* FOTO kesultanan Buton

Setelah vakum selama lebih kurang 52 tahun, pada tanggal 25 mei 2012 dilantik Sultan baru di Masjid Agung Keraton Buton: dr La Ode Izzat Manarfa, Sultan Buton ke-40.

 

Sultan-Buton-ke-40–Dr–H-LM-Izat-Manarfa-MSi | Papua Kini

—————-

Di tengah: Sultan Laode Muhamad Izat Manarfa dari Buton. 2016

—————-

Pelantikan sultan Buton 25 mei2012

—————-

Rante Mas dan Keris Pusaka Emas ARU PALAKA (La Tenritatta Arung Pakka Petta Malampe’E Gemme’na Daeng Serang Datu Marioriwawo). Kembaran Keris Pusaka ini diberikan juga oleh Aru Palaka kepada Sultan Buton ke 9 SULTAN QAIMUDDIN MALIK SIRULLAH KHALIFATUL KHAMIS, yang menerima suaka suaka politik Aru Palaka di Buton bersama Istrinya Imangkawani Daeng Talele bersama teman-temannya Arung Bila, Arung Apanang, Arung Belo, Arung Pattojo dan Arung Kaju pada bulan Oktober 1660.

—————-

Bendera kesultanan Buton

—————-

Pin kesultanan Buton

—————-

Istana Malige

—————-

Utusan kesultanan Buton

—————-

Sultan Muhamad Falihi Kaimuddin

—————-

sultan Buton

—————-

Sultan Buton La Ode Muhammad Falihi Khalifatul Khamis ditengan tengah Raja-Raja Bugis dalam suatu silatur rahmi Raja-Raja Bugis di Makassar tahun 1930.

—————-

Sultan Buton ke-38, La Ode Falihi Qaimuddin Khalifatul Khamis, Kepala Pemerintahan Swapraja Buton (1938-1960).

—————-

Sultan Buton ke-38, La Ode Falihi Qaimuddin Khalifatul Khamis, bersama para pejabat Swapraja Buton, tahun 1940.

—————-

Sultan Buton ke-37, La Ode Abdul Hamid Qimuddin Khalifatul Khamis. Memerintah tahun 1928-1938.

—————-

Sultan Buton ke-37 La Ode Hamid (ke-5 dari kiri) bersama pejabat Kesultanan Buton

—————-

Penobatan Sultan Buton, 1938

—————-

Menteri kesultanan Buton

—————-

Sultan Buton La Ode Manarfa Lahir di Buton, 22 Maret 1917, adalah putra tertua Sri Sultan Buton ke-38, La Ode Falihi Qaimuddin Khalifatul Khamis.

—————-

La Ode Hamidi, maybe father or grandfather La Ode Muhammad Jafar.

—————-

Kepala daerah di Buton di depan rumah Sobat di Makassar. sekitar 1900.

—————-

Dari kiri- Raja Bone Andi Mappanyuki, Pres. Soekarno, Sultan Buton La Ode Fahili dan Andi Pangeran Pettarani. 1950.

—————-

Dari kiri ke kanan- Arung Berru, La Ode Farlihi (sultan Buton), A.Mappanyukki (Mangkau Bone).

—————-

Ketika menghadri Hut 25 Ratu belanda Wilhelmina di makssar bersama Raja-Sultan Buton dan perangkatnya.

—————-

Bangsawan kesultanan Buton.

—————-

Sultan Buton ke-20 dan ke-23

—————-

Sultan Buton ke 38, Muhamad Falihi Kaimuddin bersama Presiden RI Pertama Soekarno.

—————-

Raja-raja wilayah Buton.

—————-

Sultan Buton, La Ode Muhammad Falihi, Sultan Buton ke-38 (1937-1960).

—————-

PARTISIPASI TERAKHIR SULTAN BUTON KE 38 LA ODE FALIHI KHALIFATUL KHAMIS QAIMUDDIN TERHADAP KEPENTINGAN SULAWESI TENGGARA.
Pada pertengahan tahun 1959 La Ode Falihi selaku Kepala Pemerintahan Swapraja Buton bersama Putranya Drs. La Ode Manarfa telah menggagas pembentukan 4 buah kabupaten di Sulawesi Tenggara sebagai dasar legalitas sesuai UU untuk membentuk Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam suatu pertemuan besar jajaran Pemerintah Swapraja Buton yang dipimpin oleh La Ode Falihi dan didampingi Raja Muna La Ode Pandu, La Ode Hanafi, dan La Ode Abdul Kudus, bersama Kepala Daerah Kabupaten Sulawesi Tenggara Drs. La Ode Manarfa yang a.l. didampingi oleh La Ode Hibali, La Ode Asis, Abdul Hasan, Abdul Mulku Zahari, Pabelu, Yacob Silondae, Konggoasa, Abdullah Silondae, Abunawas, dkk, bertempat di Gedung Wekoila (lama) Kota Kendari lama, telah sepakat membentuk 4 buah Kabupaten Yaitu Kabupaten Buton Distrik, Kabupaten Kendari , Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Muna. Satu masalah yang perlu diselesaikan ketika itu ialah Muna yang hanya terdiri dari 5 buah distrik harus ditambah 43 distrik lagi agar memenuhi persyaratan sebagai sebuah Kabupaten.


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: