali yang masuk dalam dusun Dati negeri Halong tetap dikuasai oleh kepala dati.  Nama Durian Patah awalnya muncul karena di sekitar Hunuth dahulu banyak ditumbuhi pohon durian namun kemudian mengalami tumbang karena angin kencang sehingga sebagian besar sudah tidak ada.

Pada tahun 1983, berdasarkan Surat Keputusan Negeri Halong pada tanggal 27 Agustus 1983, Nomor 01/KPTS/PHN/83 tentang Pembebasan Kampung-Kampung Bawahan Dalam Persekutuan Hukum Adat Negeri Halong, maka Kampung Hunuth dan beberapa kampung yang ada di bawah kekuasaan negeri Halong yaitu Lateri, Lata dan Waiheru di lepaskan sebagai kampung yang otonom untuk mengurus pemerintahannya sendiri. Bagian dari keputusan tersebut juga memberikan kewenangan kepada masing-masing kampung untuk

memusyawarahkan dengan desa/kampung tetangganya dalam menentukan batas-batas kampong masing-masing dengan mengikutsertakan dan memintakan pertimbangan dari negeri Halong sebagai bekas negeri induknya, sedangkan hak ulayat negeri Halong yang masih berada dalam wilayah kampung tersebut masih tetap dikuasai sepenuhnya oleh negeri Halong. Atas surat keputusan negeri Halong tersebut kemudian diterbitkan  Surat Keputusan Walikotamadya Ambon tanggal 27 Agustus 1983. Nomor 01/KPTS/83, Hunuth-Durian Patah ditetapkan sebagai Desa definitive.

Sejak dikuasai negeri Halong sampai saat ini, Hunuth-Durian Patah pernah dipimpin oleh beberapa orang dalam jabatan sebagai Kepala Kampung sampai Kepala Desa, yaitu :

  1. Azer Tahalea (Kepala Kampung Hunuth),
  2. Simon Rikumahu (Kepala Kampung Hunuth,
  3. Simon Latumahina (Kepala Kampung Hunuth)
  4. Dominggus Polnaya (Kepala Kampung),
  5. Salmon B. Pattiwael (Pjs Kepala Kampung)
  6. Marthinus D. Hitijahubessy ( Kepala Desa)
  7. Reinhard Kappuw (Kepala Desa), Tahun 1984 – 2014
  8. Yondry Viktor H. Kappuw, ST. (Kepala Desa), Januari 2015 – sekarang.

 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: